Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Hanya ada tiga orang di ruangan itu, kami berdua dan seorang guru jaga yang sedang mengerjakan sesuatu di komputer konter perpustakaan. Matahari mulai turun di ufuk barat, cahaya oranyenya menerobos masuk melalui celah-celah ventilasi dan terpantul di ubin.
“Sa,” panggilnya. Suaranya pelan, memecah keheningan perpustakaan sekolah yang lengang.
“Apa?” jawabku pelan, menoleh ke kursi di sebelahku.
“Emang bener ya dari kamu lahir, di rumahmu sudah ada listrik?” tanyanya setengah berbisik, takut memancing perhatian guru jaga.
“Iyalah, di kamu ga ada emang?” ucapku setengah berbisik juga—mengikutinya sambil menutup buku soal olimpiade IPA setebal penghapus papan tulis.
“Ga ada sih. Aku aja baru tau namanya ‘listrik’ pas keterima di sini,” ucapnya sembari menghempaskan punggungnya di sandaran kursi.
“Serius?” tanyaku heran sambil menaikkan satu kaki di kursi, menghadap penuh ke arahnya.
“Dih? Békèh banget jadi orang,” jawabnya santai sambil memutar-mutar pena di tangannya.
“Sama sekali?” tanyaku menuntut sambil sedikit mengeraskan suaraku.
“Iya, benar-benar ga ada. Mau dibilang berapa kali lagi sih!” Buk! Pena biru itu menghantam meja kayu di depan kami sampai ia setengah berdiri. Pena itu sedikit memantul saat menghantam meja kayu. Aku tersentak, refleks menoleh ke arah guru jaga. Jaga-jaga jika tiba-tiba sebuah penghapus melayang ke arah kami. Akan Tetapi karena sepertinya ia sedang sibuk dengan komputernya, ia tidak menyadari suara berisik itu. Aku menarik nafas panjang, menenangkan gejolak liar jantungku. Setelah beberapa saat, aku melanjutkan pertanyaanku.
“... terus kalau malam ga pakai lampu dong?”
“Kamu kira lampu cuma dari listrik?” ujarnya sambil sedikit membenarkan hijabnya. Setelah itu, ia duduk manis seolah tak ada yang terjadi. “Lampu itu juga ada yang dari minyak. Kurang terang sih memang, tapi setidaknya cukup,” ucapnya takzim.
“Oh… jujur, aku baru tau soal lampu yang itu,” ucapku sambil sedikit mengangguk-angguk. “Emang kamu asli mana si Ghe?” tanyaku spontan, menatap penuh ke arahnya.
“Suatu tempat di lereng gunung Rinjani…” jawabnya dramatis. Suaranya langsung berubah, sembari membentuk ekspresi seolah itu suatu tempat indah di permainan fiksi.
“Hah? Terlalu dramatis kak.”
“Hmm… gini aja deh, libur kuajak ke sana mau nggak?”
“Eh… serius?”
“Iya, tapi kamu tahan kan beberapa hari ga pakai listrik?” tanyanya menyelidik. Sedikit mendekatkan tubuhnya ke arahku.
“Aman aja kalau aku,” jawabku tanpa keraguan.
Ia diam sejenak, mencari-cari tanda kebohongan di wajahku. “...oke deh kalau gitu. Nanti aku izin dulu sama bapak,” jeda sejenak. Ia terlihat sedang mempertimbangkan sesuatu. “Tapi kamu bisa logat dayé kan? Nanti kamu ga paham lagi orang sana ngomong apa,” ucapnya beberapa saat kemudian. Masih dengan nada dan tatapan menyelidik yang sama besarnya.
“Santai aja udah, kalau aku ga bisa kan kamu bisa artiin. Hehe.”
Mendengar responku, ia menghela nafas berat sambil melotot ke arahku. Aku hanya membalasnya dengan senyum terindah yang pernah ku bentuk.
