Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Tiga Perempuan dan Satu Ranjang
Bau karbol rumah sakit selalu sukses membuatku merasa lebih sakit dari yang sebenarnya. Ditambah tiang infus yang menetes pelan — tik, tik, tik — seolah mengejek kesengsaraanku dengan metronome dari neraka. Kain seprai rumah sakit ini juga, entah dari bahan apa, terasa seperti bergesekan langsung dengan seluruh ujung sarafku.
Tapi semua itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bencana demografis yang sedang terjadi di kamar rawat inap nomor 14 lantai dua ini.
Semuanya bermula dari keputusanku sendiri. Keputusan yang, kalau aku pikir ulang sekarang sambil menatap langit-langit kamar yang retak-retak, adalah salah satu keputusan paling tolol dalam hidupku — lebih tolol dari ketika aku naik motor saat hujan deras dan akhirnya kena tilang plus jatuh di selokan secara bersamaan.
Waktu itu, malam kedua dirawat, demam berdarahku sedang di puncak-puncaknya. Trombosit melorot. Kepala pusing. Kondisi fisik lemah seperti kain basah yang diperas. Dan dalam kondisi itulah aku, dengan IQ yang rupanya ikut melorot bersama trombosit, membalas tiga pesan WhatsApp sekaligus.
Dari Mai: "Boleh besok jam bezuk sore? Aku abis kuliah langsung ke sana."
Dari Mbak Yanti: "Lg dirawat ya? Besok aku ke sana jam bezuk sore aja, habis kelas."
Dari Eno: "Hei. Jam bezuk sore boleh aku dateng?"
Dan aku, dengan jari gemetar dan otak berkabut obat, membalas ketiganya: "Boleh."
Hanya itu. Satu kata. Boleh. Yang kemudian memicu serangkaian peristiwa yang — aku yakin — akan menjadi cerita paling memalukan yang kuceritakan kepada anak cucuku kelak.
Yang aku lupa pertimbangkan: jam bezuk sore di rumah sakit ini hanya buka pukul 16.00 sampai 18.00. Dua jam. Dan kami semua mahasiswa — artinya sore adalah waktu paling logis untuk datang, setelah kuliah bubar. Artinya pula: tidak ada alasan bagi siapapun untuk datang di waktu yang berbeda.
Kalian mungkin bingung — atau curiga aku pakai susuk — kenapa tiga perempuan yang semuanya berotak dan berparas di atas rata-rata ini merasa perlu memperebutkan satu ranjang pasien yang dihuni laki-laki ringkih ber-trombosit melorot. Padahal isi dompetku khas mahasiswa rantau, dan tampangku kalau disandingkan dengan aktor FTV jelas kalah kelas. Tapi masalahku cuma satu: aku ini tempat curhat yang terlalu berbahaya. Tipe laki-laki yang mendengarkan tanpa menghakimi, pandai menyimpan rahasia, dan punya kebiasaan buruk memberikan porsi empati yang sama tulusnya kepada siapa saja yang datang. Celakanya, kebiasaan itu kubagi secara adil kepada mereka bertiga di masa lalu — yang membuat masing-masing merasa punya 'hak kepemilikan emosional' atas diriku.
Mai datang tepat pukul 16.00 — detik pertama jam bezuk dibuka. Aku yakin dia sudah berdiri di depan lift sejak pukul 15.55. Dia membawa sekeranjang buah: apel Fuji merah, anggur hijau, pir, jeruk bali yang satu buahnya sudah berbobot satu kilogram. Harganya pasti setara biaya makanku seminggu.
"Kamu nggak usah beli apa-apa lagi dari luar," katanya sambil merapikan meja di sebelah ranjangku. "Aku udah bawa semuanya."
Mai perempuan yang cantiknya semacam terlalu serius. Wajah simetris, rambut terawat, selalu berpakaian rapi bahkan ketika menjenguk orang sakit di hari biasa. Tapi keindahan itu berdampingan dengan kadar kecemburuan yang bisa memicu alarm kebakaran. Aku pernah hampir tidak jadi pulang bareng karena dia melihatku bercanda dengan kasir minimarket terlalu lama.
