Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
The Ex File
0
Suka
23
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Di hari ketika keraguan itu menyelinap masuk dalam benak Kiara, ia biasanya selalu tahu bagaimana menghadapi setiap keraguan-keraguan yang ada tanpa perlu berpikir panjang.

Namun sejak undangan reuni sekolah Kiara yang rencananya akan diselenggarakan di Uluwatu, Bali, itu mendarat masuk melalui email, kemampuan Kiara dalam mengatasi keraguannya langsung merosot ke titik terendah.

Seharusnya, Kiara mengikuti intuisinya saja sejak awal, yaitu dengan memutuskan untuk tidak pernah datang ke acara sialan itu.

Tapi salahnya Kiara, ia seharusnya juga tidak perlu bergantung pada pendapat Dimple untuk mengatasi keraguan yang sejak dua minggu belakangan ini tidak berhenti menghantui pikiran Kiara. Sekeras apapun ia mencoba untuk meredamnya.

“Dateng aja lah, Ki. Nggak akan ada James, kok." celetuk Dimple tanpa basa-basi.

“Emang lo pikir gue ragu dateng karena ada James doang, gitu?” kilah Kiara, masih bersikeras mengelak, walau sampai kapanpun Kiara tahu, percuma saja menutupi perasaannya dengan sok bersikap acuh pada satu-satunya sahabat Kiara sejak di bangku sekolah menengah atas yang terkadang selalu jauh lebih mengenal diri Kiara dibanding sang empunya jiwanya sendiri.

“Terus, apalagi emang keraguan lo buat dateng ke reunian kalau bukan karena ada mantan lo?”

Kalimat Dimple ini bagai pukulan telak untuk Kiara, seakan menyeret gadis itu kembali membentur realitas kehidupan yang selama ini sudah berusaha Kiara kubur rapat-rapat selama beberapa tahun silam.

“Lagian kita kan juga mau sekalian ngecek bisnis kafe kita di Canggu minggu depan, Ki. Kenapa nggak sekalian aja sih kita melipir ke Uluwatu? Gue yakin, si James itu juga udah sibuk sama karirnya jadi produser film, Ki. Orang super penting kayak dia mana mungkin punya waktu untuk reunian kayak gini doang?”

“Berarti lo sama gue orang nggak penting, dong?” Kiara berusaha mencetuskan candaan ditengah kebimbangannya.

Sayangnya, guyonan Kiara sebagai langkah untuk menyembunyikan gelisah dalam hatinya ini sama sekali tidak mempan untuk Dimple.

“Pokoknya lo dateng ya, Ki. Gue denger si Reva sebagai ketua penyelenggara reunian juga ngundang Professor Willkins, Ki. Lo nggak kangen apa, sama guru Kimia kesayangan lo itu? Yang dulu selalu membanggakan lo di depan kelas karena lo satu-satunya murid yang selalu bikin dia terkagum-kagum sama kejeniusan lo?”

Dan rayuan maut Dimple ini akhirnya berhasil memecahkan benteng pertahanan Kiara, membuat Kiara dengan terpaksa dan pada akhirnya, membeli tiket penerbangan dari Washington ke Denpasar, Bali.

Memori Kiara tentang masa-masa sekolah menengah atasnya bisa dibilang lebih banyak dihabiskan bersama orang-orang tertentu saja.

Namun yang paling membekas dalam inti ingatannya, sudah jelas diisi oleh satu sosok yang dulu tidak pernah Kiara sangka akan membuat hidupnya seperti naik Roller Coaster.

“Ki! Kiara! Sini!”

Kiara seakan ditarik paksa dari lamunannya saat mendengar suara nyaring Dimple memanggil namanya di tengah kerumunan reuni SMA yang sedang berlangsung di Savaya.

Saat Kiara melangkah menghampiri Dimple yang sudah berjingkat-jingkat kegirangan karena akhirnya bisa bertemu lagi dengan sahabat sejatinya yang sudah lama tidak ia jumpai, Kiara tidak sadar bahwa tidak jauh dari tempatnya berdiri, seorang pria nyaris menjatuhkan segelas wiski di tangannya begitu kepalanya menoleh saat didengarnya suara Dimple memanggil nama Kiara sangat nyaring.

Dimple menarik lengan Kiara kemudian, membawa sahabatnya itu ke sudut yang lebih sunyi untuk memberikan sebuah kabar tak baik.

