Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Cangkir keramik hitam di sudut meja kayu itu sudah lama mendingin. Lingkaran cokelat di bawah dasarnya bukan lagi embun hangat, melainkan kerak kering yang mengelupas bersama lapisan pelapis meja yang mulai terkikis pinggirannya. Di sampingnya, pendar kebiruan dari layar monitor terus memantulkan deretan angka serta kode teknis pada dokumen kerja yang tak kunjung berganti. Kabel pengisi daya menjulur tak beraturan ke arah colokan dinding, tersangkut di antara lembaran kertas cetak dan tumpukan buku catatan bersampul tebal yang jarang disentuh. Denting dari ketel pemanas yang baru saja mematikan dirinya secara otomatis memecah hening, disusul desis halus uap air yang perlahan menyerap ke udara.
Di luar, membayang pemandangan pagi yang masih menyisakan dingin tebal. Udara lembap menempel rapat di balik kaca jendela, membiaskan bayangan dedaunan pohon mangga milik rumah besar di sebelahnya menjadi hamparan hijau yang buram.
Sudah setahun tempat berlantai satu ini ia huni—atau setidaknya, begitulah garis waktu yang terus mengendap di dalam kepalanya. Bangunannya terbilang sederhana, berpintu kayu dengan cat putih yang mulai memudar dan rontok di beberapa bagian, berdiri sekitar empat atau lima blok dari rumah tinggal Sania. Halamannya yang sempit tak lagi terawat rapi; hanya ada beberapa pot tanaman hias daunnya meranggas kering serta rumpun rumput liar yang menyelinap di sepanjang celah semen tepi selokan.
Perpisahan yang terjadi setahun lalu meninggalkan kesepakatan tenang yang mereka susun tanpa pertengkaran terbuka di hadapan anak-anak. Lisa, putri sulungnya yang baru menapak tahun pertama masa SMA, memilih lebih sering tinggal bersamanya di rumah ini. Sementara Maya, si bungsu yang masih mengenakan seragam sekolah dasar, tetap menetap bersama ibunya.
Pekerjaannya sebagai konsultan independen untuk sebuah perusahaan teknologi di Vancouver memberi Sandy tempat perlindungan yang seolah tanpa cela. Ia tak perlu menembus kemacetan kota yang menguras tenaga setiap pagi, tak perlu mengenakan kemeja kaku, atau menyapa rekan kerja secara langsung. Sebagian besar hidupnya dihabiskan di dalam ruang kerja berukuran tiga kali empat meter ini, mengandalkan perbedaan waktu belasan jam untuk menuntaskan berkas-berkas yang masuk melalui kotak masuk elektronik. Di ruangan itu, waktu seolah bergerak menurut irama ketukan papan ketik dan deru kipas angin gantung di langit-langit yang berputar tanpa henti.
Namun, beberapa pekan belakangan, ada pergeseran halus yang makin lama makin menyita perhatiannya. Suasana rumah berubah tajam tanpa sebab yang jelas. Keheningan yang biasanya terasa menenangkan kini menjelma menjadi sesuatu yang kaku dan menekan, seolah-olah udara di dalam rumah beredar dengan bobot yang lebih berat dari biasanya. Bahkan aroma tengik debu di sudut-sudut plafon seolah membeku di udara—stagnan dan tak kunjung bergeser meski jendela depan dibuka lebar-lebar setiap kali matahari terbit.
Perubahan itu terasa paling menyiksa saat menatap Lisa. Anak perempuan yang biasanya penuh dengan ocehan—tentang gosip teman sekolahnya, lagu baru yang ia dengar di radio, atau sekadar mengeluh soal tugas sejarah yang menumpuk—perlahan melenyapkan suaranya. Perhatian dan kebiasaan manis yang biasanya Lisa tunjukkan padanya mendadak menguap tanpa bekas.
—
Ketika pendar mentari yang mulai meredup membias di atas keramik hijau tua area dapur, Lisa berdiri kaku di depan dispenser. Ia menanti alir air hangat mengisi cangkir kesayangannya. Bunyi derak motor kulkas yang bergetar pelan menyelimuti jarak di antara mereka yang hanya terpaut beberapa langkah. Mata gadis itu tampak sembab, melingkar hitam pekat seperti seseorang yang kehilangan waktu tidur berturut-turut selama berminggu-minggu.
Sandy mencoba merapatkan jarak, berdiri tepat di samping ambang pintu untuk menatap wajah anak sulungnya. "Lisa, nanti malam mau makan apa? Ayah bisa belikan nasi goreng atau martabak di jalan depan," sapa Sandy. Suaranya diusahakan selincah mungkin untuk memecah kekakuan udara.
