Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
The Legacy
18
Suka
3,675
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

“Kamu harus lebih tangkas, kalau tak mau burung mematuki rejekimu hari ini!” omel ibu sambil memasukkan barang dagangannya ke dalam kotak kue.

Aku masih membersihkan debu dengan sikat kecil di pemutar lagu, sambil membuka-buka meja putar dan menengok debu di dalamnya. Akumulasi partikel debu sekalipun dapat mengganggu distorsi suara yang dimunculkan. Aku tak mau benda ini jadi koleksi barang rongsokan berikutnya.

“Mau jadi apa kamu, Ta? Anak perempuan kok mainannya vinil-vinil bekas.” Lagi-lagi ia geleng kepala. “Nah, itu juga, kaset-kaset yang menumpuk di gudang mau dikemanain? Dijual kiloan pun belum tentu laku!”

Aku tak menggubris ceramahnya tentang harta berhargaku. Barang-barang yang menghubungkanku dengan kenangan tentangnya. Aku takut, kenangan tentang beliau ikut pergi, saat barang-barang ini dibinasakan.

“Bapak punya alasan, mewariskan semua miliknya untukku, Bu.”

Ia mendengkus. “Iya, tapi dia lupa meninggalkan kita sesuatu biar bisa dipakai bertahan hidup. Bukan cuma barang rongsok yang nggak ada manfaatnya.”

“Kata siapa ini nggak bermanfaat?” tanggapku membandel, seperti debu-debu yang menempel di kardus-kardus itu.

“Hah, sudahlah Ta. Mandi sana! Bawain kuenya ke toko. Kalau keburu siang, uangnya nggak bisa diambil hari ini. mau makan apa kita?”

Setiap perdebatan akan berujung ke masalah uang. Satu hal yang tak bisa kusanggah lagi.

“Masih satu lagi yang mau kubersihkan, Bu. Barang di kardus yang kemarin aku keluarkan dari gudang, ada di mana?”

Ibu mengernyitkan dahinya. “Itu kan sampah? Mau kamu pulung juga?”

Aku mengembuskan napas tersendat, ada gumpalan rasa gusar di dada yang kutahan agar tak menyembur membabi buta. Aku tahu, bapak dan ibu tak selalu jadi figur sempurna, bahkan sejak balita, aku tumbuh bersama perdebatan mereka.

“Kamu antar kuenya, atau Ibu buang kardus itu!” ancamnya tanpa bisa dinegosiasi lagi.

Aku beranjak dengan tangan penuh kotoran kelabu, bersama lap dan sikat, aku menyeret langkahku menuju kamar mandi. Realita menyatakan kemenangannya. Rutinitas pagiku bersama barang-barang peninggalannya, harus menunggu waktu leluasa.

“Tunggu dulu!” tahan ibu. “Nggak usah mandi, udah siang. Sana pergi!”

***

“Ta, kaset yang kemarin nggak akan dijual?” Bang Haris menghisap rokoknya dalam-dalam, seperti mau membunuh paru-parunya sekali jadi. Ia memicingkan mata, memindai arah pandangku yang menelisik tumpukan kaset The Police.

“Kaset yang mana?”

“Yang tempo hari itu, yang bikin lu bimbang, mau dijual apa kagak.” Gigi tanggalnya tampak mengusik, ketika ia menyeringai.

“Nggak jadi!” tukasku pendek.

“Yah Tita, barang bagus itu.” Ia kembali merayu. “Kalau mau jual, jangan kemana-mana ya, sama Abang aja.”

“Jiah! Giliran ngerayu pake Abang-Adek. Biasanya juga gua-elu!” Darah Minangnya muncul ketika merayu prospek cuan.

Bang Haris memang dikenal sebagai pedagang paling gaek di sini. Di antara rak-rak kaset dan vinil bekas, ia yang paling mendalami filosofi bermusik dan cara merawat barang-barang koleksi langka.

“Bang…”

Ia menaikkan alisnya, menunggu lanjutan ucapanku. “Kenapa sih, Ta? Galau amat.”

“Benerin Boombox Crown di mana, ya?”

Ia menghisap lagi rokoknya dalam-dalam, mengembuskannya perlahan. “Barangnya ada di elu?”

Aku mengangguk, memainkan cangkang kaset Synchonicity-nya The Police. Berpura-pura membaca judul-judulnya, yang sudah kuhapal di luar kepala. Sesuatu membuat aku khawatir, ia akan mengeluarkan angka besar.

“Punya Bapak?”

Aku mengangguk pelan.

“Bapak lu emang antik!” Ia terkekeh.

