Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Toko Penjual Waktu Luang
0
Suka
31
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Layar ponsel Rian menyala untuk ke-empat puluh kalinya malam itu. Notifikasi grup WhatsApp kantor beruntun seperti rentetan peluru.

"Rian, revisi laporan kuartal tiga harus masuk meja saya sebelum jam tujuh pagi besok," suara notifikasi itu seolah menjelma menjadi teriakan atasannya.

Rian menyeka keringat dingin di dahi. Ia berdiri di tengah gang sempit yang diapit gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Napasnya tersengal. Di depannya, sebuah papan kayu tua berayun tertiup angin malam, bertuliskan: Toko Penjual Waktu Luang.

"Masuk saja, pintunya tidak dikunci."

Rian tersentak. Suara itu berat dan serak, berasal dari balik pintu kaca buram. Dengan ragu, ia mendorong pintu itu. Bunyi lonceng kecil berdenting. Bau aromaterapi cendana bercampur dengan aroma kertas tua menyeruak.

"Maaf, saya... saya cuma lewat," gumam Rian, hendak berbalik.

"Kamu tidak cuma lewat. Kamu sedang sekarat karena waktu, bukan?"

Seorang pria tua dengan kacamata bulat kecil duduk di balik meja kayu tinggi. Di belakangnya, ribuan botol kaca kecil berwarna biru neon berjejer rapi di rak-rak yang mencapai langit-langit.

"Apa ini semacam kafe?" tanya Rian sembari mendekat.

"Bukan. Ini toko solusi. Kamu butuh istirahat, Rian?"

Rian mematung. "Bagaimana Bapak tahu nama saya?"

"Nama itu tidak penting. Yang penting adalah beban di bahumu. Berapa jam yang kamu butuhkan untuk merasa bebas?"

Rian tertawa getir, ia menarik kursi kayu di depan meja. "Bebas? Saya butuh selamanya. Tapi satu jam saja tanpa gangguan ponsel ini rasanya sudah seperti surga."

Pria tua itu mengambil sebuah botol biru dari rak terdekat. Ia meletakkannya di atas meja. Di label botol itu tertulis: [Item: Waktu Luang - Durasi: 1 Jam].

"Satu jam ketenangan mutlak. Tanpa telepon, tanpa kerjaan, tanpa kecemasan. Dunia di luar sana akan berhenti berputar untukmu," kata si Pria Tua.

"Harganya? Saya tidak punya banyak uang kalau ini semacam terapi mahal."

"Toko ini tidak menerima uang, Rian. Kami hanya menerima barter."

"Barter apa?"

"Satu kenangan bahagia terkecilmu untuk satu jam ini. Adil, bukan? Kamu punya banyak kenangan yang tidak kamu gunakan lagi."

Rian mengerutkan kening. "Kenangan? Maksudnya saya akan lupa?"

"Hanya satu hal kecil. Mungkin rasa es krim yang kamu makan saat umur tujuh tahun, atau warna baju cinta pertamamu. Hal-hal yang tidak akan memengaruhi karirmu di kantor."

Rian melirik ponselnya yang kembali bergetar. Nama bosnya muncul di layar. Ia merasa mual.

"Ambil saja kenangan es krim itu. Saya mau botolnya," sahut Rian cepat.

Pria tua itu tersenyum tipis. Ia menyodorkan botol itu dan sebuah formulir kecil. [Transaksi Dimulai: 1 Jam Ketenangan vs 1 Kenangan Es Krim Cokelat Masa Kecil].

"Silakan diminum di sini, atau dibawa pulang?"

"Di sini saja. Saya tidak mau diganggu siapapun di luar sana."

Rian membuka tutup botol. Cairan di dalamnya terasa dingin dan manis seperti embun pagi. Begitu tetes terakhir melewati tenggorokannya, suara bising kota di luar mendadak senyap. Ponselnya berhenti bergetar, layarnya gelap total.

"Wah... ini gila. Rasanya sepi sekali," bisik Rian.

"Itu namanya ketenangan, Rian. Nikmatilah."

"Pak, apa ada orang lain yang membeli ini selain saya?"

"Banyak. Tapi kebanyakan dari mereka tidak pernah cukup dengan satu botol."

"Kenapa?"

"Karena kebahagiaan yang kamu lupakan akan meninggalkan lubang, dan kamu akan mencoba mengisi lubang itu dengan ketenangan yang lebih banyak lagi."

Rian menyandarkan punggungnya, memejamkan mata. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, ia merasa tidak perlu melakukan apa-apa. Namun, saat ia mencoba mengingat rasa es krim favoritnya dulu, yang ia temukan hanyalah warna abu-abu di kepalanya.

