Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Horor
TERIAKAN SETAN
0
Suka
7
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator


TERIAKAN SETAN!

Dari terang menuju petang, kala sang surya kian melemah saat malam perlahan membunuh sisa cahaya. Langit berubah jingga kemerahan sebelum akhirnya gelap menelan bumi. Orang Jawa menyebut waktu itu sandikala—waktu ketika batas antara dunia manusia dan dunia yang tak terlihat terasa begitu tipis. Konon, saat malam datang, para dedemit mulai bergentayangan. Mereka menampakkan diri dalam rupa yang mengerikan: wajah hancur, mata melotot keluar, lidah menjulur panjang, dan darah segar menetes dari mulut mereka.

Orang Tapal Kuda punya cerita sendiri tentang makhluk malam. Mereka menyebutnya dhindhedhin—arwah gentayangan dari dukun santet yang mati dibunuh warga karena perbuatannya sendiri. Ada pula kisah perempuan berbadan kuda yang konon dulunya seorang santri. Ia dikutuk karena mencuri cincin emas milik Bu Nyai. Sejak saat itu ia dipercaya berkeliaran di sekitar sawah dan sumber air saat malam tiba.

Masyarakat sekitar percaya, tidak semua suara malam berasal dari manusia.

Balet Baru—begitulah nama dusun kecil tempat berdirinya pesantren tua itu. Samar-samar suara azan Magrib mulai terdengar dari mushola. Mula-mula lirih, lalu semakin keras memanggil para santri untuk kembali kepada Tuhan, kembali menundukkan kepala dalam doa-doa panjang.

Di saat santri lain bergegas mengambil wudu, Bakir justru berjalan santai ke arah belakang pesantren. Sarungnya diselempangkan di pundak, langkahnya malas, wajahnya penuh rasa bosan. Ia memang terkenal sebagai santri paling bandel di pondok itu.

Para asatidz bukan tak pernah menegur. Hukuman demi hukuman sudah sering ia terima. Pernah ia disuruh membersihkan kamar mandi seminggu penuh, pernah pula dipukul ringan dengan rotan karena ketahuan kabur saat ngaji malam. Namun semua itu tak pernah membuatnya berubah.

“Bakir itu anak baik, cuma keras kepala,” kata salah satu ustaz suatu malam.

Sayangnya, Bakir sendiri tidak pernah peduli.

Ketika para santri sibuk melantunkan wirid, Bakir malah menuju sumber mata air dekat sawah belakang pesantren. Tempat itu cukup jauh dan jarang dilewati orang saat malam hari. Cocok untuk menghindari pengawasan keamanan pondok.

Di tengah jalan setapak menuju pemandian, berdiri papan kayu tua bertuliskan cat merah:

“HATI-HATI MANDI MALAM HARI.”

Bakir berhenti sebentar lalu terkekeh kecil.

“Emang kenapa kalau mandi malam?” gumamnya meremehkan.

Ia menatap sekeliling sawah yang mulai gelap.

“Ada tuyul? Kuntilanak? Atau genderuwo yang iri sama ketampananku?”

Bakir tertawa sendiri.

Angin malam meniup daun padi hingga bergesekan satu sama lain, menciptakan suara lirih seperti bisikan manusia.

Namun Bakir tetap melangkah tanpa takut sedikit pun.

Setibanya di sumber air, ia langsung menanggalkan baju dan sarungnya lalu meletakkannya di atas batu besar. Bukannya segera mandi, ia malah duduk jongkok sambil menyalakan rokok.

Asap mengepul perlahan dari mulutnya.

Aroma tembakau bercampur dengan bau tanah basah sehabis hujan.

Bakir menikmati malam dengan santai seolah dunia hanya miliknya seorang.

“Sampai kapan hidupku begini terus, ya?” gumamnya tiba-tiba.

Untuk sesaat wajahnya terlihat kosong.

Sebenarnya, jauh di dalam dirinya, ada keinginan untuk berubah. Ada rasa lelah menjadi santri nakal yang selalu dimarahi orang-orang. Namun pikiran itu cepat ia buang.

“Ah, hidup kok dibuat ribet,” katanya sambil membuang puntung rokok.

Bakir turun perlahan dari batu besar lalu mulai membasahi tubuhnya.

“Yassalam… seger banget!” teriaknya menikmati dinginnya air.

Ia mulai bersenandung sembarangan sambil menggosok tubuhnya.

“Nana… nana… yeyeye…”

Namun tiba-tiba—

Sebuah bayangan putih melintas cepat di atas jalan setapak.

Bakir langsung berhenti bernyanyi.

Ia menyipitkan mata.

“Aghejek eh, conk?”

(Mau bercanda ya?)

Kalau orang lain berada di tempat itu, mungkin mereka sudah lari tunggang-langgang. Tapi tidak dengan Bakir. Bukannya takut, ia malah mengambil sebilah bambu lalu berjalan menuju arah munculnya bayangan tadi.

Rahangnya mengeras.

Matanya tajam menembus gelap.

“Woy setan! Mateah dukaleh pola?”

(Hey setan! Mau mati dua kali?)

Suara jangkrik tiba-tiba berhenti.

Suasana mendadak sunyi.

Lalu terdengar suara aneh dari belakangnya.

“Sek… sek… sek…”

Bakir menoleh cepat.

Tak ada apa pun.

Hanya hamparan sawah yang gelap.

Suara itu berpindah ke sisi kanan.

“Sek… sek…”

Bakir kembali menoleh.

Kosong.

