Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Misteri
Bronze
Terlambat
0
Suka
7,394
Dibaca

Lisa membuka mata saat sinar matahari menembus tirai ungu kamarnya, menari di dinding yang dipenuhi poster-poster band indie kesukaannya. Satu poster yang paling besar, dengan gambar vokalis favoritnya tengah melompat di udara, menggantung persis di atas meja belajar yang penuh catatan warna-warni dan bingkai foto kecil keluarga.

"Lisa, ayo turun! Sarapan!" suara lembut ibunya terdengar dari lantai bawah, diiringi aroma telur dadar dan roti panggang yang menguar dari celah pintu.

Lisa mengusap wajahnya perlahan, lalu bangkit dan duduk di tepi ranjang. Sekilas ia menatap cermin. Rambutnya masih berantakan, tapi matanya bersinar tenang, seolah dunia tak pernah menyakitinya. Ia berdiri, mengenakan hoodie abu-abu yang sudah mulai pudar warnanya, lalu melangkah keluar kamar.

Di meja makan, pemandangan itu seperti lukisan kebahagiaan yang tak disentuh waktu. Ayahnya duduk sambil membaca koran, ibunya menuangkan teh hangat ke cangkir, dan adiknya Rio duduk menyuap nasi dengan lahap, sesekali menggoda Lisa dengan mulut penuh. Gelak tawa mereka mengisi ruang, mengalir ringan seperti pagi yang terlalu damai untuk dilukai.

Lisa duduk di tempat biasa. Ibunya menyodorkan piring, dan ayahnya, tanpa mengalihkan pandangan dari koran, berkata, "Ranking satu lagi bulan ini, ya? Hebat."

Lisa tersenyum kecil. "Biasa aja, Yah. Belum tentu bulan depan juga."

"Ah, merendah terus, padahal nilaimu susah ditandingi," timpal ibunya, lalu mengelus rambutnya sekilas.

Rio nyengir, "Tapi tetap aja, Kak Lisa enggak bisa ngalahin aku main Mobile Legend."

"Karena aku enggak main game, bego."

"Bahasa!" seru ibu mereka, lalu semua tertawa lagi.

Lisa mencuri pandang ke dinding di seberang meja makan. Di sana tergantung jam kayu bulat yang sudah bertahun-tahun menemani keluarga itu. Jarum panjang dan pendeknya berhenti di satu titik. 07.15.

Ia mengerutkan dahi. "Jam itu rusak lagi, ya?"

Ibu menoleh sekilas. "Oh? Mungkin baterainya habis. Nanti Mama ganti."

Lisa mengangguk pelan, lalu kembali menikmati makanannya.

Di luar rumah, suara burung dan langkah sepatu anak-anak sekolah terdengar samar. Tak ada tanda-tanda badai. Tak ada keretakan. Di dalam diri Lisa, sebuah bagian kecil dari dirinya menyadari bahwa pagi ini, berbeda dengan pagi lainnya... Yang sempurna.

***

Pagi itu, ...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Flash
Misteri Merah Maroon
I | N
Cerpen
Bronze
Terlambat
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Laboratorium Transmisi Mental
Shinta Larasati Hardjono
Novel
Bronze
Don't See Me
Valianti
Cerpen
Rumah Tua dan Buku-buku yang Hilang
Nimas Rassa Shienta Azzahra
Cerpen
Bronze
Bayang Bayang Kaktus Berdarah Seri 04
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Detektif Acil
aksara_g.rain
Cerpen
Bronze
Of Tails and Memories
Bramanditya
Flash
Bronze
Who Said Snow is Always White?
Silvarani
Cerpen
Labirin Nama-Nama yang Hilang
Marion Drossi
Cerpen
Bronze
KUCING WANGSA PRIBUMI
brobin
Novel
Titisan Sang Ratu
Esteh.maniez
Cerpen
Bronze
Aku Atau Dia
Christian Shonda Benyamin
Flash
Bronze
Surat dalam Botol
Afri Meldam
Novel
Jelaga Di Lidah
Dava Kalandra
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Terlambat
Muhamad Irfan
Cerpen
BISU
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Nyaris
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Ibuku
Muhamad Irfan
Novel
Bronze
LUKA BARA
Muhamad Irfan
Cerpen
Bukan Lagi Kita
Muhamad Irfan
Cerpen
Sepotong Roti Hangat di Ujung Hujan
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Jaket Merah yang Tak Pernah Dikembalikan
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Satu Kursi yang Kosong
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Tersisa di Gaza
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
24 Jam Yang Menghapusku
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Tanpa Balasan
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Bayangan yang Tidak Pernah Pulang
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Bayangan di Meja Sebelah
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Tidak ada Tempat untuk Kita Berteduh
Muhamad Irfan