Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
NAQ JENGEA, TENGAH HARI
Hat memegang lenganku erat sementara bisikannya lagi-lagi memaksaku mengendurkan amarah. Mataku masih nyalang, tak kalah merah padam dari wajah bulat milik lelaki tua yang kini menatapku lekat. Batinku seolah bisa menerjemahkan tatapan merendahkannya sebagai bentuk umpatan. Sungguh, andai aku tak ingat bahwa sekarang kami tengah berada dalam perayaan adat, sudah kucakar mukanya dengan kuku-kuku jariku yang gatal.
“Cukup, Selea!” Hat menarik tubuhku hingga mau tak mau mengikutinya mundur ke belakang, merangsek di antara tubuh masyarakat kampung yang tak sengaja melihat pertikaian kami. “Kita pulang dan mencari bambu di tempat lain,” ujarnya cemas.
“Pandanganku belum terputus bahkan ketika Hat dengan hormat menundukkan kepalanya untuk pamit dan jarak kami sudah cukup jauh dari “lelaki tua” itu. Kata-kata kasar yang tak sempat kuujarkan terpaksa kutelan kembali. Pertemuan tak sengaja kami dengan lel...