Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Aku tidak ingat kapan terakhir kali seseorang bertamu ke rumahku.
Semenjak wabah cacar merenggut habis keluargaku empat tahun yang lalu, segalanya berubah. Menjadi sebatang kara di usia empat belas tahun memang menjadikan banyak hal berbeda, termasuk tentang bagaimana orang-orang memandangmu. Sebagian menganggap nasibku terlampau menyedihkan sehingga patut dikasihani, tapi lebih banyak yang menerjemahkan tragedi yang menimpaku sebagai sesuatu yang lain: akulah pembawa sialnya di sini. Bukan aku yang beruntung menjadi satu-satunya yang selamat dari wabah cacar itu dalam keluargaku, melainkan keluargaku-lah yang sial karena ada aku di dalamnya. Karena hanya aku yang hidup sementara yang lain tidak, seolah-olah itu semua adalah kesalahanku.
Dan begitu saja, orang-orang berhenti bicara padaku. Mereka membuang muka sewaktu melihatku, dan beberapa—banyak—orang bahkan rela mencari rute memutar hanya supaya mereka tidak perlu berpapasan denganku di jalan. Entah bagaimana mereka percaya berada terlalu dekat denganku akan membuat mereka ketiban sial, tapi mereka juga takut kalau-kalau mengusirku dari kota kecil ini malah akan mendatangkan kemalangan yang lebih besar. Jadi mereka memilih diam. Menghindar dan menjaga jarak.
Hanya Nyonya Bradshaw yang tidak memperlakukanku begitu. Wanita setengah tuli itu sama sebatang-karanya denganku. Ia tidak punya anak dan suaminya sudah meninggal bahkan sebelum aku lahir. Ia jarang bicara, tapi ia tidak keberatan membiarkanku bekerja menjaga perpustakaan miliknya di tepian kota sekalipun itu berarti tidak seorang pun berkunjung ke sana. Kadang ia juga meninggalkan sebungkus roti atau sekeranjang apel di meja penjaga perpustakaan untuk kubawa pulang. Ia memperbolehkanku meminjam buku apa saja yang kumau dari koleksinya dan tidak pernah terlambat menggajiku.
Sebagian orang berpendapat, Nyonya Bradshaw melakukannya karena sudah bosan hidup. Ia berani dekat-dekat denganku supaya cepat-cepat dijemput maut, kata mereka, supaya ia bisa segera bertemu kembali dengan mendiang suaminya. Aku tidak mengerti bagaimana orang-orang bisa berpikiran demikian kejam, tapi buatku, segala kebaikan Nyonya Bradshaw hanya berarti satu hal: wanita itu adalah satu-satunya manusia yang masih punya nurani di kota kecil yang dingin ini.
Namun sebaik-baiknya Nyonya Bradshaw padaku, wanita itu sudah lanjut usianya. Ia baru saja berulang tahun ke-87 dua minggu lalu, dan ia tidak bisa berjalan jauh-jauh tanpa bantuan tongkat. Ia tidak mungkin cukup bugar untuk mendaki bukit tempat rumahku berdiri sendirian di tepian barat kota, apalagi saat hari mulai gelap seperti sekarang ini.
Jadi, siapa yang baru saja mengetuk pintu depanku?
Dua hal pertama yang terlintas dalam benakku adalah perampok atau beruang. Namun setahuku perampok tidak pernah mengetuk pintu dahulu sebelum menjarah rumah korbannya dan beruang, apa pun agendanya, tidak bakal melakukannya juga. Tebakan yang tersisa hanyalah orang asing yang tersesat, entah pemburu yang keluar dari sisi hutan yang salah atau pedagang yang kemalaman berkemas. Yang mana pun, bunyi-bunyian tak biasa itu menggiringku berjingkat ke arah pintu. Sekadar berjaga-jaga, aku membawa juga sebatang sapu dari dapur. Siapa tahu orang asing itu berniat jahat padaku. Mengingat aku tidak punya tetangga, tidak ada yang bisa melindungiku selain diriku sendiri.
