Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
Toko Buku Terakhir di Kwitang
2
Suka
32
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Laras menemukan surat itu terselip di antara kupon diskon minimarket dan tawaran kartu kredit yang sudah tiga kali datang bulan ini.

Kepada Yth. Ibu Laras Kusuma, dengan ini kami beritahukan bahwa Ibu ditetapkan sebagai satu-satunya ahli waris dari harta peninggalan almarhumah Maya Adelia Tirtawijaya…

Laras menatap deretan kata itu sampai buram. Maya Tirtawijaya. Ia menggumamkan nama itu tanpa suara.

Tante Maya, adik dari neneknya, yang hanya pernah ia temui sekali, di acara kumpul keluarga besar waktu Laras berumur tujuh tahun. Tahun 2002. Laras kecil memakai gaun ungu yang bikin kulitnya gatal dan sangat ia benci. Ia ingat seorang perempuan jangkung berambut perak dan bermata teduh, yang memberinya satu eksemplar The Secret Garden dan berkata bahwa buku adalah sahabat terbaik yang bisa dimiliki seseorang.

Kini, di usia tiga puluh, Laras berdiri di depan bangunan sempit tiga lantai di Jalan Kwitang Raya, Jakarta Pusat. Kunci kuningan di genggamannya berkarat kehijauan di tepinya dan terus merosot dari telapak tangannya yang berkeringat. Ia pernah membaca soal kawasan ini: tempat Gunung Agung dulu bermula, sebelum toko buku legendaris itu menutup seluruh gerainya dan meninggalkan lorong-lorong buku bekas yang kian sepi. Papan nama pudar di atas pintu berbunyi:

Toko Buku Kwitang Utama. Buku Langka & Antik. Sejak 1952.

“Kamu Laras, kan?”

Ia menoleh dan mendapati seorang cowok berdiri di trotoar, membawa dua gelas kopi, menatapnya dengan ekspresi di antara penasaran dan cemas. Tubuhnya tinggi, rambutnya seperti berhari-hari tak kenal sisir, dan kemeja flanelnya yang sudah lewat masa jaya membungkus kaus konser Efek Rumah Kaca. Di kuku tangan kirinya ada noda merah kadmium. Cat, mungkin. Atau darah kering.

“Iya,” jawab Laras waswas. “Kamu siapa?”

“Arya Pratama. Aku ngontrak unit di lantai atas.” Ia menyodorkan salah satu gelas kopi. “Kayaknya kamu butuh ini.”

“Aku nggak akan pindah ke sini. Aku cuma datang buat lihat propertinya, taksir harganya, dan…”

“Jual,” potong Arya, wajahnya datar. “Itu yang biasanya dilakuin orang sama toko buku warisan zaman sekarang.”

Laras tetap merasa harus membela diri. “Hidupku di Bandung. Pekerjaanku juga. Aku di bagian growth marketing di startup fintech. Kami baru dapat pendanaan Seri B. Nggak mungkin aku ninggalin semuanya buat ngurus toko buku di kawasan yang bahkan belum pernah kukunjungi.”

“Ya jelas nggak,” kata Arya santai. Ia meletakkan gelas kedua di undakan depan. “Buat nanti, kalau kamu udah siap. Selamat datang di Kwitang, Laras Kusuma.”

Cowok itu sudah menghilang sebelum Laras sempat bilang bahwa ia minum kopi hitam tanpa gula.

* * *

Tokonya lebih kecil dari yang Laras bayangkan. Lebih gelap. Langit-langitnya terasa lebih rendah daripada kelihatannya dari luar. Rak-rak setinggi plafon melapisi setiap dinding, sesak oleh buku dari segala ukuran dan usia. Baunya seperti perpustakaan sehabis hujan: apak, debu, dan sesuatu di baliknya yang mungkin asap tembakau pipa, mungkin cuma usia.

Debu menggantung pekat di udara. Laras bersin dua kali.

Sebuah meja kayu jati yang besar berdiri di bagian belakang, permukaannya terkubur tumpukan buku, kertas, dan entah berapa dekade surat-menyurat. Tangga sempit berputar naik ke lantai dua, dan dari bawah Laras bisa melihat lebih banyak rak di atas sana, lebih banyak buku, lebih banyak cerita yang menunggu.

Tempat ini memusingkan, indah, dan sama sekali tidak praktis.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Dimas: Singapura jadi atau nggak? Aku bisa nahan sampai Jumat, tapi Pak Hartono udah nanyain terus. Kandidat lainnya ada tiga.

