Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Komedi
Tertangkap Razia Pelajar
1
Suka
13
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Selasa pagi yang terkutuk. Hari ini adalah hari besar. Big Day. Aku punya jadwal meeting dengan klien VVIP dari perusahaan properti raksasa. Bosku, sebut saja Pak Bos (pria yang hobi ketawa di atas penderitaan bawahan), sudah mewanti-wanti sejak seminggu lalu.

"Dev, jangan pake baju aneh-aneh. Jangan pake kaos gambar tengkorak. Pake baju formal. Kemeja putih, rok bahan hitam. Biar kelihatan profesional," titah Pak Bos.

Aku, Devi, sebagai budak korporat yang patuh (dan butuh gaji), menuruti perintah itu. Aku membuka lemari. Mengambil kemeja putih lengan pendek yang baru disetrika licin. Lalu mengambil rok hitam span selutut. Aku memakainya. Bercermin.

Dan di sanalah masalah pertama muncul. Tuhan menganugerahiku tubuh yang... compact. Tinggi 154 cm (itu kalau lagi jinjit), badan kurus kering, dan wajah baby face yang lebih mirip bocah yang baru belajar pembagian matematika daripada wanita karier yang memikirkan KPR.

Saat aku memakai kemeja putih dan rok hitam itu, ditambah tas ransel laptop di punggung, aku tidak terlihat seperti Eksekutif Muda. Aku terlihat seperti Siswi SMP Teladan yang siap mengikuti Lomba Cerdas Cermat.

"Ah, perasaan gue aja kali," gumamku menenangkan diri. "Nanti kalo pake heels dan ID Card kantor, aura dewasanya keluar."

Aku memasang nametag kantor dengan tali lanyard biru di leher. Sempurna. Sekarang aku terlihat seperti Siswi SMP yang lagi study tour.

Jam menunjukkan pukul 09.00. Meeting jam 10.00. Jalanan Jakarta macet total. Merah pekat di Google Maps. Ojek online langgananku membatalkan pesanan tiga kali. Aku terpaksa naik angkot untuk menyambung ke stasiun, lalu jalan kaki lewat "Jalan Tikus".

Jalan tikus ini adalah gang sempit di belakang area sekolah-sekolah, terkenal sebagai jalur cepat memotong kemacetan, tapi juga terkenal sebagai habitat alami para pelajar yang bolos.

"Bismillah, nyampe tepat waktu," doaku.

Aku tidak tahu, doa itu akan dijawab dengan cara yang sangat, sangat salah.

Aku berjalan cepat di gang sempit itu. Panas matahari mulai menyengat, membuat bedak tipisku luntur. Di kanan-kiri tembok penuh coretan mural abstrak karya seniman jalanan yang galau.

Tiba-tiba, dari ujung gang, terdengar suara teriakan. "WOI! LARI! ADA SATPOL PP! RAZIA! LARI WOI!"

Sekelompok anak SMA dengan seragam dikeluarkan berhamburan berlari ke arahku. Mereka melompati selokan, memanjat pagar, persis adegan film Crow Zero kearifan lokal.

Aku menepi ke tembok, memeluk tas laptopku erat-erat. "Buset, ada tawuran apa gimana nih?"

Aku berniat lanjut jalan santai. Toh, aku bukan pelajar. Aku warga negara pembayar pajak yang taat. Aku punya NPWP. Aku punya kartu BPJS. Aku aman.

Namun, logika Satpol PP ternyata berbeda. Dari balik tikungan, muncul sebuah truk bak terbuka berwarna hijau dengan garis kuning. Truk itu berhenti mendadak. Turunlah lima orang petugas Satpol PP bertubuh kekar, berkumis tebal, dan berwajah garang.

Mereka menyebar, menangkap anak-anak sekolah yang kocar-kacir. Aku masih berjalan santai, mencoba bersikap cool.

