Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
The Black House
2
Suka
46
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Orang-orang di kampung kami menyebutnya begitu saja: Rumah Hitam. Bukan nama resmi, bukan pula alamat yang tertulis di kartu pos mana pun, tapi nama itu sudah cukup untuk membuat siapa pun tahu persis bangunan mana yang dimaksud—rumah tua di ujung Jalan Kenanga, satu-satunya rumah di seluruh kampung yang dicat hitam pekat dari atap sampai pagar, sejak sebelum aku lahir.

Aku, Wening, baru benar-benar melihatnya dari dekat pada usia dua puluh delapan tahun, ketika seorang notaris menelepon dan memberitahuku bahwa nenekku, yang selama ini kukira sudah lama meninggal atau setidaknya tidak ada hubungannya denganku, ternyata baru saja wafat—dan mewariskan seluruh rumah itu untukku.

"Nenek?" tanyaku waktu itu, bingung. "Nenek siapa?"

"Ibu dari ayah Anda," jawab notaris itu, seolah itu jawaban yang jelas, padahal ayahku sendiri tidak pernah sekali pun menyebut nama ibunya seumur hidupku.

Aku menutup telepon dengan tangan gemetar. Ayahku sudah meninggal tiga tahun lalu, dan selama ini aku selalu mengira keluarga besar dari pihaknya sudah punah semua—yang tersisa hanya aku, ibuku, dan beberapa foto lama yang jarang dilihat siapa pun. Tidak pernah sekali pun ayahku menyinggung soal ibu kandungnya sendiri, bahkan saat aku bertanya soal masa kecilnya, dia selalu mengalihkan pembicaraan dengan cepat, seolah topik itu adalah pintu yang sengaja dikunci rapat-rapat dan tidak boleh disentuh siapa pun.

Aku mengemasi beberapa baju, meminta cuti seminggu dari kantor, dan berangkat ke kampung yang namanya baru pertama kali kudengar dari mulut notaris itu—sebuah kampung kecil di pinggiran kota, tiga jam perjalanan dari tempatku tinggal, yang menurut peta hanya terdiri dari beberapa jalan utama dan satu pasar tradisional.

Rumah itu lebih besar dari yang kubayangkan, dan lebih hitam dari foto-foto yang pernah kulihat sekilas di internet ketika orang-orang membahas "rumah angker di Jalan Kenanga" di forum-forum cerita horor lokal. Catnya bukan hitam doff yang biasa dipakai untuk rumah bergaya modern minimalis—ini hitam tua, hitam yang sudah pudar dan mengelupas di beberapa titik, memperlihatkan lapisan cat putih di baliknya, seperti luka lama yang berusaha ditutupi berkali-kali tapi tak pernah benar-benar sembuh.

Kunci yang diberikan notaris itu berat dan berkarat. Pintu depan berderit panjang saat kubuka, dan bau di dalam langsung menyerangku—debu, kapur barus, dan sesuatu yang lebih tua, lebih dalam, yang tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata biasa.

Aku berjalan menyusuri ruang tamu yang gelap meski jendela-jendelanya terbuka lebar. Tirai-tirainya juga hitam. Bahkan perabotannya—sofa, meja, rak buku—semuanya dicat atau dilapisi kain berwarna serupa, seolah seluruh rumah ini sengaja dirancang untuk menyerap cahaya, bukan memantulkannya.

Di dinding ruang tamu, satu-satunya benda yang tidak berwarna hitam adalah sebuah foto keluarga tua, bingkainya berdebu tebal. Aku mengelapnya dengan lengan baju, dan di sana, untuk pertama kalinya, aku melihat wajah perempuan yang katanya adalah nenekku—wajah muda, tersenyum lebar, berdiri di depan rumah yang sama, tapi waktu itu catnya masih putih bersih.

Di sampingnya, seorang lelaki, dan di antara mereka berdua, seorang anak laki-laki kecil, mungkin usia tujuh atau delapan tahun, tersenyum ke arah kamera dengan gigi ompong di depan.

Butuh waktu beberapa detik sebelum aku sadar—anak laki-laki itu adalah ayahku.