Singapura. Promosi yang ia kejar selama tiga tahun. Gaji fantastis, tim sendiri, kesempatan membuktikan bahwa ia sanggup menangani pasar internasional. Tiga tahun kerja enam puluh jam seminggu. Setiap akhir pekan ia relakan nongkrong demi spreadsheet.

Yang perlu ia lakukan cuma bilang iya, menjual toko buku apak ini, dan kembali ke kehidupan nyatanya. Laras memasukkan ponsel ke saku dan mulai menjelajah.

Lantai dua dibagi ke dalam beberapa bagian: Misteri, Romansa, Fiksi Ilmiah, Sejarah. Setiap rak tertata rapi, dengan kartu kecil tulisan tangan terselip di antara buku-bukunya. Laras menarik satu:

Buat pecinta Mr. Darcy yang pengin sesuatu yang agak nyeleneh: The Blue Castle. Percaya deh. M.T.

M.T. Maya Tirtawijaya.

Ada ratusan kartu seperti itu, mungkin ribuan, masing-masing rekomendasi pribadi dari tantenya untuk pembaca entah siapa. Laras mendapati dirinya membaca satu per satu, mengintip sosok perempuan yang nyaris tak ia kenal.

Untuk hati yang patah: “The Night Circus”

Untuk para pemimpi: “The Starless Sea”

Untuk yang kesepian: “Eleanor Oliphant Is Completely Fine”

“Dia selalu tahu apa yang orang butuhkan, bahkan sebelum orangnya sendiri tahu.”

Laras berbalik cepat. Arya berdiri di puncak tangga, kedua tangan di saku.

“Astaga!” Laras sampai terlonjak. “Kamu hobi bikin orang kena serangan jantung, ya?”

“Aku udah bikin banyak suara, kok. Kamu aja yang sibuk ngomel sendiri soal inventaris.” Ia berjalan ke rak Misteri dan menarik sebuah buku saku yang lusuh. “Tante Maya punya teori: setiap orang punya satu buku yang bisa mengubah hidupnya. Tinggal ketemu. Atau bukunya yang harus nemuin orangnya.”

“Manis sih. Tapi sekarang nggak ada yang beli buku kayak gitu lagi. Ada marketplace. Ada e-book.”

“Mungkin.” Arya mengembalikan buku itu dengan hati-hati. “Tapi tempat ini berarti sesuatu. Buat orang-orang di sini.”

“Berarti. Bukan ‘berarti’ yang sekarang, tapi ‘dulu berarti’.”

“Tante Maya menutup toko enam bulan sebelum meninggal. Katanya capek, mungkin sudah waktunya dilepas.” Arya menyapu pandang ke seisi ruangan dengan sorot yang mirip kesedihan. “Setelah Gunung Agung tutup, tinggal toko-toko kecil kayak gini yang bikin Kwitang masih terasa Kwitang. Sekarang tinggal satu-dua yang bertahan.”

Laras ingin memutar bola mata melihat kesentimentilan itu, tapi ada sesuatu dalam cara Arya mengucapkannya, tanpa ironi sedikit pun, yang menahannya.

“Kamu kenal dia seberapa dekat?” tanyanya.

“Cukup dekat. Dia yang nyaranin aku pindah ke Kwitang tiga tahun lalu. Katanya kawasan ini butuh seniman, dan aku butuh tempat di mana aku bisa mendengar isi kepalaku sendiri.” Ia tersenyum tipis. “Dia benar dua-duanya.”

“Kamu seniman?”

“Ilustrator. Aku garap buku anak, kebanyakan.” Ia menunjuk ke atas dengan gerakan samar. “Unit di atas cahayanya bagus. Sewanya juga murah, lumayan nolong waktu aku baru mulai.”

Ada satu pertanyaan yang Laras tahu harus ia ajukan, tapi ia tak yakin ingin mendengar jawabannya. “Terus nasib unit kamu gimana kalau aku jual tempat ini?”

Raut wajah Arya tak berubah. “Nanti kupikirin. Aku selalu bisa.”

* * *

Laras sudah memesan tiket kereta pulang ke Bandung untuk hari Kamis. Senin penaksiran, Selasa ketemu agen properti, Rabu tanda tangan. Simpel.

Itu sebelum ia bertemu warga Kwitang.

Bu Sri dari Toko Roti Kenanga muncul jam tujuh pagi membawa roti sobek yang terlalu panas untuk dipegang, plus segudang komentar soal cuaca. Sambil lalu ia berkata, ketika Laras sedang tenggelam di lemari arsip Tante Maya: “Lia, anak saya, disleksia. Sekolah mau menahannya tinggal kelas. Bu Maya nemenin dia tiap Selasa sore selama dua tahun. Gratis.”