Empat bulan berlalu, banyak hal yang sudah terjadi. Dan satu diantara banyak hal itu adalah, aku diizinkan untuk ikut pergi bersama Ghea ke desa tempat ia dilahirkan. Namun, hanya semalam. Matahari bersinar terik dengan latar langit biru, sedikit bongkahan berwarna keputihan melayang-layang pelan di sana. Kami baru saja selesai dari acara penutupan tahun ajaran di aula sekolah. Pak kepala sekolah memberikan nasihat-nasihat panjang tentang keimanan dan agar tidak membuang waktu senggang selama libur kenaikan kelas. Sebagian siswa mendengarkan sementara sebagian lainnya sibuk dengan hal lain.
“Panel surya portabel udah, power bank udah, ponsel, kabel, bohlam…” gumamku sambil mengaduk isi tas ransel untuk memastikan ulang barang bawaanku. Karena kata Ghea desanya tidak ada listrik, jadilah aku membawa semua itu. Baik untuk mengisi daya ponsel ataupun menyalakan bohlam yang kubawa.
Aku dan Ghea sedang duduk di salah satu deretan berugak di sebelah gedung asrama putri, ketika sebuah mobil L300 hitam tua memasuki halaman sekolah. Suaranya kasar, catnya mengelupas dimana-mana dan karat memenuhi hampir seluruh bagian bak dari mobil itu.
Ghea tak memperhatikan karena sedang asyik membaca novel yang ia beli online dan baru sampai ke sekolah pagi tadi. Sampai L300 itu terparkir rapi dan supirnya menghampiri, barulah Ghea mendongak dari novelnya. Wajahnya berubah cerah, senyum terpatri di sana. Ia lantas berdiri dan menyalami bapak-bapak dengan rambut memutih dan pakaian seadanya itu.
“Sa! Kenalin ini bapak aku!” ujarnya ceria sambil sedikit melompat-lompat kegirangan. Mendengar itu, aku tersentak dan segera turun dari berugak untuk menyalami beliau.
“Ini Aksa?” suaranya serak, pertanyaan itu ditujukan pada Ghea.
“Iya, ini Aksa yang kemarin Ghea bilang,” jawabnya riang sambil menoleh ke arahku. Ia hanya mengangguk kemudian terdiam. Setelah hening beberapa saat.
“Ayo naik, perjalanan kita jauh,” ucap beliau sambil berjalan ke L300 butut itu. Kami berdua mengangguk dan segera menyusul beliau. Beliau masuk pertama, menyalakan mesin, kemudian disusul oleh kami berdua. Aku dapat bagian duduk di dekat jendela, sementara Ghea di tengah. Sekejap, L300 itu meluncur anggun menyusuri ruas-ruas jalan aspal ke arah utara pulau.
Jam menunjukkan pukul 17.38 WITA saat jalan aspal berganti tanah. Landskap sekitar berubah drastis saat kendaraan yang kami tumpangi mulai bergerak naik ke arah utara pulau yang berbukit. Semak belukar yang didominasi tumbuhan paku-pakuan tumbuh subur di sisi-sisi jalan. Suasananya lembab dan gelap karena rapatnya pepohonan, hingga sinar matahari tak dapat menembus sampai ke bawah.
Aku membuka peta offline yang sudah kuunduh jauh-jauh hari di ponselku, jalan yang kami lewati masih terlihat terdaftar di citra satelit peta walau tertutup oleh kanopi pepohonan hijau.
“Masih jauh Ghe?” aku menoleh ke arahnya yang masih asyik membaca novel. Aku heran kenapa ia tak bosan membaca itu dari siang.
“Hmm?” ia menoleh, mengganjal novelnya dengan jempolnya sebelum melanjutkan. “Lumayan. Nanti kita jalan kaki lagi. Tapi, kalau udah sampai di Pringalar, mobil ga bakal bisa lanjut ke desa, soalnya jalurnya kecil banget dan terjal,” jelasnya.
“Oh… jauh gak jalan kakinya?” tanyaku.
Ia terdiam sesaat, terlihat seolah sedang mengira-ngira jarak dari tempat yang ia maksud ke desa. “Kalau dihitung-hitung, dari tempat kita taruh mobil sampai desa sih ga sejauh itu ya.”