Aku menjelajahi ruangan-ruangan lain dengan hati-hati, seolah takut membangunkan sesuatu yang lama tertidur. Dapur masih tertata rapi, piring-piring tersusun di rak seolah menunggu digunakan lagi, meski debu tebal menutupi semuanya. Kamar tidur utama tercium bau kapur barus yang menyengat, lemari pakaiannya penuh baju-baju lama bermotif bunga yang sudah pudar warnanya. Di kamar sebelah, yang jelas-jelas lebih kecil dan terasa berbeda dari ruangan lain, aku menemukan sebuah ranjang anak-anak yang masih utuh, seprei birunya berdebu tapi rapi terpasang, seolah menunggu seseorang yang tidak pernah kembali untuk tidur di atasnya.

Aku berdiri lama di ambang pintu kamar itu, tidak berani masuk lebih jauh, merasakan sesuatu yang berat menggantung di udara, sesuatu yang tidak bisa kujelaskan tapi bisa kurasakan menembus kulit.

Di rak kecil dekat ranjang itu, tersusun beberapa mainan kayu yang sudah usang—sebuah mobil-mobilan dengan roda yang sudah copot sebelah, sebuah kapal kecil yang catnya mengelupas, dan sebuah buku bergambar yang halamannya sudah lengket satu sama lain karena kelembapan bertahun-tahun. Aku tidak menyentuh satu pun benda itu. Rasanya seperti menyentuh sesuatu yang bukan hakku untuk disentuh, sesuatu yang masih menjadi milik seseorang yang tidak pernah sempat tumbuh dewasa.

Aku menutup pintu kamar itu pelan-pelan, seolah takut membangunkan seseorang yang sedang tidur di dalamnya.

Aku menginap malam pertama di rumah itu meski semua orang di kampung menyarankan sebaliknya. Ibu kos tempat aku sempat mampir sebelum ke rumah itu bahkan menawarkan kamar gratis semalam, "daripada nginep di rumah itu, Nak," katanya, matanya penuh kekhawatiran yang tulus, bukan sekadar gosip murahan.

"Kenapa memangnya?" tanyaku.

Dia hanya menggeleng, tidak mau menjelaskan lebih jauh, seperti kebanyakan orang di kampung yang kutanyai hal serupa selama beberapa hari itu. Yang aku dapatkan hanya potongan-potongan cerita: bahwa perempuan yang tinggal di rumah itu berhenti keluar rumah sejak puluhan tahun lalu, bahwa dia mengecat seluruh rumahnya hitam dalam semalam tanpa penjelasan, bahwa anak-anak kampung dilarang mendekat, bahwa suara tangisan sering terdengar dari dalam rumah pada malam-malam tertentu, terutama menjelang akhir tahun.

Aku tidak percaya cerita hantu. Tapi aku percaya bahwa di balik setiap cerita hantu, biasanya ada duka yang terlalu besar untuk dijelaskan dengan cara biasa, sehingga orang-orang memilih membungkusnya dengan misteri, karena misteri lebih mudah diceritakan daripada kesedihan yang sesungguhnya.

Esok paginya, aku duduk sebentar di warung kopi dekat pasar, mencoba mencari tahu lebih banyak dari orang-orang yang mungkin pernah mengenal nenekku secara langsung. Seorang lelaki tua, pemilik warung itu, akhirnya mau bercerita setelah aku menjelaskan bahwa aku cucunya.

"Nenekmu itu dulu ramah sekali, sebelum kejadian itu," katanya, mengaduk kopinya pelan. "Setelah anaknya tenggelam, dia jarang keluar rumah. Beberapa tahun kemudian, suaminya juga meninggal—sakit, katanya karena terlalu larut dalam duka, tidak pernah benar-benar makan dengan baik lagi sejak kehilangan anaknya. Sejak itu nenekmu benar-benar sendirian di rumah itu, sampai akhir hayatnya."

"Apa dia pernah bicara soal anaknya yang lain? Ayah saya?"

Lelaki tua itu menggeleng pelan. "Setahu saya, anak keduanya pergi waktu masih muda, dan tidak pernah kembali. Orang-orang bilang macam-macam soal alasannya, tapi saya rasa dia hanya tidak sanggup tinggal di rumah yang selalu mengingatkannya pada kakaknya yang sudah tiada."

Aku pulang ke rumah itu sore harinya dengan kepala penuh pertanyaan yang semakin banyak, bukan semakin sedikit.