“Sama dong kayak anaknya,” balasku sambil menepuk dada. “Yang antik-antik begini ini yang susah dicari.”

“Iya, makanya orang kayak elu betah ngejomblo!” ledeknya. “Yang rusak apanya?”

“Kalau gua tau, yang rusak apa, kagak bakalan nanya tukang revisi, Bang!”

“Iya juga, ya.” Ia menggaruk kepalanya. “Sini deh, bawa aja dulu. Siapa tau gua bisa akalin.”

“Serius?”

“Kalau gua kagak serius, kagak bakalan ngomong begini!” balasnya.

Aku terkekeh. Cangkang kasetnya kembali kusimpan.

“Pake pura-pura liat kaset-kaset gua lagi! Ditanya dalemnya apa, lu pasti udah hapal di luar kepala, kampret!”

“Tau aja!”

Crown-nya tipe apa?”

“CSC84, Bang.” Aku meringis, dalam hati berusaha tahu diri.

“Wih! Mantap. Barang rare itu!”

“Antik, Bang. Kayak gua!” candaku menutupi kekhawatiran.

Ia terbahak. “Bisa aja, lu! Serius besok bawa kemari ya, gua tunggu. Siapa tau bisa bantu.”

Thank you ya, Bang!” Aku menunduk memainkan jemariku. “Kira-kira berapa, ya?”

“Bawa aja dulu, Ta.” Ia tampak serius. “Kalau gua bisa bantu, gua bantu dah!”

Aku membayangkan wajahku berseri saat itu juga. “Makasih ya, Bang,” bisikku.

“Bapak lu orang baik, Ta. Ini buat dia juga.”

Hatiku dirembesi rasa hangat. Bapak mungkin tak banyak memberi untukku di sisa hari-harinya, tetapi ia menyisakan beberapa orang baik untuk kupintai tolong.

***

“Kenapa sih, lu kagak ngelamar gitu di mana. Majalah kek, atau jadi wartawan musik. Lu sekolah kan, Ta?”

“Sekolah Bang,” jawabku. Sambil mengamati jemari tangkasnya mengurai kabel-kabel rumit, di dalam pemutar musik bernama Boombox, warisan bapak.

“Pernah nyoba ngelamar kerja? Kan pengetahuan musik lu banyak banget Ta, lu suka nulis artikel musik gitu, kan? Kalo kagak salah.”

Aku mengangguk sambil tersenyum kecut. “Ibu siapa yang nemenin, Bang? Dia nggak pernah keluar rumah.”

Bang Haris manggut-manggut, tak meneruskan interogasinya. Ia meneruskan konsentrasinya membedah kotak musik antik di meja kerja.

Sungguh “Pertanyaan abad ini” tak hanya sekali orang-orang menanyakan kenapa aku tidak hijrah saja ke ibukota, untuk mengadu nasibku di sana. Sementara mereka semua tahu, apa saja keahlianku. Bisa dibuatkan daftar satu-satu, aku tak kalah dari pesaingku di kampus dulu.

Setiap orang sudah dibungkusi nasib sendiri-sendiri, aku menyerah pada realita itu. Ibuku punya “issue” bahkan sejak almarhum bapak masih ada, ibu tidak pernah sama sekali menjejakkan kakinya ke luar rumah. Ibuku seorang penyintas gangguan kesehatan mental.

Lewat didikan bapak, aku tumbuh menjadi makhluk penyendiri, mencintai kubikelku sendiri, menganggap bahwa di luar sana terlampau rumit untuk kuarungi. Lewat barang-barang peninggalannya, aku mencipta bentalaku sendiri, musik adalah saranaku mengeja dunia.

Bapakku tak sempurna, seringkali ia pulang dimarahi ibu, hanya karena terlalu banyak menghabiskan waktunya di luar rumah, tanpa membawa apa-apa untuk dinikmati kami bersama. Penghasilannya di bawah rata-rata orang kebanyakan, hanya cukup buat makan, sisanya ia sisihkan buat hobi yang menyelamatkan kewarasannya. Kata bapak, cukup ibu yang mencipta keruwetan di kepalanya, ia tidak mau ikut-ikutan.

“Ta, rusaknya udah rumit banget. Kalo barangnya nginep di sini, kagak apa-apa?”

“Lah apa nggak kebalik, Bang. Elunya kagak apa-apa? Gua ngerepotin aja.” Aku menepuk dahi, sambil meringis memohon padanya agar mau maklum. “Maaf ya, Bang. Kalo nggak butuh-butuh amat, nggak akan ngemis-ngemis kayak begini deh, sumpah!”