Tiba di depan pintu, aku menimbang sejenak sebelum mengulurkan tangan. Baru saja aku menyentuh pegangannya, orang asing itu mengetuk lagi. Atau mungkin lebih tepat kusebut menggedor, karena ia melakukannya seperti seseorang yang bertekad merobohkan pintu depanku. Begitu saja, kutarik kembali tanganku dari gagang pintu.
Mungkin bukan ide bagus membukakan pintu bagi orang asing malam-malam begini. Apa sebaiknya aku pura-pura tidak di rumah saja?
“Saya tahu Anda di dalam, Tuan! Pelita Anda masih menyala!”
Suara laki-laki. Bukan orang tua, bukan anak-anak, bukan juga suara siapa pun yang pernah kudengar sebelum ini. Aksennya bahkan terdengar ganjil di telingaku, membuatku menerka ia mungkin tidak berasal dari sekitar sini.
“Maaf kalau saya mengganggu malam-malam,” laki-laki itu menyambung, “Tapi saya tidak berniat jahat, sungguh! Saya hanya butuh sedikit bantuan, jadi kalau Anda tidak keberatan—”
Kalimatnya terputus di situ karena aku membuka pintu. Sedikit saja, hanya cukup lebar untukku mengintip keluar tapi tidak cukup lebar buatnya merangsek masuk. Dan aku benar: seorang pria berdiri di ambang pintu rumahku.
Mungkin lebih tepat menyebutnya seorang pemuda, karena ia tampaknya tidak lebih tua dariku. Ia mengenakan jubah hitam yang membuat sosoknya seolah menyatu dengan gelapnya malam, kontras dengan kulit pucat serta rambutnya yang berkilau keperakan seperti cahaya bulan. Sepasang matanya biru sejernih mata air, membuatku selama sesaat percaya aku tengah berhadapan dengan peri atau makhluk khayali sejenisnya yang baru saja melompat keluar dari buku-buku dongeng yang pernah kubaca. Wajahnya yang rupawan tampak lega sekaligus terkejut melihatku, mungkin tidak menyangka bukan seorang tuan yang membukakan pintu untuknya.
“Saya tidak punya uang,” aku setengah mencicit, mendahuluinya. Rasanya aneh mendengar suaraku sendiri, saking jarangnya orang mengajakku bicara.
“Oh, tidak, saya tidak butuh uang,” pemuda itu menyahut cepat, “Saya hanya ingin meminta beberapa helai daun amanthus dari kebun belakang rumah Anda.”
Aku tercenung mendengar permintaannya. “…Amanthus?”
“Ya,” pemuda itu mengangguk, lalu seperti teringat sesuatu, ia buru-buru menambahkan, “Oh, tentu saja saya tidak akan minta secara cuma-cuma!”
Ia merogoh sesuatu dari balik jubahnya dan mengeluarkan kantong kulit kecil segenggaman tangannya. Dari gemerincing samar yang terdengar dari dalamnya, aku sudah bisa menebak apa isinya. Begitu saja aku menolak, dan pemuda itu sekali lagi tampak bingung.
“Tadi Anda bilang tidak punya uang.”
Raut polosnya membuatku tertawa kecil.
“Saya punya uang, hanya saja tidak cukup banyak untuk dibagi dengan Anda.”
“Jadi saya tidak perlu membayar?”
Aku menggeleng. “Saya bahkan tidak ingat ada amanthus tumbuh di belakang rumah, jadi silakan, ambil saja sesuka Anda.”
Pemuda itu menyimpan kembali kantong uangnya, lalu bergegas mengitari rumahku yang tidak besar menuju halaman belakang. Aku menyusulnya, membawa serta salah satu pelita dari dapur yang masih menyala. Mustahil membedakan amanthus dari tanaman lain di tengah kegelapan total begini, apalagi memilih daun yang cukup bagus untuk dipetik. Jadi aku berdiri di samping pemuda itu dengan pelita teracung tinggi di udara, sementara ia mulai memetiki daun yang dimintanya itu dengan cekatan.
“Kenapa tidak langsung memetiknya saja tadi?” aku bertanya, memecah keheningan.
“Tanaman ini tumbuh di dalam pagar pekarangan Anda, Nona, dan pelita Anda jelas masih menyala. Atau,” pemuda itu menoleh sekilas padaku. “Anda lebih senang saya mencurinya?”