Dia mengupas apel dengan pisau kecil yang dibawanya sendiri dari rumah — membuktikan betapa terencanakannya kunjungan ini — dan mengiris-irisnya rapi.
"Buka mulut," katanya.
Aku membuka mulut.
Tepat saat potongan apel masuk, pintu kamar terbuka.
Mbak Yanti masuk.
Aku tersedak. Bukan karena kaget, tapi karena jantungku seolah berhenti berdetak dua detik penuh dan otot-otot tenggorokanku ikut konvulsi. Mai menoleh, dan dalam sepersekian detik itu, matanya bergerak dari ujung rambut sampai ujung sepatu Mbak Yanti dengan kecepatan dan ketepatan seorang pemindai di bandara internasional.
Mbak Yanti adalah senior di kampus, satu tingkat di atasku. Perempuan berjilbab rapi dengan gaya low profile tapi pesonanya diam-diam mematikan — tipe yang tidak perlu berbicara keras untuk menarik perhatian ruangan. Jilbab pasminanya membingkai wajah manis yang pembawaannya tenang. Ketika dia tersenyum kikuk melihat situasi di dalam kamar, pipinya memerah dengan cara yang, kalau konteksnya berbeda, akan kupuji habis-habisan.
Tapi konteksnya tidak berbeda. Konteksnya adalah: ada dua perempuan di kamar yang sama, dan aku terbaring di tengah-tengah mereka.
"Eh, maaf," kata Mbak Yanti pelan. "Lagi disuapin ya? Aku ganggu nggak?"
"Nggak kok," jawabku.
"Ganggu," kata Mai dalam waktu bersamaan.
Hening.
Mbak Yanti berhenti di ambang pintu. Mai berhenti mengupas apel. Aku berhenti bernafas.
"Oh, saya Yanti," kata Mbak Yanti, memilih bersikap dewasa. Dia melangkah masuk dan mengulurkan tangan. "Temannya... dia."
"Saya tau," kata Mai, tidak menyambut tangan itu. Hanya menatapnya. "Oh, ini yang namanya Mbak Yanti."
Tekanan di kata ini itu seperti paku yang ditancapkan pelan-pelan ke papan kayu. Sadar. Terukur. Menyakitkan.
Aku pernah cerita tentang Mbak Yanti kepada Mai. Dan bodohnya, aku menceritakannya sambil senyum-senyum sendiri, yang ternyata diingat oleh Mai dengan resolusi 4K.
Suasana membeku. Udara AC terasa turun sepuluh derajat. Mai meletakkan piring apel ke meja dengan bunyi tak yang cukup keras untuk bukan sebuah kebetulan. Mbak Yanti memilih fokus pada ponselnya dengan terlalu bersungguh-sungguh.
Aku memejamkan mata dan berdoa agar ada gempa kecil yang mengalihkan perhatian.
Tidak ada gempa.
Ketegangan agak mencair ketika Mai minta izin ke toilet. "Aku ke kamar mandi dulu," katanya, menatapku sedetik terlalu lama sebelum pergi.
Begitu pintu toilet menutup, Mbak Yanti menghela napas dan duduk di kursi sebelah ranjang. "Pacar kamu?"
"Bukan," jawabku.
"Temen deket?"
"Sesuatu di antaranya."
Mbak Yanti menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca. "Kamu memang selalu seperti ini ya, susah didefinisikan."
Aku mau menjawab, tapi pintu kamar terbuka lagi sebelum sempat.
Eno masuk.
Dia membawa kantong plastik besar berisi kotak styrofoam. Bubur ayam. Dari warung yang memang langgananku — dia sampai hafal aku suka bubur ayam tanpa kecap manis tapi minta soun lebih banyak.