Tiba-tiba, sebuah tangan besar mencengkeram lengan atasku. "Eits! Mau ke mana kamu, Dek?!" suara bariton itu menggelegar.

Aku menoleh. Seorang petugas Satpol PP dengan perut sedikit maju dan kumis melintang menatapku tajam.

"Hah? Saya Pak?" tanyaku bingung. "Saya mau kerja, Pak."

Si Bapak Petugas, mari kita sebut Pak Kumis, tertawa meremehkan. "Kerja? Alasan klise! Jam segini tuh jam belajar! Kamu masih SMP kan? Liat tuh seragammu! Putih biru (padahal rokku hitam, tapi mungkin di mata dia warnanya bias)!"

"Ini rok hitam Pak! Bukan biru dongker! Saya karyawan swasta!" protesku. "Saya 26 tahun Pak! Sumpah!"

"Halah! Jangan bohong! Muka kamu tuh masih bau minyak telon! Mana kartu pelajar?!" Pak Kumis membentak, tangannya masih mencengkeram lenganku.

Darahku mendidih. Ini penghinaan sekaligus pujian yang tidak pada tempatnya. "Saya gak punya kartu pelajar! Saya punya KTP! Nih!"

Dengan gerakan dramatis, aku merogoh dompet, mengeluarkan KTP-ku. Aku menyodorkannya tepat di depan hidung Pak Kumis. "Nih Pak! Liat tahun lahirnya! 1999! Saya udah tua Pak! Saya udah mikirin cicilan dan arisan!"

Pak Kumis mengambil KTP itu. Dia membolak-baliknya. Dia menerawangnya ke arah matahari. Lalu dia mengetuk-ngetuk KTP itu. "Wah... canggih bener anak jaman now," gumam Pak Kumis. "Palsuin KTP-nya niat banget. Blangkonya persis asli. Beli di mana kamu? Pramuka? Senen?"

"ITU ASLI PAK!!! YA ALLAH!!!" teriakku frustasi. "Cek NIK-nya kalo gak percaya! Panggil Dukcapil!"

"Udah, gak usah banyak drama!" Pak Kumis tidak peduli. Dia menyeret, benar-benar menyeret, aku menuju truk hijau itu. "Jelasin nanti di kantor! Sekarang naik! Temen-temen bolosmu udah nunggu!"

"SAYA BUKAN BOLOS! SAYA ADA MEETING! PAK! LEPASKAN SAYA! SAYA PUNYA BEKINGAN HRD!"

Teriakanku sia-sia. Tubuh mungilku dengan mudah diangkat dan diletakkan (lebih tepatnya dilempar pelan) ke atas bak truk.

Dan di sinilah aku. Duduk bersila di lantai bak truk Satpol PP yang panas dan berkarat. Di sekelilingku, duduklah sekitar sepuluh anak laki-laki berseragam SMA dan SMP yang lusuh. Ada yang rambutnya dicat merah, ada yang celananya dijahit sampe nyaris gak bisa jalan (pensil banget), dan ada yang masih memegang puntung rokok.

Mereka menatapku. Aku menatap mereka.

Seorang anak SMA dengan rambut mohawk dan badge nama "Joni" mendekat. Dia menawariku permen karet. "Santai aja, Neng. Baru pertama kali kena garuk ya?" tanyanya sok asik.

"Diem lu, bocil," desisku galak. "Gue ini seumuran sama kakak lu yang paling tua."

Joni tertawa. "Galak amat. Kelas berapa sih? SMP 14 ya? Seragamnya mirip."

"Gue karyawan! Gue mau meeting! Gue punya NPWP!" teriakku, tapi suaraku tenggelam oleh suara mesin truk yang menderu.

Truk mulai berjalan. Berguncang-guncang hebat setiap melewati polisi tidur. Aku memegang tas laptopku erat-erat, berdoa agar laptop inventaris kantor di dalamnya tidak gegar otak. Pemandangan di luar truk sangat memalukan. Orang-orang di pinggir jalan menunjuk-nunjuk truk kami.