Pak Jamal dari perpustakaan umum datang membawa spreadsheet. “Saya perlu tahu apakah donasi bulanan Bu Maya akan berlanjut. Koleksi buku anak kami bergantung padanya.”

Seorang gadis, mungkin enam belas tahun dengan eyeliner luntur, menggedor pintu sekeras itu sampai Laras kira kacanya bakal pecah.

“Ketemu nggak?” kata si gadis. Tanpa salam. “The Girl Who Drank the Moon. Bu Maya janji nyimpenin buat aku. Aku tahu Ibu udah… aku tahu ini udah lama, tapi…”

Laras menemukan buku itu. Sofi, begitu belakangan ia tahu namanya, menyambarnya dan mendekapnya ke dada. Tak ada ucapan terima kasih. Ia langsung pergi.

Menjelang Kamis, Laras sudah dipeluk orang-orang asing, diundang ke tiga acara berbeda (arisan, pengajian, dan syukuran), dan ditawari rantang berisi lauk oleh orang-orang yang namanya sudah ia lupakan. Ia juga menemukan bahwa keuangan toko itu berantakan total. Tante Maya menyimpan buku kasbon. Berlembar-lembar. “Bayar kalau uang pensiun cair.” “Ditukar les gitar.” “Bayarnya entah kapan, tapi butuh banget bukunya.”

Itu resep jitu menuju bangkrut.

Itu juga hal paling indah yang pernah Laras lihat.

“Kamu lagi mikir buat tinggal.”

Arya muncul lagi. Laras mulai terbiasa dengan kemunculannya yang tiba-tiba. Kali ini ia membawa bungkusan nasi dari warung Padang di ujung jalan.

“Aku lagi mikir ini lebih rumit dari yang kubayangkan,” kata Laras sambil menerima bungkusan yang ia sodorkan. “Dan aku mikir kamu harus berhenti ngasih aku makan.”

“Kamu udah tiga hari di sini dan yang kulihat kamu makan cuma sebatang granola bar sama kira-kira sembilan gelas kopi. Harus ada yang turun tangan.” Arya duduk di lantai di sebelahnya, punggung bersandar ke rak buku. “Lagian, Tante Maya bisa menghantuiku kalau sampai keponakannya kelaparan.”

“Keponakan cucu.”

“Intinya tetap sama.”

Mereka makan dalam diam yang nyaman selama beberapa saat. Laras sudah berhari-hari memilah dokumen Tante Maya, berusaha memahami kondisi keuangan toko. Hasilnya tidak bagus. Bahkan seandainya ia mau mempertahankan tempat ini, ia tak yakin itu mungkin.

“Boleh nanya sesuatu?” kata Laras akhirnya.

“Boleh.”

“Kenapa kamu peduli? Aku mau tinggal, jual, atau bakar tempat ini sekalian, kenapa itu penting buat kamu?”

Arya diam cukup lama. “Waktu pindah ke sini, aku lagi di titik terendah. Burnout, bokek, mempertanyakan semua pilihan hidupku. Dulu aku di Yogyakarta, berusaha jadi seniman, dan gagal spektakuler.” Ia mengorek-ngorek makanannya. “Tante Maya nyewain unit itu setengah harga dan bilang dia mau dibayar pakai lukisan, bukan uang. Katanya dinding di atas butuh dicerahkan.”

“Kamu bayar?”

“Lima belas lukisan dalam tiga tahun. Semuanya dia pajang di apartemennya.” Ia tersenyum, tapi ada kesedihan di sana. “Dia menyelamatkanku, Laras. Tempat ini menyelamatkanku. Bayangan bahwa semua ini bakal lenyap begitu aja rasanya salah.”

Laras mengerti. Sungguh. Tapi mengerti tidak bisa membayar tagihan atau menyulap situasi mustahil jadi mungkin.

Ponselnya bergetar lagi. Pesan lain dari Dimas, kali ini lebih mendesak.

“Aku dapat tawaran kerja di Singapura,” kata Laras pelan. “Itu semua yang selama ini kuperjuangkan. Kalau kuambil, aku nggak bisa mempertahankan tempat ini. Kalau kupertahankan…” Suaranya menggantung.

“Kamu kehilangan semua yang udah kamu bangun,” Arya menyelesaikan.

“Tepat.”

“Berat ya.” Ia mengumpulkan bungkusan kosong. “Buat info aja, apa pun keputusanmu, kurasa nggak ada yang bakal nyalahin kamu di sini. Tante Maya juga nggak bakal mau kamu mengorbankan mimpimu demi mimpinya.”