Ketika matanya menangkap sosok Mbak Yanti, wajah Eno berubah dari waspada menjadi sumringah dalam setengah detik.
"Loh, Mbak Yan? Di sini juga?"
"Eno?" Mbak Yanti berdiri, keduanya bersalaman hangat. Mereka memang saling kenal — berteman di media sosial, sesekali ketemu di acara komunitas, tapi tidak terlalu akrab. "Iya, baru nyampe juga. Kamu kenal dia dari mana?"
"Dari kampus lah. Udah lama banget," jawab Eno sambil bergerak menuju ranjangku, natural, seperti orang yang sudah ratusan kali masuk ke kamar ini. Dia meletakkan punggung tangannya di keningku. "Panasnya udah turun belum? Masih anget nih. Minum air putihnya udah berapa gelas?"
Aku melihat sudut mata Mbak Yanti bergerak. Sebagian kecil dari wajahnya — entah dari ketegangan rahang atau cara matanya berkedip — menunjukkan sesuatu yang bergeser. Insecure, mungkin. Atau sekadar kalkulasi ulang tentang siapa aku bagi perempuan-perempuan di hidupku.
"Makasih udah bawain bubur," kataku ke Eno.
"Kamu mau disuapin atau makan sendiri?"
"Dia bisa makan sendiri," jawab Mbak Yanti, lebih cepat dariku.
Eno menoleh. Mbak Yanti balas menatap. Dua detik. Lalu keduanya sama-sama tersenyum tipis — senyum yang terlalu rapi untuk bukan sebuah gencatan senjata.
Suasana ganjil itu tidak sempat berkembang ke mana-mana karena Mbak Yanti, sepertinya merasakan udaranya terlalu menyesakkan, berdiri dan pamit. "Aku ke bawah dulu, beli minum. Ada yang mau dititip?"
Eno menggeleng. Aku menggeleng.
Pintu menutup.
Eno langsung duduk di kursi yang baru saja ditinggalkan Mbak Yanti, membuka bungkusan styrofoam, mengambil sendok, meniup bubur pelan-pelan. "Sini, buka mulut. Makan dulu yang bener."
"Eno—"
"Buka."
Aku buka mulut.
Pintu toilet berbunyi.
Mai keluar.
Langkah Mai terhenti tepat satu meter dari pintu toilet. Matanya memproses pemandangan di depannya: Eno yang duduk membungkuk ke arah ranjangku, tangan kirinya memegang mangkuk, tangan kanan memegang sendok yang baru saja masuk ke mulutku.
Eno menoleh ke arah bunyi langkah yang berhenti itu.
Mata mereka bertemu.
Dan aku, untuk pertama kalinya sejak dirawat, benar-benar merasakan bahaya yang bukan dari virus dengue.
"Ngapain lo di sini?" suara Mai turun satu oktaf.
"Jenguk orang sakit," Eno menjawab datar, tidak bergerak dari posisinya, tidak menurunkan sendok. "Emang ada larangan?"
"Dia udah makan dari tadi."
"Apel? Apel doang mana kenyang." Eno akhirnya meletakkan sendok, tapi tidak mundur dari kursinya. "Dia demam berdarah, butuh asupan yang bener. Bukan buah doang."
"Lo yang bukan siapa-siapanya dia tiba-tiba nentuin dia butuh apa?"
"Lo siapa-siapanya emangnya?"
Hening yang mematikan.
Aku menarik selimut sampai menutupi setengah wajahku. Strategi buruk, tapi satu-satunya yang tersisa.
"Gue yang nemeni dia dari kemarin," kata Mai, suaranya mengeras tapi terkontrol. "Gue yang beliin buah, gue yang temenin malam-malam—"
"Kamu nemenin dia karena kamu mau, bukan karena dia minta." Eno berdiri sekarang. Mereka berdua sejajar, saling tatap dari dua sisi ranjang. "Dan aku ke sini juga karena aku mau. Apa masalahnya?"