Sepanjang sore itu, aku mencoba membersihkan sebagian rumah, sekadar untuk memberi diriku sendiri kesibukan selain terus memikirkan cerita-cerita yang baru kudengar. Di laci meja kerja, aku menemukan setumpuk surat yang tidak pernah dikirim, semuanya ditujukan pada "anakku yang di kota"—surat-surat yang ditulis nenek bertahun-tahun, berisi kabar sehari-hari yang sederhana: tanaman di halaman sedang berbunga, atap rumah bocor lagi waktu musim hujan, dia rindu masakan yang dulu sering dibuatkan untuk anaknya. Tidak ada alamat di amplopnya. Sepertinya nenek menulis surat-surat itu bukan untuk benar-benar dikirim, melainkan sekadar cara untuk terus merasa terhubung dengan anak yang sudah lama pergi, meski hanya lewat kata-kata yang tidak pernah sampai.

Malam itu, aku menemukan kotak-kotak berisi buku harian di ruang kerja lantai dua, tersembunyi di balik lemari yang beratnya nyaris tidak bisa kugeser sendirian. Debu tebal menutupi sampulnya, tapi tulisan tangan di dalamnya masih cukup jelas untuk dibaca.

Aku mulai membaca dari buku harian yang paling tua.

Halaman-halaman awal penuh cerita kecil sehari-hari yang terasa begitu hangat—Bugi belajar naik sepeda untuk pertama kalinya dan jatuh berkali-kali sebelum akhirnya berhasil, Bugi menangkap kunang-kunang di halaman belakang dan memasukkannya ke dalam toples kaca, Bugi bertanya kenapa langit berwarna biru sementara awan berwarna putih. Setiap halaman terasa seperti potongan kecil kebahagiaan yang direkam dengan hati-hati, seolah nenek tahu betapa berharganya momen-momen itu, meski dia belum tahu betapa singkatnya waktu yang tersisa untuk mengumpulkannya.

3 Januari

Rumah baru kami sudah selesai dicat, putih bersih seperti yang selalu kuimpikan. Hari ini Bugi—anakku, delapan tahun—berlari-lari di halaman sambil tertawa, menunjuk-nunjuk warna baru rumah kami. "Rumah kita kayak awan, Bu," katanya. Aku ingin momen ini abadi.

Aku berhenti sejenak. Bugi. Nama itu tidak pernah kudengar sebelumnya—ayahku selalu memperkenalkan dirinya dengan nama lengkap yang berbeda, nama yang lebih formal, yang biasa digunakannya di kantor dan dokumen resmi. Tapi tanggal lahir yang tertulis di halaman lain buku itu cocok persis dengan tanggal lahir ayahku.

Aku melanjutkan membaca, melompati beberapa halaman, mencari sesuatu yang bisa menjelaskan kenapa rumah "seputih awan" itu berubah jadi hitam pekat seperti sekarang.

Aku menemukannya di halaman yang tanggalnya sekitar dua tahun kemudian.

14 November

Bugi tenggelam di sungai belakang rumah hari ini. Aku tidak sempat sampai tepat waktu. Suamiku bilang dia hanya bermain sebentar sementara kami sibuk di dapur, dan ketika kami sadar dia tidak ada di halaman, sudah terlambat.

Aku tidak tahu bagaimana menuliskan ini. Aku tidak tahu bagaimana menuliskan apa pun lagi setelah ini.

Halaman berikutnya kosong untuk waktu yang lama—aku menghitung setidaknya lima belas halaman tanpa satu kata pun, hanya kertas putih yang menguning karena usia. Lalu, tiba-tiba, tulisan itu muncul lagi, dengan tinta yang berbeda, tulisan tangan yang lebih kaku, lebih berat ditekan ke kertas, seolah penulisnya menahan sesuatu yang sangat besar setiap kali menggerakkan pena.

2 Desember

Aku mengecat rumah ini hitam hari ini. Suamiku bertanya kenapa, dan aku tidak bisa menjawabnya dengan benar. Yang aku tahu, aku tidak sanggup lagi melihat rumah ini berwarna putih, seolah-olah tidak terjadi apa-apa, seolah-olah Bugi masih akan berlari keluar dari pintu itu sambil tertawa. Rumah putih ini bohong. Rumah putih ini pura-pura baik-baik saja. Aku tidak mau lagi tinggal di dalam kebohongan itu.