Kini suara itu terdengar dari kiri, lalu dari atas pohon, lalu dari balik jerami. Seolah sesuatu sedang mempermainkannya.

Bakir mulai sadar.

Ini bukan manusia.

Namun bukannya mundur, ia malah semakin marah.

“Jancok! Kalau berani keluar!”

Ia mengumpat tanpa henti, memaki makhluk itu dengan kata-kata kasar yang meluncur begitu alami dari mulutnya.

Kemudian…

Dari balik tumpukan jerami muncul sosok tinggi berpakaian putih.

Perlahan sosok itu berjalan mendekat.

Wajahnya tak terlihat jelas.

Bakir mundur beberapa langkah, bukan karena takut, melainkan mengambil ancang-ancang.

Tiba-tiba ia berlari sekencang mungkin lalu melompat sambil mengayunkan bambu ke arah kepala sosok itu.

“Katepak!”

Kosong.

Sosok itu hilang begitu saja.

Bakir terdiam.

Dadanya mulai naik turun.

Untuk pertama kalinya bulu kuduknya meremang.

Ia memandang kanan kiri dengan panik. Sosok itu benar-benar lenyap tanpa jejak.

Namun anehnya, Bakir masih merasa ada yang mengawasinya.

Sesuatu itu masih berada di dekatnya.

Perlahan ia membalikkan badan.

Dan—

“SETAAAAAN!!!”

Bakir menjerit keras.

Sosok itu kini berdiri tepat di depannya.

Bakir sampai membuang bambu yang dipegangnya lalu spontan menutupi tubuhnya sendiri dengan kedua tangan.

Namun kali ini sosok itu tidak menyeramkan.

Ia hanya berdiri diam.

“Conk… mon satiah sapah se setan?”

(Nak… sekarang siapa sebenarnya yang jadi setan?)

Suara itu terdengar berat namun lembut.

Bakir terdiam.

Tubuhnya mendadak lemas.

Ia mulai mengenali suara itu.

“Kiai…?”

Sosok berjubah putih itu menatapnya dalam-dalam.

“Lihat dirimu sendiri, Kir.”

Bakir menunduk.

Tubuhnya penuh lumpur dan noda hitam. Namun malam itu ia sadar, yang kotor bukan hanya badannya.

Melainkan hatinya.

Selama ini ia hidup sesuka hati. Melawan guru, meninggalkan salat, berkata kasar, dan tak pernah menghormati ilmu.

Air matanya perlahan jatuh.

“Sepornah, Kiai…”

(Maafkan saya, Kiai.)

Untuk pertama kalinya Bakir menangis.

Ia merasa seperti sedang ditampar oleh dirinya sendiri.

Bakir perlahan mengambil sarungnya yang tergeletak di atas batu. Tangannya gemetar, berbeda dengan dirinya yang biasanya penuh keberanian dan ejekan. Malam terasa begitu sunyi, tetapi justru dalam kesunyian itu ia mendengar sesuatu yang selama ini hilang dari hidupnya—suara hati nuraninya sendiri.

Ia melangkah pelan menuju pesantren. Dari kejauhan cahaya mushola terlihat hangat di tengah gelapnya sawah. Lantunan zikir para santri terdengar samar terbawa angin malam. Dadanya terasa sesak. Baru kali ini Bakir merasa malu untuk kembali pulang ke pondok.

Di sepanjang jalan setapak, ia teringat wajah para ustaz yang tak pernah lelah menasihatinya. Ia juga teringat ibunya di rumah yang dengan bangga menitipkannya ke pesantren agar menjadi anak baik. Namun selama ini ia justru sibuk melawan, seolah hidup tak membutuhkan aturan dan Tuhan tak pernah melihat perbuatannya.

Langkah Bakir terhenti sejenak.

Air matanya kembali jatuh.

Malam itu, untuk pertama kalinya, Bakir takut bukan pada hantu atau setan, melainkan pada dirinya sendiri yang hampir kehilangan arah kehidupan.

Ketika ia mendongakkan kepala, sosok itu telah hilang.

Tak ada siapa-siapa.

Hanya suara lantunan ayat suci dari toa masjid yang terdengar menggema di tengah malam.

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un…”

Bakir berdiri mematung.

Malam itu ia akhirnya sadar—

Kadang setan yang paling menakutkan bukanlah makhluk gaib di luar sana.

Melainkan diri manusia sendiri yang terlalu lama jauh dari Tuhan.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Cerpen
TERIAKAN SETAN
zidan fadlan robbah
Cerpen
Bronze
Dia Selalu Ada Di Situ
Haris Fadilah Hryadi
Cerpen
Menjadi Tua, Lalu Luka
Fazil Abdullah
Flash
Hantu di bawah tempat tidur
Bluerianzy
Flash
Sosok Hitam
Rahma Pangestuti
Novel
SONGKO
M A R U T A M I
Novel
Kisah Horor
Maghfira Izani
Cerpen
Bisikan di tengah malam
Rain Dandelion
Flash
Bronze
Ayah yang Aneh
Nisa
Flash
Hutan Angker
Nunik Farida
Flash
Hitam
rossewoodz
Novel
Bilfagil
Faiz el Faza
Novel
Bronze
JERAT IBLIS
Eirene Rens
Cerpen
SMILE
IS KUN
Cerpen
Bronze
Asal Usul Bonsai Tangisan
Nuel Lubis
Rekomendasi
Cerpen
TERIAKAN SETAN
zidan fadlan robbah
Cerpen
gudang penyesalan
zidan fadlan robbah