Gadis itu sama sekali bergeming. Tak ada lirikan mata, tak pula ada embusan napas balasan. Jemarinya yang agak gemetar hanya memutar-mutar gagang cangkir, memerhatikan air bening yang perlahan berubah warna oleh celupan kantong teh. Tanpa mengalihkan pandangan dari cangkirnya, Lisa melangkah maju. Langkahnya lurus, melintasi tempat Sandy berdiri, melewati tubuhnya seolah-olah Sandy hanyalah seberkas celah kosong di udara—sebuah sensasi dingin yang mendadak melintasi dada Sandy—sebelum sosok itu menghilang di balik pintu kamar yang terhempas rapat.
Sensasi kaku dari ruang dapur itu belum sepenuhnya menguap ketika gesekan derap sandal kayu di atas semen kasar teras kembali memutus keheningan hari berikutnya. Lisa tidak pulang seorang diri; ia menuntun adiknya, Maya.
Saat Sandy bergegas meninggalkan meja kerja dan membuka pintu ruang tengah, kedua putrinya sudah duduk berimpitan di atas sofa kain berwarna abu-abu yang seratnya mulai terkelupas. Maya menyandarkan kepalanya erat-erat di pangkuan Lisa, sementara kedua tangan kecilnya memeluk pinggang sang kakak tanpa mau dilepas. Wajah anak bungsu itu kemerahan, menyembunyikan tangis yang ditahan hingga dadanya naik-turun kencang.
"Maya? Kok tidak bilang kalau mau main ke sini?" ujar Sandy seraya menyelaraskan tingginya, berlutut di samping lengan sofa untuk mencoba menyalurkan kehangatan.
Maya tak memalingkan wajahnya sedikit pun. Lisa hanya terus membelai rambut adiknya dengan gerakan mekanis yang pelan, menyanyikan bait-bait lagu pengantar tidur dengan bisikan lirih yang nyaris tenggelam oleh deru angin di luar rumah.
"Nanti Mbak antar pulang sebelum gelap, ya. Kasihan Ibu kalau sendirian di rumah..." bisik Lisa pada Maya, mengabaikan udara di sekitarnya.
Sandy mengulurkan tangan, bermaksud merengkuh bahu kecil Maya untuk memberikan penenang. Namun, jemarinya hanya mengusap lipatan kain sofa yang dingin dan hampa. Tak ada kehangatan tubuh anak kecil yang biasa ia rasakan. Kepedihan asing menusuk benaknya: Mengapa kedua anaknya seolah mengunci diri dalam sebuah ruang kedap udara, tempat suara dan tangannya tak lagi mampu menjangkau mereka?
Hampir saban malam dalam sebulan terakhir, pola mengerikan itu berulang. Sandy kerap mendapati Lisa duduk seorang diri di sudut kamar, merapatkan kedua lutut ke dada di atas lantai parket yang dingin. Suasana koridor kecil menuju kamar itu selalu terasa mencekam ketika malam makin larut, ditengahi detak jam dinding tua yang bergantung lelah di ruang tengah. Bahu Lisa berguncang pelan dalam kegelapan yang hanya diterangi pendar redup lampu jalan dari balik tirai. Setiap kali Sandy melangkah masuk, memanggil namanya, atau mencoba duduk di sampingnya untuk bertanya ada apa, Lisa selalu bertindak seolah ia sendirian di ruangan itu. Gadis itu hanya akan menyapu air matanya ke udara kosong, berdiri kaku, lalu berjalan keluar kamar tanpa pernah menatap mata ayahnya.
—
Didorong rasa cemas dan bingung yang makin menghimpit, langkah kaki akhirnya membawa Sandy menyusuri kembali jalan menuju rumah masa lalu mereka—tempat di mana Sania dan Maya menetap. Hujan deras baru saja selesai mengguyur lingkungan perumahan, meninggalkan genangan-genangan air keruh yang memantulkan langit kelabu di sepanjang jalan.
Namun ketika langkahnya terhenti di balik pagar besi yang berdecit tertiup angin, niatnya tertahan. Sania sedang berdiri di teras depan, menggenggam ponsel di telinganya. Mantan istrinya itu berbicara dengan suara parau yang terputus-putus, beberapa kali menyapu sudut matanya dengan tisu basah yang sudah teremas.
"Lisa makin sering mengurung diri," ucap Sania dengan nada berat yang bergetar. "Setiap kali kembali ke rumah itu, dia cuma duduk diam di ruang tengah. Katanya... dia belum sanggup merapikan barang-barang Sandy di sana..."