“Alhamdulillah…”
Beberapa saat, sampailah kami di tempat yang dimaksud. Mobil berbelok tajam ke arah kiri, keluar dari jalur utama. Menanjak selama beberapa saat, kemudian berhenti pada suatu area setelah tanah kembali lapang. Suatu area di semacam puncak bukit dengan dikelilingi pepohonan tropis berkanopi lebat. Puncak Rinjani terlihat megah dari sini, lengkap dengan sorotan matahari petang dan awan tipis mengelilingi.
“Bagus cas power bank di sini,” gumamku saat bapaknya Ghea mulai memarkirkan mobil di bawah salah satu pohon berdaun hijau lebat sampai membentuk payung. Setelah mesin dimatikan dan rem tangan ditarik, kami pun turun bersama. Tak sesuai dugaan, suhu di luar mobil jauh-jauh lebih dingin dari yang terasa di dalam mobil. Walaupun area sekitaran pohon itu disorot oleh matahari petang yang notabene hangat, tetapi begitu aku melangkah ke bawah bayang-bayang pohon dan tak terkena sinar matahari, suhu udara bagai di Antartika.
Aku menunggu bapak Ghea yang sedang berusaha mengunci pintu mobil selama beberapa saat. Setelah berhasil, kami langsung melanjutkan perjalanan kembali ke jalan utama yang tadi. Semakin ke atas, jalan tanah semakin sempit dan curam. Beberapa kali aku hampir terpeleset terjerumus ke jurang dalam, dan sebanyak itu jugalah Ghea memarahiku karena tidak berhati-hati. Beberapa menit yang terasa bagai berabad-abad, kami akhirnya tiba di gapura desa. Pintu masuk utama desa.
Sebuah gapura dengan atap ilalang melengkung menjulang tinggi ke atas menyambut kami. Ilalang itu sudah tak berwarna coklat terang lagi, melainkan hitam pekat karena kelembaban ekstrem dan tertutup lapisan lumut kerak. Beberapa jenis tumbuhan merambat liar menjuntai dari sela-sela ikatan ilalang, bergerak-gerak pelan tertiup angin dingin lereng gunung. Tiang-tiangnya dari kayu mahoni besar dengan tekstur yang sudah sedikit menonjol dilengkapi ukiran-ukiran aksara sasak yang tak dapat kubaca.
Aku membeku sejenak, kakiku menolak untuk melangkah lebih jauh. Jantungku berdebar, bulu kudukku entah mengapa siaga. Beberapa saat, Ghea dengan santai lewat di sebelahku. Disusul juga oleh bapaknya yang melangkah tanpa beban. Seketika itu juga, kakiku mulai dapat bergerak lagi, menyusul mereka masuk.
Suhu setelah melewati gapura benar-benar berbeda. Entah mengapa, terasa lebih… hangat. Seolah ada sesuatu yang mendekapku erat, memberikan perlindungannya dari suhu tak masuk akal di sini. Area sekitar gapura masih dipenuhi semak-semak belukar yang merambat. Lebat tak terurus. Aku mengamati sekitar, memfokuskan pandanganku, mencari tanda-tanda kehidupan yang ada, tetapi hasilnya nihil.
“Dimana desa itu?” gumamku pelan. Aku yakin tak ada yang akan mendengarnya sampai kemudian, Ghea membalasnya.
“Ini namanya area teras Sa, area pertahanan paling luar desa ini. Makanya ga ada bangunan apapun di sini,” ucap Ghea sambil menoleh ke arahku. Jalan yang kami lewati masih berupa rerumputan tebal setinggi lutut. Benar-benar tak terawat.
“Pertahanan? Dari apa?” tanyaku polos.
“Babi hutan. Banyak sekali di sekitar sini,” jawab bapaknya Ghea masih dengan suara seraknya yang khas. Kami meneruskan berjalan selama beberapa saat, sampai akhirnya kami mulai melangkah memasuki area inti desa.