Ia terkekeh. “Lu kayak baru kenal gua sehari dua hari aja, Ta!”

“Ini seriusan mau dibenerin sama Bang Haris? Yakin elu bisa, Bang?”

“Pake ngeledek gua lagi lu, kampret!” Gigi ompongnya muncul di antara gelak tawa.

“Makasih ya, Bang!”

“Entar makasihnya, kalo boombox-nya udah nyala. Gih! Sana pulang, kasian Ibu lu, bentar lagi ujan.”

“Oke deh! Makasih… makasih!”

“Bandel, lu! Dibilangin juga.”

Aku melambai, memacu kakiku menembus gerimis.

***

“Apa sih yang kamu cari?” Ibu kembali memelototiku, ketika tumpukan kardus-kardus bekas aku porak-porandakan.

“Itu Bu, vinil yang ada di sini. Itu kesayangannya Bapak!” Aku kelabakan mencari barang yang biasanya paling aku jaga. Beberapa koleksi bapak memang sengaja aku tempatkan jauh dari inspeksi ibu. Baginya, semua adalah sampah.

“Rongsokan lagi?”

“Huh! Apa sih yang nggak rongsokan di mata Ibu?” Tak sengaja satu kalimat lepas dari mulutku tanpa kendali, menyisakan rasa sesal.

Ibu diam. Ia mengerjap tanpa suara.

“Bu…”

Ia masih tak bergeming, menatapku tanpa roman.

“Maafkan ya… Aku cuma kepengen menjaga peninggalan Bapak. Satu-satunya kenangan yang aku punya, ada di barang-barang miliknya. Aku juga pasti melakukan hal itu demi Ibu.”

Ia terduduk, wajahnya berangsur merona. Cairan bening melapisi bola matanya. “Ibu iri sama Bapak, Ta…”

“Iri? Kenapa iri?”

“Hidup Bapak punya warna, nggak seperti Ibu yang cuma hitam putih. Bapak punya dunianya sendiri.” Susah payah ia mengurai dilema di kepalanya. “Bapak nggak pernah mengikutsertakan Ibu ke dalam dunianya.”

Muntahan ucapan itu meruntuhkan asumsiku tentang kekhawatiran ibu selama ini. Ia begitu sendiri, di dunia hitam putihnya.

“Bu…”

“Ya?”

“Mau dengar sesuatu?”

“Apa?”

Aku mengambil Walkman WM-101 milikku, yang biasa menemaniku menguleni adonan kue bersama ibu. Menjejalkan satu earbud ke lubang telinganya.

“Kita dengerin sama-sama ya,” ajakku sambil menakar tepung terigu dalam timbangan, untuk adonan putu mayang yang akan kami jual besok.

“Apa ini?”

“The Cure, Bu. Kesukaannya Bapak,” ucapku mengenang hari-hari itu, mendengar bunyi-bunyian dari ruang kerjanya.

“Apa namanya?” tanya ibu menaikkan satu nada suaranya, tampak antusias.

“Judulnya?”

Ia mengangguk.

Inbetween Days.

Ia mengangguk-angguk sambil tersenyum. Aku meremas jemarinya.

***

“Ta… maapin gua ya, ini udah maksimal kesanggupan gua. Terserah deh, gua nyerah!” Bang Haris mengacak-acak rambutnya.

Aku meringis, berusaha terdengar tak kecewa. “Gua coba ya, Bang.”

Ia mengedikkan bahu.

Sambil memasukkan kaset ke dalam pemutarnya, aku memijit tuts Play. Suara Pixies berbunyi nyaring, Empat buah speakernya mengeluarkan suara bass yang sempurna. Berdebum-debum menghantarkan frekuensi yang membuat batinku ingin menari rasanya.

“Sialan!” umpatku sambil melongo.

“Makasih kembali, Tita!”

“Bang! Lu kampret!” Aku tak bisa menahan luapan rasa bahagia yang melonjak-lonjak menirukan gebukan drum David Lovering. “Ini sih, luar biasa! Lu emang mejik, Bang!”

Ia terbahak, menampakkan gigi ompong andalannya, sebatang rokok menyembul di jemarinya.

“Wah, gua jadi kagak enak nih, Bang! Jadi berapa?”

Ia menggeleng, mengisap rokoknya dalam-dalam. “Kagak usah.”

“Bang… Jangan gitu.”

“Jaga aja barang-barang Bapak lu, Ta.” Sebersit emosi mewarnai ucapannya. “Gua kagak pernah ngerasain punya bapak, seenggaknya lu lebih beruntung, punya barang warisan. Beruntung, Bapak lu antik.”

