Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Langkah-langkah kecil Fajar kecil di ruang tamu selalu diiringi suara ketukan rotan dan desisan kekecewaan. Ia bukan anak bodoh; justru sebaliknya, ia adalah peraih peringkat pertama yang selalu menjaga lembaran kertas ujiannya tetap bersih dari noda merah. Namun, malam itu, sebuah angka delapan puluh jatuh seperti palu hakim.
Ayahnya mendengus, melempar kertas itu ke atas meja kayu yang mulai lapuk. "Delapan puluh bukan angka untuk mengubah nasib keluarga kita, Fajar! Ekonomi kita tidak bisa diselamatkan oleh anak yang puas dengan nilai pas-pasan."
Sejak malam itu, dunia Fajar menyusut menjadi empat dinding kamar, setumpuk buku tebal, dan keheningan panjang. Teman-teman sebayanya berlari di bawah terik matahari sore, sementara Fajar mendekap lututnya di balik jendela, memandangi bayangannya sendiri yang terpantul di kaca. Didikan keras itu menanamkan sebuah duri tajam di dadanya sebuah ambisi purba untuk merangkak keluar dari kemiskinan dengan cara apa pun.
"Kita tidak dibentuk oleh kenyamanan, melainkan oleh benturan-benturan keras yang memaksa kita menjadi baja," batin Fajar dewasa, mengingat kembali kalimat tersebut saat ia menatap gedung pencakar langit perusahaannya dari lantai paling atas.
Empat puluh tahun kemudian, Fajar berdiri di hadapan panggung peresmian Yayasan Cahaya Kirana sebuah monumen filantropi tempat ia menampung anak-anak yatim, sebuah cerminan dari masa lalunya yang ingin ia tebus. Namun, tempat duduk di barisan depan kosong. Istrinya, Hilya, terjebak dalam pusaran rapat korporat yang tak berujung, sementara anak-anak mereka memilih menghabiskan akhir pekan di mal bersama teman-teman sebaya mereka, mengulangi ironi yang sama seperti masa kecil Fajar.
Saat gunting perak memotong pita merah, hampa merayap di dadanya. Bau pita satin itu membawanya kembali ke bau debu kamarnya puluhan tahun lalu.
"Fajar, cepat! Investor dari konsorsium utama sudah menunggu di ruang rapat lantai 45," suara Hilya terdengar tajam di ujung telepon genggam.
Di ruang rapat yang megah, di hadapan puluhan pasang mata petinggi perusahaan, dunia tiba-tiba berputar. Langit-langit ruangan melengkung, suara para eksekutif melebur menjadi dengungan jauh, dan sebelum sempat ia menyelesaikan kalimat terakhirnya, tubuh Fajar ambruk ke atas lantai marmer yang dingin. Pandangannya menyempit, menyisakan setitik cahaya putih sebelum akhirnya gelap total.
Fajar terbangun di atas ranjang king-size miliknya. Udara terasa begitu dingin, jauh lebih senyap dari biasanya. Ia bangkit, merapikan jasnya, dan berjalan menyusuri koridor rumah mewahnya.
"Hilya? Arya? Anna?" panggilnya. Tidak ada jawaban.
Ia mendorong pintu depan dan mendapati sebuah plang kayu usang tertancap di halaman rumput RUMAH INI DIJUAL.
Jantungnya berdegup kencang. Ia merogoh saku jasnya, mengambil ponsel, dan mendial nomor Hilya. Hanya dering panjang yang hampa. Ia beralih ke nomor putranya, Arya.
"Halo? Siapa ini?" suara Arya terdengar ketus dan penuh nada terganggu di ujung sana.
"Arya, ini Ayah! Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa rumah ini dipasangi plang"
"Jangan menelepon ke nomor ini lagi!" potong Arya dengan nada tinggi. "Jangan pernah mengganggu hidupku!" Sambungan terputus.
Dengan tangan gemetar, Fajar menghubungi putrinya, Anna. "Anna, ini Ayah, Nak..."
"Maaf, ini nomor siapa ya? Saya tidak kenal," jawab Anna datar.