Kalimat itu menghantam dada Sandy dengan pelan namun telak, beradu dengan desir rintik air yang tersisa di dedaunan. Barang-barang apa? Rumah sewa itu terawat rapi. Meja kerjanya selalu ia tempati, lantainya selalu ia pijak setiap pagi. Mengapa Sania berbicara seakan-akan rumah sewa itu adalah tempat terbengkalai yang ditinggalkan pemiliknya?
Niatnya untuk melangkah masuk dan memotong pembicaraan itu mendadak luruh. Ada rasa lelah emosional yang amat sangat—sebuah kelelahan asing yang memberatkan seluruh persendian dan kakinya. Sandy berbalik arah, menyeret langkahnya kembali menyusuri jalanan basah tanpa tahu harus mencari jawaban ke mana lagi.
Batas antara siang dan malam perlahan kabur. Ruang kerja berukuran tiga kali empat meter itu kembali menjelma menjadi satu-satunya tempat ia merasa utuh dan memegang kendali atas kenyataan. Di hadapan monitor yang menyala terang benderang, Sandy membenamkan diri dalam deretan berkas proyek teknis, dokumen kerja, dan korespondensi surel dari Kanada. Perbedaan jam kerja yang drastis membuatnya menghabiskan waktu hingga larut malam atau dini hari, mengetik di tengah keheningan rumah yang makin menekan, diiringi desis pendingin udara dan suara cangkir yang beradu pelan dengan permukaan meja.
Ia terus meyakinkan hatinya sendiri bahwa ini semua hanyalah fase transisi yang berat. Perubahan dalam keluarga yang pernah retak memang membutuhkan waktu untuk pulih sepenuhnya. Ia berjanji pada diri sendiri, begitu tenggat waktu proyek besar dari kantor pusat di Vancouver ini rampung, ia akan meluangkan waktu khusus untuk mengajak Lisa dan Maya pergi berlibur, memulihkan ikatan mereka yang terasa makin berjarak.
—
Pagi ini, bayang-bayang linglung dan kelelahan itu masih mengatup erat di kepala Sandy. Ia terbangun di kursi kerjanya—atau barangkali ia tak pernah benar-benar tertidur—dengan kepala pengang dan leher yang kaku. Sinar matahari pagi yang menerobos celah gorden menampilkan bulir-bulir debu tebal yang melayang tenang dan diam di udara, seolah-olah waktu berhenti berputar di ruangan tersebut.
Saat ia membuka kotak masuk untuk memeriksa laporan harian, sebuah pemberitahuan jadwal penerbangan berkedip di batas atas layar monitornya. Email dari kantor pusat di Vancouver itu memicu desakan aneh di dalam dadanya. Ia bahkan harus membaca lembar rencana perjalanan itu berkali-kali, sekadar meyakinkan diri bahwa memang namanya yang tertera di sana. Terlalu mendadak, batinnya. Waktu keberangkatan praktis tak lebih dari tiga jam lagi, dan durasi itu sudah terpotong perjalanan menuju bandara.
Ada kegusaran yang menelusup, tetapi panggilan tugas tak bisa ia abaikan. Tangannya bergerak cepat, membentangkan koper kain hitam di atas kasur, menarik beberapa pakaian dari lemari kayu yang pintunya berderit nyaring, lalu menumpuknya tergesa-gesa. Ada pola yang terasa sangat akrab dari gerakan tangan ini, seakan-akan ia pernah melakukan gestur merapikan koper ini berulang-ulang dalam ingatannya.
Koper di atas kasur belum seutuhnya tertutup ketika Lisa menyeruak masuk ke dalam kamar. Gadis itu berjalan cepat, matanya sembab dan wajahnya pucat. Tanpa menatap ke arah tempat tidur, ia mengempaskan tubuhnya begitu saja di tepi kasur yang bergetar pelan. Bahunya langsung terguncang hebat oleh tangis yang tak lagi mampu ia tahan.
Melihat tangisan Lisa pecah di depan mata, rasa iba dalam diri Sandy memuncak. Ia bergeser dari kopernya yang berantakan, melangkah mendekat, berlutut tepat di samping tempat Lisa duduk. Tangannya terulur maju, berniat merengkuh bahu, menghibur kesedihannya, atau sekadar mencari tahu apa yang membuat dunianya seolah runtuh hari ini.
Namun, gerakan jemarinya terhenti tepat di atas pendar redup layar ponsel yang tergeletak pasrah di genggaman Lisa.
Di atas layar yang retak halus itu, sebuah notifikasi kilas balik otomatis tengah terbuka membingkai foto lama mereka:
1 YEAR AGO THU
Hari ini, genap setahun Ayah tak pulang. Pesawat yang membawanya ke Vancouver pagi itu, tak pernah mendarat. Aku kangen…