Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Self Improvement
Tombol Setuju
0
Suka
3
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

“Kamu sudah coba aplikasi baru ini? Lagi viral banget!” ujar Titis, matanya berbinar, jemarinya lincah menggeser layar ponselnya.

“Gratis, tinggal klik Setuju. Semua orang pakai. Katanya, memudahkan semua urusan kita.”

Dida menatap layar itu. Tombol hijau besar menyala terang, begitu mencolok seakan mata yang memanggil-manggil. Di bawahnya, deretan teks kecil panjang berliku dan absurd, seperti bisikan yang sengaja ditulis agar tak pernah dibaca. Ia menarik napas, merasakan kekosongan mengendap di dadanya. Dahinya mengeryit, alisnya mengkerut.

“Setuju, untuk apa?” tanyanya pelan.

Titis terkekeh. “Ya, biar gampang, biar praktis. Tinggal klik, selesai.”

Dida hanya diam. Di kafe itu, denting sendok di cangkir, tawa renyah pengunjung, dan dering notifikasi ponsel berbaur menjadi satu simfoni zaman. Simfoni yang menuntut kecepatan, kepraktisan namun bukan pemahaman.

Bayangan yang Mengikuti

Malam itu, Dida pulang tidak hanya dengan badan lelah namun juga dengan hati gelisah serta fikiran gundah. Saat ia berjalan melewati trotoar kota, lampu-lampu jalan memanjang, membentuk bayangannya sendiri. Tapi ada yang ganjil: bayangan itu bukan meniru gerakannya, melainkan lebih dulu bergerak, seakan memandu langkahnya.

Ia berhenti. Bayangan itu tetap melangkah, baru kemudian menoleh, seakan menunggu dirinya.

Dida bergidik. Ia mempercepat langkah, tapi bayangan itu selalu satu langkah di depan.

Tiba di kamar, ia bergegas membuka laptop. Membaca syarat dan ketentuan aplikasi itu. Teksnya berlapis, datar dan penuh istilah hukum, tanpa jeda. Hingga ia berhenti di satu kalimat:

“Pengguna menyetujui penggunaan data pribadi, termasuk lokasi, kontak, preferensi, dan interaksi digital, untuk tujuan peningkatan layanan dan mitra pihak ketiga.”

Ia memejamkan mata. Terbayang wajah ibunya yang kerap mengirim pesan sederhana: “Sudah makan? Jangan lupa salat. Jangan begadang.” Pesan yang tulus itu bisa saja menjadi komoditas, dibaca mesin, dijadikan bahan promosi vitamin, seperangkat alat salat atau iklan obat tidur.

Malam-malam berikutnya, mimpi buruk menjemputnya. Nyaris saban malam.

Ia berdiri di sebuah ruangan penuh cermin. Setiap cermin menampilkan wajahnya dalam berbagai versi: ada yang tersenyum, ada yang menangis, ada yang marah, ada yang girang alang kepalang. Tapi semua wajah itu bukan ia yang memilih. Wajah-wajah itu berubah mengikuti sorot mata sebuah bayangan besar di sudut ruangan. Bayangan tanpa wajah, namun bermata ribuan dengan pupil yang lebar, mata yang berkilat seperti layar ponsel.

“Pilihlah wajahmu,” bisik bayangan itu.

Dida mencoba menunjuk salah satunya, tetapi tangannya transparan, tembus pandang, hanya seperti bayangan. Wajah-wajah itu menertawainya.

“Bukan kau yang memilih, Dida. Aku yang memilih siapa dirimu.”

Ia terbangun dengan keringat dingin. Pakaian dalamnya basah seperti kehujanan. Ponselnya bergetar: notifikasi dari aplikasi. “Bangun pagi dengan semangat! Inilah playlist untuk suasana hatimu.”

Dida menggigil. Mimpinya seakan menyeberang ke dunia nyata menembus otaknya.

Beberapa minggu kemudian, ia bertemu Titis lagi. Ia memperhatikan dengan seksama. Titis semakin larut dalam aplikasi yang dibanggakannya itu. Ia tertawa pada rekomendasi film, menangis pada musik patah hati yang muncul “tepat waktu”. 

“Lihat, Da! Aplikasi ini memahami aku banget. Kayak punya sahabat rahasia, tak pernah mengkhiati” ujarnya sambil menunjuk layar ponsel.

Dida menatapnya dengan ngeri. Di belakang Titis, ia melihat sekilas bayangan itu; tinggi, gelap, menempel di punggung sahabatnya, berbisik ke telinganya. Titis seolah sedang menggendong bayangan itu tanpa disadarinya.