"Harganya murah sekali untuk perasaan senyaman ini," kata Rian pelan.

Pria tua itu menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Semua orang mengatakan hal yang sama di botol pertama."

"Boleh saya minta satu botol lagi untuk besok?"

"Tentu, tapi harganya akan naik sedikit."

"Naik? Jadi apa?"

"Kenangan tentang aroma masakan ibumu saat kamu pulang sekolah."

Rian terdiam sejenak. Ia mencoba memanggil ingatan itu. Bau tumis kangkung dan sambal terasi. Ia tersenyum, lalu mengangguk.

"Ibu saya sudah lama meninggal. Kenangan itu cuma bikin saya sedih kalau diingat. Ambil saja."

Pria tua itu mencatat sesuatu di buku besarnya. "Pilihan yang menarik."

"Kenapa menarik?"

"Karena sebentar lagi kamu akan kembali ke toko ini dengan permohonan yang berbeda."

Harga yang Terhapus

Seminggu telah berlalu. Rian tidak lagi terlihat seperti budak korporat yang kuyu. Wajahnya segar, namun ada yang aneh dengan sorot matanya. Ia tampak... kosong.

"Rian! Lu dengerin gue nggak sih?"

Rian tersentak. Di depannya, Dimas, rekan kerja sekaligus sahabatnya, menatap dengan heran. Mereka sedang berada di kantin kantor.

"Sori, Dim. Gue cuma... agak melamun."

"Lu aneh belakangan ini. Proyek besar kita tembus, Bos kasih bonus, tapi lu datar aja. Terus, tadi pagi lu nanya ke gue alamat rumah lu sendiri. Lu mabok?"

Rian memegang kepalanya yang berdenyut. "Gue cuma capek. Gue ngerasa ada yang hilang, tapi gue nggak tahu apa."

"Lu juga lupa hari ini hari apa? Ini tanggal kematian nyokap lu, kan? Biasanya lu ijin ke makam."

Rian tertegun. Ia mencoba mencari wajah ibunya di dalam ingatan. Gelap. Ia tahu dia punya ibu, ia tahu ibunya sudah meninggal, tapi ia tidak bisa mengingat bagaimana wajahnya saat tersenyum atau bagaimana suaranya memanggil namanya.

"Gue... gue kayaknya ada urusan sebentar," ujar Rian sambil berdiri terburu-buru.

"Mau ke makam?"

"Bukan. Ada toko yang harus gue datangi."

Rian berlari menembus kemacetan Jakarta. Pikirannya kalut. Ia butuh jawaban. Ia sampai di gang sempit itu saat matahari mulai tenggelam. Toko itu masih di sana, berdiri angkuh di antara beton raksasa.

Denting!

"Selamat datang kembali, pelanggan setia," sapa Pria Tua itu tanpa mendongak dari bukunya.

"Kembalikan!" teriak Rian sambil memukul meja kayu. "Kembalikan ingatan tentang ibu saya!"

Pria tua itu melepas kacamata. "Aturannya jelas, Rian. Transaksi yang sudah selesai tidak bisa dibatalkan. Kamu sudah meminum delapan botol dalam tujuh hari. Kamu menukar banyak hal untuk 'ketenangan' itu."

"Saya nggak tahu bakal jadi kayak begini! Saya lupa wajah ibu saya! Saya lupa alamat rumah saya sendiri!"

"Tapi bukankah kamu merasa tenang? Tidak ada lagi kecemasan saat bekerja, bukan?"

Rian jatuh terduduk di lantai. "Ini bukan tenang. Ini kosong. Saya merasa seperti mayat yang berjalan."

"Itu karena kamu sudah menjual identitasmu demi kenyamanan sesaat."

Pria tua itu bangkit, berjalan ke arah rak belakang, dan mengambil sebuah botol yang berbeda. Warnanya bukan biru neon, melainkan merah pekat seperti darah. Di labelnya tertulis: [Item: Waktu Masa Lalu - Durasi: 24 Jam].

"Apa itu?" tanya Rian lemas.

"Ini adalah botol pengingat. Kamu bisa mendapatkan kembali semua ingatanmu dalam waktu satu hari. Kamu bisa mengunjungi ibumu dalam ingatan, mengingat alamatmu, merasakan kembali es krim cokelat itu."

Mata Rian berbinar. "Berikan pada saya! Berapa harganya? Saya akan berikan apa saja!"

"Harganya sangat mahal, Rian. Untuk mendapatkan kembali masa lalumu selama 24 jam, kamu harus memberikan 'Masa Depanmu'."

