Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Bronze
Terlalu Berwarna
1
Suka
737
Dibaca

Bab 1 — Dimas, Sang Tukang Kritik

Namaku Alana.

Aku suka bermain-main dengan warna.

Buatku, berpakaian bukan cuma soal menutup tubuh atau mengikuti tren. Aku suka melihat warna-warna yang sebenarnya tidak terpikir akan dipasangkan, lalu tiba-tiba terlihat cantik ketika dikenakan.

Hari itu aku memakai kemeja paisley dengan motif merah, marun, putih, dan sedikit warna biru keabu-abuan.

Bawahannya?

Rok cokelat polos.

Aku melihat diriku di cermin dan tersenyum.

Cantik.

Setidaknya menurutku.

Sayangnya, aku punya pacar bernama Dimas.

Dan Dimas punya hobi.

Bukan olahraga.

Bukan membaca.

Bukan memasak.

Hobinya adalah mengomentari pakaianku.

“Lana.”

Aku baru saja keluar dari kamar ketika dia memanggil.

“Apa?”

Dimas memperhatikanku dari kepala sampai kaki.

“Bajumu aneh.”

Aku menunduk melihat pakaianku.

“Aneh di mana?”

“Motifnya terlalu ramai.”

“Namanya juga paisley.”

“Terus rokmu cokelat.”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena aku suka.”

Dimas menghela napas seperti baru saja menghadapi persoalan ekonomi negara.

“Harusnya pakai rok hitam.”

Aku menatapnya.

“Kenapa hitam?”

“Lebih aman.”

Aku tertawa.

“Aku nggak sedang menyeberang jalan, Dim. Kenapa harus aman?”

Dia tidak tertawa.

“Ya biar kelihatan bagus.”

“Menurut kamu.”

“Ya menurut aku.”

Aku mengangguk.

“Nah. Berarti selera kamu.”

Dimas diam.

Aku mengambil tas.

Sebenarnya aku sudah terbiasa.

Bukan cuma soal baju.

Parfum pun pernah.

Aku pernah layering parfum. Lima menit menunggu aroma pertama menyatu, baru kemudian aku semprot parfum kedua yang wanginya lebih soft.

Menurutku hasilnya enak.

Anak-anak yang bertemu denganku bahkan spontan bilang,

“Ibu wangi.”

Hidung anak-anak memang nggak bisa bohong.

Tapi Dimas?

“Wanginya jegrak.”

Aku sampai bengong.

“Jegrak?”

“Iya.”

“Kamu memang pakai parfum?”

“Enggak.”

Aku menahan tawa.

Lalu sejak saat itu aku mulai menyadari sesuatu.

Dimas tidak sedang memberi kritik.

Dia hanya tidak menyukai sesuatu yang berbeda dari seleranya.

Dan sayangnya, dia sering menganggap seleranya sebagai aturan.

Aku suka warna terang.

Dia suka warna aman.

Aku suka motif.

Dia suka polos.

Aku suka mencoba kombinasi baru.

Dia suka sesuatu yang menurutnya “normal”.

Masalahnya...

aku tidak pernah ingin menjadi normal.

Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri.

Dan waktu itu aku belum tahu bahwa suatu hari nanti akan ada seseorang yang melihat pakaianku bukan dengan pertanyaan,

“Kenapa kamu pakai itu?”

melainkan,

“Kamu suka? Kalau suka, pakai.”

Dan mungkin, justru kalimat sesederhana itu yang akan membuatku sadar:

Selama ini aku bukan terlalu berwarna.

Aku hanya berada di samping orang yang tidak mengerti waorna

Bab 2 — Bahkan Ibu Tidak Pernah Mengomentari

Kalau ada orang yang paling mungkin mengkritik cara berpakaianku, seharusnya orang itu adalah ibuku.

Aku dibesarkan di keluarga Batak.

Dan semua orang yang mengenal ibuku tahu satu hal:

Ibu tidak punya bakat untuk basa-basi.

Kalau suka, dia bilang suka.

Kalau tidak suka, wajahnya saja sudah cukup menjelaskan.

Kalau menurutnya sesuatu salah, jangan berharap dia akan diam hanya karena takut membuat orang tersinggung.

Tapi anehnya, soal pakaianku, Ibu hampir tidak pernah berkomentar.

Aku bisa memakai rok warna butter dengan atasan bermotif.

Bisa memakai warna pink dipadukan dengan marun.

Bisa memakai kemeja paisley yang menurut Dimas terlalu ramai.

Ibu paling hanya melihat sebentar.

“Bagus.”

Selesai.

Tidak pernah ada,

“Kenapa bajumu begitu?”

Tidak pernah ada,

“Ganti sana.”

Bahkan ketika aku memakai kombinasi warna yang mungkin bagi orang lain terlihat berani, Ibu tidak pernah mempermasalahkannya.

Karena mungkin Ibu tahu.

Aku memang begitu.

Aku suka warna.

Aku su...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
ELMIRA
Sirius Pen
Cerpen
Bronze
Terlalu Berwarna
Willia Mangun Putr
Novel
Memeluk Bapak
Daruz Armedian
Skrip Film
XX
Mostow
Skrip Film
Keluarga Terakhir
Zii
Skrip Film
BARBERSHOP KENANGAN
Onet Adithia Rizlan
Flash
Kembang Api
BANYUBIRU
Novel
Salju Terakhir
Liliyanti
Novel
Bangka Undercover: Jalan Menuju Pendewasaan
Tri Prasetio
Novel
Lia: Built to Remember
Arya Sanubari
Skrip Film
Mie Ayam United
Fevyannin Kivlanella Fathiaz
Flash
Your Lips, My Ears.
Liz Lavender
Cerpen
Knowing the Unknown
Grace Anindya
Novel
Malaikat Jatuh
Jesselyn Abdisaputera
Novel
Ber-gelar?
Yuanita Faridatun Ni'mah
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Terlalu Berwarna
Willia Mangun Putr
Cerpen
Bronze
Ular itu Rabun, Sayang
Willia Mangun Putr
Cerpen
Bronze
Dive
Willia Mangun Putr
Cerpen
Bronze
Kiss Me
Willia Mangun Putr
Cerpen
Bronze
Mereka yang Memilih Diam
Willia Mangun Putr
Cerpen
Bronze
Between Vienna and Us
Willia Mangun Putr
Cerpen
Bronze
Kamar 309
Willia Mangun Putr
Novel
Bronze
kali kedua
Willia Mangun Putr
Cerpen
Bronze
Per te
Willia Mangun Putr
Cerpen
Bronze
Flight to Ireland
Willia Mangun Putr
Cerpen
Bronze
Broken Vows
Willia Mangun Putr
Cerpen
Bronze
Panggilan dari Masa Depan
Willia Mangun Putr
Flash
Bronze
Suamiku yamg Kedua :Dia yang Belum Selesai
Willia Mangun Putr
Cerpen
Bronze
Kamar Nomor 13
Willia Mangun Putr
Cerpen
Bronze
Tato, Malam dan Kamu
Willia Mangun Putr