"Anna, ini Ayah! Ayah yang membiayai kuliahmu, Ayah yang membangun rumah itu untukmu!" teriak Fajar frustrasi. Namun, Anna tetap berdiri di tempatnya, menatap nanar ke arah udara kosong di dekat ponselnya.
"Halo? Kalau hanya ingin mengerjai, jangan telepon lagi," kata Anna dingin sebelum menekan tombol akhiri.
Ponsel di tangan Fajar meluncur bebas, jatuh menembus lantai begitu saja tanpa suara benturan. Saat ia membungkuk untuk meraihnya, jemarinya menembus benda itu seperti kabut. Fajar mengangkat tangannya, melihat telapak tangannya yang mulai transparan, memudar perlahan menjadi partikel debu cahaya.
Ia bukan lagi bagian dari dunia yang bernyawa. Ia telah menjadi hantu di rumahnya sendiri.
"Manusia sering kali menghabiskan seluruh hidupnya untuk membangun sebuah istana, hanya untuk menyadari bahwa mereka membangunnya di atas tanah kuburan mereka sendiri," pikir Fajar merenungkan ironi eksistensinya.
Tahun demi tahun berlalu dalam keheningan abadi. Rumah itu berpindah tangan beberapa kali, dan Fajar menjadi saksi bisu dari drama-drama manusia yang datang dan pergi.
Pada tahun pertama, sebuah keluarga harmonis yang oleh Fajar disebut sebagai keluarga Cemara membeli rumah tersebut. Sang ayah, ibu, dan anak-anak mereka sering tertawa bersama di taman, berfoto di bawah pohon mapel. Fajar sempat tersenyum kecil melihatnya, merasa menemukan secercah kehangatan yang dulu dirampas dari masa kecilnya.
Namun, celah kecil dalam kesempurnaan itu perlahan membesar. Sang ayah mulai membawa wanita lain ke dalam rumah saat malam jahanam turun. Fajar berdiri di sudut ruangan, menatap tajam pria itu dengan rasa jijik yang membakar.
"Bagaimana bisa," bisik Fajar pada dinding kosong, "seseorang yang memiliki segalanya istri yang setia, anak-anak yang mencintainya sanggup menghancurkan surganya sendiri hanya demi setitik godaan sesaat?"
Ketahuan. Badai pertengkaran pecah, piring-piring berserakan, dan tangisan memenuhi ruangan. Sang ibu pergi membawa anak-anak mereka selamanya. Rumah itu kembali kosong, menyisakan gema penyesalan.
Lima tahun kemudian, rumah mewah itu dibeli oleh seorang CEO korporasi raksasa yang kekayaannya melampaui puncak kejayaan Fajar dulu. Tapi rumah itu berubah menjadi benteng es yang kaku. Ayahnya adalah bayangan yang sibuk dengan layar monitor; ibunya tinggal di belahan dunia lain; dan anak-anak mereka dibesarkan oleh pengasuh bayaran.
Fajar menyaksikan sang anak tumbuh dewasa di bawah tekanan psikologis yang luar biasa hingga hari di mana berita duka datang: sang ayah tewas dalam kecelakaan maut saat perjalanan bisnis.
Alih-alih melanjutkan kerajaan bisnis ayahnya, sang anak memandang perusahaan itu dengan mata penuh kebencian. Ia memilih membubarkan perusahaan, menyerahkan asetnya kepada orang lain, dan meninggalkan rumah mewah itu karena sudah lelah membayar biaya perawatannya.
"Sebuah bentuk bunuh diri yang elegan," gumam Fajar getir. "Manusia sering kali mati karena mereka menilai hidup tidak layak untuk dijalani lagi, bahkan di tengah kelimpahan harta."
Waktu merayap maju tanpa ampun. Rumah itu kini telah menjadi bangunan tua yang rapuh, catnya mengelupas, dan lantainya berderit setiap kali angin malam menerobos masuk melalui kaca jendela yang retak.