Kalau rumah ini harus terus berdiri tanpa anakku di dalamnya, biar setidaknya rumah ini jujur tentang betapa gelapnya hari-hariku sekarang.

Aku membalik beberapa halaman lagi, dan menemukan satu entri lain, ditulis beberapa tahun setelahnya, dengan tulisan tangan yang sedikit lebih tenang, meski tetap terasa berat.

20 Mei

Suamiku meninggal pagi ini. Dokter bilang jantungnya lemah, tapi aku tahu sebenarnya dia sudah lama berhenti benar-benar hidup sejak Bugi pergi. Kami berdua tinggal di rumah ini seperti dua bayangan, saling menemani tapi jarang bicara, karena setiap kata selalu mengarah kembali pada nama yang sama.

Anak keduaku sudah pergi ke kota tahun lalu. Aku tidak menahannya. Aku bahkan berharap dia pergi lebih cepat, sebelum rumah ini sempat merenggut lebih banyak lagi darinya—kebahagiaannya, semangatnya, keinginannya untuk hidup normal seperti anak-anak lain. Aku hanya berharap dia tidak membenciku karena tidak pernah cukup hadir untuknya, karena aku terlalu sibuk berduka untuk anak yang sudah tiada, sampai lupa merawat anak yang masih ada di depan mataku.

Sekarang rumah ini benar-benar hanya milikku sendiri. Dan kegelapannya.

Aku duduk di lantai ruang kerja itu untuk waktu yang sangat lama, buku harian terbuka di pangkuanku, mencoba memahami sesuatu yang tiba-tiba menjelaskan begitu banyak hal sekaligus.

Ayahku tidak pernah bercerita punya kakak. Tidak pernah sekali pun.

Aku menelepon ibuku malam itu, tanganku gemetar memegang ponsel.

"Ibu tahu ayah punya kakak?" tanyaku langsung, tanpa basa-basi.

Ada jeda panjang di seberang telepon sebelum ibuku akhirnya menjawab, suaranya pelan, hati-hati. "Ayahmu tidak suka membicarakannya. Aku hanya tahu sedikit—katanya kakaknya meninggal waktu masih kecil, sebelum ayahmu lahir. Ayahmu bilang, neneknya—ibunya sendiri—tidak pernah benar-benar pulih dari itu. Katanya, rumah masa kecilnya selalu terasa seperti rumah duka, bukan rumah tempat dia dibesarkan."

"Kenapa ayah tidak pernah cerita soal nenek?"

"Karena mereka berhenti bicara sejak ayahmu memutuskan pindah ke kota, sekitar dua puluh tahun lalu. Ayahmu bilang, tinggal di rumah itu rasanya seperti tinggal berdampingan dengan kesedihan seseorang, dan dia tidak sanggup lagi hidup seperti itu."

Aku menutup telepon dengan kepala penuh pertanyaan yang tidak akan pernah bisa dijawab ayahku sendiri—karena tiga tahun lalu, ayahku juga sudah meninggal, tanpa sempat membicarakan hal ini denganku, tanpa sempat rekonsiliasi dengan ibunya sendiri.

Aku duduk sendirian di ruang tamu yang gelap malam itu, memandangi foto keluarga yang sudah kubersihkan debunya, mencoba membayangkan bagaimana rasanya menjadi ayahku—tumbuh di rumah yang penuh kesedihan orang tuanya, menjadi pengganti kehadiran kakak yang tidak pernah benar-benar bisa digantikan, lalu akhirnya memilih pergi sejauh mungkin demi bisa bernapas dengan lebih lega. Aku juga membayangkan bagaimana rasanya menjadi nenekku—kehilangan anak, lalu kehilangan suami, lalu akhirnya kehilangan anak keduanya juga, meski dengan cara yang berbeda, dan memilih untuk tetap tinggal, sendirian, di tengah reruntuhan kenangan yang tidak pernah bisa dia lepaskan.

Aku tidak tahu harus marah pada siapa. Pada ayahku yang memilih diam? Pada nenek yang memilih mengurung diri dalam duka selama puluhan tahun? Atau pada diriku sendiri, yang selama ini tidak pernah cukup penasaran untuk bertanya lebih jauh soal keluarga besar yang ternyata menyimpan begitu banyak luka yang tidak pernah sempat diobati?