“Bukan,” mau tidak mau aku tertawa lagi, “Saya hanya tidak mengerti kenapa Anda memerlukannya.”
Setahuku, amanthus hanyalah tanaman liar. Batangnya kira-kira setinggi orang dewasa dan bentuk serta ukuran daunnya menyerupai bay leaf tapi beracun sehingga tidak bisa dimasak. Bunganya kecil-kecil, tidak cukup menarik untuk dijadikan hiasan. Tidak ada orang yang menjualnya di pasar karena tidak ada yang menginginkannya.
“Sahabat saya sedang sakit. Saya butuh sedikit rebusan amanthus untuk mengobatinya.”
Aku mengernyit. “Bukannya daun amanthus beracun?”
“Tergantung siapa yang mengonsumsinya, Nona,” pemuda itu melempar senyum, “Racun bagi seseorang bisa jadi obat buat yang lain, begitu pun sebaliknya. Nah, rasanya segini cukup.”
Aku tercengang melihat ‘cukup’ versi pemuda itu. Ia membawa semacam kantong kulit yang kira-kira muat diisi enam buah apel berukuran besar dan sekarang ia memenuhinya dengan puluhan helai daun amanthus segar. Setahuku, orang biasanya hanya merebus tiga hingga empat helai daun tanaman jika ingin membuat obat. Memang separah apa penyakit sahabatnya itu hingga memerlukan rebusan daun sebanyak ini? Atau jangan-jangan, ia salah menakar?
“Anda yakin saya tidak perlu membayar?” pemuda itu bertanya lagi sembari menyimpan kantong penuh daunnya di balik jubah. Aku menggeleng, tidak jadi melontarkan sederet pertanyaan yang berputar-putar dalam kepalaku.
“Yakin?” ia mengulang, kali ini sambil menatapku lekat-lekat. Bahkan di bawah cahaya pelitaku yang nyaris padam, parasnya tampak begitu sempurna.
“Yakin,” aku menyahut, tidak ingin kedapatan lama-lama mengagumi wajahnya, “Semoga sahabatmu lekas sembuh.”
“Terima kasih,” ia tersenyum tulus, “Anda baik sekali.”
Begitu saja, ada yang menghangat dalam dadaku. Basa-basi atau bukan, pemuda asing ini baru saja menyebutku baik hati. Baik sekali, malah. Ini pertama kalinya setelah sekian lama aku mendengar sesuatu yang tidak buruk dialamatkan padaku.
Pemuda itu kemudian mengangguk sopan sebelum melompati pagar rumahku yang hanya setinggi lutut. Aku mengamati dalam diam selagi sosoknya berjalan menuju hutan gelap di belakang rumah, tapi baru tiga langkah, ia berhenti dan berbalik.
“Seandainya saya butuh lebih banyak daun, apa Anda keberatan saya meminta lagi?”
Aku menggeleng tanpa berpikir dua kali. Senyum kembali merekah pada wajah pemuda itu, lalu ia melambai dan berjalan pergi. Baru tiga langkah, lagi-lagi, ia berhenti dan berbalik.
“Boleh saya tahu siapa nama Anda?”
Pertanyaannya kali ini sedikit—maksudku, sepenuhnya—di luar dugaanku. Aku tidak mengerti bagaimana pertanyaan sesederhana itu bisa membuat jantungku berdebar ganjil, tapi aku menyahut juga, “Lily.”
“Siegfried,” pemuda itu meletakkan tangan kanannya di atas dada, dan dengan seulas senyum yang membuatku melupakan betapa gelapnya malam yang membungkus kami, ia menambahkan, “Sampai ketemu lagi, Nona Lily.”
***
Tiga malam setelah kunjungan pertamanya, Siegfried kembali mengetuk pintu rumahku. Ia datang untuk alasan yang sama: rebusan amanthus untuk sahabatnya yang masih sakit. Seperti kali pertama ia menginjakkan kaki di kebun belakang rumahku, aku menemaninya dengan pelita terangkat tinggi selagi ia memetik berhelai-helai daun untuk memenuhi kantong apelnya. Sesekali kami mengobrol sedikit, tentang jenis-jenis tanaman yang lebih lazim dijadikan obat maupun topik ringan lainnya. Kunjungannya berakhir setelah kantongnya penuh, dan ia memungkasinya dengan satu kalimat yang sama seperti tiga malam yang lalu: “Sampai ketemu lagi, Nona Lily.”