Setelah Arya pergi, Laras duduk di tengah keheningan toko buku itu dan mencoba mencari tahu apa sebenarnya mimpinya sendiri.

* * *

Jumat pagi, Laras mengirim pesan ke Dimas: Butuh waktu sampai Senin. Aku tahu, aku tahu. Cuma sehari lagi.

Ini nggak lazim, Laras. Lalu: Oke. Tapi Senin jam 9 tepat. Pak Hartono nggak mau nunggu lebih lama.

Apartemen di lantai tiga itu terkunci. Laras harus mencoba enam kunci berbeda sebelum satu akhirnya cocok.

Ukurannya lebih kecil dari studio Laras di Bandung. Satu kamar tidur, dapur mungil, kamar mandi dengan ubin merah muda gaya tahun tujuh puluhan. Lukisan Arya menutupi setiap dinding, mungkin lima belas buah.

Bagus-bagus. Benar-benar bagus. Seekor rubah bermahkota. Kebun yang tumbuh terbalik. Seorang gadis yang terbuat dari cahaya bintang. Jenis seni yang membuat Laras merasakan sesuatu yang tak ia temukan kata-katanya.

Di kamar Tante Maya, Laras menemukan sebuah jurnal di atas nakas. Ia nyaris tak membukanya, karena rasanya seperti melanggar privasi, tapi sesuatu mendorongnya melihat halaman pertama.

Untuk Laras (kalau dia datang): Kamu tidak berutang apa pun padaku. M.T.

Laras duduk di lantai. Tempat tidur itu terasa terlalu pribadi.

Tante Maya menulis tentang membuka toko buku bersama mendiang suaminya, tentang menemukan buku yang tepat untuk duka Bu Lim, untuk amarah Tomi, untuk kesepian Sari, tentang patah hatinya menyaksikan toko-toko buku kecil lenyap satu demi satu. Ia menulis tentang keputusannya menutup toko, tentang kesadarannya bahwa waktunya terbatas, tentang harapan agar seseorang mau melanjutkan apa yang telah ia mulai.

Tapi ia juga menulis ini:

Seumur hidup aku percaya bahwa buku bisa mengubah dunia, satu pembaca dalam satu waktu. Tapi aku juga belajar bahwa memaksa orang masuk ke cerita yang belum siap mereka jalani lebih banyak merusak daripada menolong. Kalau Laras membaca ini, aku ingin dia tahu: toko ini adalah hadiah, bukan kewajiban. Kalau toko ini tidak cocok dengan ceritanya, lepaskan saja tanpa rasa bersalah. Aku lebih rela melihatnya bahagia di Singapura (atau ke mana pun jalannya membawanya) daripada sengsara di toko buku yang tak pernah ia inginkan.

Tapi kalau dia memang menginginkannya, kalau jauh di dalam hatinya ada cinta pada cerita dan kerinduan pada hidup yang dibangun di atas sesuatu yang nyata, maka kuharap dia tahu bahwa dia mampu membayangkan ulang tempat ini. Toko ini tak harus tetap seperti dulu. Ia bisa menjadi apa pun yang Laras butuhkan.

Laras menangis sejadi-jadinya, tangisan jelek yang mengejutkan dirinya sendiri. Ia tidak menangis di pemakaman. Tidak menangis waktu mantannya pergi. Tapi di sini, di kamar tidur seorang perempuan yang sudah tiada, ia terisak.

* * *

Sabtu pagi, Laras mengikuti suara umpatan sampai ke halaman belakang. Arya sedang bertarung dengan sebatang pohon mawar.

Ternyata ada halaman belakang. Laras sudah lima kali lewat di depan pintu belakang tanpa menyadarinya. Bisa dibilang bukan kebun, lebih mirip gulma yang agresif dan satu pohon mawar yang galak.

“Tante Maya habisin tiap pagi di sini. Hujan atau panas.” Arya bicara tanpa mengangkat kepala dari rumput liar yang ia cabuti. “Waktu musim liburan, dia suka bikin jam baca di sini. Anak-anak datang, dan dia bacain buku di bawah pohon mangga tua itu.”

Laras duduk di bangku kayu yang lapuk. “Aku udah baca yang ditinggalin Tante Maya.”

“Terus?”

“Terus aku sadar selama ini aku mikirnya kebalik.” Laras menarik napas dalam. “Gimana kalau kita nggak usah berusaha menyelamatkan toko buku Tante Maya? Gimana kalau kita bikin sesuatu yang baru?”

