Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Bronze
TRAM TO 2037
2
Suka
4,406
Dibaca

Langit Jakarta, pukul dua dini hari, tiada pernah menjadi kanvas hitam pekat yang kosong. Warnanya campuran gradasi biru keabuan yang terluka oleh polusi cahaya, serupa selimut tipis yang gagal menyembunyikan keresahan kota di bawahnya.

Dari jendela apartemen di lantai dua belas, Kenzo memandangi bentangan lampu-lampu yang berkelip laksana sirkuit raksasa yang tak pernah ingin tidur. Ironisnya, di dalam dirinya, bingar cahaya justru terlelap—atau bisa jadi, mati suri.

Usianya menginjak 31 tahun, baginya hanyalah angka ganjil yang mengantarkannya tepat di titik persimpangan tanpa rambu. Di siang hari, dirinya adalah Kenzo, seorang manajer menengah di sebuah perusahaan logistik, seseorang yang tugasnya menandatangani dokumen, membalas ratusan email, dan duduk dalam rapat-rapat yang terus berulang tanpa akhir. Sedangkan di malam hari, tatkala keheningan mengambil alih harinya, ia hanyalah sekadar Kenzo. Nama tanpa jabatan, kesadaran yang terperangkap dalam tempurung kepalanya yang pengap oleh kesunyian.

Insomnia sudah demikian lamanya menjadi teman yang paling setia, entah sejak kapan tepatnya. Yang pasti, Kenzo tak lagi menganggapnya sebagai gangguan. Akan tetapi ritual untuk menatap langit-langit, menghitung detak jam dinding yang terdengar serupa ketukan palu hakim, sembari merasakan kehampaan yang merayap dari ulu hati, yang dingin dan demikian sabar. Malam ini, kehampaan itu terasa begitu padat, memiliki bobot fisik yang semakin menekan dadanya.

“Aku hanya… ada,” bisiknya pada bayangannya sendiri di kaca jendela yang gelap. “Aku bernapas, makan, bekerja. Apakah aku hidup?”

Pertanyaannya itu bergelantungan di udara pengap kamarnya, tanpa pernah memberi jawaban. Lambat laun kehidupan bagi Kenzo terasa seperti lagu yang diputar berulang-ulang, nadanya terdengar akrab namun maknanya kian lama kian memudar. Kekosongan mengisi setiap jeda detak jantungnya, ruang hampa yang seharusnya diisi oleh mimpi, gairah, atau setidaknya, sebuah a...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp2.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Bronze
TRAM TO 2037
IGN Indra
Cerpen
Apel Fuji
Rizky Anna
Cerpen
Wanita Gerbong Kereta
Godok
Cerpen
Bronze
AKU INGIN MENJADI PRIA KAYA
Sia Bernadette
Cerpen
Bronze
Pelajaran dari Ban
Nuel Lubis
Cerpen
ABADI
Lili Selfiana
Cerpen
Bronze
Retak Yang Tak Terlihat
Nuniek Sobari
Cerpen
Bronze
Rungkat
artabak
Cerpen
Bronze
Surat dari Jakarta
Ron Nee Soo
Cerpen
Bronze
Harga Sebuah Kejujuran
Wahyu Hidayat
Cerpen
Bronze
Selamat Hidup Kembali, Ra
Shanty Dewi Shanty
Cerpen
Rumah-Rumah yang Pernah Menolak Kami
Septia Arya Nugraha
Cerpen
Bronze
PELANGI USAI BADAI
ari prasetyaningrum
Cerpen
JEJAK DI JALAN SETAPAK
Alwais qorni
Cerpen
Obrolan di Malam Hari
Hai Ra
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
TRAM TO 2037
IGN Indra
Novel
32 HAL TENTANG KAMU
IGN Indra
Flash
MANGKAT
IGN Indra
Flash
KURSI ROTAN & SEPOTONG INGATAN
IGN Indra
Flash
Bronze
Cinta Pergilah, Hari Sudah Malam
IGN Indra
Flash
HATI YANG TAK PULANG
IGN Indra
Cerpen
Bronze
KOPI HITAM DAN ES TEH LECI DI PERSIMPANGAN SENJA
IGN Indra
Novel
THE TOXIC ASSET
IGN Indra
Cerpen
SATU HATI DUA CINTA
IGN Indra
Novel
HARI YANG KAMU PILIH UNTUK MENGINGATKU (BAGIAN PERTAMA)
IGN Indra
Flash
BAIT KEMANDANG MALAM PURWA
IGN Indra
Novel
SIMPUL ARUS HITAM
IGN Indra
Cerpen
OTAK WARISAN
IGN Indra
Flash
PAJANGAN LEMARI KACA
IGN Indra
Novel
SUMMA CUM BLOOD
IGN Indra