Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Bronze
Terlalu Berwarna
0
Suka
2
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Bab 1 — Dimas, Sang Tukang Kritik

Namaku Alana.

Aku suka bermain-main dengan warna.

Buatku, berpakaian bukan cuma soal menutup tubuh atau mengikuti tren. Aku suka melihat warna-warna yang sebenarnya tidak terpikir akan dipasangkan, lalu tiba-tiba terlihat cantik ketika dikenakan.

Hari itu aku memakai kemeja paisley dengan motif merah, marun, putih, dan sedikit warna biru keabu-abuan.

Bawahannya?

Rok cokelat polos.

Aku melihat diriku di cermin dan tersenyum.

Cantik.

Setidaknya menurutku.

Sayangnya, aku punya pacar bernama Dimas.

Dan Dimas punya hobi.

Bukan olahraga.

Bukan membaca.

Bukan memasak.

Hobinya adalah mengomentari pakaianku.

“Lana.”

Aku baru saja keluar dari kamar ketika dia memanggil.

“Apa?”

Dimas memperhatikanku dari kepala sampai kaki.

“Bajumu aneh.”

Aku menunduk melihat pakaianku.

“Aneh di mana?”

“Motifnya terlalu ramai.”

“Namanya juga paisley.”

“Terus rokmu cokelat.”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena aku suka.”

Dimas menghela napas seperti baru saja menghadapi persoalan ekonomi negara.

“Harusnya pakai rok hitam.”

Aku menatapnya.

“Kenapa hitam?”

“Lebih aman.”

Aku tertawa.

“Aku nggak sedang menyeberang jalan, Dim. Kenapa harus aman?”

Dia tidak tertawa.

“Ya biar kelihatan bagus.”

“Menurut kamu.”

“Ya menurut aku.”

Aku mengangguk.

“Nah. Berarti selera kamu.”

Dimas diam.

Aku mengambil tas.

Sebenarnya aku sudah terbiasa.

Bukan cuma soal baju.

Parfum pun pernah.

Aku pernah layering parfum. Lima menit menunggu aroma pertama menyatu, baru kemudian aku semprot parfum kedua yang wanginya lebih soft.

Menurutku hasilnya enak.

Anak-anak yang bertemu denganku bahkan spontan bilang,

“Ibu wangi.”

Hidung anak-anak memang nggak bisa bohong.

Tapi Dimas?

“Wanginya jegrak.”

Aku sampai bengong.

“Jegrak?”

“Iya.”

“Kamu memang pakai parfum?”

“Enggak.”

Aku menahan tawa.

Lalu sejak saat itu aku mulai menyadari sesuatu.

Dimas tidak sedang memberi kritik.

Dia hanya tidak menyukai sesuatu yang berbeda dari seleranya.

Dan sayangnya, dia sering menganggap seleranya sebagai aturan.

Aku suka warna terang.

Dia suka warna aman.

Aku suka motif.

Dia suka polos.

Aku suka mencoba kombinasi baru.

Dia suka sesuatu yang menurutnya “normal”.

Masalahnya...

aku tidak pernah ingin menjadi normal.

Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri.

Dan waktu itu aku belum tahu bahwa suatu hari nanti akan ada seseorang yang melihat pakaianku bukan dengan pertanyaan,

“Kenapa kamu pakai itu?”

melainkan,

“Kamu suka? Kalau suka, pakai.”

Dan mungkin, justru kalimat sesederhana itu yang akan membuatku sadar:

Selama ini aku bukan terlalu berwarna.

Aku hanya berada di samping orang yang tidak mengerti waorna

Bab 2 — Bahkan Ibu Tidak Pernah Mengomentari

Kalau ada orang yang paling mungkin mengkritik cara berpakaianku, seharusnya orang itu adalah ibuku.

Aku dibesarkan di keluarga Batak.

Dan semua orang yang mengenal ibuku tahu satu hal:

Ibu tidak punya bakat untuk basa-basi.

Kalau suka, dia bilang suka.

Kalau tidak suka, wajahnya saja sudah cukup menjelaskan.

Kalau menurutnya sesuatu salah, jangan berharap dia akan diam hanya karena takut membuat orang tersinggung.

Tapi anehnya, soal pakaianku, Ibu hampir tidak pernah berkomentar.

Aku bisa memakai rok warna butter dengan atasan bermotif.

Bisa memakai warna pink dipadukan dengan marun.

Bisa memakai kemeja paisley yang menurut Dimas terlalu ramai.

Ibu paling hanya melihat sebentar.

“Bagus.”

Selesai.

Tidak pernah ada,

“Kenapa bajumu begitu?”

Tidak pernah ada,

“Ganti sana.”

Bahkan ketika aku memakai kombinasi warna yang mungkin bagi orang lain terlihat berani, Ibu tidak pernah mempermasalahkannya.

Karena mungkin Ibu tahu.

Aku memang begitu.

Aku suka warna.

Aku su...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Cerpen
Bronze
Fatamorgana
Alwi Hamida
Cerpen
Bronze
Terlalu Berwarna
Willia Mangun Putr
Flash
Pagi yang Damai
Bima Kagumi
Flash
Jurus Pemikat Pedagang Sepatu
Sulistiyo Suparno
Novel
Miracle Spring
Pamella Paramitha
Cerpen
Jendela yang Pecah
Hans Wysiwyg
Skrip Film
Revenge Porn
Aliurridha
Novel
Bronze
Airy
Jenny C Blom
Novel
Bronze
Hesti dan Nurul
syafetri syam
Novel
Bronze
Tuhan, Boleh Ya, Aku Tidur Nggak Bangun Lagi?
Athar Farha
Flash
Jalan, Yuk!
hyu
Flash
Bronze
Rest Area Pantura
Silvarani
Novel
Friend'Sick
arsyanisaa
Novel
Suami Sempurna, Tapi Selingkuh
Titin Hartini
Flash
Bronze
KISAH CINTAKU
Yattis Ai
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Terlalu Berwarna
Willia Mangun Putr
Novel
Bronze
bulan hantu
Willia Mangun Putr
Cerpen
Bronze
Tato, Malam dan Kamu
Willia Mangun Putr
Cerpen
Bronze
Bahagia kecuali Aku
Willia Mangun Putr
Cerpen
Bronze
Mereka yang Memilih Diam
Willia Mangun Putr
Cerpen
Bronze
Sweet Scar
Willia Mangun Putr
Cerpen
Bronze
Panggilan dari Masa Depan
Willia Mangun Putr
Cerpen
Bronze
Ular itu Rabun, Sayang
Willia Mangun Putr
Cerpen
Bronze
Dive
Willia Mangun Putr
Cerpen
Bronze
Bahagia Kecuali Aku (Repackage)
Willia Mangun Putr
Cerpen
Bronze
Kali kedua
Willia Mangun Putr
Cerpen
Bronze
Kamar 309
Willia Mangun Putr
Cerpen
Bronze
Kamar Nomor 13
Willia Mangun Putr
Cerpen
Bronze
Per te
Willia Mangun Putr