Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
________________________________________
"Ia tidak tahu apakah ia sedang bermimpi atau mati. Yang ia tahu: ada sesuatu yang memanggilnya. Dan kali ini, ia tidak akan lari."
________________________________________
Dua bulan.
Kael berdiri di atas gunung sampah.
Ia tidak ingat bagaimana ia bisa sampai di sini. Yang ia ingat: bau. Bau plastik terbakar selalu sama seperti di rumah, di samping tempat tidur ibunya, saat oksigen terakhirnya habis di antara tumpukan botol bekas yang tidak pernah cukup. Bau itu melekat di pori-porinya, di sela-sela jarinya, di dasar paru-parunya yang sudah terbiasa dengan udara Jakarta yang kental.
Ia tidak ingat kapan terakhir kali ia bernapas tanpa menciumnya.
Langit di atasnya memiliki dua bulan. Satu pucat, satu merah. Menggantung seperti mata yang tidak berkedip seperti ibunya yang menatapnya sebelum pergi. Tatapan yang tidak marah, tidak kecewa, hanya kosong. Tatapan yang mengatakan: "Kau tidak bisa menyelamatkan siapa pun."
Kael ingin membalikkan badan. Ingin lari. Tapi kakinya tidak bergerak. Tidak pernah bergerak. Di sini, di atas gunung sampah ini, ia selalu terjebak. Selalu membeku. Selalu menatap kembali.
Di kakinya, sebuah botol PET kosong berguling tertiup angin.
Bukan angin. Tidak ada angin di sini. Hanya diam. Hanya debu plastik yang beterbangan seperti salju yang salah. Seperti abu yang tidak pernah padam.
Ia membungkuk. Jari-jarinya menyentuh permukaannya.
Hangat.
Botol itu hangat. Seperti detak jantung yang tidak pernah ia dengar lagi setelah monitor di samping tempat tidur ibunya berhenti berkedip. Seperti tangan yang ia genggam hangat, lalu dingin, lalu tidak pernah kembali.
"Kau telah dinanti."
Suara itu dari dalam. Dari celah di dadanya yang selama ini ia isi dengan anime, game, dan tumpukan botol yang tidak pernah cukup. Dari ruang kosong yang dulu berisi janji-janji yang ia buat pada ibunya. Janji yang ia gagal tepati.
"Jaga sungai, Nak. Jangan biarkan ia mati seperti aku."
Ia membuka mulut. Tidak ada suara yang keluar. Hanya udara. Hanya bau. Hanya kenangan yang tidak pernah benar-benar hilang.
Ia menatap botol itu. Di permukaannya yang retak, ada pantulan. Bukan wajahnya. Bukan dua bulan. Ada gadis kecil. Batuk-batuk. Matanya sayu. Di tepi sungai yang mati. Sungai yang sama yang ia janjikan akan ia bersihkan.
Mila.
Ia tidak tahu dari mana nama itu datang. Tapi ia tahu bahwa di suatu tempat, di suatu dunia, gadis itu batuk karena air yang ia gagal selamatkan. Karena ia tidak cukup cepat. Tidak cukup kuat. Tidak cukup baik.
"Kael."
Suara itu mengalir seperti air yang tidak bisa ia tahan. Seperti sungai yang tidak bisa ia bersihkan. Seperti semua yang ia cintai yang perlahan tenggelam dalam plastik.
"Kau telah dinanti."
Ia ingin bertanya. Ingin berteriak. Ingin memecah keheningan yang membungkusnya. Tapi kata-katanya tertahan di tenggorokan, terjebak di antara bau dan kenangan dan dua bulan yang tidak pernah berkedip.
Lalu ia terbangun.
________________________________________
Kael terbaring di kamar kosnya. Keringat dingin membasahi keningnya, merembes ke bantal yang sudah usang. Di luar jendela, langit Jakarta masih gelap jam 4 pagi, saat udara masih bisa dihirup sebelum polusi mengental dan matahari mulai menyengat. Saat kota masih diam dan ia masih bisa berpura-pura bahwa segalanya baik-baik saja.
Di sudut ruangan, tumpukan botol PET yang belum selesai tampak seperti patung-patung kecil dalam senja. Seperti penjaga yang tidak pernah tidur. Seperti pengingat bahwa ia masih belum cukup.
198 gram.
Ia tahu berat itu. Tahu bahwa 200 gram adalah ambang batas. Tahu bahwa ia selalu gagal 2 gram sebelum sempurna.
Seperti hidupnya. Selalu 2 gram terlalu ringan.
"Mimpi lagi," bisiknya.
Suaranya serak, patah, seperti plastik yang diremas terlalu keras. Ia duduk perlahan. Tulang-tulangnya terasa berat, seperti ada sesuatu yang menahannya. Seperti dunia ini tidak ingin ia bangun. Tidak ingin ia mencoba.
Ia menatap tangannya. Kosong.
Mimpi itu selalu sama. Dua bulan. Gunung sampah. Bau plastik terbakar. Dan suara dari dalam botol hangat seperti detak jantung yang tidak pernah ia dengar lagi setelah monitor di samping tempat tidur ibunya berhenti berkedip.
Ia tidak melihat cahaya biru di sudut ruangan. Tidak melihat botol-botol itu berdenyut, seperti detak jantung yang menolak mati. Ia sudah terlalu lelah.
________________________________________
Di luar, suara motor melintas. Samar. Jakarta mulai bergerak. Tapi Kael tetap diam, duduk di tepi tempat tidur, menatap tumpukan botol di sudut ruangan. 198 gram. Selalu 198 gram.
Ia ingat pertama kali ia menimbang. 150 gram. Lalu 170. Lalu 190. Ia mendekat, selalu mendekat, tapi tidak pernah cukup. Seperti semua yang ia lakukan. Tidak pernah cukup untuk ibunya. Tidak pernah cukup untuk sungai. Tidak pernah cukup untuk dirinya sendiri.
Ia menggenggam salah satu botol. Masih dingin. Masih kosong. Masih menunggu.
"Besok," bisiknya. "Besok aku akan isi."
Ia tidak tahu bahwa botol itu tidak bisa menunggu. Bahwa waktu tidak pernah cukup. Bahwa besok tidak selalu datang.
________________________________________
Ia berdiri. Melangkah ke meja belajarnya. Di atasnya, timbangan digital. Angka 0.00 berkedip. Ia meletakkan botol yang ia genggam. Angka melompat. 198 gram. Selalu 198 gram.
Ia menekan botol itu ke dadanya. Dingin. Tapi di suatu tempat, di celah di dadanya, ada hangat. Hangat yang tidak ia kenal. Hangat yang tidak berasal dari dunia ini.
Ia menatap cermin di dinding. Rambutnya acak-acakan. Mata coklatnya sayu, seperti ada sesuatu yang mati di dalamnya.
"Mimpi lagi," bisiknya. "Mimpi yang sama."
Ia tidak tahu bahwa mimpi itu bukan mimpi. Bahwa ada sesuatu yang menunggunya di balik pintu yang ia ciptakan sendiri. Bahwa 0.33 bukan angka ajaib. Itu adalah kunci. Dan ia telah mengetuk pintu tanpa sadar.
Ia tidak tahu bahwa botol-botol di sudut ruangan itu berdenyut lemah saat ia menyentuhnya. Seperti detak jantung yang menolak mati. Seperti mata yang tidak berkedip. Seperti panggilan yang tidak bisa ia tolak.
Ia tidak tahu bahwa dunia yang ia tulis dalam folder "TERRALAZE VALSEKAI" adalah nyata.
Dan bahwa ia telah dinanti.
________________________________________
Tiga tahun.
Tiga tahun sejak ia terakhir mendengar suara itu. Tiga tahun sejak monitor di samping tempat tidur berkedip lambat, seperti mata yang lelah. Tiga tahun sejak oksigen mengalir melalui selang yang menempel di hidung ibunya tipis, rapuh, seperti benang yang hampir putus.