“Ki, lo jangan ngamuk sama gue ya…”

Kiara mengerjapkan mata, “Kenapa, Di? Lo berulah apalagi nih, sama gue?”

Dimple biasanya akan menyerocos kalau Kiara sudah meledek begitu. Tapi begitu gurat serius di wajah Dimple disadari Kiara, senyum mengejeknya pun perlahan sirna.

“Kenapa sih, Di?”

“Ternyata dia dateng, Ki.”

Tidak butuh waktu lama untuk membuat Kiara menyadari apa maksud Dimple.

Kiara mengerutkan kening, “You said that…

I know… I know what I’ve said. I’m sorry, i really am. It’s… totally my fault.

Kerut di kening Kiara belum memudar, “How could it be your fault?

Dimple menggigit bibir bawahnya sejenak, lalu menjawab, “Gue ngasih tahu Ronald kalau lo udah fix dateng ke reuni angkatan kita di Bali. Terus, kayaknya Ronald juga ngasih tahu ke James kalau lo bakal dateng, deh. Soalnya awalnya juga James nggak mau dateng.”

Kiara memejamkan kedua matanya sejenak, sambil diam-diam merasakan gemuruh jantungnya yang mulai berulah di waktu yang tidak tepat.

Gadis itu menarik napas dengan dalam sekaligus berat, lalu bertanya,

“Orangnya udah ada di sini?”

Dimple mengangguk samar, lalu mengedikkan dagunya untuk menegaskan kehadiran orang yang sejak tadi menjadi topik pembicaraan mereka berdua.

Kiara menarik napas lagi, lebih dalam dan berat, sebelum akhirnya memutuskan untuk menoleh ke arah yang dituju Dimple, sebisa mungkin tak begitu kentara.

Dan di sana, berdiri sosok James Allen Faulkner Tiffin, begitu menjulang dengan tinggi tubuhnya yang sejak dulu dikenal di atas rata-rata. Membuat sosoknya seolah paling dominan di antara teman-temannya yang lain.

Rambutnya yang cokelat keemasan ditata rapi namun sedikit berantakan, agak kemilau terkena terpaan sinar mentari sore. Matanya yang berwarna abu-abu kehijauan masih begitu memesona dan tajam di waktu yang bersamaan.

Senyumnya merekah seraya ia berdiri di sana, berbicara dengan Ronald yang sejak tadi jadi teman mengobrolnya.

Untuk sesaat, Kiara lupa bagaimana caranya bernapas dengan normal.

Reaksi yang selalu sama, setiap kali Kiara berdiri dalam radar di dekat James.

Laki-laki itu… adalah orang yang dulu pernah mengisi seluruh ruang dalam hati Kiara. Yang dulu Kiara pikir, tidak akan pernah ia biarkan terisi oleh satu orang pun berkat ketidakpercayaannya akan sebuah rasa bernama cinta.

Laki-laki itu… yang mengenalkan Kiara pada indah masa-masa remajanya dengan segala kasih sayang dan kelembutan di balik tatapan matanya yang terkenal tajam untuk orang lain, namun begitu lembut serta memuja untuk Kiara seorang.

Kiara tidak dapat mengantisipasi degup jantungnya yang mencelos saat dilihatnya James mengangkat tangannya yang sejak tadi memegang gelas minuman, memperlihatkan sebuah cincin hitam yang melingkar, menimpa sebuah tato di jari manis James bergambar huruf ‘K’ di sana.

Cincin yang sudah jelas tidak asing bagi Kiara.

Cincin yang juga Kiara miliki, tersimpan cukup lama di sebuah kotak yang sudah Kiara simpan di nakas lemari pakaiannya sejak enam tahun yang lalu.

Napas Kiara tertahan di tenggorokan.

Dan secepat kilat, Kiara membalikkan pandangan sebelum James menyadari kehadirannya.

Kiara memejamkan mata, sekuat tenaga mengatur napasnya agar pertahanan dirinya yang tenang tidak roboh saat ini juga.

“I still see him wearing the ring, Ki.”

Ucapan Dimple lagi-lagi menarik Kiara menabrak realitas yang ada saat ini.

Dimple menatap Kiara dengan pandangan sendu.

“Lo masih simpan cincinnya juga?”

Kiara ingin sekali mencelat pergi dari acara reuni sialan itu sekarang juga, daripada harus menjawab pertanyaan Dimple.