Kali ini, ‘lagi’ yang ia maksud tidak membuatku menunggu terlalu lama.
Siegfried datang lagi keesokan harinya. Di waktu yang sama, dalam balutan jubah hitam legam yang sama, untuk alasan yang masih sama.
Juga besoknya, besoknya, dan besoknya lagi.
Kami berbincang semakin banyak semakin hari. Tentang apa saja, kecuali asal usulnya ataupun kehidupanku yang sepi. Aku bahkan sempat mengundangnya masuk dapur satu kali, pada kunjungannya yang kelima, dan memberinya sepotong besar pai labu yang kubuat untuk makan malam. Siegfried bilang ia tidak pernah makan labu sebelum ini, tapi ia menyukainya dan bahkan meminta sepotong tambahan untuk dibagi dengan sahabatnya.
Jujur, kunjungannya menjadi rutinitas menyenangkan yang diam-diam kunantikan setiap malam. Satu alasan yang, setelah sekian lama, membuatku merasa bersemangat pulang ke rumah. Walaupun tidak ada yang kami lakukan selain mengobrol sambil memetik daun amanthus liar, menghabiskan waktu bersama Siegfried membuatku merasa sedikit normal. Tanpa prasangka, tanpa tatapan curiga. Hanya dua orang yang tengah berbagi minat, antusiasme yang sama.
Baru malam ini, pada kunjungannya yang kesembilan, sewaktu daun amanthus-ku yang tersisa hanya cukup untuk memenuhi kantong apelnya sekali lagi, Siegfried melontarkan satu pertanyaan usai memetik daun terakhir dan memasukkannya ke dalam kantong. Pertanyaan yang berbeda dari biasanya.
“Kau tinggal sendirian saja di sini?”
Aku mengerjap, tidak mengantisipasi pertanyaannya itu. Kupikir ia bakal mengubah ‘sampai ketemu lagi’-nya menjadi ‘selamat tinggal’, mengingat tidak ada lagi daun amanthus yang bisa kuberikan padanya. Namun sepertinya, Siegfried memilih cara lain untuk memungkasi kunjungannya kali ini. Aku pun mengangguk, dan Siegfried bertanya lagi, “Tidak takut?”
Lucu juga mendengarnya bertanya apakah aku takut atau tidak, bukannya aku kesepian atau tidak atau sejenisnya, tapi pertanyaannya itu masuk akal juga. Rumahku adalah satu-satunya bangunan yang berdiri di atas bukit landai ini. Seandainya aku tidak menghabiskan seumur hidup tinggal di sini, mudah saja menganggap hutan gelap yang berbatasan langsung dengan halaman belakang rumahku sebagai daerah angker nan mengerikan.
“Kurasa tidak,” aku mengangkat bahu, “Justru orang-orang yang takut padaku.”
Alis Siegfried seketika berkerut. “Bagaimana bisa?”
Aku memberitahunya tentang apa yang menimpa keluargaku empat tahun yang lalu, juga bagaimana semua orang memperlakukanku setelahnya.
“Mereka jahat sekali,” Siegfried menarik kesimpulan usai aku bercerita.
Aku tertawa kecil, mengapresiasi ketulusan dalam suaranya. “Yah, setidaknya Nyonya Bradshaw masih baik padaku. Terkadang satu orang yang tulus lebih baik daripada seratus orang yang hanya berpura-pura baik padamu.”
Siegfried tampaknya tidak setuju, tapi alih-alih mendebat, ia bertanya lagi, “Kalau begitu, kenapa kau tidak pergi saja dari sini?”
Kali ini, pertanyaannya membuatku termenung. Kurasa pemikiran untuk minggat saja dari kota ini pernah terlintas satu-dua kali dalam benakku, tapi aku tidak pernah berpikir untuk sungguhan mewujudkannya. Kenapa? Entahlah. Dan bahkan setelah dipikir sungguh-sungguh seperti sekarang pun, aku tetap tidak menemukan alasannya. Jadi bukannya menjawab, aku menatap Siegfried dan malah bertanya, “Ke mana?”
