Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Misteri
Bronze
The Cat Who Walked the Spirit World
1
Suka
3,448
Dibaca

Andy pulang saat langit sudah kehabisan warna.

Seragam dapurnya masih menyimpan bau bawang dan minyak panas, sementara langkahnya terasa lebih berat dari biasanya.

Lily menyambutnya di depan pintu kamar, duduk rapi seolah sudah menunggu lama.

“Maaf telat,” gumam Andy sambil membuka pintu.

“Kamu pasti lapar.”

Lily mengeong pendek, lalu berjalan mendahului—bukan ke mangkuk makannya, tapi berhenti mendadak di depan pintu.

Ada sesuatu di sana.

Sebuah paket kecil, terbungkus rapi, diletakkan tepat di depan kamar Andy.

“Kita nggak pesen apa-apa, kan?”

Andy menunduk, mengangkat paket itu. Ringan. Terlalu rapi untuk sekadar kiriman salah alamat.

Lily mengendusnya sebentar, lalu mundur satu langkah. Matanya tidak berkedip.

Andy membawa paket itu masuk dan meletakkannya di atas meja makan.

Ia tidak langsung membukanya.

“Bentar ya,” katanya pada Lily. “Aku mandi dulu. Kamu jangan macem-macem.”

Lily meloncat ke kursi dan mengawasinya pergi, ekornya bergerak pelan—tidak gelisah, tapi juga tidak santai.

Air mandi mengalir.

Andy mencoba menenangkan pikirannya. Hari ini ulang tahunnya. Ia tahu itu, meski tidak ada siapa pun yang mengingatkan.

Setelah mandi, ia memasak.

Lebih banyak dari biasanya.

“Nggak tahu kenapa,” katanya sambil mengaduk panci, “rasanya kayak… harus masak banyak.”

Lily duduk di lantai dapur, memperhatikan setiap gerakan. Sesekali ia mengeong pelan, seperti menyela percakapan.

Andy tersenyum kecil.

“Iya, iya. Kamu duluan.”

Ia menuangkan makanan ke mangkuk Lily, menaruhnya di tempat biasa. Lily makan, tapi tidak lahap. Sesekali ia menoleh ke arah meja—ke paket itu.

Akhirnya, Andy duduk dan membuka paket tersebut.

Di dalamnya ada kotak kaca, bening dan dingin.

Di tengahnya terbaring sebuah telur kristal, putih pucat, berkilau samar seperti menyimpan cahaya sendiri.

Andy mengernyit.

“Aneh…”

Ada kartu kecil terselip di bawahnya.

Selamat ulang tahun, Andy.

Maaf Ayah tidak pernah pandai bicara.

Jaga dirimu baik-baik.

Andy membaca kartu itu lama.

Terlalu lama.

“Oh.”

Itu saja yang keluar dari mulutnya.

Lily mendekat, melompat ke meja, menatap telur kristal itu dari jarak dekat.

Bulu di tengkuknya sedikit berdiri.

“Aneh ya,” Andy berkata pelan, entah pada dirinya sendiri atau pada Lily.

“Tapi… ya sudahlah.”

Ia menutup kembali...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Cerpen
Bronze
The Cat Who Walked the Spirit World
Bramanditya
Novel
Gold
Digital Fortress
Mizan Publishing
Novel
Misteri Masalembo : Crash Landing
Yaldi Mimora
Flash
Lukisan Bedhaya Ketawang II
Rifatia
Novel
Bronze
RITUAL GUNUNG KEMUKUS
Citra Rahayu Bening
Novel
Crombolonely
Melia
Cerpen
Bronze
Quantum Kayla
Rere Valencia
Cerpen
Bronze
Karya Final Sang Kreator Digital
Aziz Rahardyan
Cerpen
Kunci yang Bernama Rindu
Rico Tsiau
Flash
Lantai Keramik
Sugiadi Azhar
Novel
Night Darkness
ISMATUL FADILA
Cerpen
Ndaru
Arumdalu
Flash
Kematian Sebuah Bangsa
Akara Drawya
Novel
Teror! Hantu Jomblo
JAR
Cerpen
Sumur Tua di Kampung Kami
Sofa Nurul
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
The Cat Who Walked the Spirit World
Bramanditya
Cerpen
Bronze
Pemakaman Seorang Suami, Bapak Dan Kekasih
Bramanditya
Cerpen
Cinta, Biarkan Kereta Itu Lewat
Bramanditya
Cerpen
Bronze
Of Tails and Memories
Bramanditya
Novel
Bronze
Cellular Memory
Bramanditya
Cerpen
Bronze
The Bathroom
Bramanditya
Cerpen
Bronze
Cinta Datang Terlambat
Bramanditya
Cerpen
Bronze
Yang Tidak Pernah Sempat Berpamitan
Bramanditya
Skrip Film
Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti
Bramanditya
Cerpen
Bronze
Silenced
Bramanditya
Novel
Bronze
Tujuh Hari Dalam Kafan
Bramanditya
Novel
Bronze
cerita sebelum kiamat
Bramanditya
Cerpen
Bronze
Detektif Arman Dan Dendam Sang Arwah
Bramanditya
Flash
Kekasih Untuk Suamiku Part. 2
Bramanditya
Flash
DEWI, THE SUPER WOMAN
Bramanditya