Rian terdiam. "Masa depan? Maksudnya?"

"Kamu akan berhenti memiliki hari esok setelah 24 jam itu berakhir. Kamu akan menjadi bagian dari toko ini. Menjadi penjaga, seperti saya."

"Maksud Bapak... saya akan mati?"

"Secara fisik di dunia luar, ya. Kamu akan dinyatakan hilang. Tapi di sini, kamu akan abadi sebagai pelayan waktu."

Rian melihat ponselnya. Ada sepuluh panggilan tak terjawab dari Dimas. Ada email revisi lagi. Ada tagihan kartu kredit. Dunia di luar sana terasa begitu berat, sementara di toko ini, semuanya statis dan tenang.

"Kalau saya tidak mengambil botol ini, apa saya bisa hidup normal lagi?"

"Bisa. Tapi dengan lubang-lubang di ingatanmu. Kamu akan terus merasa asing dengan dirimu sendiri sampai akhir hayatmu."

Rian menatap botol merah itu. Ia membayangkan wajah ibunya yang mulai memudar seperti foto tua yang terbakar.

"Saya ingin melihat ibu saya sekali lagi. Saya ingin ingat siapa saya sebenarnya, walaupun cuma sehari."

Pria tua itu menyodorkan kontrak baru. [Transaksi Final: 24 Jam Ingatan Utuh vs Keberadaan di Dunia Nyata].

"Tandatangani di sini, Rian."

Rian menggoreskan pena dengan tangan gemetar. Begitu selesai, pria tua itu memberikan botol merah itu.

"Minumlah. Dan pergilah ke tempat-tempat yang ingin kamu ingat. Waktumu dimulai sekarang."

Rian meminum cairan merah itu. Rasanya hangat, seperti pelukan. Tiba-tiba, ledakan warna dan suara memenuhi kepalanya. Ia ingat aroma tumis kangkung. Ia ingat wajah ibunya yang teduh. Ia ingat betapa ia sangat menyukai aroma hujan di tanah kering.

"Terima kasih," bisik Rian dengan air mata mengalir.

"Jangan berterima kasih sekarang, Rian. Kamu belum melihat bagian akhirnya."

Rian berlari keluar toko. Ia ingin pulang. Ia ingin melihat foto-foto di rumahnya. Ia ingin menemui Dimas dan meminta maaf. Ia ingin hidup sepenuhnya dalam 24 jam terakhirnya.

"Tunggu, Pak!" Rian berhenti di ambang pintu. "Siapa nama Bapak sebenarnya?"

Pria tua itu menatapnya dengan iba. "Kamu akan tahu jawabannya besok pagi, saat kamu bercermin di toko ini."

Pemilik Toko Berikutnya

Dua puluh empat jam berlalu seperti kedipan mata.

Rian menghabiskan waktunya dengan menangis di makam ibunya, makan di warteg langganan masa kecilnya, dan duduk di taman kota memperhatikan orang-orang lewat. Ia tidak menyentuh ponselnya sama sekali. Ia merasa hidup, sangat hidup, justru di saat ajalnya mendekat.

Saat jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam—tepat dua puluh empat jam sejak ia meminum botol merah—langit Jakarta terasa berputar. Rian mendapati dirinya tidak lagi berdiri di taman.

Ia berdiri di depan pintu kaca buram. Toko Penjual Waktu Luang.

Lonceng berdenting otomatis saat ia melangkah masuk. Namun, toko itu kosong. Tidak ada pria tua di balik meja.

"Pak? Saya sudah kembali!" teriak Rian.

Tidak ada jawaban. Rian mendekat ke meja besar itu. Di atasnya, terletak sebuah buku besar yang terbuka. Di baris terakhir, ia melihat namanya sendiri: Rian Aditama - Status: Terakuisisi.

Rian melihat ke arah cermin besar di sudut ruangan. Ia berteriak.

Wajahnya tidak berubah, tapi rambutnya mulai memutih di bagian samping. Pakaian kerjanya berubah menjadi rompi wol tua yang sama persis dengan yang dipakai pria tua kemarin.

"Enggak... ini nggak mungkin!"

Ia mencoba membuka pintu keluar, tapi pintu itu terkunci rapat. Ia memukul kaca, tapi tidak ada suara yang keluar. Orang-orang di luar gang berjalan melewatinya seolah toko itu tidak pernah ada.

Tiba-tiba, sebuah laci di meja terbuka dengan sendirinya. Di dalamnya terdapat ribuan botol kosong yang siap diisi. Rian merasakan dorongan aneh di dalam jiwanya. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ia bisa merasakan emosi-emosi dari luar gedung. Kesedihan, kelelahan, stres.