“Bukan sahabat, Tis. Itu penguasa, pengendali. Kamu sudah kehilangan kendali atas dirimu sendiri.”

Titis menoleh heran sambil tertawa geli, tak melihat apa-apa. “Maksudnya?” Tanyanya. “Jelas sekali kau tak paham juga. Hidupmu sangat bergantung padanya. Tanpa kau sadari aplikasi itu sudah menuntunmu pada pilihan-pilihan yang kau fikir itu pilihanmu,” jawab Dida ketus. Titis tersenyum getir. “Kalau pun iya, apa salahnya? Bukankah lebih mudah hidup begini? Aku tak perlu repot memilih. Praktis dan ekonomis!” Balas Titis tak kalah ketus.

Dida tercekat. Bayangan itu semakin melekat, memeluk tubuh Titis seperti kabut pekat. Tak melepaskannya sedetikpun. Dida pun bergegas pergi.

Bayangan di Teras Malam

Di teras rumah yang redup, Titis duduk kaku seperti patung yang kehilangan roh. Matanya sembab, pipinya masih dipenuhi jejak air mata, sementara ponsel di tangannya ia genggam erat, seolah benda dingin itu bisa menjawab pertanyaan yang bahkan ia takut untuk mengucapkan.

“Aku baru sadar, Da…” suaranya pecah, nyaris tak terdengar, seperti kaca retak yang menolak jatuh. “Aplikasi itu… tahu aku akan resign. Hari ini muncul notifikasi: ‘Karier baru menantimu.’ Padahal aku hanya berpikir. Belum menulis, belum bicara, belum bercerita, belum berbuat apa pun. Hanya… merasa.”

Dida menatapnya. Ada kerisauan yang sama, tapi juga semacam ketakutan yang berlapis, sulit disebutkan. Di belakang tubuh Titis, bayangan memanjang di dinding, mula-mula samar lalu makin tegas, menyerupai wajah asing yang seperti ingin ikut berbicara.

“Aku juga sudah bermimpi buruk berminggu-minggu,” bisik Dida. “Tentang dunia yang mendahului pikiran kita sendiri. Kita bukan pemilik kehendak lagi.”

Air mata Titis runtuh lagi, satu-satu, lalu deras, seperti sebungkus pasir yang pecah tanpa bisa dihentikan. “Kalau begitu… apa aku masih bisa kembali?”

Dida tak langsung menjawab. Tangannya meraih bahu Titis, menggenggam dengan hangat, seperti orang yang sedang menjaga api kecil agar tak padam. “Kesadaran itu seperti cahaya samar di ujung lorong. Ia mungkin datang terlambat, tapi tetap bisa jadi penunjuk arah.”

Titis menarik napas panjang, lalu membuka kembali aplikasi itu. Bukan untuk membaca notifikasi, melainkan menelusuri riwayatnya: jejak pencarian, langkah-langkah yang dipetakan, bahkan detak jantung yang terekam diam-diam. Semuanya ada. Bahkan tangisnya di kamar mandi kantor, dua minggu lalu, tertera dalam grafik yang dingin.

Tangannya gemetar. Ia menoleh pada Dida. “Mereka tahu segalanya. Bahkan rasa yang tak pernah aku beri nama.”

Dida menunduk, suaranya lirih. “Itulah yang menakutkan. Tapi juga itulah yang bisa kita rebut kembali. Kita masih bisa memilih untuk merasa. Untuk marah. Untuk menolak.”

Titis berdiri. Bayangan di dinding bergetar, menjerit tanpa suara, lalu perlahan mengerut, seperti kabut yang kehilangan arah. Langit tetap gelap, namun gelap itu kini terasa lapang, bukan penjara, melainkan ruang kosong yang bisa diisi ulang.

“Aku ingin kembali jadi manusia,” bisiknya. “Yang punya rahasia. Yang bisa menyimpan sunyi. Yang bisa berkata tidak.”

----

Pagi itu, Dida kembali ke kafe tempat segalanya berawal, ruang kecil di mana percakapan pertama tentang aplikasi pernah tumbuh. Ia duduk seorang diri, menatap layar ponselnya. Tombol hijau bertuliskan Setuju berpendar lembut, seakan tak sekadar ikon digital, melainkan sebuah undangan terakhir menuju dunia yang asing dan tak sepenuhnya ia kehendaki.

