Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Horor
Bronze
Terjebak Dunia Arwah
0
Suka
5,261
Dibaca

Bab 1 – Rumah Susun di Tengah Kota

Angin Jakarta, selalu membawa serta bisingnya kota—deru kendaraan yang tak pernah tidur, riuhnya percakapan yang samar dari lantai dasar, dan aroma masakan dari warung-warung kaki lima yang berjejer di sepanjang jalan. Bagi Laras, semua itu adalah simfoni baru yang mengiringi awal kehidupannya yang mandiri. Ia telah meninggalkan hiruk pikuk kota kecilnya di Jawa Tengah, sebuah tempat di mana setiap orang tahu siapa tetangga mereka dan gosip menyebar lebih cepat daripada berita. Kini, ia adalah seorang mahasiswi baru di salah satu universitas bergengsi di ibu kota, dan tujuannya hanya satu: fokus pada studinya, meraih gelar sarjana hukum, dan membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia bisa.

Rumah susun ini, meskipun sederhana, terasa seperti istana baginya. Unitnya berada di lantai tiga, Blok D—sebuah nomor yang terasa cukup unik dan mudah diingat. Dari jendelanya, Laras bisa melihat hamparan atap rumah-rumah dan gedung-gedung yang memanjang sejauh mata memandang, diselingi oleh hijaunya pepohonan yang entah bagaimana masih bertahan di tengah hutan beton ini. Langit, yang seringkali memudar oleh polusi, terkadang bisa menyajikan gradasi warna jingga dan ungu saat senja tiba, sebuah pemandangan yang selalu berhasil menenangkan jiwanya setelah seharian berkutat dengan buku-buku tebal.

Pindah ke kota sebesar ini memang bukan perkara mudah. Sejak tiba di Stasiun Gambir dengan koper besar dan ransel penuh buku, Laras sudah merasa seperti sebutir pasir di tengah gurun. Namun, tekadnya kuat. Orang tuanya, yang hidup sederhana di kampung, telah menaruh harapan besar padanya. Ia tak boleh mengecewakan mereka. Sewa rumah susun ini memang tak murah, tetapi lokasinya yang strategis—hanya lima belas menit berjalan kaki dari kampusnya—membuatnya menjadi pilihan yang paling masuk akal. Lagipula, ia tak butuh kemewahan. Hanya butuh tempat untuk tidur, belajar, dan sesekali melepas penat.

Minggu-minggu pertama di rumah susun berjalan mulus, bahkan cenderung menyenangkan. Laras adalah gadis pendiam, namun ia tahu bagaimana caranya bersosialisasi. Ia selalu tersenyum ramah saat berpapasan dengan tetangga, mengucapkan salam singkat, dan tak jarang membantu mengangkat belanjaan ibu-ibu yang terlihat kerepotan. Responsnya pun baik.

Bu Minah, seorang wanita paruh baya yang tinggal tepat di unit seberangnya. Rambutnya selalu digulung rapi, dan senyumnya hangat seperti ibu sendiri. Ia seringkali menawarkan Laras sepiring singkong goreng atau secangkir teh hangat saat Laras pulang kuliah sore-sore. "Nduk, ayo mampir dulu. Jangan melulu belajar," katanya suatu sore, matanya mengerut karena senyum. Laras selalu menolak dengan halus, beralasan banyak tugas, namun hatinya tersentuh oleh keramahan Bu Minah. Keberadaan Bu Minah memberinya rasa aman, seolah ada seseorang yang mengawasinya dari jauh, seperti ibunya di kampung.

Di samping unit Bu Minah, ada keluarga Pak Raji. Mereka adalah keluarga kecil dengan satu anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun bernama Danu. Pak Raji adalah seorang satpam di sebuah bank swasta, tubuhnya tegap dan suaranya berat, namun selalu ramah saat berpapasan. Istrinya, Bu Dewi, adalah ibu rumah tangga yang sering terlihat menjemur pakaian di balkon. Danu, bocah periang itu, sering terlihat bermain sepeda di koridor lantai tiga, meskipun kadang-kadang Pak Raji harus menegurnya agar tidak mengganggu tetangga lain. Laras sempat berpikir, betapa indahnya memiliki keluarga kecil seperti mereka di masa depan. Mereka adalah cerminan kehangatan dan kebersamaan yang Laras rindukan dari kampung halamannya.

Selain mereka, ada juga Pak Hadi, seorang pria paruh baya yang selalu mengenakan kemeja batik dan kacamata tebal. Ia sering terlihat membaca koran di bangku taman depan rumah susun setiap pagi. Ia adalah pensiunan guru sejarah, dan Laras sering mendengar ceritanya tentang Jakarta tempo dulu saat mereka berpapasan di tangga. Pak Hadi selalu menyapanya dengan panggilan "Nak" dan memberinya nasihat-nasihat bijak tentang kehidupan. Ada pula Mas Budi, seorang pekerja kantoran yang unitnya tak jauh dari Laras. Ia jarang terlihat, tapi selalu menyapa Laras dengan anggukan dan senyum sopan saat mereka berpapasan di lift. Ia tipe pria metropolitan yang sibuk, selalu terburu-buru, namun tetap menjaga sopan santun.

Setiap pagi, saat Laras bangun, ia akan mendengar derit pintu unit Bu Minah terbuka, diikuti suara sikat gigi yang beradu dengan keran air. Lalu suara adzan subuh dari masjid ...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp15.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Cerpen
Bronze
Terjebak Dunia Arwah
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
AMIRA
Gie_aja
Novel
Black Diary
Ratih Azhar
Flash
Bronze
Gadis Bersenandung
Sunarti
Flash
Dua Boneka Tanpa Nama
Priy Ant
Cerpen
Bronze
Bayang Bayang Dokter
Christian Shonda Benyamin
Flash
Bronze
Penghuni Jembatan
Tini Ubadipura
Novel
JANN
Big boss
Novel
Tafakur
Tri sukoco
Cerpen
Bronze
Adam
Jasma Ryadi
Novel
Last Kiss from a Vampire
Roy Rolland
Flash
Gelap Gulita
Celica Yuzi
Flash
Makhluk Itu, Benda Itu
Suzie S. Something
Flash
Pesta di Malam Itu
eunike_xiuling
Komik
STORY OF MY GHOSTS
Jusep kurnia
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Terjebak Dunia Arwah
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Jurnal Kosong
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bayang Bayang Dokter
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Cermin Diri
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Catatan Tua
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Jumat Akhir Bulan Juli
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Perawat Siska
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Imajiner Yang Nyata
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kabut Asap Pelabuhan
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Dia Bukan Bayi Ku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
#fyp Terakhir
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Pelaku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Yamero
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Suwanita
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Notifikasi Terakhir
Christian Shonda Benyamin