"Masalahnya lo tau persis apa masalahnya, En."
"Aku nggak tau apa-apa."
"Bohong."
Kata itu jatuh keras. Eno mengatupkan rahangnya. Mai menyilangkan tangan di dada. Di antara mereka, aku berbaring seperti batas wilayah di peta yang sedang diperebutkan dua negara.
Ada sejarah di antara Mai dan Eno. Panjang dan berliku. Intinya: mereka pernah berebut tempat di hidupku pada waktu yang tidak terlalu berbeda, dan keduanya merasa pihak yang lain bermain tidak fair. Detailnya... biarlah itu menjadi rahasia yang kubawa sampai trombositku naik.
Pintu kamar terbuka.
Mbak Yanti masuk dengan dua botol air mineral dan satu cup yogurt, langkahnya ringan, wajahnya masih dalam mode netral-mencoba-ramah.
Langkah itu berhenti.
Mbak Yanti membaca situasi dengan cepat: Mai dan Eno berdiri berhadapan di kanan kiri ranjangku, postur keduanya kaku, udara di antara mereka terasa seperti kawat listrik bertegangan tinggi.
"Eh... ada apa?" suara Mbak Yanti turun jadi setengah berbisik.
"Nggak ada apa-apa," jawab keduanya bersamaan.
Mbak Yanti melangkah masuk, ragu-ragu, dan berdiri di ujung kaki ranjang. Kini formasi lengkap: Mai di kiri, Eno di kanan, Mbak Yanti di bawah. Tiga titik segitiga. Aku di tengah sebagai titik keseimbangan — atau lebih tepatnya, titik bencana.
"Mbak Yan kenal sama dia ini?" tanya Mai akhirnya, menunjuk Eno.
"Kenal. Teman," jawab Mbak Yanti hati-hati.
"Teman baiknya dia?"
Mbak Yanti melirik padaku. Aku menggeleng sangat kecil. Tolong jangan jawab itu.
"Kenal aja," kata Mbak Yanti diplomatis.
"Mbak baru pertama ketemu dia?" Eno mengalihkan pertanyaan ke Mbak Yanti.
"Baru hari ini."
"Tapi udah mau jenguk." Eno mengangguk pelan, nadanya netral tapi pertanyaan di baliknya tidak.
"Emang kenapa kalau baru ketemu?" Mbak Yanti mulai sedikit defensif. "Kalian berdua apa hubungannya sama dia? Pacar?"
Dua detik hening.
"Bukan," jawab Mai.
"Bukan," jawab Eno.
Keduanya saling tatap setelah menjawab bersamaan. Ada sedikit kelegaan paradoks di wajah mereka — senang bukan karena situasinya membaik, tapi karena jawabannya sama.
"Trus kenapa pada ribut?" tanya Mbak Yanti, frustrasi akhirnya naik ke permukaannya.
Tidak ada yang menjawab.
Di balik selimut yang kutarik sampai menutupi seluruh wajah, aku menghitung: infus di tangan kiri, kondisi fisik tidak memungkinkan untuk kabur, jendela ada di tembok sebelah kanan tapi lantai dua terlalu tinggi untuk dilompati dalam kondisi trombosit empat puluh ribu.
Semua opsi tertutup. Aku terjebak.
Tok-Tok-Tok
Pintu diketuk tiga kali, lalu langsung terbuka tanpa menunggu jawaban. Ciri khas manusia satu ini: mengetuk pintu bukan untuk minta izin, tapi sebagai peringatan bahwa dia akan masuk.
Kakak perempuanku masuk membawa rantang susun empat tingkat, kantong plastik berisi thermos air panas, dan ekspresi wajah yang sudah default siap menghakimi. Kakakku ini terpaut tiga tahun di atasku — alias dua tahun di atas Mbak Yanti — dan jilbab instan yang pakainya asal selip itu makin mempertegas aura senioritasnya yang mutlak di rumah maupun di ranah keluarga.
Dia berhenti.
