Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Andy pulang saat langit sudah kehabisan warna.
Seragam dapurnya masih menyimpan bau bawang dan minyak panas, sementara langkahnya terasa lebih berat dari biasanya.
Lily menyambutnya di depan pintu kamar, duduk rapi seolah sudah menunggu lama.
“Maaf telat,” gumam Andy sambil membuka pintu.
“Kamu pasti lapar.”
Lily mengeong pendek, lalu berjalan mendahului—bukan ke mangkuk makannya, tapi berhenti mendadak di depan pintu.
Ada sesuatu di sana.
Sebuah paket kecil, terbungkus rapi, diletakkan tepat di depan kamar Andy.
“Kita nggak pesen apa-apa, kan?”
Andy menunduk, mengangkat paket itu. Ringan. Terlalu rapi untuk sekadar kiriman salah alamat.
Lily mengendusnya sebentar, lalu mundur satu langkah. Matanya tidak berkedip.
Andy membawa paket itu masuk dan meletakkannya di atas meja makan.
Ia tidak langsung membukanya.
“Bentar ya,” katanya pada Lily. “Aku mandi dulu. Kamu jangan macem-macem.”
Lily meloncat ke kursi dan mengawasinya pergi, ekornya bergerak pelan—tidak gelisah, tapi juga tidak santai.
Air mandi mengalir.
Andy mencoba menenangkan pikirannya. Hari ini ulang tahunnya. Ia tahu itu, meski tidak ada siapa pun yang mengingatkan.
Setelah mandi, ia memasak.
Lebih banyak dari biasanya.
“Nggak tahu kenapa,” katanya sambil mengaduk panci, “rasanya kayak… harus masak banyak.”
Lily duduk di lantai dapur, memperhatikan setiap gerakan. Sesekali ia mengeong pelan, seperti menyela percakapan.
Andy tersenyum kecil.
“Iya, iya. Kamu duluan.”
Ia menuangkan makanan ke mangkuk Lily, menaruhnya di tempat biasa. Lily makan, tapi tidak lahap. Sesekali ia menoleh ke arah meja—ke paket itu.
Akhirnya, Andy duduk dan membuka paket tersebut.
Di dalamnya ada kotak kaca, bening dan dingin.
Di tengahnya terbaring sebuah telur kristal, putih pucat, berkilau samar seperti menyimpan cahaya sendiri.
Andy mengernyit.
“Aneh…”
Ada kartu kecil terselip di bawahnya.
Selamat ulang tahun, Andy.
Maaf Ayah tidak pernah pandai bicara.
Jaga dirimu baik-baik.
Andy membaca kartu itu lama.
Terlalu lama.
“Oh.”
Itu saja yang keluar dari mulutnya.
Lily mendekat, melompat ke meja, menatap telur kristal itu dari jarak dekat.
Bulu di tengkuknya sedikit berdiri.
“Aneh ya,” Andy berkata pelan, entah pada dirinya sendiri atau pada Lily.
“Tapi… ya sudahlah.”
Ia menutup kembali...