Kabut samar menyelimuti desa saat kami mulai melangkah masuk. Matahari telah sempurna tenggelam di ufuk barat. Rerumputan berganti batu gunung pipih yang ditanam di tanah sepanjang jalan untuk memastikan kaki tidak tergelincir saat melintas, mengingat tingginya kelembaban dapat membuat tanah biasa becek dan slip saat diinjak. Cahaya dari obor dan lampu petromaks berpendar pada tiang-tiang kayu mahoni dengan ukiran cukli di sepanjang jalan utama desa.
Memang benar, cahayanya hanya cukup. Cukup untuk membantu penglihatan agar dapat berjalan tanpa tersandung, cukup untuk melihat wajah tetangga, tetapi tetap tidak cukup terang untuk orang yang sudah terbiasa dengan bohlam listrik terang sepertiku. Rumah-rumah disini masih menggunakan atap jerami dengan dinding anyaman bambu. Tunggu… memangnya tidak dingin? Aku akhirnya memutuskan menanyakan perihal itu ke Ghea, wajahnya agak samar karena kurangnya pencahayaan. Mendengar pertanyaanku, ia menjawab.
“Nah itu dia, kamu seriusan ga tau?” tanyanya sambil memasang senyum penuh makna—iseng.
“Kamu nyembunyiin apa nih?” tanyaku menyelidik. Perasaanku buruk sekali soal ini.
“Hmm? Nanti aja kamu tau setelah sampai di rumahku,” sambungnya masih dengan nada jahil yang pekat.
Masih ada jutaan pertanyaan yang berputar di kepalaku, tetapi itu semua sepertinya harus ku tahan karena ia sudah disapa lagi oleh temannya. Setelah beberapa saat mereka mengobrol dengan logat yang benar-benar asing di telingaku, akhirnya mereka berpisah kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju rumah Ghea.
Aku menoleh ke atas, bintang-bintang berpendar indah di sana, menembus kabut tipis yang menyelimuti desa. Benar-benar indah dengan cara yang tak bisa kujelaskan.
Sesampainya di rumah Ghea, kami disambut oleh ibunya Ghea. Setelah perkenalan dan perbincangan singkat, aku ditinggal untuk mengobrol berdua bersama Ghea di ruang keluarga. Ia izin mengganti pakaiannya dahulu, beberapa saat, ia muncul dengan sweater longgar dan celana kain hitam panjang. Benar-benar cocok padanya. Ia kemudian duduk berjarak di depanku.
“Halus banget kan Sa?” ucapnya masih dengan dengan seringai mencurigakan itu di wajahnya. Lantai rumahnya benar-benar halus dan hangat. Aku bersandar di salah satu tiang rumahnya sambil menopang badanku dengan kedua tanganku.
“Ya, hangat juga. Pakai nih Ghe? Ubin sekolah aja kalah halus,” ucapku dengan penuh kekaguman. Kurasa, setiap ubin yang kutemui tak pernah ada yang sehalus ini.
Mendengarku menanyakan bahan pembuatan lantai rumahnya, seringainya semakin lebar. Bahkan jauh lebih lebar. Ia diam sejenak, sengaja agar menambah kesan dramatis.
“...itu bukan semen Sa, itu…tanah liat yang dicampur kotoran kerbau. Hehe.”
Dang! Seperti ada sesuatu yang menghantamku. Aku refleks terhuyung berdiri, mengamati sekitar dengan jijik. Ia masih cekikikan di bawah sana, bahkan menggodaku dengan rebahan di lantai itu. Aku mencoba diam-diam mengendus sekitar, mencari aroma atau apapun yang mencurigakan. Tetapi nihil. Setelah beberapa saat, aku memutuskan untuk duduk lagi dengan kikuk. Mulai memperhatikan tekstur lantai itu dari dekat.
“Kok aku nggak percaya ya?” ucapku setelah mengamati lantai itu dari dekat. “Terlalu… mulus. Dan… ga berbau juga.”