"Tuh liat, anak sekolah jaman sekarang. Masih kecil udah bolos, cewek lagi," komentar ibu-ibu pedagang sayur yang suaranya terdengar jelas saat truk berhenti di lampu merah.

Aku ingin berteriak: "BU! SAYA LULUSAN S1! IPK SAYA 3,8!" Tapi apa gunanya? Di mata dunia saat ini, aku adalah Devi, siswi SMP nakal yang tertangkap razia kasih sayang.

HP-ku bergetar. Telepon dari Pak Bos. Mampus. Tamat riwayatku.

"Halo, Pak..." jawabku lirih, menutupi HP agar tidak terdengar suara angin.

"Devi! Kamu di mana?! Klien udah dateng nih! Kita nungguin kamu di lobi! Jangan bilang kamu masih di kasur!" suara Pak Bos menggelegar.

"Pak..." Aku menelan ludah, menahan tangis. "Saya... saya nggak bisa dateng tepat waktu."

"Kenapa?! Macet? Ban bocor? Diculik alien?"

"Saya... saya ditangkep, Pak."

Hening sejenak di seberang sana. "Ditangkep? Polisi? Kamu nabrak orang?"

"Bukan, Pak. Satpol PP."

"Hah? Satpol PP? Kamu jualan kaki lima di trotoar?"

"Bukan Pak! Saya kena razia anak sekolah bolos! Saya dikira anak SMP gara-gara pake baju putih ini! Sekarang saya lagi di atas truk mau dibawa ke kantor kecamatan!"

Hening lagi. Lebih lama. Lalu terdengar suara tertahan. "Pfthhh... BUAHAHAHAHAHAHAHA!!!"

Tawa Pak Bos meledak. Tawa yang sangat jahat, sangat keras, dan sangat tidak empatik. "SERIUS?! KAMU DIANGKUT BARENG BOCAH BOLOS?! HAHAHAHA! ADUH PERUT SAYA SAKIT!"

"JANGAN KETAWA PAK! TOLONGIN SAYA! JEMPUT SAYA! KTP SAYA DIANGGAP PALSU SAMA PETUGASNYA!"

"Oke, oke... Hahaha... Aduh, air mata saya keluar. Oke, kirim share location. Saya ke sana sekarang. Meeting saya tunda. Klien pasti ngerti kalau saya bilang staf saya ditahan karena terlalu awet muda. HAHAHA!"

Telepon ditutup. Aku menunduk, menyembunyikan wajah di antara lutut. Harga diriku hancur lebur. Lebih hancur daripada aspal jalanan desa yang dananya dikorup.

Sesampainya di Kantor Kecamatan, kami digiring ke aula terbuka. Panas. Pengap. Bau keringat remaja puber.

Kami disuruh baris. "Semua jongkok! Tangan di belakang kepala!" perintah Komandan Satpol PP.

Anak-anak sekolah itu jongkok dengan patuh (sudah pengalaman). Aku? Aku berdiri tegak. Aku menolak jongkok. Rok spanku bisa robek kalau aku jongkok.

"Hei! Kamu yang cewek! Jongkok!" bentak petugas.

"GAK MAU!" teriakku lantang. "SAYA BUKAN PELAJAR! SAYA MAU DUDUK DI KURSI!"

"Wah, ngelawan ya. Masih kecil udah berani sama aparat," kata petugas itu sambil menggelengkan kepala. "Sini kamu, maju ke depan!"

Aku diseret ke depan aula, dijadikan tontonan puluhan bocah-bocah nakal itu. "Karena kamu paling berani, kamu harus dihukum nyanyi! Nyanyi 'Bagimu Negeri' atau 'Indonesia Raya'!"

"Bapak gila ya?! Saya mau nelpon lawyer saya!" (Padahal gak punya, cuma gertak sambal).