"Kael..."
Suara itu serak. Seperti pasir yang bergesekan. Seperti daun kering yang tertiup angin. Seperti sesuatu yang sudah setengah pergi.
Kael duduk di samping tempat tidur. Tangannya memegang tangan ibunya kulitnya tipis, pembuluh darahnya biru pucat, seperti sungai yang mengering. Ia ingin berkata sesuatu. Ingin berjanji. Ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Tapi tidak ada suara yang keluar. Hanya isak. Hanya udara yang tertahan di dadanya. Hanya rasa sakit yang tidak bisa ia ucapkan.
"Jaga sungai, Nak. Jangan biarkan ia mati seperti aku."
Matanya menatapnya. Bukan marah. Bukan kecewa. Hanya kosong. Kosong yang penuh. Kosong yang mengandung semua yang tidak bisa ia katakan. Kosong yang mengatakan: "Kau tidak bisa menyelamatkan siapa pun."
Kael menggenggam tangannya lebih erat. Hangat. Masih hangat. Ia ingin membekukan momen itu. Ingin menghentikan waktu. Ingin membuat hangat itu bertahan selamanya.
Tapi hangat itu mulai memudar. Perlahan. Seperti pasir yang mengalir di antara jari-jarinya. Seperti air yang ia tidak pernah bisa tahan.
Monitor di samping tempat tidur berkedip. Lambat. Lalu lebih lambat. Lalu
Berhenti.
Tidak ada suara. Tidak ada bip. Hanya diam. Diam yang berat. Diam yang merembes ke seluruh ruangan, ke seluruh tubuhnya, ke seluruh dunia.
Tangannya masih menggenggam. Hangat lalu dingin. Hangat yang hilang, digantikan oleh dingin yang tidak pernah pergi.
Ia tidak melepaskan. Tidak bisa. Tangannya membeku di posisi itu, menggenggam tangan yang sudah tidak menggenggam kembali.
________________________________________
Ia tidak ingat berapa lama ia duduk di sana.
Mungkin beberapa menit. Mungkin berjam-jam. Yang ia ingat: bau. Bau antiseptik. Bau kematian. Bau yang sama yang ia hirup setiap kali ia melewati sungai di belakang rumahnya.
Ia tidak pernah lagi menyentuh sungai itu.
Tidak pernah lagi cukup kuat untuk memandang air yang ia gagal selamatkan.
Setiap kali ia mendekati tepian, ia melihat bayangan ibunya. Bayangan yang mengatakan: "Jangan biarkan ia mati seperti aku." Dan setiap kali, ia membalikkan badan. Setiap kali, ia lari.
Ia lari ke kamarnya. Ke tumpukan botol. Ke 198 gram yang tidak pernah cukup. Ke dunia yang ia ciptakan dalam folder "TERRALAZE VALSEKAI" tempat ia bisa mengendalikan segalanya. Tempat ia tidak perlu gagal.
Tapi di dunia itu, ia juga gagal.
Karena ia tidak pernah bisa menyelamatkan siapa pun. Tidak ibunya. Tidak sungai. Tidak Mila.
Di dunia nyata, di dunia mimpinya, di dunia yang ia ciptakan sendiri ia selalu gagal 2 gram sebelum sempurna.
________________________________________
Kael duduk di depan laptop. Layar menyala terlalu terang untuk jam 4 pagi, tapi ia tidak peduli. Di desktop, sebuah folder: "TERRALAZE VALSEKAI" . 3 tahun. Ratusan halaman. Sebuah dunia yang ia ciptakan dari kegagalan.
Ia membuka file "Magic System". Scroll ke bawah. Halaman demi halaman.
"Mana Shard Unit energi magis dari Ritual Kompresi. Densitas minimal 0.33 g/ml."
Tangannya berhenti di atas keyboard.
0.33.
Angka yang sama. Selalu 0.33. Di timbangan di sudut ruangan. Di dokumen ini. Di mimpi yang terus berulang. 0.33 adalah ambang batas. Titik di mana sampah berubah menjadi sesuatu. Titik di mana ia selalu gagal.
"Kenapa 0.33?" bisiknya. Tidak ada yang menjawab.
Ia menatap angka itu. Seolah-olah angka itu menatap balik. Seolah-olah ada sesuatu di balik angka itu sesuatu yang menunggu.
Layar berkedip.
Kael mengerjapkan mata. Mungkin matanya lelah. Mungkin ia perlu tidur. Tapi layar berkedip lagi lebih lama kali ini. Dan ketika kembali, teks di depannya telah berubah.
Aksara kuno.
Simbol-simbol aneh mengalir seperti air di atas layar. Tidak seperti bahasa apa pun yang pernah ia lihat. Bergelombang, berdenyut, hidup. Seperti sesuatu yang bernapas di balik kaca.
Di tengah-tengah simbol-simbol itu, angka "0.33" melayang tidak tertulis, tidak digambar, tapi mengambang, seperti partikel debu yang tertangkap cahaya.
Kael menatap. Tidak bergerak. Tidak bernapas.
Ia seharusnya takut. Tapi ia sudah terlalu mati rasa untuk takut. Ia sudah terlalu lelah untuk terkejut. Ia hanya duduk, menatap, dan untuk sesaat, ia merasakan sesuatu yang aneh seperti ada yang melihatnya dari balik layar. Seperti ada yang menunggu.
"Kurang tidur," gumamnya. Suaranya kosong. Tidak meyakinkan siapa pun. Bahkan dirinya sendiri.
Ia ingin menutup laptop. Ingin mengabaikannya. Ingin kembali ke tempat tidur dan berpura-pura bahwa ini tidak terjadi. Tapi tangannya tidak bergerak. Matanya tidak bisa lepas.
Aksara kuno itu terus mengalir. Simbol-simbolnya berubah, bergerak, membentuk pola yang hampir ia kenali tapi tidak cukup. Seperti kata yang terlintas di ujung lidah tapi tidak pernah keluar. Seperti kenangan yang hampir ia ingat tapi selalu menghilang.
Di sudut layar, angka 0.33 berdenyut lemah. Seperti detak jantung. Seperti panggilan.
"Apa kau nyata?" bisiknya.
Layar tidak menjawab. Tapi untuk sesaat, ia merasa merasakan sesuatu yang hangat di dadanya. Di celah yang selama ini kosong. Di tempat yang ia isi dengan anime, game, dan tumpukan botol yang tidak pernah cukup.
Ia menutup laptop. Perlahan. Tidak yakin apakah ia baru saja melihat sesuatu, atau apakah ia baru saja kehilangan sesuatu.
Ia tidak tahu bahwa 0.33 bukan angka ajaib. Itu adalah kunci. Dan ia telah mengetuk pintu tanpa sadar.
Di sudut ruangan, botol-botol PET berdenyut. Diam. Tapi denyut.
Ia tidak melihatnya. Ia sudah terlalu lelah.
________________________________________
Warung. Bau kopi. Bau nasi goreng yang digoreng berulang kali. Bau rokok dari meja sebelah. Bau Jakarta yang tidak pernah benar-benar bersih.
Kael duduk di kursi plastik yang sudah menguning. Di depannya, es teh manis. Gula mengendap di dasar. Ia menatapnya, tapi tidak melihatnya.
"Kenapa dunia nyata nggak punya sistem leveling?"
Budi menatapnya. Mata Budi selalu cemas akhir-akhir ini garis halus di antara alisnya, bibir yang sedikit mengerucut. Karena Kael. Karena Regrow Up. Karena semua yang perlahan runtuh.
"Art exhibition di Museum Birokrasi Nasional. Ada nama elo di daftar undangan."
Kael ingin tertawa. Tapi tidak ada suara yang keluar. Hanya angin, di suatu tempat di dalam dadanya yang kosong.