Arya mendongak, tertarik.

“Kopi. Kopi beneran, bukan kopi SPBU yang rasanya kayak air comberan. Acara-acara, pembacaan puisi, open mic, apa aja. Bikin tempat ini jadi tempat yang orang-orang benar-benar pengin datangi.” Gagasan itu sudah terbentuk sepanjang malam, membuatnya terjaga oleh berbagai kemungkinan. “Lantai dua bisa buat lokakarya: kelas menulis, klub buku, sesi seni. Jadikan tempat orang datang buat terhubung, bukan cuma beli buku.”

“Kita?” kata Arya. Ia berhenti mencabuti rumput.

“Eh, maaf. Aku ngasal. Mungkin kamu punya rencana sendiri. Aku cuma mikir…”

“Aku ikut,” potong Arya. “Apa pun yang kamu pikirin. Aku ikut.”

“Dimas bakal membunuhku, tapi toh tim kami kebanyakan udah remote. Aku bisa empat hari di sini, sehari di Bandung. Atau full remote kalau aku rela gajiku dipotong. Nggak ada Singapura. Nggak ada promosi.” Ia bicara makin cepat, makin bersemangat. “Dan kalau kamu butuh ruang studio, kita bisa ubah sebagian lantai tiga. Kamu bisa ngajar lokakarya ilustrasi, mungkin bikin pameran.”

“Tante Maya pasti suka banget ini.” Arya nyengir, lalu senyumnya menyusut. “Soal uang. Kamu udah hitung?”

Laras sudah. Dua malam berturut-turut, dengan buku kasbon Tante Maya di satu sisi dan kalkulator di sisi lain. “Kalau semuanya lancar, toko ini butuh sekitar enam bulan buat berhenti rugi. Selisihnya harus kutalangi sendiri.” Ia menelan ludah. “Dari tabungan DP apartemen. Delapan puluh juta.”

“Itu tabungan lima tahun kamu.”

“Aku tahu.”

“Laras…”

“Aku tahu,” ulangnya. “Itu bagian yang paling nggak enak buat dibayangin. Tapi itu juga satu-satunya angka yang jujur.”

Arya diam sebentar, lalu melepas sarung tangan berkebunnya. “Menurutku ini brilian. Dan menurutku ini nekat. Dua-duanya.”

“Aku harus jujur, aku sama sekali nggak tahu cara ngelola toko buku.”

“Aku nonton Tante Maya ngurus tempat ini tiga tahun. Aku tahu di mana dia nyimpen kopi yang enak. Aku tahu distributor mana yang beneran ngirim tepat waktu. Aku tahu banyak hal.” Raut Arya berubah lebih serius. “Kamu sadar ini gila, kan? Singapura itu pasti. Sedangkan ini…”

“Membosankan,” kata Laras. “Singapura itu gaji besar dan kematian karier.”

“Tapi?”

“Tapi aku terus kepikiran apa yang Tante Maya tulis. Soal membangun sesuatu yang berarti, meski nggak besar atau mengesankan atau…” Ia berhenti, mencari kata yang tepat. “Aku datang ke sini dengan rencana menjual dan pergi. Tapi di antara debu, cerita-cerita, dan orang-orang yang hidupnya tersentuh tempat ini, aku menemukan sesuatu yang nggak kusadari sedang kucari.”

“Apa itu?”

Laras tersenyum. “Sebuah cerita yang benar-benar ingin kujadi bagian darinya.”

* * *

Mereka membuka kembali toko itu tanggal 15 Oktober, enam bulan setelah hari di halaman belakang itu. Pagi itu Jakarta mendung dan sejuk tak biasa. Laras memakai cardigan berlapis dan tetap menggigil selama pemotongan pita.

Tokonya nyaris tak dikenali. Separuh rak di lantai satu sudah dibongkar untuk memberi ruang bagi bar kopi dan meja-meja kecil. Dinding dicat krem menggantikan warna beige yang bikin murung. Lampu-lampu betulan dipasang. Rak-rak yang tersisa masih memajang rekomendasi Tante Maya, tapi Laras tahu ia telah membuang lebih dari seribu kartu bersama rak-rak yang dibongkar. Ia sempat menyimpan semuanya dalam dua kardus, dan belum sanggup memutuskan apa yang harus dilakukan dengan kardus-kardus itu.

Pembukaannya berantakan. Mesin espresso rusak jam sembilan pagi. Anak entah siapa muntah di rak fiksi sejarah. Bu Sri kehabisan roti sebelum jam setengah sebelas.