Matanya menyapu ruangan satu kali, lambat, sistematis. Seperti jenderal menginspeksi medan perang sebelum memutuskan strategi.
Kakakku melihat Mai — yang masih berdiri dengan tangan menyilang di dada, pisau buah kecil masih digenggam.
Kakakku melihat Eno — yang duduk kembali di kursi, mangkuk bubur di pangkuan, sendok masih digenggam.
Kakakku melihat Mbak Yanti — yang berdiri di ujung kaki ranjang dengan dua botol air mineral dan ekspresi serba salah. Mbak Yanti, yang terpaut dua tahun di bawah Kakakku, mendadak tampak menunduk tunduk-segan layaknya maba bertemu kating senior yang paling ditakuti di fakultas.
Lalu tatapan itu jatuh pada selimut yang menonjol di atas ranjang. Di bawahnya, aku, yang sedang pura-pura koma.
Kakakku meletakkan rantang dan kantong belanjaan di meja dengan bunyi brak yang jauh lebih keras dari yang diperlukan. Lalu berkacak pinggang. Lalu menghela napas panjang — bukan napas lelah, tapi napas orang yang sedang mengumpulkan kalimat paling efisien untuk merangkum penghinaannya.
"Bagus," kata Kakakku.
Suaranya datar. Dingin. Sedingin es batu yang baru dikeluarkan dari freezer.
"Adik gue trombositnya empat puluh ribu, demam tiga hari, dokter bilang harus istirahat total. Tapi malah buka pendaftaran poligami di kamar rawat inap." Dia menoleh ke arahku yang bersembunyi di balik selimut. "Pantesan trombositnya nggak mau naik. Kebanyakan ngurusin administrasi."
Hening total. Bahkan suara infus yang menetes seperti ikut menahan napas.
Mai, Eno, dan Mbak Yanti terdiam. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang bersuara. Mbak Yanti membenarkan letak jilbab pasminanya yang tak miring sedikit pun hanya demi punya alasan untuk tidak menatap mata Kakakku. Tiga perempuan yang sepuluh menit lalu hampir membunuh satu sama lain, kini berdiri kompak dalam diam yang sama — disatukan oleh rasa malu kolektif.
Kakakku membuka rantang. Menuang sup ayam ke mangkuk dengan gerakan tenang dan efisien, seperti tidak ada yang terjadi.
"Yang mau tetep di sini, silakan. Yang mau pulang, juga silakan. Tapi yang masuk duluan tadi, kalau bisa keluar dulu biar yang lain bisa duduk. Kamarnya kecil."
Tidak ada yang bergerak.
"Permisi."
Ketiganya bergerak serentak.
Aku menurunkan selimut perlahan, hanya sampai hidung, dan menatap langit-langit kamar. Di luar jendela, sore mulai berubah warna jadi oranye. Tiang infus masih menetes — tik, tik, tik.
Kakakku menyodorkan mangkuk sup. "Makan."
Aku duduk perlahan, menerimanya.
"Makasih, Kak."
"Jangan makasih. Besok kalau masih kamu undang semua sekaligus lagi, aku tinggal."
Dari balik pintu yang terbuka setengah, aku bisa melihat ketiga perempuan itu berdiri di koridor. Mai dan Eno tidak saling bicara tapi tidak lagi saling membunuh dengan mata. Mbak Yanti memainkan ponselnya. Sesekali salah satu dari mereka melirik ke dalam kamar, lalu cepat-cepat menunduk lagi ketika menangkap mataku.
Aku menyuap sup ayam perlahan.
Setidaknya ada satu hal yang berhasil malam ini: Perang Dunia Ketiga resmi ditangguhkan. Bukan oleh diplomasi, bukan oleh negosiasi.
Tapi oleh seorang kakak perempuan dan empat tingkat rantang makanan.
Jojga, 2006/2007
Cerpen ini merupakan bagian dari koleksi "SEPULUH, Kumpulan Cerpen".