Pemerintah. Kata itu terasa seperti plastik di mulutnya. Mereka yang membiarkan sungai mati. Mereka yang membiarkan ibunya mati. Mereka yang membuat aturan tentang sampah sambil menerima amplop dari pabrik-pabrik yang membanjiri kota dengan plastik.
"Ini satu-satunya cara." Suara Budi pelan, seperti orang yang mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Kita bisa ubah sistem dari dalam."
Di luar warung, motor melintas. Asap mengepul. Burung gagak hinggap di tiang listrik, mematuk sesuatu yang mengilap.
Kael menatap es teh manisnya. Gula mengendap di dasar. Selalu mengendap. Seperti harapannya.
"Kau percaya mereka?"
Suaranya serak. Seperti pasir yang bergesekan. Seperti sesuatu yang sudah lama tidak digunakan.
Budi terdiam. Kemudian:
"Aku percaya pada elo."
Ada sesuatu di mata Budi. Sesuatu yang membuat Kael ingin membalikkan badan. Sesuatu yang mengatakan: "Aku tidak ingin kehilanganmu."
Kael menatapnya. Lalu ia mengangguk. Pelan. Seperti orang yang setuju untuk melangkah ke jurang.
"Baiklah."
Es teh manisnya sudah mencair. Gula mengendap di dasar. Ia tidak akan pernah meminumnya.
"Tapi kalau ada yang aneh "
"Nggak ada yang aneh." Budi tersenyum. Senyum yang terlalu percaya. Senyum yang mengatakan: "Aku akan menjagamu."
"Aku janji."
Kael tidak percaya pada janji. Janji adalah hal yang diucapkan orang sebelum mereka pergi.
Ibunya pernah berjanji akan sembuh. Tidak.
Ia pernah berjanji akan membersihkan sungai. Tidak.
Budi tidak akan pergi. Tapi janji tetap janji. Dan janji adalah hal yang diucapkan orang sebelum dunia membuktikan bahwa mereka salah.
________________________________________
Di luar, langit mulai gelap. Bukan malam. Hujan.
Tetesan pertama jatuh di aspal, menghitamkan debu, menciptakan bau tanah basah yang tidak bisa ia hirup tanpa mengingat sungai.
Kael berdiri. Meletakkan uang di meja. Tidak menatap Budi.
"Aku akan pergi."
"Ke mana?"
"Ke museum."
Budi mengangguk. Tidak bertanya lagi.
Kael berjalan keluar. Hujan mulai deras. Ia tidak berlindung. Ia membiarkan air membasahi bajunya, rambutnya, wajahnya.
Rasanya seperti air sungai. Seperti air yang ia gagal selamatkan.
________________________________________
Di kampus, Kael berdiri di atas panggung.
Lampu sorot menyilaukan terlalu terang, terlalu panas, seperti matahari buatan yang tidak pernah cukup hangat. Di bawahnya, 30 wajah menatapnya. Wajah-wajah baru. Wajah-wajah yang masih percaya bahwa dunia ini bisa diubah.
Ia membuka mulut. Suaranya keluar terlalu ceria, terlalu bersemangat.
"Bayangkan kalian main RPG. Setiap botol yang kalian isi adalah 10 EXP."
Mereka tertawa. Suara tawa itu mengalir ke telinganya seperti air yang tidak pernah mencapai akar. Ia melihat mereka mata mereka bersinar, senyum mereka lebar. Mereka masih percaya.
Mereka tidak tahu bahwa tidak ada EXP di dunia nyata.
Hanya timbangan. Hanya 198 gram. Hanya rasa bersalah yang tak pernah hilang.
"Kalau kalian isi 100 botol, kalian naik level."
Ia melambaikan tangan, menunjuk ke tumpukan botol di samping panggung. Botol-botol itu berkilau di bawah lampu. Seperti batu permata. Seperti harapan palsu.
"Level apa?" teriak seseorang dari kerumunan.
"Level 'Penyelamat Bumi'," jawabnya. "Tapi hati-hati di game ini, tidak ada respawn."
Mereka tertawa lagi. Mereka pikir itu lelucon.
Kael tidak tertawa.
________________________________________
Setelah workshop, kerumunan bubar. Suara langkah kaki menghilang di lorong. Lampu di aula mulai meredup, satu per satu, meninggalkan hanya satu di atas panggung.
Kael masih berdiri di sana. Tidak bergerak.
Pak Surya mendekat. Langkahnya pelan, seperti orang yang tidak ingin mengganggu. Di tangannya, selembar kertas mungkin daftar hadir. Mungkin sesuatu yang lain.
"Kael."
Kael menoleh. Pak Surya tersenyum. Senyum yang hangat. Senyum yang mengatakan: "Aku percaya padamu."
"Kau punya sesuatu yang istimewa. Jangan biarkan siapa pun memadamkan apimu."
Kael mengangguk. Kepalanya terasa berat, seperti ada sesuatu yang menahannya. Matanya menatap Pak Surya, tapi ia tidak melihatnya. Ia melihat bayangan lain ibunya di tempat tidur, Mila batuk di kelas, sungai hitam yang tidak pernah ia bersihkan.
Di dalam, ia ingin berkata: "Apiku sudah padam, Pak. Yang tersisa hanya abu."
Tapi ia tidak berkata apa-apa.
Ia hanya mengangguk. Lagi. Dan berjalan pergi.
________________________________________
Di luar, hujan. Kael berjalan di tengah hujan. Tidak berlindung. Tidak peduli. Air membasahi bajunya, rambutnya, wajahnya. Rasanya seperti air sungai. Seperti air yang ia gagal selamatkan.
Di sakunya, ponsel bergetar. Notifikasi Discord. Tapi ia tidak membukanya.
Ia berhenti di depan gedung laboratorium. Di jendela, cahaya biru pucat berkedip lampu monitor yang ditinggalkan. Seperti detak jantung yang menolak mati.
Ia menatapnya. Untuk sesaat, ia melihat bayangan dua bulan di permukaan kaca.
"Kau telah dinanti."
Ia mengerjapkan mata. Bayangan itu hilang. Hanya lampu. Hanya hujan. Hanya dirinya.
________________________________________
Minggu berikutnya, Kael tidak hanya mengajar mahasiswa.
Ia turun ke kampung. Ke gang-gang sempit yang tidak terlihat di peta. Ke pos RW dengan dinding berkerak dan lantai ubin retak. Ke teras rumah seorang ibu yang dipenuhi jemuran dan suara televisi dari ruang dalam.
Ibu-ibu PKK duduk melingkar di kursi plastik. Ada yang menyulam. Ada yang mengupas bawang. Ada yang memegang botol PET kosong dengan tatapan bingung.
Kael duduk di tengah mereka. Tidak menggunakan mikrofon. Tidak menggunakan slide presentasi. Hanya suaranya.
"Ibu, ingat ya. Kantong kresek itu T1, lunak tapi bandel."
Ia mengambil selembar plastik kresek. Meremasnya. Bunyi kresek-kresek mengisi udara.
"Saset kopi itu T2, ada lapisannya."
Ia merobek kemasan saset. Lapisan perak mengilap di dalamnya. Mereka mengangguk.
"Styrofoam itu T3, paling berbahaya."
Ia memecahkan styrofoam. Serpihan putih berterbangan seperti salju yang salah.
"Kalau mau ngompres, harus dipisah dulu."
Udara sore terasa lembap. Di kejauhan, suara azan. Di dekatnya, seorang anak menangis. Tapi di sini, di lingkaran ini, hanya ada perhatian.
Seorang ibu mengangkat botol setengah jadi. Isinya sudah padat, tapi masih ada ruang di atas.
"Ini udah bener, Mas?"