Menjelang siang, seorang laki-laki tua berdiri di ambang pintu dengan tas kain di bahu. Rambutnya putih, kemejanya disetrika rapi. Ia memandangi bar kopi, mesin yang mendesis, anak-anak muda dengan laptop di meja-meja tempat dulu ada rak Sastra Lama.

“Pak Darmawan,” kata Bu Sri pelan di sebelah Laras. “Guru bahasa. Langganan Bu Maya empat puluh tahun. Tiap Sabtu.”

Laras menghampiri dengan senyum yang sudah ia latih. “Selamat datang, Pak. Silakan lihat-lihat, nanti saya…”

“Rak Sastra Lama di mana?”

“Dipindah ke lantai dua, Pak. Lebih tenang di sana.”

Pak Darmawan mengangguk pelan, seperti orang yang baru dikabari soal kematian. “Ini bukan toko Bu Maya lagi,” katanya. Tidak marah. Justru itu yang membuat Laras sulit bernapas. “Selamat ya, Nak. Kelihatannya bagus.” Ia berbalik dan pergi tanpa membeli apa-apa.

Laras berdiri di balik meja Tante Maya, yang sudah diamplas dan dipelitur ulang tapi tetap saja jelek. Dari lantai atas terdengar tawa anak-anak yang mengikuti lokakarya menggambar Arya, enam anak di bawah sepuluh tahun, semuanya kebanyakan gula. Ia tampak kelelahan sekaligus bahagia. Laras ingin ikut merasa begitu. Ia hanya belum bisa melupakan punggung Pak Darmawan yang menjauh di Jalan Kwitang.

* * *

Januari datang dengan hujan dan angka-angka yang tidak mau diajak berunding.

Laras duduk di balik meja Tante Maya pukul sebelas malam, laptop terbuka di samping buku kasbon yang kini ia isi sendiri. Pemasukan bulan lalu delapan belas juta. Pengeluaran tiga puluh satu juta. Listrik naik karena mesin pendingin dan lampu baru. Gaji dua pegawai paruh waktu. Cicilan mesin espresso pengganti yang rusak. Tabungan DP apartemennya tinggal empat puluh satu juta, dan angka itu menyusut setiap kali ia menekan tombol Enter.

Gajinya sendiri di kantor sudah dipotong dua puluh lima persen sejak ia pindah ke skema jarak jauh. Itu juga bagian dari harga yang ia tahu akan datang, tapi belum tahu rasanya.

Ponselnya bergetar. Dimas.

“Aku mau kamu dengar ini dari aku dulu,” kata Dimas tanpa basa-basi. “Posisi Singapura jatuh ke Rina. Pengumumannya Senin.”

Laras memejamkan mata. Rina, yang dulu ia latih dari nol. Rina, yang kini menempati kursi yang ia kejar tiga tahun. “Selamat buat dia,” katanya, dan hampir terdengar tulus.

“Laras, aku harus jujur. Kamu masih salah satu orang terbaik di tim. Tapi kamu empat hari nggak ada di ruangan, dan orang-orang yang memutuskan promosi itu nggak melihat kamu. Level berikutnya paling cepat dua tahun lagi, itu pun kalau kamu mau balik full.” Dimas menghela napas. “Aku nggak bilang kamu salah pilih. Aku cuma bilang pilihan itu ada harganya.”

Setelah telepon ditutup, Laras menatap layar yang menampilkan dua angka, satu dari toko, satu dari kariernya, dan keduanya menuju arah yang sama.

Besok paginya, seorang pria berjas safari abu-abu datang mengendarai mobil sedan hitam. Namanya Pak Wirya, kolektor dari Menteng. Ia sudah lama mengincar sebelas buku dari lemari kaca di lantai tiga: cetakan pertama terbitan Balai Pustaka, edisi awal sastra yang kini tak lagi dicetak, satu naskah bertanda tangan.

“Seratus lima puluh juta,” katanya. “Tunai, minggu ini.”

Laras tidak menjawab selama beberapa detik. Seratus lima puluh juta berarti empat sampai lima bulan napas.

Arya mendengar dari tangga. Ia berdiri di sana dengan tangan berlumur cat dan wajah yang mengeras sebelum ia sempat bicara. Setelah Pak Wirya pergi dengan janji akan kembali besok, Arya menutup pintu toko dengan hati-hati, terlalu hati-hati.

“Kamu nggak serius mau jual itu.”

“Aku belum bilang mau.”

“Tapi kamu menimbang.”

