Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Aksi
TORAM
0
Suka
8
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

BAB 1

PERTEMUAN BARU

 

1.1 Kabut di Ujung Jalan

Angin berbisik membawa aroma asing.

           Aku membuka mata perlahan, dan yang pertama kulihat hanyalah hamparan ilalang yang bergoyang pelan. Langit kelabu membentang luas tampa batas, seolah enggan memberi tau dimana aku berada. Tubuhku terasa ringan, terlalu ringan seperti baru saja terlempar dari sesuatu yang jauh dan tidak bisa diingat.

Kepalaku berdenyut.

Dimana aku?

           Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku, tapi tak ada jawaban. Hanya suara pepohonan yang berbisik yang ku dengar, seolah berlalu, nampak tak peduli pada kebingungan orang asing.

           Aku berdiri, meraba tubuhku yang ternyata masih utuh, tampa sadar aku menemukan pedang kayu sudah terselip di punggung ku dan sebuah jubah tipis menyelimuti bahuku. “Hmm…, bukankah ini…, seperti perlengkapan seorang petualang”, namun aku tidak ingat pernah memakainya.

           Dari kejauhan, mataku tertuju pada sebuah tiang kayu yang berdiri tegak di tengah ladang. Sesuatu tergantung di sana, mungkin penunjuk jalan, mungkin juga pertanda. Tampa tujuan yang jelas kakiku hanya bisa melangkah mendekat.

           Di bawah tiang besar itu, seorang lelaki tua terlihat sedang duduk bersandar. Pakaiannya lusuh, rambutnya acak-acakan, tapi matanya..., matanya seperti seorang yang telah melihat banyak hal di dunia ini.

           “Hmm…, kau akhirnya bangun juga,” katanya tampa menatapku.

           Aku tertegun. “Kau tahu siapa aku?”

           Lelaki tua itu tertawa renyah. “Tidak, nak. Aku tidak tau namamu, dari mana kau berasal, atau mengapa kau ada di sini. Tapi aku yakin akan satu hal, kau bukan dari sini. Aura-mu terasa berbeda nak.” Ia berdiri dan menatapku sekarang dengan sorot mata yang tajam menusuk. “Entah kenapa, aku merasa kau seperti baru lahir ke dunia ini.”

           Aku tidak tau harus berkata apa. Banyak pertanyaan muncul di pikiranku, namun aku merasa sepertinya dia benar.

           “Mereka biasanya memanggilku Besi Pengelana,” lanjutnya, sambil menepuk tanah di sampingnya. “Tapi kau bisa memanggilku apa saja nak. Lagi pula, aku hanya seorang lelaki tua yang sudah lelah mengembara. Duduklah, aku akan memberi tahumu sesuatu, setidaknya kau harus tahu tentang dunia ini sebelum kau memulai perjalanan.”

           Aku berjalan mendekat dan duduk di sampingnya. Tanah terasa hangat, nyata dengan angin yang berhembus, sangat kontras dengan kekosongan di kepalaku.

           “Nak apa kau pernah mendengar benua bernama Toram?”, ujarnya pelan.

           Aku menggeleng.

           “Ha..ha…, tentu saja tidak. Kau orang baru. “Ia tertawa getir. “Toram adalah dunia yang lahir dari bencana. Konon, ribuan tahun yang lalu, bencana besar terjadi dan memecah belah daratan. Seluruh para dewa yang di sebut sebagai dua belas dewa pilar, bekerjasama dan bergegas menyatukan kembali potongan-potongan itu. Tapi karena terburu-buru, membuat dunia itu tersusun tidak pada letak nya yang sesuai sehingga berantakan.”

           Ia mengambil segenggam tanah, membiarkannya mengalir di sela jari. “Hasilnya? Negeri-negeri yang dulunya indah kini bercampur aduk. Empat suku besar bertengkar karena prinsip dan pendapat. Dan di tengah semua kekacauan itu…” Ia menatapku. “…hadir berbagai petualang seperti kau.”

           “Seperti aku?”

           “Benar. Mereka yang datang entah dari mana, dengan takdir yang belum tercatat. Mereka menjelajah, bertarung, dan menguak misteri yang tersembunyi di balik dunia ini. Mungkin kau juga salah satunya.”

           Aku terdiam, mencerna semua kata kata itu di kepalaku.