Kael mengambil botol itu. Merasakan beratnya di tangannya. Menimbangnya bukan dengan timbangan, tapi dengan otot, dengan kebiasaan, dengan tiga tahun memadatkan sampah.
"Kurang 30 gram lagi, Bu. Tapi hampir."
Ia mengembalikan botol itu. Jari-jarinya menyentuh plastik yang sudah mampat, hangat dari proses kompresi.
"Gotong royong, ya."
Matanya menatap mereka satu per satu.
"Satu botol nggak akan jadi bata, tapi kalau satu RW ngompres, kita bisa bangun taman bacaan."
Mereka mengangguk. Tidak ada yang berbicara. Tapi ada sesuatu yang bergerak di antara mereka sebuah kesepakatan diam-diam.
Botol-botol mulai berpindah tangan. Satu ibu mengambil potongan kresek. Ibu lain menusukkan tongkat kayu ke dalam botol. Suara duk-duk-duk bergema di teras. Tawa. Celoteh. Saling mengajari.
Kael tidak berbicara. Ia hanya melihat.
Di bawah sinar sore yang mulai memerah, botol-botol itu berubah. Bukan sekadar sampah yang dipadatkan tapi sesuatu yang lain. Sesuatu yang hampir seperti doa.
Ia tersenyum.
Untuk sesaat, ia merasa bahwa ia mungkin tidak gagal. Mungkin kali ini berbeda.
________________________________________
1.200 ecobrick. 5 taman bacaan. 7 sekolah.
Angka-angka itu mengalir di layar ponselnya, di berita lokal, di mulut orang-orang yang mulai mengenal namanya. Kael membaca ulang angka-angka itu di kamar kosnya, di bawah lampu neon yang berkedip. 1.200. 5. 7. Angka-angka yang seharusnya membuatnya merasa bangga.
Tapi yang ia rasakan hanyalah berat. Berat di dadanya. Di tangannya. Di matanya yang tidak bisa tidur.
Di sudut ruangan, botol-botol yang belum selesai masih menunggu. 198 gram. Selalu 198 gram.
________________________________________
Minggu berikutnya, Kael diundang ke radio kampus. Ruang studio sempit, dinding kedap suara, mikrofon yang terlalu dekat dengan bibirnya. Lampu merah menyala. Host di seberang meja tersenyum senyum yang sama seperti semua senyum yang ia lihat akhir-akhir ini.
"Kael, apa yang membuatmu begitu bersemangat?"
Pertanyaan itu mengambang di udara, di antara gelombang radio yang akan membawa suaranya ke telinga orang-orang yang tidak ia kenal.
Ia membuka mulut. Kata-kata keluar. Terlalu cepat. Terlalu ceria.
"Karena ini sihir nyata. Kita ubah sampah menjadi sesuatu berguna."
"Kita" kata itu terasa asing di mulutnya. Seperti ia berbicara tentang orang lain. Seperti ia tidak termasuk di dalamnya.
Host itu mengangguk. Tersenyum lagi. Lalu bertanya tentang masa depan, tentang mimpi, tentang apa yang akan ia lakukan selanjutnya.
Kael menjawab. Kata-kata mengalir. Tentang taman bacaan. Tentang sekolah-sekolah. Tentang mengubah Indonesia satu botol demi satu botol.
Di luar jendela studio jendela kecil yang tidak pernah ia perhatikan seorang pria berdiri.
Pribawanto.
Matanya menyipit. Bukan seperti orang yang mengamati. Seperti orang yang sedang menunggu. Seperti orang yang sudah tahu bagaimana cerita ini akan berakhir.
Kael melihatnya. Hanya sesaat. Tapi cukup.
Cukup untuk merasakan dingin merambat di punggungnya. Cukup untuk tahu bahwa tatapan itu bukan tatapan biasa. Tatapan orang yang akan menghancurkanmu dengan senyuman.
Kael melanjutkan. Suaranya tidak bergetar. Tidak ada yang berubah. Tidak ada yang bisa melihat apa yang terjadi di dalam dirinya.
Tapi tangannya di bawah meja, di luar pandangan bergetar.
________________________________________
3 Bulan Kemudian.
Udara di kampus terasa lebih berat akhir-akhir ini. Bukan karena polusi. Bukan karena cuaca. Tapi karena sesuatu yang lain sesuatu yang tidak bisa ia lihat, tapi bisa ia rasakan di punggungnya setiap kali ia berjalan melintasi lapangan.
Seperti ada mata yang mengawasi. Seperti ada bayangan yang mengikuti.
Kael sedang duduk di bangku dekat pohon rindang ketika Pribawanto datang. Tidak ada suara langkah kaki yang terdengar. Hanya bayangan yang tiba-tiba menutupi cahaya sore.
Pria itu berdiri di depannya. Jas hitam yang terlalu rapi untuk cuaca Jakarta. Dasinya terlalu merah. Senyumnya terlalu tipis.
"Kau tahu, Kael, anak muda yang baik tidak banyak bicara."
Suaranya halus. Seperti minyak. Seperti sesuatu yang licin dan tidak bisa dipegang.
Kael mendongak. Matanya menatap Pribawanto. Tidak ada rasa takut. Hanya kelelahan.
"Dan pejabat yang baik bekerja," balasnya. "Bukan hanya bicara."
Udara di antara mereka berubah. Menjadi lebih dingin. Lebih kaku. Seperti ada sesuatu yang tertahan di dalamnya.
Pribawanto tersenyum tipis. Senyum itu tidak sampai ke matanya.
Matanya.
Kael melihatnya cahaya kuning pucat memantul di pupilnya. Seperti nyala api yang tidak alami. Seperti lampu neon yang hampir mati. Pupil matanya menyempit vertikal, seperti retakan pada layar ponsel yang bercahaya. Seperti mata reptil.
Kael merasakan bulu kuduknya berdiri. Sebuah sensasi dingin merambat dari leher ke punggungnya, seperti sentuhan tangan yang tidak terlihat.
Ia belum pernah melihat mata seperti itu. Belum pernah merasakan sesuatu yang begitu salah dari seorang manusia.
"Kau akan menyesal, Nak."
Kata-kata itu keluar pelan. Tidak mengancam. Hanya pernyataan. Seperti fakta yang sudah tertulis.
Pribawanto berbalik. Jas hitamnya berdesir pelan. Di tangannya, ponsel menyala layar yang terlalu terang di bawah sinar sore.
Dan di layar itu, sebuah simbol berkedip.
Segitiga daur ulang.
Terbalik.
Kael menatapnya. Hanya sesaat. Tapi cukup untuk mengukirnya di ingatan. Simbol yang tidak pernah diajarkan di sekolah lingkungan mana pun. Simbol yang tidak pernah ia lihat di buku atau poster.
Pribawanto berjalan pergi. Langkahnya pelan. Tidak terburu-buru. Seperti orang yang tahu bahwa waktu ada di sisinya.
Kael menatap punggungnya menghilang di balik pepohonan.
Tangannya gemetar. Bukan karena takut. Karena marah.
Marah pada dirinya sendiri.
________________________________________
Ia kembali ke SD. Gerbang besi berkarat. Dinding bercat putih yang mulai mengelupas. Rumput di halaman yang jarang dipotong.
Di bawah pohon rindang, seorang gadis kecil memegang tangannya. Jari-jarinya kecil dan tipis, seperti ranting yang rapuh. Kulitnya pucat bukan pucat karena kurang sinar matahari, tapi pucat karena sesuatu yang lain.
"Om Kael, suatu hari aku ingin menjadi seperti Om. Menyelamatkan bumi."
Matanya bersinar. Bersinar dengan api yang tidak pernah padam. Api yang dulu juga menyala di mata Kael sebelum angin padam, sebelum abu menggantikan bara.
Kael tersenyum.
"Kau bisa. Kau sudah melakukannya."
Ia berbohong.