Untuk sesaat, Kiara benar-benar tidak habis pikir bagaimana ia masih bisa berdiri tegak seperti sekarang sementara seluruh raganya seperti nyaris ambruk ke lantai yang ia pijak

Dengan gerakan samar, Kiara mengangguk.

“Gue juga nggak ngerti, Di, kenapa gue masih simpen juga cincinnya. Tapi mungkin aja nggak sih, yang dipakai James sekarang juga bukan cincin kami dulu?”

Dimple tahu ini hanya kilahan Kiara saja, seperti biasanya. Sebagai satu-satunya yang sudah hafal mati seluruh kisah hidup Kiara dan James, Dimple jelas tahu bahwa yang diucapkan Kiara sama sekali tidak benar.

“Ki, lo jelas-jelas belum bisa move on dari si Tiffin itu. Dan dari yang gue lihat dan dengar juga dari Ronald, James juga belum bisa move on dari lo, Ki. After all these years. Sudah enam tahun memang, tapi bagi James, pusat dunianya dari dulu sampai sekarang masih tetep lo, Ki.”

Sekeras apapun Kiara menyangkal, lagi-lagi setiap ucapan Dimple tidak mampu Kiara elak lagi.

Karena faktanya, memang benad. Sebanyak apa pun kencan yang sudah Kiara lalui setelah hubungannya kandas dengan James, hati Kiara selalu akan tertuju pada sosok Jamws Tiffin. Menjadikan mantan sahabat sekaligus mantan kekasihnya itu sebagai patokan bagi Kiara dalam memilih pasangan.

Benar ya, kata orang, segala sesuatu yang pertama itu sangat sulit untuk dilupakan. Sulit untuk dilenyapkan, bahkan se sederhana menguburkannya dalam memori sekalipun.

Karena dengan James-lah, Kiara jadi tahu bagaimana hidupnya enam tahun yang lalu diisi oleh limpahan cinta yang sehat, sekaligus sakit di saat yang bersamaan.

Bagaimana mereka sempat tumbuh untuk merangkai tujuan hidup dan masa depan bersama.

Bagaimana ketika sebuah titik menuju ambang kegagalan menjadi momok retaknya hubungan mereka, hingga sebuah pengkhianatan menyeret mereka pada satu keputusan paling telak dalam hidup Kiara dan James yang terpaksa harus mereka pilih, yaitu dengan berpisah jalan.

James, adalah sahabat laki-laki pertamanya.

Cinta pertamanya.

Kekasih pertamanya.

Yang kini telah menyandang gelar sebagai mantan kekasihnya.

Sekaligus mantan suami Kiara.

Atas pernikahan impulsif yang seharusnya tidak pernah terjadi di masa lalu.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Life of Maharani
Wachyudi
Cerpen
Bronze
Bunga Malam
Azizah Noor Qolam
Cerpen
The Ex File
Farah Maulida
Novel
Bronze
GOODBYE SINGAPORE
Embart nugroho
Novel
Moment
Maria Rosa
Novel
Gold
Reverse
Falcon Publishing
Novel
Setiap Momen adalah Kamu
Jane Lestari
Komik
Sisters of The Popular
Mentari Nurtriszkianny
Novel
Bronze
CINTA LAKSANA EKSTASI
mahes.varaa
Novel
TEQUILA
Cloudslyy
Komik
This is Classic Love Story
Drawshocker
Flash
Pertama dan terakhir.
Yulia Fahri
Flash
Bronze
"Pesan yang Terlambat Tiba"
Achmad Wahyudi
Novel
Danasmara
Ifa Alif
Cerpen
Nama Terakhir
Indah Leony Suwarno
Rekomendasi
Cerpen
The Ex File
Farah Maulida
Flash
Never Just a Friend
Farah Maulida
Flash
Under Your Spell
Farah Maulida
Flash
Half-Written Love
Farah Maulida
Flash
Semua Untuk Anya
Farah Maulida
Flash
Mama
Farah Maulida
Flash
Did You Realize?
Farah Maulida
Flash
Unexpected You
Farah Maulida
Flash
Bronze
The Galaxy In Our Room
Farah Maulida
Flash
Always Have Been, Always Will Be
Farah Maulida
Cerpen
After Two Years
Farah Maulida
Cerpen
What Remains
Farah Maulida
Cerpen
Bukan Roman Picisan
Farah Maulida
Flash
Parallax of Truth
Farah Maulida
Cerpen
Kala Itu, di Bandung
Farah Maulida