Siegfried tidak langsung menjawab pertanyaan balasanku. Ia menghabiskan beberapa saat menatapku lekat-lekat dengan ekspresi teduh yang sulit kuterjemahkan, sebelum tiba-tiba saja melepas jubah hitamnya dan memakaikannya padaku. Tidak berhenti sampai di situ, pemuda itu mengambil juga pelita dari tanganku dan meletakkannya di kaki amanthus-ku yang kini gundul, lalu menggandeng tanganku.
Ya, Siegfried menggandeng tanganku dan menarikku ke arah hutan tempatnya menghilang setiap malam usai kunjungannya kemari.
“Kita mau ke mana?” aku bertanya lagi, kali ini tidak bisa menyembunyikan nada panik dalam suaraku. Siegfried hanya tersenyum, menolak memberiku jawaban.
“Ikut saja,” katanya, sementara kami semakin mendekati hutan dan meninggalkan rumah beserta kebun kecilku di belakang kami.
“Tapi pelitanya—”
“Tidak perlu. Aku bisa melihat jelas dalam gelap. Percaya saja padaku.”
Begitu saja, puluhan pertanyaan menerjang benakku seperti banjir bandang. Melihat jelas dalam gelap? Bagaiamana bisa? Lagipula, kalau memang entah bagaimana ia bisa melihat jelas dalam gelap, buat apa selama ini ia membiarkanku mengangkat pelita tinggi-tinggi selagi ia memetik daun? Bukankah ia seharusnya tidak memerlukannya?
Sebelum satu pertanyaan pun lolos dari bibirku, Siegfried menarikku masuk ke dalam gelapnya hutan, menerobos segerombolan kunang-kunang yang serupa pendar bintang yang terserak ke segala arah selagi kami melewatinya. Indah sekali. Saking indahnya, aku seketika melupakan niatku mempertanyakan penglihatan Siegfried dan membiarkan kehangatan genggamannya menjadi satu-satunya pelita yang menuntun langkah kami setelahnya. Kegelapan yang membungkus kami terasa asing tapi anehnya tidak menakutkan buatku, dan aku bahkan bisa merasakan debur antusiasme di dalam dadaku semakin jauh kami bergerak ke dalam hutan.
Aku tidak tahu sudah berapa lama kami berjalan (atau mungkin lebih tepat menyebutnya setengah berlari) hingga Siegfried akhirnya memperlambat langkah. Kanopi dedaunan di atas kepala kami sudah jauh menipis sekarang, membiarkan berkas-berkas sinar bulan purnama jatuh menerangi jalan yang kami lalui. Semak-semak setinggi rumahku membentang bagaikan tembok di depan kami sekarang, memutus jalanan berlumpur yang dari tadi kami susuri. Siegfried memberiku kesempatan mengatur napas sejenak, lalu dengan lembut menuntunku mendekati sesemakan tinggi di hadapan kami. Genggamannya pada tanganku tidak mengendur sewaktu ia melempar senyum dan menyibak dedaunan yang menghalangi jalan kami, lalu mengajakku melewatinya bersama-sama.
Dan tebak apa yang kulihat di balik sana.
Beruang?
Oh, bukan. Bukan beruang, tapi naga.
Ya. Kau tidak salah membaca. Aku melihat naga sungguhan.
Dan, spontan, aku menjerit.
Insting pertamaku adalah lari, tapi Siegfried buru-buru menahanku. Ia bahkan menempatkan diri di antara aku dan moncong raksasa makhluk itu, sembari memegangi kedua tanganku yang masih meronta. Tidak ada secuil kekhawatiran pun menguar dari sosoknya, seolah ia yakin sepenuh hati makhluk di belakang punggungnya itu tidak bakal memanfaatkan kesempatan ini untuk mencaplok kepalanya.
“Jangan takut, Lily—hei,” Siegfried tersenyum geli—ya, ia menertawakan ketakutanku!—“Ini sahabatku! Dia tidak akan menyakitimu!”