Ia tidak pernah menyelamatkan apa pun. Ia hanya menunda kehancuran. Menggeser sampah dari satu tempat ke tempat lain. Mengisi botol yang pada akhirnya akan menjadi tumpukan lagi. Membuat taman bacaan yang suatu hari akan dimakan waktu.
Tapi gadis kecil itu tidak perlu tahu.
Ia melepaskan tangannya. Melangkah menuju ruang kelas. Di belakangnya, ia mendengar batuk. Pelan. Tertahan. Seperti sesuatu yang mencoba disembunyikan.
Ia tidak menoleh.
Ia tidak ingin melihat.
________________________________________
Di ruang belakang kelas, Mila duduk di bangku kayu. Di depannya, buku bergambar tentang hewan-hewan laut paus, lumba-lumba, penyu. Halaman yang ia buka: gambar penyu yang terjerat jaring plastik.
Ia menutup buku. Menatap keluar jendela.
Di luar, sungai mengalir. Hitam. Pekat. Di permukaannya, botol-botol plastik mengapung seperti bunga yang salah. Seperti karangan bunga untuk sungai yang sudah mati.
Ia batuk lagi. Lebih keras kali ini. Tangannya menutup mulut. Saat ia menurunkan tangannya, ada noda merah di telapak tangannya.
Ia tidak memberitahu siapa pun.
________________________________________
Kael tidak tahu bahwa Mila batuk di ruang belakang kelas. Tidak tahu bahwa sungai di belakang sekolahnya sudah mati sejak lama.
Ia berjanji akan membersihkannya.
Dan ia gagal.
Ia ingat hari itu. Ia berdiri di tepi sungai, mengamati arus yang lambat, sampah-sampah yang tidak bergerak. Di tangannya, sebuah botol kosong. Di hatinya, sebuah janji.
"Aku akan membersihkan ini suatu hari."
"Kapan?" Mila bertanya.
"Nanti."
Nanti tidak pernah datang.
________________________________________
Di luar, hujan mulai turun. Tetes demi tetes menghantam tanah kering, menciptakan bau tanah basah yang selalu mengingatkannya pada sungai.
Kael berjalan keluar. Tidak berlindung. Tidak peduli.
Air membasahi wajahnya. Di permukaan genangan, ia melihat pantulannya sendiri dan di belakangnya, bayangan dua bulan.
"Kau telah dinanti."
Ia tidak menoleh.
Tapi kali ini, ia tidak lari.
________________________________________
Malam sebelum pameran, Kael duduk di samping patung "Taman Golem" 500 botol ecobrick. Di tangannya, sebuah botol khusus. Bukan botol biasa.
Ia memilihnya dari tumpukan botol PET bening, tanpa goresan, tanpa cacat. Botol yang sempurna. Botol yang tidak pernah ia temukan sebelumnya.
Ia mulai memadatkan. Perlahan.
Setiap tekanan adalah doa. Setiap desahan adalah harapan. Ia menggunakan teknik pernapasan dan ritme jantung menekan saat ia menghela napas, berhenti saat ia menarik napas, seperti irama tubuh yang ia kenal sejak lahir. Botol itu mulai terasa hangat di tangannya. Bukan hangat biasa hangat yang berdenyut, seperti sesuatu yang hidup di dalamnya.
Ia menekan lagi. Dan lagi.
Sampai timbangan digital di sampingnya berhenti pada angka yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
0.52 g/ml Kelas Premium.
Botol itu berkilau di bawah cahaya redup. Di dalamnya, plastik-plastik mampat menjadi satu menjadi sesuatu yang baru. Sesuatu yang hampir seperti batu. Sesuatu yang hampir seperti hati.
Ia mengangkat botol itu. Merasakan beratnya. Merasakan hangatnya. Merasakan denyutnya.
"Kau," bisiknya. "Kau adalah yang pertama."
Ia meletakkannya di atas kepala patung. Sebagai mahkota.
Golem itu raksasa dari sampah yang ia susun dengan tangannya sendiri kini memiliki mahkota. Sebuah mahkota dari plastik yang dipadatkan dengan doa.
"Besok," bisiknya. "aku akan menunjukkan dunia bahwa kita bisa berubah."
________________________________________
Tapi di dalam hatinya, ia tahu. Tahu bahwa ia tidak pernah bisa berubah. Tahu bahwa semua yang ia lakukan hanya menunda kehancuran. Tahu bahwa ia berbohong kepada dirinya sendiri setiap kali ia berkata "kita bisa."
Ia teringat ibunya.
Di tempat tidur, di antara selang oksigen, di antara monitor yang berhenti berkedip. "Jaga sungai, Nak."
Ia teringat Mila.
Di ruang belakang kelas, batuk-batuk, menutup mulutnya dengan tangan yang berlumuran darah. "Om Kael, suatu hari aku ingin menjadi seperti Om."
Ia teringat semua yang gagal ia selamatkan. Sungai yang mati. Tanah yang tandus. Udara yang tidak bisa bernapas. Semua janji yang ia ucapkan dan tidak pernah ia tepati.
Ia tidak menangis. Sudah kehabisan air mata.
Ia hanya duduk di samping patung itu. Merasakan dingin lantai museum merambat ke tulang-tulangnya. Merasakan hangat botol di tangannya masih hangat, bahkan setelah ia meletakkannya.
"Aku minta maaf," bisiknya. Tidak tahu kepada siapa. Kepada ibunya? Kepada Mila? Kepada dirinya sendiri?
Lalu ia berdoa.
Kepada sungai yang mati. Kepada botol-botol yang tidak pernah cukup. Kepada masa depan yang tidak pernah datang.
Di luar, angin berhembus. Membawa bau plastik terbakar.
Di dalam, Kael tertidur. Di samping patung Golem. Di bawah mahkota yang ia buat dengan tangannya sendiri.
Di dalam mimpinya, dua bulan menggantung di langit abu-abu. Sebuah suara berbisik:
"Kau telah dinanti."
Ia tidak tahu itu panggilan terakhir.
________________________________________
Malam itu, sebelum pameran, Budi datang ke kos Kael.
Ia tidak bicara banyak. Hanya duduk di kursi plastik di sudut ruangan, menatap tumpukan botol yang belum selesai. Di tangannya, ia memutar-mutar tutup botol gerakan gugup yang tidak pernah ia tunjukkan di depan orang lain.
"Kael," katanya akhirnya. Suaranya pelan, seperti orang yang mencoba menahan sesuatu. "Aku takut. Takut kau terlalu jauh melangkah."
Kael tidak menjawab. Ia hanya menatap Budi sahabatnya yang selalu cemas, yang selalu khawatir, yang selalu mencoba melindunginya.
"Aku melihatmu akhir-akhir ini," lanjut Budi. "Kau seperti... tidak di sini. Seperti kau sudah pergi ke suatu tempat yang tidak bisa aku jangkau."
Kael ingin berkata sesuatu. Ingin mengatakan bahwa ia juga takut. Bahwa ia tidak tahu apa yang terjadi padanya. Bahwa ia tidak tahu apakah ia akan kembali.
Tapi ia tidak bisa.
Ia hanya mengangguk. Pelan.
Budi menatapnya lama. Lalu ia berdiri.
"Aku akan selalu percaya padamu, Kael. Tapi tolong... jangan pergi terlalu jauh."
Ia berjalan ke pintu. Di ambang pintu, ia berhenti.
"Aku tidak bisa kehilanganmu."
Lalu ia pergi.
Kael duduk di kamar kosnya, sendirian, dengan tumpukan botol dan kenangan yang tidak pernah cukup.
________________________________________
Museum penuh.
Lampu-lampu berkilau seperti bintang-bintang yang tidak pernah ia lihat di langit Jakarta. Suara langkah kaki, bisik-bisik, gesekan kain jas dan gaun. Bau parfum dan debu dan sesuatu yang lain bau yang hampir seperti plastik terbakar, tapi ia tidak menyadarinya.