“Arya, bulan ini kita kurang tiga belas juta. Bulan depan kurang lagi.” Suara Laras lebih tajam dari yang ia niatkan. “Aku nggak mau menyalahkan siapa pun, termasuk diriku. Tapi aku nggak bisa pura-pura angka ini bukan masalah.”

Rahang Arya mengeras. “Buku-buku itu bukan dagangan, Laras. Tante Maya nulis kartu buat tiap-tiap buku itu. Itu bagian dari dia.”

“Dan kartu nggak bayar listrik.” Laras berdiri. “Kamu yang bilang dia nyuruh kita jadi apa pun yang kita butuh. Aku butuh toko ini tetap hidup, dan kamu butuh buku-buku itu tetap di lemari. Dua-duanya nggak bisa.”

“Jadi yang mana yang kamu pilih?”

“Aku nggak tahu!” Suaranya pecah. “Aku nggak tahu, oke? Aku belum pernah milih sesuatu yang bikin aku takut segini.”

Arya menatapnya lama. Lalu ia naik ke lantai tiga tanpa bicara. Selama tiga hari berikutnya, mereka saling menyapa seperti dua orang asing yang kebetulan berbagi atap.

Hari ketiga, Laras menemukan sehelai kertas terselip di bawah pintu depan, tulisan tangan yang rapi dan agak gemetar.

Kopinya enak, saya tidak menyangkal. Tapi saya rindu sepi. Kalau ada satu sudut saja yang tidak bersuara, saya mungkin akan datang. Darmawan.

Laras membacanya dua kali. Lalu ia naik ke lantai tiga dan mengetuk pintu Arya.

Mereka bicara sampai lewat tengah malam, dengan kardus kartu Tante Maya terbuka di antara mereka. Akhirnya mereka sepakat, bukan karena salah satu menyerah, tapi karena sama-sama kelelahan: empat buku dijual, bukan sebelas. Arya yang memilih. Ia memilih dengan tangan gemetar, dan Laras tidak berkomentar. Empat kartu bekas di rak kaca tetap ia biarkan di tempatnya, kini menempel pada celah kosong.

“Aku masih nggak setuju,” kata Arya saat Pak Wirya pergi membawa kotak berisi empat buku itu.

“Aku tahu.”

“Dan aku nggak mau kamu pura-pura ini sudah beres.”

“Aku nggak pura-pura.” Laras menatap celah kosong itu. “Uangnya cukup buat tiga bulan. Habis itu kita lihat lagi. Aku juga nggak senang, Arya.”

Sudut lantai dua yang dulu Rak Sastra Lama ia siapkan malam itu juga. Tanpa musik, tanpa Wi-Fi, hanya dua kursi kayu dan lampu baca. Ia menulis tangan papan kecil di atasnya: Sudut Sepi.

* * *

Pak Darmawan datang pada Sabtu kedua bulan Februari. Ia berdiri di ambang pintu cukup lama, lalu naik tangga tanpa melirik bar kopi. Dua jam kemudian ia turun membawa satu buku dan meletakkannya di meja kasir.

“Jangan dipindah lagi,” katanya.

“Tidak, Pak.”

Ia tidak tersenyum. Tapi ia datang lagi Sabtu berikutnya, dan Sabtu setelahnya.

Menjelang akhir Maret, Laras berdiri di balik meja Tante Maya sementara hujan turun tipis di luar. Tiga bulan lagi masih aman, kalau tidak ada kejutan. Setelah itu entah. Ia menyimpan angka itu di sudut kepalanya seperti batu kecil di dalam sepatu.

“Lagi mikirin apa?”

Arya sudah berdiri di sampingnya. Laras sudah berhenti kaget soal itu. “Mikirin betapa bedanya ini dari Singapura,” kata Laras.

“Udah nyesel belum?”

Ia memandang berkeliling toko yang ramai, pada orang-orang yang mengobrol, tertawa, dan menemukan cerita. Ia memandang Arya, yang telah menjadi mitra bisnisnya, temannya, dan mungkin, kalau cara cowok itu menatapnya berarti seperti yang ia kira, sesuatu yang lebih.

“Tanya lagi pas musim lapor SPT,” kata Laras. Lalu: “Kadang-kadang nyesel. Tapi nggak cukup buat ngubah apa pun.”

Senyum Arya hangat, dan sedikit letih. “Itu jawaban paling jujur yang pernah kudengar dari kamu. Soalnya aku lagi mikir…”

“Kita harus memperluas bagian buku anak?” tebak Laras. “Setuju. Mungkin kita bisa bikin program baca musim liburan buat anak-anak, kerja sama sama perpustakaan…”

“Mau makan malam bareng nggak? Maksudku, kencan. Bukan makan malam bisnis.” Kepercayaan diri Arya sedikit goyah. “Aku udah lima bulan mau ngajak kamu. Tapi kamu selalu penuh debu, atau lagi ngobrol sama pelanggan, atau lagi ngitung angka dengan muka orang mau pindah negara. Terus kita berantem soal buku. Aku nggak mau salah momen.”