Jemarinya bergetar. Ia merasakan bayangan itu hadir lagi di belakangnya, dingin dan tak kasatmata, mendorong tangannya menuju layar dengan kekuatan yang tak pernah benar-benar ia pahami.

Namun kali ini, ia menolak tunduk. Tatapannya hanya melintas singkat, seperti mata yang tak sengaja menoleh pada cahaya terlalu terang. Dengan tenang, ia menutup layar. Suara klik kecil itu terdengar seperti retakan halus pada rantai takdir. Bayangan di belakangnya memudar, kehilangan denyut, seperti kabut yang ditelan matahari pagi.

Dida mengalihkan pandang ke luar jendela. Daun-daun berjatuhan satu per satu, bagai potongan waktu yang rela dilepaskan. Angin berembus sejuk, membisikkan sesuatu yang lebih jujur daripada algoritma: bahwa hidup, sesederhana apa pun bentuknya, masih bisa dipilih. Cahaya matahari menembus kaca tebal, menyalakan debu-debu kecil di udara yang menari bagai fragmen kebebasan.

Senyum tipis lahir di bibirnya, bukan karena kemenangan besar, melainkan karena rasa paling langka dan utuh: kendali atas dirinya sendiri. Ia sadar, kesadaran selalu datang terlambat, seperti penumpang yang baru tiba ketika kereta nyaris meninggalkan stasiun.

Namun ia juga tahu, setiap keberanian untuk berkata tidak, betapapun kecilnya, adalah cara manusia merebut kembali hak yang paling purba: kebebasan memilih jalannya sendiri. Dan di dunia yang kian rapuh dalam genggaman algoritma, mungkin perlawanan tak perlu berisik. Barangkali justru yang paling sunyi, dan karena itu pula, paling suci.

Malam itu, setelah menutup layar ponsel, Dida tidur dengan dada yang lebih lapang. Ia segera terlelap. Ia bermimpi berjalan di sebuah savana yang luas, cahaya matahari menghampar, dan angin menampar wajahnya dengan lembut, berkali-kali.

Blora, Mei 2025

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Self Improvement
Cerpen
Tombol Setuju
Desto Prastowo
Flash
Bronze
Industrial Bakurocho Station Monologue
Silvarani
Flash
Yakin
muji
Flash
Bronze
Gion Night Time Slip
Silvarani
Flash
JANGAN JADI GURU!
Hans Wysiwyg
Flash
A PIECE OF LIFE ABOUT ME
Kimijuliaaa
Cerpen
Tiket Sekali Jalan ke Diri Sendiri
Penulis N
Flash
Sarang Tupai
Cléa Rivenhart
Flash
Bronze
Jangan Jatuh Cinta di Titik Amplitudo!
Silvarani
Flash
Lensa di Balik Tirai Dapur
INeeTha
Cerpen
[The Other Me] Rahasia Lintang
Pejandtan
Cerpen
Bronze
Gembel di Tanah Asing
Bang Jay
Novel
Yang tersembunyi dalam luka
Asep Saepuloh
Flash
Tuhan, Botol & Babi Hutan
Alysya Zivana Pranindya
Flash
Bronze
Rapat Zoom dengan Diri Sendiri
Desto Prastowo
Rekomendasi
Cerpen
Tombol Setuju
Desto Prastowo
Cerpen
Bronze
Cuti Emosional WiFi
Desto Prastowo
Flash
Bronze
Cum Laude di Sudut Jalan
Desto Prastowo
Novel
Bronze
RESONANSI ROMENI
Desto Prastowo
Flash
Bronze
Hantu Anti-Ghosting
Desto Prastowo
Cerpen
Bronze
Puisi yang Tak Pernah Sampai
Desto Prastowo
Flash
Bronze
Rapat Zoom dengan Diri Sendiri
Desto Prastowo
Flash
Bronze
Dua Lilin di Bukit Sunyi
Desto Prastowo
Cerpen
Bronze
DELAPAN LENGAN PAK OKTOPUS
Desto Prastowo
Flash
Bronze
Algoritma Hasrat, Borgol di Tangan
Desto Prastowo
Cerpen
Bronze
Waktu yang Hilang
Desto Prastowo
Flash
Bronze
Handphone yang Tertinggal
Desto Prastowo
Cerpen
Bronze
Syamsul dan Senja yang Jujur
Desto Prastowo
Cerpen
Bronze
Sebelum Kamu Mengetuk Lagi
Desto Prastowo
Cerpen
Bronze
Lampu dari Sungai yang Mengering
Desto Prastowo