Aku tinggal di rumah itu lebih lama dari yang kurencanakan. Rencana awalnya hanya seminggu, cukup untuk mengurus dokumen dan memutuskan apakah akan menjual rumah itu atau tidak. Tapi seminggu berubah jadi sebulan, dan aku menghabiskan waktu itu membaca sisa buku harian nenek—yang ternyata berlanjut sampai bertahun-tahun kemudian, mencatat hari-hari sunyi yang dilaluinya sendirian setelah suaminya juga meninggal, dan setelah ayahku memilih pergi dan tidak pernah kembali.

Di salah satu halaman terakhir, tertanggal hanya beberapa bulan sebelum kematiannya, nenek menulis sesuatu yang membuatku menangis untuk pertama kalinya sejak aku tiba di rumah itu.

Aku tahu orang-orang mengira rumah ini berhantu. Biar saja mereka percaya begitu—lebih mudah bagi mereka untuk takut daripada mengerti. Yang sebenarnya tinggal di rumah ini bukan hantu. Hanya seorang ibu yang tidak pernah bisa berhenti menunggu anaknya pulang, meski dia tahu anaknya tidak akan pernah pulang lagi. Kadang aku duduk di beranda menjelang sore, dan aku masih bisa mendengar suara tawanya, samar-samar, dari arah sungai. Aku tahu itu tidak nyata. Tapi aku tidak sanggup berhenti mendengarkannya.

Kalau cucuku—anak dari anakku yang masih hidup—suatu hari membaca ini, aku ingin dia tahu: aku tidak pernah membenci anakku yang pergi. Aku hanya tidak sanggup memintanya tinggal di rumah yang penuh kesedihanku. Aku memilih sendirian, supaya dia bisa memilih bahagia, di tempat lain, jauh dari bayang-bayang hitam ini.

Aku hanya berharap, suatu hari, seseorang akan mengecat rumah ini kembali. Bukan untuk melupakan Bugi. Tapi supaya rumah ini akhirnya bisa jujur tentang hal lain juga—bahwa di dalam duka yang paling gelap sekalipun, masih ada cinta yang terus hidup, menunggu diberi warna lagi.

Aku memutuskan untuk tidak menjual rumah itu.

Musim panas berikutnya, aku mengundang tukang cat dari kota, dan selama tiga hari penuh, kami mengecat ulang seluruh bagian luar rumah itu—bukan putih seperti dulu, karena aku tahu itu bukan lagi warna yang jujur untuk sejarah rumah ini, tapi biru muda yang lembut, warna langit pagi yang menurutku paling dekat dengan gambaran tentang harapan yang perlahan kembali setelah duka yang sangat panjang.

Selama proses pengecatan itu, beberapa tetangga mulai berdatangan, awalnya hanya untuk melihat-lihat, lalu perlahan mulai membantu—membersihkan halaman yang sudah lama tak terurus, memangkas semak-semak liar, bahkan ada yang membawakan tanaman bunga untuk ditanam di depan rumah. Lelaki tua pemilik warung kopi itu datang juga, berdiri lama menatap perubahan warna rumah itu dengan mata berkaca-kaca.

"Nenekmu pasti senang melihat ini," katanya pelan, tanpa perlu kujelaskan alasan di balik keputusanku.

Aku membiarkan satu bagian tetap hitam: pintu depan, tempat pertama kali Bugi kecil pasti pernah berlari keluar-masuk sambil tertawa. Aku memasang plakat kecil di sebelahnya, bertuliskan namanya, dan di bawahnya kutuliskan kalimat dari buku harian nenek yang paling kuingat: masih ada cinta yang terus hidup, menunggu diberi warna lagi.

Aku juga mengajak ibuku datang berkunjung untuk pertama kalinya, beberapa minggu setelah pengecatan selesai. Dia berdiri lama di depan rumah itu, matanya menyusuri setiap sudut seolah mencoba membayangkan ayahku kecil pernah berlari di halaman yang sama.

"Ayahmu tidak pernah cerita rumah ini seindah ini," katanya akhirnya, suaranya bergetar. "Yang dia ceritakan cuma kesedihan, kegelapan, rumah yang membuatnya ingin lari secepat mungkin."