Suatu sore yang kelabu, seorang kakek tua renta datang menyeret langkah kakinya. Ia membeli rumah tua itu dengan sisa tabungannya. Ia hidup seorang diri tanpa pelayan, tanpa keluarga, tanpa satupun teman. Istri dan anak-anaknya telah pergi meninggalkannya puluhan tahun lalu akibat kebekuan hatinya semasa muda, dan ia tidak pernah berusaha mencari mereka lagi.
Kakek itu menghabiskan hari-harinya di kamar utama, duduk berjam-jam menatap sebuah lukisan mahal bergambar pemandangan sunyi di dinding yang mulai berlumut. Lukisan itu adalah satu-satunya teman bicaranya.
Hingga pada suatu malam yang dingin, napas sang kakek mulai tersengal-sengal di atas ranjang tuanya. Sakaratul maut menjemputnya dalam kesunyian yang mutlak. Tidak ada dokter, tidak ada anak yang menggenggam tangannya, tidak ada air mata yang jatuh.
Fajar, yang telah mengamati siklus manusia selama puluhan tahun, merasakan gelombang iba yang menghantam sisa-sisa jiwanya. Ia melangkah mendekati ranjang, membungkuk, dan perlahan mengulurkan tangannya yang transparan untuk menggenggam jemari keriput sang kakek.
Seketika, mata sang kakek yang tadinya redup terbuka lebar. Ia menoleh ke arah Fajar, seolah menembus batas dimensi antara yang hidup dan yang tiada.
"Kau... datang juga," bisik sang kakek dengan suara serak nyaris tak terdengar.
"Aku hanya menemanimu," jawab Fajar pelan.
Sang kakek tersenyum lemah, sehelai air mata menetes di pipinya yang cekung. "Kita adalah makhluk yang sama-sama kesepian," ucap sang kakek terbata-bata. "Kita menghabiskan seluruh hidup kita untuk berlari mengejar kesuksesan semu, hingga kita lupa bagaimana caranya menjadi seorang manusia yang utuh. Aku menyesal... aku menyesali segalanya."
Sang kakek menarik napas panjang terakhirnya. "Tapi waktu telah berlalu... penyesalan hanyalah hantu di masa lalu. Yang terpenting... adalah detik ini..."
Kepala sang kakek terkulai. Hembusan napasnya berhenti. Rumah itu kembali tenggelam dalam kesunyian yang pekat.
Beberapa hari kemudian, jasad sang kakek dimakamkan oleh petugas sosial, dan rumah tua itu kembali ditinggalkan dalam kesendirian yang abadi.
Hingga suatu senja, tepat satu hari sebelum alat-alat berat pemerintah datang untuk meratakan bangunan itu menjadi bagian dari proyek pusat kota, suasana di dalam rumah mendadak berubah. Udara menjadi hangat, dan cahaya keemasan yang menyilaukan memancar di ruang tamu.
Sesosok figur agung berwajah tenang dengan sayap cahaya berdiri di hadapan Fajar.
"Manusia selalu menghabiskan waktu mereka dengan menunda-nunda kematian dalam pikiran mereka, Fajar," suara malaikat itu bergema lembut menembus relung jiwanya. "Namun, jam pasirmu telah benar-benar habis. Apakah kau sudah siap meninggalkan dunia ini?"
Fajar menatap sekeliling ruangan tempat di mana ia hidup, mati, dan menyaksikan seluruh ironi umat manusia berputar dalam lingkaran yang sama. Ia menarik napas panjang, melepaskan semua beban ambisi, kekayaan, dan kepedihan masa lalunya.
"Ya," jawab Fajar dengan senyuman tulus di wajahnya. "Aku sudah siap."
Malaikat itu mengulurkan tangan. Cahaya merengkuh tubuh Fajar, mengangkatnya perlahan meninggalkan lantai berdebu rumah tua tersebut.
Sebelum benar-benar lenyap menembus langit malam yang tak bertepi, Fajar menoleh sekali lagi ke bumi, melontarkan kalimat terakhirnya pada keheningan semesta:
"Pada akhirnya... kita semua adalah pengelana yang belajar mengenali arti hidup, tepat pada detik di mana waktu kita telah habis, tapi pada akhirnya aku selalu menjadi orang yang gagal."