“Iya kan? Tapi ya itu. Kotoran kerbau,” ucapnya sambil terus menatapku. “Itu dicampur pakai kotoran kerbau karena dia bakal adem pas siang terik, terus hangat pas malam. Terus juga, dia anti nyamuk anti serangga jadinya ga perlu obat nyamuk. terus dia juga ibarat beton lah buat nguatin struktur bangunannya gitu,” jelasnya.
Malam itu seharusnya sudah cukup dengan hanya temaram cahaya dari lampu petromaks yang teronggok bisu di sudut ruangan. Seharusnya memang demikian. Tetapi entah mengapa, tanganku gatal sekali ingin mengeluarkan bohlam dari tasku kemudian menyalakannya.
Beberapa saat menimbang-nimbang, akhirnya aku nekat dan mengambil tasku yang terletak tak jauh dari situ, mengeluarkan bohlam dan power bank tenaga surya dari tasku. Setelah itu, aku menghubungkan mereka dan menyalakannya. Secepat aku menyambungkan kabel usb dari dari power bank ke bohlam itu, secepat itu juga lah cahaya menerangi seisi ruangan. Ghea yang terkejut langsung menghalau cahaya lampu itu dengan tangannya.
“Sa, silau. Matiin,” gumamnya.
Sebelum aku mematikan bohlam itu, aku sejenak melihat ke sekitar. Bayangan sempurna akan teknologi modern dipadukan dengan nuansa tradisional yang kudambakan sejak awal, berubah. Detik itulah aku menyadari bahwa, terkadang, biarlah sesuatu itu menurut pada aslinya. Tak perlu ada sesuatupun yang ditambahkan, karena sesungguhnya ia sudah sempurna apa adanya.
Akhirnya aku mencabut kabel listrik yang menghubungkan bohlam itu dengan power bank. Membiarkan suasana kembali temaram. Percakapan kami malam itu ditutup dengan kejadian tersebut. Ghea masuk ke kamarnya, sementara bapaknya Ghea memberiku kasur kapuk dan selimut, juga sebuah bantal dan guling. Beberapa waktu memejamkan mata, aku pun terlelap. Dan dengan begitu, malam pertama dan terakhit tanpa listrik pun, berhasil kulalui.
Aku dibangunkan saat matahari belum menampakkan dirinya oleh bapaknya Ghea. Ia mengajakku untuk shalat subuh berjamaah di masjid desa. Segera aku bangun dari kasur, kemudian mengikutinya ke masjid. Di jalan, aku sedikit terkejut dengan banyaknya anak-anak yang sedang bermain sambil membawa lampu petromaks buatan sendiri.
Beberapa saat melewati kumpulan anak-anak itu, kami tiba di masjid dengan atap tumpang. Secara keseluruhan, bahan yang digunakan untuk membuatnya sama saja dengan rumah-rumah penduduk pada umumnya. Hanya saja, lantainya menggunakan semen bukan tanah liat campuran. Usai melaksanakan shalat berjamaah, kami berjalan pulang. Langit sudah lumayan terang walau fajar belum menyingsing.
Di rumah, kami disuguhkan sarapan oleh ibunya Ghea. Itu merupakan sarapan yang hangat, dengan penuh canda dan cerita. Seusai sarapan, aku mengemasi barang-barangku. Saat hari menjelang siang, aku pergi meninggalkan desa dengan ditemani Ghea dan bapaknya.
Di perjalanan turun, aku sempat mengingat kata-kata dari bapaknya Ghea tentang batas-batas wilayah desa, dan bagaimana seorang pun tidak ada yang berani melanggarnya. Entah mengapa, aku bertanya-tanya. Apakah itu adalah sesuatu yang memang benar adanya atau hanya sesuatu yang seolah dipaksakan untuk dipercayai?
Perlahan desa itu tertinggal di belakang. Menghilang di antara pepohonan. Kembali menjadi suatu bagian yang tak dapat kumengerti. Aku tersenyum, mengucapkan salam terakhir kepada desa itu, kemudian pulang dengan memba
wa sesuatu. Kenangan, pengalaman, dan waktu serta pelajaran penting yang sudah ia berikan kepadaku.