Ia duduk di kursi tinggi itu. Tangannya secara otomatis mengambil sebuah botol biru dan mulai mengisinya dengan cairan jernih yang muncul dari udara tipis.

Denting!

Pintu depan terbuka. Seorang wanita muda dengan maskara yang luntur karena tangis dan ponsel yang terus berbunyi di tangannya masuk dengan ragu-ragu.

Wanita itu menatap Rian dengan tatapan putus asa yang sangat familiar.

"Maaf... apa benar di sini menjual 'waktu'?" tanya wanita itu gemetar.

Rian merasakan tenggorokannya kering. Ia ingin berteriak agar wanita itu lari sekencang mungkin. Ia ingin bilang bahwa harga ketenangan ini adalah segalanya. Tapi mulutnya bergerak di luar kendalinya. Suaranya keluar, berat dan serak, persis suara pria tua yang ia temui kemarin.

"Masuk saja, pintunya tidak dikunci."

Wanita itu mendekat, duduk di kursi yang sama dengan yang diduduki Rian kemarin. "Saya capek banget, Pak. Saya cuma mau istirahat sebentar saja dari semua ini. Bos saya, pacar saya... semuanya nuntut saya."

Rian melihat botol biru di tangannya. [Item: Waktu Luang - Durasi: 1 Jam].

"Hanya satu jam?" tanya Rian, suaranya terdengar seperti bisikan maut.

"Ya, satu jam saja. Apa harganya mahal?"

Rian menatap mata wanita itu. Ia melihat dirinya yang lama di sana. Ia melihat pria tua kemarin—yang mungkin saja adalah korban sebelum dirinya—sedang tersenyum pahit di dalam bayangan ingatannya.

"Tidak mahal," kata Rian sambil meletakkan botol itu di atas meja.

"Lalu, apa yang harus saya berikan?"

Rian menarik napas panjang, air mata menetes di balik kacamata bulat yang tiba-tiba sudah bertengger di hidungnya. Ia menunjuk ke arah botol itu.

"Berikan saya satu kenangan bahagiamu, dan satu jam ini akan jadi milikmu sepenuhnya."

Wanita itu tersenyum lega, seolah baru saja menemukan penyelamat. "Cuma kenangan? Saya punya banyak. Ambil saja."

Rian mengambil pena, siap mencatat di buku besar yang akan menelan jiwa baru lagi. Ia menyadari satu hal yang mengerikan: toko ini tidak akan pernah tutup selama dunia masih menciptakan manusia-manusia yang terlalu sibuk untuk merasa bahagia.

"Jadi, kenangan mana yang ingin kamu lupakan pertama kali?"

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Toko Penjual Waktu Luang
Prasetya Catur Nugraha
Cerpen
Kencan Buta
Hans Wysiwyg
Cerpen
Bronze
Paradoks Kehidupan
Shinta Larasati Hardjono
Cerpen
KATALOG DAN MIMPI
Ellaaa
Cerpen
Terra Valley Rise of The Golem Empire
Tourtaleslights
Cerpen
Penenun Pelangi
Rafael Yanuar
Cerpen
Teror Guna-guna Tetangga Belakang Rumah
Indahhikma
Cerpen
Bronze
Manusia Robot: Dibalik Topeng Persahabatan
Bang Jay
Cerpen
Bronze
Bakso dan Basa-basi: juru cuci mangkuk yang mendadak panik
Bang Jay
Cerpen
Bronze
ADAB & PERSAHABATAN : Di Antara Darah Dan Kehormatan
Bang Jay
Cerpen
Bronze
Kenakalan Masa Remaja
Bang Jay
Cerpen
Bronze
Genggaman di Ambang Senja: Senyum yang Menggetarkan
Bang Jay
Cerpen
Bronze
Solitary
Ravistara
Cerpen
Peran
Adrikni LR
Cerpen
Bronze
Pembaca Baju
Ferdiagus Rudi Junaedi
Rekomendasi
Cerpen
Toko Penjual Waktu Luang
Prasetya Catur Nugraha
Cerpen
Bronze
Customer Service untuk Doa yang Tertunda
Prasetya Catur Nugraha
Cerpen
Bronze
Jual Beli Nasib di Keranjang Kuning
Prasetya Catur Nugraha
Novel
Bronze
Menjahit Retak di Langit-Langit
Prasetya Catur Nugraha
Cerpen
Donor Ingatan dari Pasien Kamar 404
Prasetya Catur Nugraha