"Nyanyi atau kami panggil orang tuamu!"

"PANGGIL AJA! ORANG TUA SAYA DI SURABAYA!"

Situasi memanas. Aku dan Komandan Satpol PP saling melotot. Dia dengan kumis tebalnya, aku dengan wajah baby face yang merah padam karena marah.

Saat itulah, pintu aula terbuka. Sesosok pria tinggi, tegap, memakai jas mahal dan kacamata hitam masuk dengan gaya slow motion. Itu Pak Bos. Dia tidak sendiri. Dia datang bersama klien VVIP tadi (Pak Gunawan). Ternyata Pak Bos malah ngajak kliennya sekalian buat nonton sirkus ini!

"Permisi, Ndan!" sapa Pak Bos dengan senyum lebar yang menyebalkan.

Komandan Satpol PP menoleh. "Siapa ini?"

"Saya walinya anak ini," kata Pak Bos sambil menunjukku.

Aku merasa lega sekaligus ingin mati. Walinya? Dia pikir ini pengambilan rapot?

Pak Bos mendekat, lalu dia menatapku. Dia melihat kemeja putihku yang lecek, rok hitamku yang kotor kena debu truk, dan wajahku yang berminyak. Dia melihat anak-anak SMP di belakangku. Lalu dia melihatku lagi.

"HAHAHAHAHAHAHA!" Pak Bos tertawa lagi. Kali ini Pak Gunawan (si klien) juga ikutan tertawa. "Dev... Dev... Ampun deh. Kamu totalitas banget kalau mau bolos kerja," ledek Pak Bos.

Komandan Satpol PP bingung. "Bapak kenal anak ini?"

Pak Bos mengeluarkan kartu namanya. "Pak, saya Direktur PT Mencari Cinta Sejati (nama samaran). Ini Devi, Senior Marketing saya. Dia bukan anak SMP. Dia cuma... yah, kurang gizi jadi pertumbuhannya terhambat."

"SIALAN PAK BOS!" teriakku dalam hati.

Komandan Satpol PP mengambil kartu nama itu. Lalu melihat KTP-ku yang tadi disita. Lalu melihat wajahku. "Jadi... ini beneran orang dewasa?"

"Bener, Pak. Liat aja kantung matanya. Itu kantung mata orang yang kurang tidur mikirin target penjualan, bukan mikirin PR Matematika," jelas Pak Bos.

Komandan itu akhirnya sadar. Wajahnya berubah pucat. Menahan malu. "Waduh... Maaf, Mbak. Sumpah. Saya kira anak kelas 1 SMP. Abisnya kecil banget sih."

"KECIL-KECIL GINI SAYA UDAH BAYAR PAJAK PAK!" semburku.

Proses pembebasanku berlangsung cepat (dan penuh tawa). Aku keluar dari kantor kecamatan diiringi tatapan iri dari anak-anak sekolah yang masih dihukum push-up.

"Enak bener lu, Kak. Dijemput Sugar Daddy," celetuk si Joni Mohawk.

"ITU BOS GUE, BEGO!" teriakku sambil melempar botol air mineral kosong ke arahnya.

Kami berjalan menuju mobil mewah Pak Bos. Di dalam mobil, Pak Bos dan Pak Gunawan masih belum berhenti terkekeh.

"Saya seumur hidup jadi pengusaha, baru kali ini meeting-nya pindah ke kantor Satpol PP," kata Pak Gunawan sambil menyeka air mata tawanya. "Tapi saya salut sama kamu, Devi. Kamu membuktikan kalau perusahaan ini punya jiwa muda. Sangat muda. Terlalu muda malah."

"Terima kasih, Pak," jawabku ketus sambil membersihkan rokku dengan tisu basah. "Bisa kita bahas kontraknya sekarang? Saya mau melupakan hari ini secepatnya."