Aku tersenyum, meleleh mendengar kalimatnya. “Makasih ya, Bang.”

“Jagain Ibu lu, ya Ta! Dia peninggalan Bapak yang sesungguhnya, kudu dijaga baik-baik.”

Aku mengangguk. “Bang… Kalo kaset kemaren gua taro di sini, laku emang?”

“Baru gua bilang, jagain barang-barang Bapak lu, malah mau lu jual! Emang kampret lu, Ta!” umpatnya.

Aku terbahak, berusaha memikirkan banyak hal yang terlintas. “Gua kepengen beliin Ibu sesuatu.”

“Apaan?”

“Kaset!” Aku menyeringai. “Bach.”

Bang Haris terbahak. “Sok-sokan denger musik klasik lu! Entar gua cariin, mau barter?” Ia mengisap lagi rokoknya, kali ini terdengar bersungguh-sungguh.

Aku mengangguk. Perfect!

“Ibu lu sekarang doyan musik juga?”

“Lagi gua racunin, Bang. Puterin sesuatu yang bikin syaraf dia tenang.”

“Bagus, bagus.” Ia tersenyum. “Gimana boombox-nya? Keren, ya?”

“Keren banget! Gua promosiin, mau ya? Siapa tau ada yang mau benerin player-nya, bisa kemari.”

“Boleh. Gua kagak bisa ngiklan.”

“Serahkan sama gua, Bang! Kita coba bikin pengumuman di socmed,” seringaiku.

“Kagak ngarti!”

Aku dan Bang Haris tertawa, menghabiskan sore itu dengan mencicipi putu mayang buatan ibu, sambil mendengarkan The Clash dan Pixies yang diputar berulang-ulang.

Bapak mungkin tak mewariskan banyak hal untukku, tidak barang-barang mewah, atau harta melimpah. Yang pasti, beliau menyisakan sesuatu untuk memahami dunia dari satu jendela, sebuah kubikel bernama musik.

 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@semangat123 : Wahahha, senangnya sampai dihapalkan setiap detailnya. Makasih Mbak @semangat123
@donnymr : Asik! Nuhun @donnymr 🙏
Kece tenannn! 😀
Wkwkwk, di setiap karyanya Kakak mesti ada kuenya, bikin lapar😁😁
Kentara banget ya, authornya ibuk-ibuk doyan makan hahaha makasih Mbak @semangat123 sudah mampir
Ada "Walkman WM-101" juga. Kenapa saya merasa authornya suka bebikinian ya? Seperti ini yang ada di ceritanya, pasti ada kuenya 😀
Rekomendasi dari Drama
Cerpen
The Legacy
Foggy F F
Novel
Bronze
Perempuan Ilalang
Mira Pasolong
Novel
Bronze
Putih Polos Avicenna
Ravistara
Novel
Gold
PBC Journey In Japan
Mizan Publishing
Novel
Bronze
Airy
Jenny C Blom
Novel
Sahabat Sehidup Sesyurga
Nafsul Muthmainnah
Novel
Hasrat Abu
Tiara Khapsari Puspa Negara
Novel
A-Teen
Zzardna
Novel
Alfa
Haneul
Novel
Bronze
A Slice of Love
Nenden Nurpuji Hasanah
Novel
Déanach
NarayaAlina
Novel
METTA
Renata yohana nurak
Novel
How is Your Heart?
Faida Zuhria
Novel
Love in Paradise
Januard Benedictus
Novel
Bidak Catur
Bimasakti
Rekomendasi
Cerpen
The Legacy
Foggy F F
Cerpen
Milo dan Silo
Foggy F F
Novel
Kue Lumpur Kayu Manis dan Rancang Bangun
Foggy F F
Cerpen
Ohrwurm
Foggy F F
Cerpen
Cikgu Cleo
Foggy F F
Cerpen
Hati
Foggy F F
Novel
Mantikei dan Sang Panglima Rangkong Gading
Foggy F F
Flash
Laju Lari
Foggy F F
Cerpen
Jingga dan Pelangi di Manik Matanya
Foggy F F
Cerpen
KETIKA KEMATIAN MENGEDIPKAN SEBELAH MATANYA.
Foggy F F
Flash
Rohaya dan Secangkir Sidikalang
Foggy F F
Cerpen
Babi Ngepet
Foggy F F
Cerpen
CINTA SAJA SEHARUSNYA CUKUP
Foggy F F
Flash
Putra
Foggy F F
Cerpen
Warteg Cinta
Foggy F F