Butuh dua detik sebelum kata-katanya itu mengendap di dalam pikiranku dan membuatku berhenti meronta. Sahabat, katanya?
“Ya,” Siegfried mengangguk seolah mendengar isi kepalaku, “Ini sahabatku. Lihatlah.”
Siegfried beringsut sedikit ke sebelah kiri, memberiku ruang yang cukup untuk bertukar pandang dengan sahabat-nya. Dengan sepasang mata sewarna safir sebesar kepalaku, yang balas menatapku ingin tahu.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku beradu pandang dengan seekor naga.
Makhluk itu rupanya tidak jauh berbeda dengan apa yang dilukiskan orang di buku-buku. Kadal raksasa dengan kepala seukuran kuda (bayangkan saja sendiri sebesar apa badannya), dengan sepasang sayap serupa kelelawar dan empat tungkai bercakar yang tampaknya bisa meremukkan tubuhku dengan sekali hantam. Duri-duri mirip tanduk mencuat dari puncak kepalanya, serupa dengan struktur yang tumbuh pada ujung ekor panjangnya. Seluruh tubuhnya tertutup sisik, yang setiap kepingnya berpendar biru seperti sepasang matanya, menerangi kegelapan di sekitar kami.
Malam yang kutahu tidak pernah seterang ini.
“…Jadi kau seorang penunggang naga.”
Dari segala hal yang bisa saja kukatakan, itu yang pertama kali terlontar dari bibirku.
“Kau kedengarannya meragukan dirimu sendiri,” Siegfried tertawa kecil.
“Kupikir penunggang naga cuma mitos belaka,” aku ikut tertawa, kembali menatap makhluk menakjubkan di hadapanku, “Jadi ini…”
Siegfried mengangguk.
“Kami mengalami kecelakaan kecil sebelum mendarat di tempat ini, makanya aku memerlukan daun amanthus-mu untuk mengobati lukanya,” Siegfried menjelaskan. Ia membelai moncong sang naga dan makhluk itu membalasnya dengan dengusan kecil dan gelengan kepala, seperti seekor anak kucing yang bermanja-manja pada pemiliknya. Aku baru tahu seekor naga bisa bertingkah semanis ini.
“Apa sekarang lukanya sudah sembuh?”
“Berkat dirimu,” Siegfried tersenyum padaku, lalu memberiku isyarat agar maju sedikit mendekati naganya, “Kemarilah. Dia ingin kau membelainya juga.”
“Membelainya?” aku setengah memekik, dan Siegfried tertawa lagi. Dengan lembut ia menarik tanganku, membuatku maju selangkah mendekati naganya yang kini kembali menatapku dengan sepasang mata birunya yang bening dan besar. Aku tidak pernah membelai hewan mana pun seumur hidup selain kucing-kucing liar yang kadang kulihat di pasar, jadi rasanya sulit dipercaya sekarang aku akan membelai seekor naga. Siegfried dengan hati-hati meletakkan telapak tanganku di antara kedua lubang hidung naganya itu, dan aku harus menahan diri tidak berjingkat sewaktu sisiknya menyentuh kulitku. Rasanya lebih hangat daripada yang kubayangkan, dan naganya itu bahkan menggelengkan kepalanya sedikit seperti yang dilakukannya sewaktu dibelai Siegfried. Makhluk itu juga meloloskan dengusan kecil dari hidungnya, yang terasa seperti embusan kencang angin sore tepat ke wajahku.
“Zed menyukaimu,” Siegfried menerjemahkannya, “Ia bilang terima kasih banyak sudah bermurah hati memberikan daun amanthus-mu untuk kami.”
“Dia bilang begitu?” aku setengah tidak percaya, “Kau bisa bahasa naga?”
Siegfried mengangkat bahu. “Tidak ada penunggang naga yang tidak paham bahasa naganya, Lily. Lagi pula, kami tumbuh bersama.”
Zed, naga Siegfried itu, mendengus lagi dan mendesakkan moncongnya pada kedua telapak tanganku. Aku mundur sedikit, tapi melihat tingkahnya yang lebih mirip anak kucing minta diajak main ketimbang makhluk mengerikan yang bisa menghancurkan seisi kota dengan satu embusan napas, aku pun memberanikan diri mengusap moncong Zed. Naga itu tampak menikmatinya, dan aku nyaris melupakan keberadaan Siegfried hingga suara pemuda itu terdengar sesaat kemudian.