"Tentu, tentu," kata Pak Gunawan. "Saya tandatangani kontraknya. Anggap saja sebagai kompensasi trauma kamu naik truk ijo."

Yes! Kontrak gol! Penderitaanku tidak sia-sia.

Tapi masalah belum selesai. Berita tentang "Devi si Anak SMP Gadungan" menyebar di kantor lebih cepat dari virus flu. Saat aku masuk kantor sore harinya, resepsionis menyapaku dengan: "Selamat sore, Dek Devi. Udah ngerjain PR belum?"

Di mejaku, ada tumpukan susu kotak Ultra Mimi dan jajanan Chiki. Ada tulisan besar di layar komputerku: "DIRGAHAYU SMP 1 KORPORAT. SEMANGAT BELAJAR YA DEVI!"

Aku menatap sekeliling. Teman-teman divisiku menahan tawa. Pak Bos keluar dari ruangannya, membawa sebuah helm proyek warna kuning (yang kebesaran). "Nih, Dev. Hadiah. Lain kali kalau lewat jalan tikus, pake ini. Biar dikira mandor bangunan, bukan ketua OSIS."

Aku mengambil helm itu. Menatapnya nanar. Mulai hari ini, aku bersumpah. Aku akan membuang semua kemeja putihku. Aku akan membakar semua rok hitamku. Mulai besok, aku akan ke kantor pakai batik bapak-bapak atau kebaya nenek-nenek. Biar sekalian dikira mau ngelayat, daripada dikira mau tawuran.

Dan untuk Pak Kumis Satpol PP... awas ya. Kalau ketemu lagi, akan kutunjukkan slip gajiku biar dia tahu betapa kerasnya dunia orang dewasa yang berwajah bayi ini.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Cerpen
Tertangkap Razia Pelajar
cahyo laras
Flash
Bronze
Tangan hoki
Yusuf Ahmad
Komik
Banana Tree (Oneshot)
Naufal Abdillah
Flash
Bronze
Hantu galau
penulis kacangan
Cerpen
Bronze
Galon vs Gas Melon
Claire The
Cerpen
Korban Prospek
cahyo laras
Flash
Tawa Tiwi
Binar N
Cerpen
Dituduh Penculik
cahyo laras
Komik
BEBEH DAN BEBIH (Lika-liku laki bini)
Andy widiatma
Cerpen
Drama Butut (Bu Tutik) vs Buruk (Bu Rukmini)
Yovinus
Flash
Bronze
BANDEL
Onet Adithia Rizlan
Cerpen
Sepatu Mangap di Marathon 10k
cahyo laras
Cerpen
Bronze
Pagutan Rocan
Kinanthi (Nanik W)
Komik
Hell Boi
Yohana Decinta
Komik
Bronze
The Daily of ARLO
Anindosta Studios
Rekomendasi
Cerpen
Tertangkap Razia Pelajar
cahyo laras
Cerpen
Korban Prospek
cahyo laras
Cerpen
Dituduh Penculik
cahyo laras
Cerpen
Sepatu Mangap di Marathon 10k
cahyo laras
Cerpen
Jempol Laknat, Gebetan Minggat
cahyo laras
Cerpen
Jangan Ge-Er, Dia gitu ke semua orang
cahyo laras
Cerpen
Rapat Abadi Tanpa Keputusan
cahyo laras
Cerpen
Lolos Tilang, Harga Diri Hilang
cahyo laras
Cerpen
Yes Man Membawa Bencana
cahyo laras
Cerpen
Percaya Mitos Yang Kurang Lengkap
cahyo laras
Cerpen
Kossan Angker vs Tekanan Finansial
cahyo laras
Cerpen
Diet Hanya Wacana
cahyo laras
Cerpen
Pencitraan Di Depan Mertua
cahyo laras
Cerpen
Tahan Tawa Saat Boss Besar Jadi Meme Bergerak
cahyo laras
Cerpen
Vonis Kematian Dokter Google
cahyo laras