           Lelaki tua itu lalu berdiri, mengusap debu dari pakaiannya. “Sudah cukup basa-basinya, kau tidak perlu seserius itu, untungnya kita sekarang berada di benua iruna cukup jauh dari toram jadi kau bisa tenang..., setidaknya untuk saat ini.” Ia menepuk pundak ku “Meskipun begitu, kau harus mulai bergerak nak, kita tidak tau kapan bencana itu akan mengarah ke sini.”

           Seketika itu pula, langit menunjukan warna yang aneh, seperti mendung namun awan di sekitarnya berwarna ungu gelap, angin bertiup kencang seolah memaksa udara masuk ke arahnya. Dari balik awan itu, seekor naga besar berwarna ungu gelap muncul dari langit. Naga itu mendarat di depan kami, terasa jelas aura mengerikan dari tubuhnya, sayapnya besar dan kristal hitam mencolok di sekitarnya.

           Naga itu melolong keras, “grrrhhhh…, ggrrhhh…, goarghh….

           Tubuhnya bergerak bebas, menghancurkan benda-benda di sekitarnya. Semua keributan itu membuat rekan-rekan pak tua yang tadinya mengumpulkan bahan material di sekitar hutan, bergegas kembali.

           “Astaga…, apa ini...?”, kata salah seorang rekan laki laki yang nampak berusia 30 an.

           Paman tua itu berteriak keras “kalian berdua, persiapkan senjata kalian, kita akan menghadang naga ini, agar tidak sampai ke kota”.

           Kedua rekan itu langsung mengeluarkan senjata mereka dan berlari mendekat membentuk formasi mengelilingi naga hitam itu, paman tua juga bergegas mengeluarkan pedang besi besar dari balik punggungnya. Pedang besar itu di ayunkannya dengan mudah seperti mengayunkan bantal.

           “Aku ragu akan usia paman tua itu, sepertinya dia tak terlihat setua penampilannya...” pikirku.

           Aku berada tepat di sampingnya, bersiap menghunuskan pedang ku, namun paman itu berkata “tunggu nak, sebaiknya serahkan ini padaku…, kau pergilah duluan ke kota sofya, rekan ku akan mengantarmu”. Aku mendengar jelas suara itu, namun tubuhku tidak mau pergi, aku merasa bimbang pergi sendiri meninggalkan mereka begitu saja menghadapi naga hitam.

           Salah seorang rekan memanggilku “ayo kemari…, ikuti aku, tenanglah…, setelah ini aku juga akan membantunya, kami juga masih ada seorang rekan lagi yang akan datang membantunya”. Setelah mendengar itu, aku memutuskan untuk pergi duluan ke kota sofya bersama salah seorang rekan yang menuntun jalanku, lagi pula dengan perlengkapan ku saat ini, sangat mustahil untuk membantu.

           Setelah beberapa langkah menjauh, aku sempat khawatir dan menoleh ke belakang. Di sana terlihat pertarungan yang luar biasa, paman tua itu mengayunkan pedang besarnya ke arah naga hitam, membuat seluruh serangan seperti cakaran dan cambukan ekor tertahan oleh pedang besar itu. Sementara salah satu rekannya menembak dengan bowgun secara terus menerus ke arah naga hitam dari jarak jauh.

           “Seperti inikah pertarungan regu petualang…” ucapku dengan kagum.

           “Kau lihat itu…, meskipun penampilannya seperti itu, dia cukup hebat di kalangan petualang. Lihat matanya…, itu mata yang menunjukan semangat dan kuda-kuda bertarungnya, masih tegap seperti dulu, orang tua itu cukup hebat kan, haha… hahaha…, bahkan aku yang lebih muda merasa kalah semangat dengannya” ucap rekan yang sedang bersamaku.

           Saat aku mau melangkahkan kaki ku untuk pergi, tiba-tiba naga hitam itu menegakan kepalanya ke atas, mulutnya terbuka lebar, ia seolah mengabaikan semua serangan yang datang. Dari dalam mulut naga hitam itu terlihat cahaya ungu terkumpul dan semakin membesar.

           Seorang rekan yang bertarung dengan bowgun itu menyadari situasinya dan berteriak “Pak besi tua awass…, dia akan menyemburkan api ke arahmu…”. Namun sudah tidak ada waktu lagi untuk menghindar.