“Ikutlah denganku.”
Aku menoleh, mendapati Siegfried menatapku lekat-lekat seperti sebelumnya, sewaktu ia bertanya kenapa aku tidak pergi saja meninggalkan kota kelahiranku yang dingin. Saat kupikir telingaku salah menangkap ucapannya, pemuda itu bersuara lagi.
“Kau tanya ke mana, ini jawabanku,” katanya lembut, “Ikutlah denganku, pulang ke negeri kami. Aku tidak menjamin segalanya bakal lebih mudah di sana, tapi setidaknya, kau tidak akan sendirian lagi. Ada aku, ada Zed.”
Perasaan yang entah harus kunamai apa begitu saja memenuhi dadaku, membuatnya terasa sesak. Kedua mataku pun entah bagaimana terasa panas, tapi dari segala hal yang mungkin kukatakan untuk menanggapi undangan Siegfried yang tiba-tiba sekaligus tulus ini, aku malah mengatakan, “…Kenapa?”
Siegfried menelengkan kepala, menatapku dengan senyum tersungging di bibir.
“Kau bukan orang pertama yang kudatangi untuk meminta daun amanthus, Lily,” katanya, “Tapi kau orang pertama yang membukakanku pintu.”
Siegfried lalu meletakkan telapak tangannya di atas tanganku yang masih bertengger pada moncong Zed. Telapak tangannya itu hangat dengan cara yang berbeda dari sisik-sisik Zed, tapi sama menentramkannya.
“Kalau kau mau, biarkan kami membawamu pergi dari sini. Jadi kau tidak perlu lagi berada di tengah orang-orang yang tidak menginginkanmu, atau pulang kepada dinding-dinding bisu yang tak bisa kauajak berbagi cerita.”
Pandanganku buram oleh air mata, tapi aku berhasil menahannya tidak terjatuh sewaktu membalas senyum Siegfried dan berkata, “Aku mau.”
Senyum Siegfried merekah lebar hingga aku bisa melihat sederet giginya yang rapi, tapi sebelum ia menyahutiku, aku duluan menambahkan, “Tapi ada sesuatu yang harus kulakukan sebelum pergi.”
Kedua alis Siegfried terangkat penuh tanya, membuatku menyambung, “Aku harus berpamitan. Pada Nyonya Bradshaw.”
Pemahaman terbit pada wajah Siegfried, tapi ia tidak menolak permintaanku. Ia lalu mengatakan sesuatu pada Zed dalam bahasa yang sama sekali tidak kumengerti—bahasa naga?—yang dibalas sang naga dengan geraman rendah. Jangan lama-lama, Siegfried menerjemahkannya, dan kami pun menyusuri jalanan yang sama yang membawa kami kemari untuk kembali ke rumahku.
Hari sudah menjelang subuh sewaktu kami menapakkan kaki kembali di belakang rumahku. Aku tahu tidak mungkin mengetuk pintu Nyonya Bradshaw jam segini untuk berpamitan padanya, jadi aku pun memutuskan menulis sepucuk surat saja untuknya. Surat berisi ucapan terima kasih atas segala kebaikannya padaku selama ini, yang kuselipkan ke dalam buku terakhir yang kupinjam dari koleksinya. Kuletakkan buku itu ke dalam kotak posnya bersama setangkai lili putih yang kupetik dari kebun belakang rumah serta kunci perpustakaan yang ia percayakan padaku. Aku menghabiskan beberapa saat menatap lekat-lekat bangunan rumah tuanya sebelum bergegas kembali ke rumahku sendiri, kali ini tanpa menoleh ke belakang lagi.
Di sana, di sisi batang amanthus yang kini gundul di kebun belakang rumahku, sang penunggang naga berdiri menunggu bersama pelitaku yang telah padam. Saat aku menyambut uluran tangannya di bawah fajar yang mulai merekah, seketika itu juga aku tahu.
Segalanya akan baik-baik saja setelah ini.
Tidak, segalanya akan luar biasa setelah ini.