"Mungkin karena waktu itu memang begitu adanya," jawabku. "Tapi rumah ini juga menyimpan cinta yang tidak sempat dia lihat—cinta yang terlalu terbungkus duka untuk bisa dikenali sebagai cinta."

Ibuku menangis waktu itu, dan aku memeluknya di depan pintu hitam yang masih tersisa, merasa seperti sedang menutup satu lingkaran yang sudah terbuka terlalu lama dalam keluarga kami.

Warga kampung mulai berhenti menyebutnya Rumah Hitam. Sekarang mereka menyebutnya Rumah Wening—rumahku, meski aku tahu, sebenarnya, rumah ini akan selalu menjadi rumah nenek dan Bugi juga, tersimpan di setiap dinding, di setiap lantai yang pernah menampung tawa seorang anak kecil dan air mata seorang ibu yang tidak pernah benar-benar berhenti menunggunya pulang.

Setiap tanggal empat belas November, aku duduk di beranda menjelang sore, seperti yang dulu dilakukan nenek. Aku tidak mendengar suara tawa dari arah sungai seperti yang ditulisnya. Tapi aku merasakan sesuatu yang lain—semacam kehadiran yang tenang, yang tidak lagi terasa seperti duka, melainkan seperti penerimaan.

Rumah ini bukan lagi rumah hitam. Tapi aku tidak pernah benar-benar melupakan kenapa dulu ia harus menjadi hitam—dan aku rasa, itulah cara terbaik untuk menghormatinya: bukan dengan berpura-pura kelam itu tidak pernah ada, tapi dengan membiarkannya menjadi bagian dari cerita, sebelum akhirnya memilih untuk tetap melangkah, dan memberi warna baru pada hari-hari berikutnya.

Kadang aku berpikir, mungkin setiap keluarga punya rumah hitamnya masing-masing—entah dalam bentuk bangunan sungguhan, atau hanya dalam bentuk kesedihan yang tidak pernah dibicarakan, diwariskan diam-diam dari satu generasi ke generasi berikutnya. Yang membedakan hanyalah, apakah generasi berikutnya memilih untuk terus menutupnya rapat-rapat, atau berani membuka pintunya, membaca ceritanya sampai habis, lalu memutuskan untuk mengecatnya kembali dengan warna yang lebih ramah bagi masa depan.

Aku menyimpan surat-surat nenek yang tidak pernah terkirim itu di laci mejaku sendiri sekarang, di rumah yang sama, di ruang kerja yang sama. Suatu hari nanti, kalau aku punya anak, aku ingin menunjukkan surat-surat itu padanya—bukan sebagai kisah kesedihan semata, tapi sebagai bukti bahwa cinta seorang ibu, meski terhalang jarak dan waktu dan kesalahpahaman yang tidak sempat diperbaiki, tetap menemukan caranya sendiri untuk terus ada, menunggu, dan berharap.

—Tamat—

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
GUKAPI: Lelaki yang Tak Suka Air Mata
tettyseptiyani02
Novel
ORANG YANG DATANG
Aga Lesmana
Cerpen
The Black House
Hanif Al Fatih
Novel
Bronze
Cinta Dua Hati "Novel"
Herman Sim
Novel
Patriot Muda
Riska Gustania
Skrip Film
PLUS MINUS
danikwidayanti
Flash
Cito
Desy Andriyani
Flash
Bronze
BORNEO, Surga Dunia Itu Bernama Borneo
Silvarani
Flash
Bronze
Ngarai Sianok dan Sepiring Nasi Padang Elok
Silvarani
Cerpen
Pelantara Hijrah
Ismawati
Skrip Film
TO MY BEAUTIFUL TRAUMA
Mia Sekar Santi
Flash
Sudah Makan?
Ayeshalole
Flash
Bronze
Menjangkau Pulau Seribu Bersamamu
Silvarani
Skrip Film
Asmara Adu Perkara (Skrip)
Nabil Bakri
Cerpen
Bronze
TERBANG BERSAMA GITAR
Drs. Eriyadi Budiman (sesuai KTP)
Rekomendasi
Cerpen
The Black House
Hanif Al Fatih
Cerpen
Good Things Fall Apart
Hanif Al Fatih
Cerpen
BLUE
Hanif Al Fatih