Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Bronze
TRAM TO 2037
1
Suka
1,191
Dibaca

Langit Jakarta, pukul dua dini hari, tiada pernah menjadi kanvas hitam pekat yang kosong. Warnanya campuran gradasi biru keabuan yang terluka oleh polusi cahaya, serupa selimut tipis yang gagal menyembunyikan keresahan kota di bawahnya.

Dari jendela apartemen di lantai dua belas, Kenzo memandangi bentangan lampu-lampu yang berkelip laksana sirkuit raksasa yang tak pernah ingin tidur. Ironisnya, di dalam dirinya, bingar cahaya justru terlelap—atau bisa jadi, mati suri.

Usianya menginjak 31 tahun, baginya hanyalah angka ganjil yang mengantarkannya tepat di titik persimpangan tanpa rambu. Di siang hari, dirinya adalah Kenzo, seorang manajer menengah di sebuah perusahaan logistik, seseorang yang tugasnya menandatangani dokumen, membalas ratusan email, dan duduk dalam rapat-rapat yang terus berulang tanpa akhir. Sedangkan di malam hari, tatkala keheningan mengambil alih harinya, ia hanyalah sekadar Kenzo. Nama tanpa jabatan, kesadaran yang terperangkap dalam tempurung kepalanya yang pengap oleh kesunyian.

Insomnia sudah demikian lamanya menjadi teman yang paling setia, entah sejak kapan tepatnya. Yang pasti, Kenzo tak lagi menganggapnya sebagai gangguan. Akan tetapi ritual untuk menatap langit-langit, menghitung detak jam dinding yang terdengar serupa ketukan palu hakim, sembari merasakan kehampaan yang merayap dari ulu hati, yang dingin dan demikian sabar. Malam ini, kehampaan itu terasa begitu padat, memiliki bobot fisik yang semakin menekan dadanya.

“Aku hanya… ada,” bisiknya pada bayangannya sendiri di kaca jendela yang gelap. “Aku bernapas, makan, bekerja. Apakah aku hidup?”

Pertanyaannya itu bergelantungan di udara pengap kamarnya, tanpa pernah memberi jawaban. Lambat laun kehidupan bagi Kenzo terasa seperti lagu yang diputar berulang-ulang, nadanya terdengar akrab namun maknanya kian lama kian memudar. Kekosongan mengisi setiap jeda detak jantungnya, ruang hampa yang seharusnya diisi oleh mimpi, gairah, atau setidaknya, sebuah a...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp2.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Bronze
TRAM TO 2037
IGN Indra
Cerpen
Bronze
Koran Kertas
Imajinasiku
Cerpen
Bronze
Kelas Tambahan Di Hari Rabu
Cinta Ayumi
Cerpen
Bronze
Harga Sebuah Kejujuran
Wahyu Hidayat
Cerpen
DIVISI
Terry Tiovaldo
Cerpen
Cerita Toko Kopi Padma
Ananda Putri Damayanti
Cerpen
Kado Terindah untuk Nesya
SITI RAHMATIKA FEBRIANI
Cerpen
Pergi Untuk Pulang
Nurul Islah
Cerpen
Bronze
Abaikan Dengan Buku
Yooni SRi
Cerpen
Siomay Terakhir
Fitriyani
Cerpen
Bronze
Pinjaman
Trippleju
Cerpen
Terlahir Kembali
zain zuha
Cerpen
Bronze
Bukan Dari Mereka
Shinta Larasati Hardjono
Cerpen
Bronze
PELANGI USAI BADAI
ari prasetyaningrum
Cerpen
Bronze
INSULIN
Yasin Yusuf
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
TRAM TO 2037
IGN Indra
Cerpen
WADAH
IGN Indra
Flash
BAIT KEMANDANG MALAM PURWA
IGN Indra
Flash
HUJAN DI BALKON SEBELAH
IGN Indra
Cerpen
MALAM ALUNA
IGN Indra
Flash
HATI YANG TAK PULANG
IGN Indra
Cerpen
SEPERTI SALJU BULAN APRIL
IGN Indra
Novel
SENI PERANG RUMAH TANGGA
IGN Indra
Cerpen
WARISAN KETIGA
IGN Indra
Flash
PAJANGAN LEMARI KACA
IGN Indra
Cerpen
LANGIT YANG TAK PERNAH SAMA
IGN Indra
Novel
32 HAL TENTANG KAMU
IGN Indra
Novel
THE TOXIC ASSET
IGN Indra
Flash
PURA PURA WARAS
IGN Indra
Cerpen
KAMAR NO 7 DAN AROMA LAVENDER
IGN Indra