Di tengah ruangan, Kael berdiri di depan "Taman Golem". Patung itu menjulang di atasnya 500 botol ecobrick yang ia susun dengan tangannya sendiri, malam-malam tanpa tidur, jari-jari yang lecet karena tongkat pemadat.
Di atas kepalanya, botol Premium berkilau. Mahkotanya. 0.52 g/ml. Doa yang menjadi bata.
Seorang jurnalis berdiri di depannya. Mikrofon terulur. Lampu kamera menyala.
"Golem ini simbol kekuatan yang tertidur," kata Kael. Suaranya terdengar aneh di telinganya sendiri terlalu jauh, terlalu datar. "Dari sampah. Bahan yang dianggap tidak berguna."
Dia berbicara tentang Regrow Up. Tentang taman bacaan. Tentang anak-anak yang belajar memilah sampah. Tentang Mila yang batuk di ruang belakang kelas.
Di balik jurnalis, di antara kerumunan, Pribawanto muncul. Jas hitam. Dasi merah. Senyum tipis.
"Karya indah, Kael," katanya. Suaranya pelan, seperti minyak yang meluncur di permukaan air. "Sayang sekali..."
Kael tidak sempat bertanya.
________________________________________
Suara retakan.
Bukan suara yang keras. Bukan ledakan. Hanya retakan tipis, seperti tulang yang patah di bawah kulit. Seperti sesuatu yang pecah dari dalam.
Kael menoleh.
Patung Golem bergoyang.
Botol-botol berhamburan pertama yang di dasar, lalu yang di tengah, lalu yang di atas. Seperti gelombang. Seperti longsor. Seperti semuanya runtuh dalam hitungan detik.
Botol Premium mahkota Taman Golem jatuh.
Ia melihatnya melayang di udara. Berputar perlahan di bawah cahaya lampu gantung, seperti bintang yang jatuh. Lalu ia menghantam lantai.
Hancur.
Berkeping-keping.
Seperti harapan.
Seperti dirinya.
Potongan-potongan plastik berserakan di lantai marmer yang mengkilap. Di antara pecahan itu, ada sesuatu yang berkilau sekilas cahaya biru pucat, lalu padam. Seperti detak jantung yang terakhir kali berdetak.
Di antara kerumunan, seorang pria bertopeng berlari. Tangannya masih memegang botol aseton. Bau kimia menyengat di udara.
"LARI!"
Suara itu keluar dari mulutnya, tapi ia tidak mendengarnya. Ia hanya melihat melihat patungnya hancur, melihat mahkotanya pecah, melihat semua yang ia bangun runtuh di depannya.
Ia mendorong jurnalis ke samping. Mikrofon jatuh. Kamera jatuh. Seseorang berteriak.
Lalu tumpukan botol dan kayu menimpa Kael.
Ia jatuh. Tidak merasakan sakit. Tidak merasakan apa-apa. Hanya beban berat yang menekan dadanya, menghimpit paru-parunya, memeras napas terakhirnya.
Di atasnya, langit-langit museum.
Lampu gantung berkilau. Jutaan titik cahaya yang berkedip seperti bintang-bintang yang tidak pernah ia lihat.
Lalu menghilang.
________________________________________
Di antara.
Bau disinfektan. Tajam. Kimia. Dingin. Bau yang ia kenal dari rumah sakit, dari malam-malam di samping tempat tidur ibunya, dari monitor yang berhenti berkedip.
Tapi perlahan, bau itu berubah.
Tidak hilang. Berubah. Seperti sesuatu yang bergeser di bawah permukaan kesadarannya. Bau disinfektan memudar, digantikan oleh sesuatu yang lebih tua bau plastik terbakar dan tanah basah. Bau yang ia hirup setiap malam dalam mimpi. Bau yang ia kenal sebelum ia mengenal dirinya sendiri.
Suara monitor detak jantung: bip... bip... bip...
Tapi juga berubah.
duk... duk... duk...
Suara tongkat pemadat botol. Suara yang ia dengar setiap hari di sudut ruangan, di warung, di teras rumah ibu-ibu PKK. Suara yang menjadi ritme hidupnya.
Tapi ada yang lain. Di kejauhan, suara dangdut melambat, terdistorsi, seperti pita kaset yang dimakan waktu. Melodi yang dulu ceria kini berubah menjadi gumaman himne yang asing. Kata-kata yang tidak ia mengerti. Nada yang salah.
Lalu suara UI game RPG ting-ting-ting tapi nadanya fals, menyakitkan telinga, seperti detak jantung yang aritmia. Seperti sesuatu yang mencoba berbicara tapi tidak bisa.
Kael membuka mata.
________________________________________
Dua bulan.
Menggantung di langit abu-abu. Satu pucat, satu merah. Seperti mata yang tidak berkedip. Seperti ibunya yang menatapnya sebelum pergi.
Ia berdiri di tepi sungai. Airnya hitam, pekat, tidak bergerak. Di permukaannya, botol-botol plastik mengapung seperti bunga yang salah. Seperti karangan bunga untuk sungai yang sudah mati.
Di kejauhan, seorang gadis kecil batuk-batuk.
"Mila..."
Bisiknya keluar tanpa ia sadari. Nama itu keluar dari dadanya, dari tempat yang selama ini kosong.
Ia teringat Mila di SDN 04. Gadis kecil yang selalu batuk saat pelajaran di luar ruangan. Yang tangannya kecil dan tipis seperti ranting. Yang pernah memegang tangannya dan berkata: "Om Kael, suatu hari aku ingin menjadi seperti Om."
Yang pernah ia janjikan akan membersihkan sungai.
Yang ia gagal.
Di sini, di Valsekai, ia batuk di tepi sungai yang sama matinya. Batuk yang sama. Darah yang sama. Kegagalan yang sama.
Kael ingin melangkah ke arahnya. Ingin mendekat. Tapi kakinya tidak bergerak. Tidak pernah bergerak di sini.
Lalu pria berjubah putih Aldric berdiri di depannya.
"Kau belum selesai."
Suaranya tidak keras. Tidak seperti guntur. Tapi ia mendengarnya di dalam tulang-tulangnya. Seperti getaran yang merambat dari tanah ke lututnya.
"Siapa kau?"
"Aku adalah apa yang akan kau jadi."
Pria itu mengulurkan tangan. Di telapak tangannya, sebuah botol PET retak. Botol yang sama dari mimpinya. Hangat. Berdenyut.
"Ini kunci."
"Untuk apa?"
"Untuk membuka pintu."
"Pintu?"
Aldric tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke matanya. Senyum yang mengatakan: "Kau tidak akan mengerti sampai kau melangkah."
"Kau akan tahu. Sekarang, bangunlah."
________________________________________
Kael membuka mata.
Cahaya biru pucat. Bukan dari jendela. Bukan dari lampu. Dari telapak tangannya yang gemetar.
Di sana, sebuah botol PET retak tergeletak.
Botol ini berdenyut.
Hangat seperti nadi yang baru saja dipotong dari tubuhnya. Di dalam retakan kaca yang memanjang dari leher hingga dasar, cahaya biru berkedip-kedip. Bukan seperti lampu LED. Seperti mata reptil yang baru saja terbangun setelah tidur panjang.
Kael mengangkat botol itu ke depan matanya. Cahaya biru menyinari wajahnya menerangi bekas luka di pelipisnya, bayangan kelelahan di bawah matanya, kerutan di antara alisnya yang tidak pernah rata.
Botol itu tidak dingin. Tidak seperti plastik biasa. Ia hangat hangat seperti sesuatu yang hidup. Hangat seperti tangan yang menggenggam tangannya sebelum pergi.
Getaran merambat dari botol ke jari-jarinya, ke telapak tangannya, ke pergelangan tangannya. Seperti detak jantung yang menyusup ke dalam tulang-tulangnya.
