Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Langit Jakarta, pukul dua dini hari, tiada pernah menjadi kanvas hitam pekat yang kosong. Warnanya campuran gradasi biru keabuan yang terluka oleh polusi cahaya, serupa selimut tipis yang gagal menyembunyikan keresahan kota di bawahnya.
Dari jendela apartemen di lantai dua belas, Kenzo memandangi bentangan lampu-lampu yang berkelip laksana sirkuit raksasa yang tak pernah ingin tidur. Ironisnya, di dalam dirinya, bingar cahaya justru terlelap—atau bisa jadi, mati suri.
Usianya menginjak 31 tahun, baginya hanyalah angka ganjil yang mengantarkannya tepat di titik persimpangan tanpa rambu. Di siang hari, dirinya adalah Kenzo, seorang manajer menengah di sebuah perusahaan logistik, seseorang yang tugasnya menandatangani dokumen, membalas ratusan email, dan duduk dalam rapat-rapat yang terus berulang tanpa akhir. Sedangkan di malam hari, tatkala keheningan mengambil alih harinya, ia hanyalah sekadar Kenzo. Nama tanpa jabatan, kesadaran yang terperangkap dalam tempurung kepalanya yang pengap oleh kesunyian.
Insomnia sudah demikian lamanya menjadi teman yang paling setia, entah sejak kapan tepatnya. Yang pasti, Kenzo tak lagi menganggapnya sebagai gangguan. Akan tetapi ritual untuk menatap langit-langit, menghitung detak jam dinding yang terdengar serupa ketukan palu hakim, sembari merasakan kehampaan yang merayap dari ulu hati, yang dingin dan demikian sabar. Malam ini, kehampaan itu terasa begitu padat, memiliki bobot fisik yang semakin menekan dadanya.
“Aku hanya… ada,” bisiknya pada bayangannya sendiri di kaca jendela yang gelap. “Aku bernapas, makan, bekerja. Apakah aku hidup?”
Pertanyaannya itu bergelantungan di udara pengap kamarnya, tanpa pernah memberi jawaban. Lambat laun kehidupan bagi Kenzo terasa seperti lagu yang diputar berulang-ulang, nadanya terdengar akrab namun maknanya kian lama kian memudar. Kekosongan mengisi setiap jeda detak jantungnya, ruang hampa yang seharusnya diisi oleh mimpi, gairah, atau setidaknya, sebuah a...