Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Bronze
TRAM TO 2037
1
Suka
3
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Langit Jakarta, pukul dua dini hari, tiada pernah menjadi kanvas hitam pekat yang kosong. Warnanya campuran gradasi biru keabuan yang terluka oleh polusi cahaya, serupa selimut tipis yang gagal menyembunyikan keresahan kota di bawahnya.

Dari jendela apartemen di lantai dua belas, Kenzo memandangi bentangan lampu-lampu yang berkelip laksana sirkuit raksasa yang tak pernah ingin tidur. Ironisnya, di dalam dirinya, bingar cahaya justru terlelap—atau bisa jadi, mati suri.

Usianya menginjak 31 tahun, baginya hanyalah angka ganjil yang mengantarkannya tepat di titik persimpangan tanpa rambu. Di siang hari, dirinya adalah Kenzo, seorang manajer menengah di sebuah perusahaan logistik, seseorang yang tugasnya menandatangani dokumen, membalas ratusan email, dan duduk dalam rapat-rapat yang terus berulang tanpa akhir. Sedangkan di malam hari, tatkala keheningan mengambil alih harinya, ia hanyalah sekadar Kenzo. Nama tanpa jabatan, kesadaran yang terperangkap dalam tempurung kepalanya yang pengap oleh kesunyian.

Insomnia sudah demikian lamanya menjadi teman yang paling setia, entah sejak kapan tepatnya. Yang pasti, Kenzo tak lagi menganggapnya sebagai gangguan. Akan tetapi ritual untuk menatap langit-langit, menghitung detak jam dinding yang terdengar serupa ketukan palu hakim, sembari merasakan kehampaan yang merayap dari ulu hati, yang dingin dan demikian sabar. Malam ini, kehampaan itu terasa begitu padat, memiliki bobot fisik yang semakin menekan dadanya.

“Aku hanya… ada,” bisiknya pada bayangannya sendiri di kaca jendela yang gelap. “Aku bernapas, makan, bekerja. Apakah aku hidup?”

Pertanyaannya itu bergelantungan di udara pengap kamarnya, tanpa pernah memberi jawaban. Lambat laun kehidupan bagi Kenzo terasa seperti lagu yang diputar berulang-ulang, nadanya terdengar akrab namun maknanya kian lama kian memudar. Kekosongan mengisi setiap jeda detak jantungnya, ruang hampa yang seharusnya diisi oleh mimpi, gairah, atau setidaknya, sebuah a...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp2.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Bronze
TRAM TO 2037
IGN Indra
Cerpen
Tetangga Depan Rumah
ken fauzy
Cerpen
Bronze
Pelukan Ibu
Lely Saidah Al Aslamiyah
Cerpen
Insta Story Harga Mati
Ryan Esa
Cerpen
Day to day
Keyda Sara R
Cerpen
Buntu
Albadriyya_haw
Cerpen
Bronze
Persahabatan Antar Planet
Shinta Larasati Hardjono
Cerpen
Di Mana Hasil Panen?
Putri Rafi
Cerpen
Bronze
Ruth Pergi Sendiri ke Surga
Johanes Gurning
Cerpen
Barang Biasa, Cerita Luar Biasa
Tresnaning Diah
Cerpen
Bronze
Sejuta Pertanyaan Wanita
Titin Widyawati
Cerpen
Bronze
Grooming
Alya Nazira
Cerpen
Bronze
Mirna
Wulan Dzifa
Cerpen
Beranak Dalam Kaos Kaki
muhammad rio al fauzan
Cerpen
Bronze
Kesunyian Ini ....
Imas Hanifah N.
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
TRAM TO 2037
IGN Indra
Novel
32 DETIK
IGN Indra
Novel
32 HAL TENTANG KAMU
IGN Indra
Cerpen
KAMAR NO 7 DAN AROMA LAVENDER
IGN Indra
Cerpen
LANGIT YANG TAK PERNAH SAMA
IGN Indra
Cerpen
WARISAN KETIGA
IGN Indra
Flash
PURA PURA WARAS
IGN Indra
Cerpen
SATU HATI DUA CINTA
IGN Indra
Cerpen
SISA CINTA DITELAN FAJAR
IGN Indra
Novel
LANGIT KEDUA
IGN Indra
Cerpen
CINTA TAK PERNAH SAMPAI
IGN Indra
Flash
MANGKAT
IGN Indra
Flash
REBUSAN KOSONG
IGN Indra
Cerpen
MALAM ALUNA
IGN Indra
Novel
THE TOXIC ASSET
IGN Indra