"Apa..." suaranya serak. "Apa ini?"
Budi menoleh. Matanya merah, sembab. "Kael? KAU SADAR!"
Tapi Kael tidak mendengarnya. Tidak mendengar suara Budi, tidak mendengar monitor detak jantung, tidak mendengar langkah kaki perawat di lorong.
Ia hanya mendengar botol itu.
Di dalam retakan kaca, cahaya biru berkedip lagi. Sekali. Dua kali. Seperti kata-kata yang tidak bisa diucapkan. Seperti panggilan yang tidak bisa ia tolak.
"Kau telah dinanti," bisik botol itu.
Bukan suara. Getaran. Getaran yang merambat ke tulang-tulangnya, ke dadanya, ke tempat yang selama ini kosong. Getaran yang mengatakan: "Aku sudah menunggumu."
Kael menatap botol itu. Terpesona. Ketakutan. Dan penuh harapan.
Ia tidak tahu apakah itu halusinasi. Tidak tahu apakah ia mati. Tidak tahu apakah ia masih bermimpi.
Tapi ia tahu satu hal: botol itu nyata.
Ia bisa merasakannya di tangannya. Bisa merasakan hangatnya, denyutnya, beratnya. Bisa merasakan sesuatu yang bergerak di dalamnya bukan plastik, bukan sampah, tapi sesuatu yang lain. Sesuatu yang hampir seperti kehidupan.
Ia tidak bisa mengabaikannya.
________________________________________
Tiga minggu kemudian.
Pintu rumah sakit terbuka. Udara Jakarta menyambutnya tidak segar, tidak bersih, tapi ia sudah terbiasa. Bau asap knalpot, bau makanan dari warung pinggir jalan, bau tanah yang haus akan hujan. Bau yang ia kenal. Bau yang selalu ia hirup sebelum ia pergi.
Kael berjalan dengan tongkat. Kayu. Kasar di tangannya. Langkahnya pelan, tidak stabil, seperti baru belajar berjalan lagi. Di tangan yang lain, ia menggenggam The First Bottle. Tidak pernah melepasnya. Tidak pernah membiarkannya pergi.
Budi berjalan di sampingnya. Diam. Tidak bertanya. Hanya ada, seperti bayangan yang tidak pernah meninggalkan.
Mereka naik angkutan kota. Jendela terbuka. Angin menerpa wajah Kael, membawa debu dan suara kota. Ia memejamkan mata. Saat ia membukanya, ia melihat bayangan dua bulan di kaca jendela. Hanya sesaat. Lalu menghilang.
Ia tidak mengatakan apa-apa.
________________________________________
Di kos, semuanya sama. Tumpukan botol di sudut ruangan. Timbangan digital. Poster-poster anime di dinding. Tapi ada yang berubah ia tidak bisa menyebutnya, tapi ia bisa merasakannya. Seperti ada lapisan tipis di antara dunia ini dan dunia lain. Seperti ia bisa menembusnya jika ia mencoba.
Malam pertama, ia berbaring di tempat tidur. Di sela-sela keheningan, ia mendengar suara. duk... duk... duk... suara tongkat pemadat. Samar, seperti dari kamar sebelah. Tapi ia tahu tidak ada yang memadatkan botol di kamar sebelah.
"Kau telah dinanti."
Ia tidak membuka mata. Tidak perlu.
________________________________________
Minggu-minggu setelah rumah sakit terasa seperti mimpi yang panjang dan berat.
Pada awalnya, Kael masih bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang halusinasi. Ia masih bisa menatap Budi dan melihat sahabatnya. Ia masih bisa menyentuh meja kayu di kosnya dan merasakan teksturnya yang kasar. Ia masih bisa mencium bau nasi goreng dari warung Mbak Yati dan tahu bahwa itu nyata.
Tapi semakin hari, batas itu semakin kabur.
Suatu sore, ia menatap Budi yang sedang tertawa tertawa lepas, seperti dulu, seperti sebelum semuanya terjadi. Dan untuk sesaat, ia melihat bayangan dua bulan di balik bahu Budi. Bayangan itu tidak menghilang. Bayangan itu menatap balik.
Kael mengerjapkan mata. Bayangan itu hilang. Tapi rasa dingin di punggungnya tidak.
"Kael?" Budi menatapnya. "Kau baik-baik saja?"
"Aku..." Kael menggenggam The First Bottle di sakunya. Hangat. Berdenyut. "Aku perlu pergi ke suatu tempat."
"Ke mana?"
Kael tidak menjawab. Ia hanya menatap keluar jendela, ke arah langit Jakarta yang abu-abu.
Minggu berikutnya, ia mulai menuliskan semua yang ia lihat di jurnalnya. Ia menulis tentang Golem yang tertidur, tentang monster dari sampah, tentang sihir yang harus dikompres. Ia menulis tentang Aldric, tentang The First Bottle, tentang Polymer Prime. Ia menulis tentang gadis kecil bernama Mila.
Ia tidak tahu apakah itu nyata. Tapi ia tahu bahwa ia tidak bisa mengabaikannya.
Ia tahu ia tidak bisa tinggal di sini lagi. Dunia ini sudah terlalu kecil untuknya.
________________________________________
Suatu pagi, saat Budi datang membawa makanan, Kael berkata:
"Aku akan pergi ke Bantar Gebang."
Budi berhenti. Tangannya berhenti di atas kantong plastik. Matanya menatap Kael bukan dengan kebingungan, tapi dengan sesuatu yang lain. Sesuatu yang hampir seperti ketakutan.
"Ke mana?"
"Bantar Gebang."
"Untuk apa?"
Kael tidak menjawab. Ia hanya menatap The First Bottle di tangannya. Denyutnya lebih hangat dari biasanya. Seperti panggilan yang tidak bisa ia tolak.
Budi tidak mengerti. Tapi ia melihat cahaya di mata Kael cahaya yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Bukan cahaya kegilaan. Bukan cahaya keputusasaan. Tapi sesuatu yang lain. Sesuatu yang hampir seperti kepastian.
"Aku akan percaya padamu," kata Budi.
Kael tidak mengatakan bahwa ia tidak percaya pada dirinya sendiri.
________________________________________
Kael berdiri di depan gunungan sampah Bantar Gebang.
Di bawah kakinya, tanah bergetar bukan gempa, tapi getaran yang lebih dalam, seperti sesuatu yang bergerak di bawah permukaan. Botol-botol PET berdesir seperti bisikan. Kantong-kantong kresek berkibar seperti sayap yang patah. Potongan-potongan styrofoam beterbangan seperti salju yang salah seperti abu yang tidak pernah padam.
Kael merasakan tarikan. Bukan dari tanah. Dari dalam dirinya sendiri. Seolah-olah dunia ini sedang menelannya perlahan, dan ia tidak ingin melawan.
Bau plastik terbakar menusuk hidungnya, menusuk ingatannya, menusuk semua yang pernah ia coba lupakan.
Bau yang sama dari mimpinya.
Bau yang sama dari malam terakhir ibunya.
Di sakunya, The First Bottle berdenyut hangat. Tidak seperti hangat biasa hangat yang berirama, seperti napas. Seperti sesuatu yang menunggu.
"Aku di sini," bisiknya. "Aku di sini untuk membuktikan bahwa kau nyata."
Udara di sekitarnya berubah. Menjadi lebih berat. Lebih diam. Seperti dunia sedang menahan napas.
Kael melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Di bawah kakinya, sampah-sampah bergeser botol-botol PET, kantong-kantong kresek, potongan-potongan styrofoam yang berterbangan seperti salju yang salah.
Ia tidak melihat bayangan dua bulan di langit. Tidak mendengar suara dari botol. Hanya diam. Hanya bau. Hanya denyut di sakunya yang semakin cepat.