Laras menciumnya.

Itu impulsif dan mungkin ide yang buruk dan ia tak peduli.

Rasanya seperti kopi. Tangan Arya terangkat menangkup wajahnya, ragu-ragu, seolah ia takut Laras berubah pikiran.

Saat Laras menarik diri, Arya menatapnya dengan takjub. “Jadi… itu berarti iya buat makan malam?”

“Iya,” kata Laras. “Makan malam. Kencan. Semuanya.”

“Beneran? Soalnya kamu susah banget dibaca. Serba bisnis, serba profesional.”

“Aku googling segalanya. Bulan lalu aku nelepon kamu jam dua pagi gara-gara nggak ngerti aplikasi akuntansi. Aku tenggelam.”

“Selasa kemarin aku panik banget gara-gara tagihan listrik. Aku hidup dari kafein dan penyangkalan.”

Mereka saling menatap, lalu tawa mereka pecah.

Sofi, si remaja yang di hari pertama Laras menanyakan The Girl Who Drank the Moon, lewat sambil membawa setumpuk buku terbitan baru. “Akhirnya. Bu Sri utang dua puluh ribu sama aku.”

“Semua orang?” tanya Laras dan Arya serempak.

“Semuanya. Bahkan Pak Jamal ikutan taruhan. Dia tebak Tahun Baru.”

Setelah Sofi pergi sambil masih nyengir, Laras bersandar di bahu Arya. “Ini bagus,” katanya. “Nggak semuanya, tapi ini bagus.”

Arya merangkul pinggangnya. “Aku masih sedih soal empat buku itu.”

“Aku juga.”

“Tapi aku nggak sedih soal ini.”

Lewat jendela, sinar sore menyapukan cahaya keemasan di sepanjang Jalan Kwitang. Papan nama di atas pintu berayun pelan ditiup angin. Di lantai atas, di Sudut Sepi, seorang laki-laki tua membalik halaman dengan sabar. Di bawah, orang-orang menjelajah, mengobrol, dan menemukan dunia-dunia baru di antara halaman buku tua.

Dan Laras Kusuma, yang sejak kuliah merencanakan hidupnya dalam kelipatan lima tahun, yang punya spreadsheet untuk segalanya, menemukan bahwa hal-hal yang tak terencana bisa berhasil, meski tak pernah murah.

Di luar, hujan mulai turun. Laras sama sekali tidak peduli.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Gold
Pssst ...!
Bentang Pustaka
Cerpen
Toko Buku Terakhir di Kwitang
N. Y. YONS
Novel
Bronze
Singularity
Rezky Armitasari
Novel
Bronze
The Power of First Love - Senkora & Tane
Amel Gladishani
Cerpen
Bronze
Akhirnya Kita Bertemu
Fataya
Flash
Di Puncak Bukit, Ada Rahasia
Lukitokarya
Novel
Rembulan Maheswari
Dee🍓
Novel
Love Is Him
SavieL
Novel
Miss primadona
winda nurdiana
Cerpen
rasa-rasa.
Jasmine c
Cerpen
The Taste of Destiny-Cita Rasa Takdir
Hans Wysiwyg
Novel
Gold
Pacar Seorang Seniman
Bentang Pustaka
Novel
FOODZONE
Nacan
Novel
Bronze
Sialan lu Med!!
Firmansyah Slamet
Novel
ARSHERA
Ayu Setya Rini
Rekomendasi
Cerpen
Toko Buku Terakhir di Kwitang
N. Y. YONS
Novel
GEMA SANG PENGUASA LANGIT: TRILOGI TITAH AGUNG
N. Y. YONS
Novel
PROTOKOL PENGHAPUSAN
N. Y. YONS
Novel
THE LONG SILENCE : Ketika Pengorbanan Membuatmu Kehilangan Hidupmu Sendiri
N. Y. YONS
Skrip Film
PROTOKOL PENGHAPUSAN
N. Y. YONS
Novel
KOPI DAN RACUN: Kebenaran Ditulis Oleh Para Penguasa
N. Y. YONS
Novel
3:17 Jangkar Terakhir
N. Y. YONS
Skrip Film
3:17: Jangkar Terakhir
N. Y. YONS