           Tiba-tiba, dari atas pohon, seorang wanita terlihat melompat dengan sarung tinju besinya, gerakannya sangat cepat menuju kepala naga yang masih terbuka itu.

           “Brukkk…., Brick…., Braaack…”, pukulannya sangat kuat dan tepat mengenai kepala naga, hingga membuat naga hitam itu terpental ambruk ke tanah.

           “Sepertinya aku tepat waktu ya ketua…” kata wanita itu sambil berjalan santai ke arah paman tua.

           Rekan di sampingku berkata “kau lihat kan, tak usah khawatir, dia adalah wakil ketua kami. Meskipun seorang wanita, dia sangat kuat. Ayo lanjutkan perjalanan kita. Aku menganggukan kepala, kami lanjut pergi menggunakan kereta kuda yang berada tak jauh dari sana, untuk ke kota sofya.

           Perjalanan kami pun di mulai, selama perjalanan, kami makan, minum, tidur dan berbincang-bincang dengan serunya di atas kereta kuda itu. Kami tidak membawa cukup persediaan untuk sampai ke kota, jadi kami menangkap apa yang ada di alam untuk di konsumsi, untungnya jalur menuju kota sofya banyak melewati sungai dan hutan, di tambah rekan petualang juga sangat pandai berburu, jadi aku merasa perjalanan ini akan aman sampai di kota.

           Selama perjalanan aku juga mendengar banyak hal dari rekan petualang. Berdasarkan ceritanya, dunia ini sedang menghadapi masalah serius dari benda tak di kenal, meskipun sempat hancur dibuatnya, para ke-12 dewa pilar langsung memperbaiki dunia dengan masing masing kekuatan mereka. Sayangnya, karena tergesa-gesa, tatanan dunia ini jadi aneh, dan akibatnya    ketidak seimbangan antar wilayah pun terjadi. Ini tentu menimbulkan banyak masalah, salah satunya adalah konflik antar ras yang muncul karena perbedaan prinsip dan cara pandang.

           Rekan petualang juga memberi tahu ku bahwa ada kabar angin yang menyebar seperti rumor di antara petualang. Informasinya mengatakan, di beberapa tempat, ketidaksesuaian letak wilayah itu membuat benda tak di kenal justru berkembang dan semakin kuat.

           Benda itu juga mulai menjangkit area di sekitarnya, bukan hanya wilayah, bahkan hewan dan para monster juga dapat terinfeksi benda aneh itu. Hal ini membuat mereka menggila dan jadi mahkluk mengerikan yang ganas.

           Aku sempat bertanya-tanya seperti dewa pilar itu apa?, lalu setelah dunia kacau begini semua dewa itu dimana?. Namun semua informasi yang di dapat dari rekan petualang terbatas, bahkan sebagian juga hanya rumor.

           Tiga hari tak terasa sudah berlalu, akhirnya kami sampai di gerbang kota sofya, kota itu benar-benar besar, banyak bangunan megah, seperti rumah, kedai makanan, bar, gorong-gorong, perahu dan bahkan ada balai kotanya juga. lingkungannya terlihat nyaman, pemandangan yang bagus untuk dilihat antara padang rumput, kota dan sungai yang mengitarinya. “ohh…, aku sudah tak sabar ingin berkeliling” ucapku. Mungkin aku juga bisa menemukan jawaban atas semua pertanyaanku di kota ini.

 

 

 

 

 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Aksi
Cerpen
TORAM
Moon
Flash
KUMPULAN TATIKA
Citra Rahayu Bening
Novel
Patih Nyasar!
Syarif Hidayatullah
Flash
Bayang Pengkhianat
Putri Rafi
Novel
VLINDER
Yohanna Claude
Flash
Bronze
Politikus adalah Pemain Golf Jenius
Silvarani
Cerpen
Bronze
Koloni Kutu
Kemal Ahmed
Cerpen
Maling
Athoillah
Flash
Terbuka
Mahmud
Cerpen
Petualangan Dunia Kotak
gisella kosasih
Flash
Senandung Kerinduan di Balik Jendela November
Lukitokarya
Novel
Bronze
Limerence
Kennie Re
Cerpen
Bersama kita, Bisa menghadapi segalanya.
Hildafatwa Aulia
Cerpen
Pemburu Suara
zain zuha
Novel
MUDRA
Mega Yohana
Rekomendasi
Cerpen
TORAM
Moon