Di atas kepalanya, burung gagak terbang melintas. Di bawah kakinya, tanah bergetar lagi lebih kuat kali ini.
Lalu longsor terjadi.
________________________________________
Tidak ada peringatan. Tidak ada suara gemuruh dari kejauhan. Hanya tanah yang tiba-tiba bergerak di bawah kakinya, seperti sesuatu yang terbangun dari tidur panjang.
Ia mencoba lari. Kakinya tersangkut pada sesuatu. Pada sampah. Pada akar. Pada kenangan. Ia jatuh.
Tumpukan sampah menimpanya. Botol-botol menghantam punggungnya, bahunya, kepalanya. Plastik-plastik menutupi wajahnya, menutupi mulutnya, menutupi matanya.
Di dalam kegelapan itu, ia mendengar bukan suara, tapi getaran. Getaran yang merambat dari The First Bottle di sakunya, ke dadanya, ke tulang-tulangnya. Getaran yang mengatakan: "Aku di sini."
Ia tidak sempat memikirkan ibunya. Tidak sempat memikirkan Regrow Up, Budi, Pribawanto, atau Mila yang batuk di ruang kelas.
Yang ia pikirkan hanyalah botol di sakunya berdenyut, hangat, seperti detak jantung yang menolak mati.
Ia seharusnya takut. Tapi yang ia rasakan justru kepastian aneh.
Bahwa kematian ini bukanlah akhir.
Bahwa ia telah dipanggil sejak mimpi pertamanya, dan kini panggilan itu tidak bisa lagi ia tolak.
Bahwa di suatu tempat, di suatu dunia, ada sungai yang menunggu untuk dibersihkan. Ada gadis kecil yang menunggu untuk disembuhkan. Ada janji yang menunggu untuk ditepati.
Ia tersenyum.
Lalu longsor itu menelannya utuh.
________________________________________
Di dalam kegelapan, ia mendengar suara. Suara yang ia kenal suara Botol.
"Kau telah dinanti."
Kael membuka mata.
Ia berdiri di atas gunung sampah. Dua bulan menggantung di langit abu-abu. Bau plastik terbakar menusuk hidungnya. Di kakinya, sebuah botol PET retak berguling tertiup angin.
Ia membungkuk. Jari-jarinya menyentuh permukaan botol dan merasakan hangat.
"Aku di sini," bisiknya. "Aku benar-benar di sini."
________________________________________
Di dalam kamar kos Kael di dunia nyata The First Bottle tergeletak di meja.
Meja kayu yang sudah usang. Laptop mati. Tumpukan kertas berserakan. Dan di tengah semuanya, botol itu. Retak. Tua. Tapi hangat.
Cahaya biru pucat berkedip di permukaannya. Tidak teratur. Tidak seperti lampu. Seperti napas. Seperti sesuatu yang hidup di dalam kaca yang pecah.
Di dalam retakan kaca, bayangan seorang pemuda berdiri di atas gunung sampah, menatap dua bulan.
Kael tersenyum.
________________________________________
Dunia nyata terasa jauh. Seperti ruangan yang semakin mengecil. Seperti dinding yang menjauh. Seperti ia sedang melihat kamar ini dari kejauhan, dari tempat yang tidak bisa ia capai dengan tangannya.
Ia masih duduk di kursi. Masih memegang botol itu. Masih merasakan hangatnya di telapak tangannya.
Tapi matanya matanya melihat sesuatu yang lain.
Di balik retakan kaca, gunung sampah membentang. Langit abu-abu. Dua bulan. Bau plastik terbakar yang ia kenal sejak mimpi pertamanya, sejak malam terakhir ibunya, sejak ia mulai percaya bahwa ia bisa mengubah sesuatu.
Dan di atas gunung itu, ia berdiri. Dirinya yang lain. Dirinya yang baru. Dirinya yang tidak lagi lari.
"Aku di sini," bisiknya. Tidak tahu apakah ia mengucapkannya di dunia nyata atau di dalam botol.
Tapi botol itu mendengar.
Cahaya biru berkedip lebih terang. Sekali. Dua kali. Seperti detak jantung yang semakin cepat.
Kael tersenyum lagi. Senyum yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Senyum yang mengatakan: "Aku tidak takut lagi."
________________________________________
Di luar, Jakarta mulai gelap. Lampu-lampu kota menyala satu per satu kuning, putih, merah. Suara klakson dari kejauhan. Suara orang-orang yang pulang. Suara kehidupan yang terus berjalan tanpa peduli.
Tapi di dalam kamar ini, waktu terasa berhenti.
Kael tidak bergerak. Tidak berbicara. Hanya menatap botol itu. Menatap bayangan dirinya di dalam retakan kaca. Menatap dua bulan yang tidak pernah ia lihat di langit Jakarta.
Ia tidak tahu apakah ia sedang bermimpi, halusinasi, atau benar-benar mati.
Yang ia tahu: ada sesuatu yang memanggilnya.
Dan kali ini, ia tidak akan lari.
________________________________________
Ia mengangkat botol itu ke depan matanya. Cahaya biru menyinari wajahnya menerangi bekas luka di pelipisnya, bayangan kelelahan di bawah matanya, kerutan di antara alisnya yang tidak pernah rata.
Di dalam retakan kaca, ia melihat dirinya. Tapi bukan dirinya yang dulu. Bukan dirinya yang gagal. Bukan dirinya yang selalu 2 gram terlalu ringan.
Dirinya yang baru. Dirinya yang telah mengetuk pintu. Dirinya yang telah mendengar jawabannya.
"Kau telah dinanti," bisik botol itu. Getaran merambat dari kaca ke jari-jarinya, ke telapak tangannya, ke pergelangan tangannya. Seperti detak jantung yang menyusup ke dalam tulang-tulangnya.
Kael menutup mata. Ia tidak takut lagi. Tidak takut pada dua bulan. Tidak takut pada gunung sampah. Tidak takut pada panggilan yang tidak bisa ia tolak.
Ia hanya menunggu. Menunggu saatnya. Menunggu pintu terbuka.
Dan di dalam kegelapan kelopak matanya, ia melihat sungai. Airnya jernih. Tidak ada plastik. Tidak ada botol. Tidak ada kegagalan.
Mila berlari di tepinya. Tertawa. Tidak batuk.
"Om Kael," katanya. "Kau berhasil."
Kael membuka mata.
Di dalam retakan kaca, bayangan dirinya masih berdiri di atas gunung sampah. Tapi gunung itu mulai berubah sampah-sampah bergerak, menyusut, berubah menjadi tanah. Menjadi rumput. Menjadi sesuatu yang baru.
Ia tersenyum.
"Suatu hari," bisiknya. "Aku akan mengisi botol ini. Dan aku akan menyelamatkan dunia."
Di luar jendela, di antara awan yang mulai gelap, bayangan dua bulan muncul hanya sesaat lalu menghilang.
Kael tidak melihatnya. Tapi ia merasakannya.
Merasa ada sesuatu yang berubah di udara. Merasa ada sesuatu yang menunggu di balik pintu yang ia ciptakan sendiri.
Ia tidak tahu bahwa dalam waktu singkat, ia akan mati di TPA Bantar Gebang dan terbangun di dunia yang ia ciptakan sendiri.
Tetapi untuk sekarang, ia hanya tersenyum.
Dan itu sudah cukup.
________________________________________
"Ia tidak tahu apakah ia sedang bermimpi, halusinasi, atau benar-benar mati. Yang ia tahu: ada sesuatu yang memanggilnya. Dan kali ini, ia tidak akan lari."
________________________________________
TERRALAZE VALSEKAI
________________________________________
"Setiap botol adalah harapan. Setiap kompresi adalah doa. Dan setiap orang bisa menjadi pahlawan asalkan ia mau menekan."
Kael, Pencari dari Bumi