Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Aksi
Telur Terakhir
0
Suka
55
Dibaca

Sungguh sakit perutku, mau cari di mana untuk kuletakkan telurku ini. Aku berlari terpogoh-pogoh, punya sayap tapi tak sanggup kukepakkan. Namun, aku segera pergi karena mesin buldozer semakin dekat. Tak jauh dari keramaian aku tiba di tempat tawar-menawar.

———

“Izin menjelaskan, ketua Siren.” Fata mondar-mandir.

“Kalau bos besar tak dapat ayam hutan untuk acara, gimana nasib kita?”

Ketua Siren hanya menggaruk-garuk tanah yang ia pijak.

“Untuk acara sakral memang butuh yang segar kalau dari ras kami, tak mungkin ketua!” Tambah Fata.

“Kalau aku aja gimana, ketua?” Ucap Giren dari belakang barisan.

Barisan kalkun berpandang ke Giren.

“Oalah Giren-giren, kaki kamu pincang aja sokk belagu!” Ledek Fata.

“Daripada kamu, punya mata dua yang satu buta!” Tegas Giren menyentuh bulu alis Fata.

Ketua Siren berdiri terpaku di tempat tanpa bergerak, lalu ia menghela napas.

“Aku pastikan, untuk ras kita tak ada yang dijadiin korban untuk acara bos besar, ingat itu!” Tegas ketua dengan mengibas-ngibaskan sayapnya.

Klukk … klukk … klukk …

———

Pundakku terkulai, sayap tebalku tak sanggup menahan panasnya terik matahari di pasar.

Sarang, temen, para sahabat karib bahkan para induk tergusur entah ke mana mereka pergi. Kini, hanya aku dan telurku yang menjadi harapan. Apakah bisa mempertahankan keturunan.

Selain bulu kian panas, telapak kaki juga. Truk-truk pengangkut berlalu-lalang, sesegera aku naik, berwarna hitam kilap dengan bak berisi box kayu, tapi kosong. Aku segera masuk ke situ, tak bisa melihat sekeliling bahkan melihat diriku pun tak bisa.

Gelap dan pengap, suara tawar-menawar mereda, diikuti badanku yang melompat karena ban truk berusaha menghindar lubang jalan rusak, tapi tak kena.

———

30 menit kemudian, mesin truk berhenti. Aku mengendap-endap.

“Gimana dapet?”

“Ternyata di pasar engga ada, pak! Maaf, kalau acara tahunan ini nggak pakai daging itu.”

Mungkin itu suara manusia dan kupikir itu manusianya ada dua, ada yang tanya ada juga yang jawab.

Aku berusaha menahan telor keluar, dengan berkokok.

Ptokk …

Aku menoleh ke kanan-kiri, sementara manusia itu tak bersuara, tapi ada suara,

Brak …

Buluku yang gelap di bagian leher dan warna merah dibagian perut serta cokelat di bagian ekor, membantuku untuk bersembunyi.

“Engga ada, pak! Mungkin itu perasaan bapak!”

“Yaudah, keluarkan box cokelatnya aja dan taruh aja di kandang belakang.”

Guncangan yang begitu kuat, tapi bukan ban yang terkena lubang, mungkin ini pijakan kaki manusia itu.

Aku membalakkan mata perjalanan yang lama dan di tempat gelap, kini terang benderang bak hutan digundul.

Aku mengendus-endus bau kotoran dan itu tak asing bagiku. Namun, dari kejauhan dan kuintip dari box hanya suara kluk … kluk … sebanyak enam ekor, aku melihati hewan itu.

Serta kulit merah yang kendor ke bawah.

Ternyata itu bukan saudaraku, tapi tak apa setidaknya aku punya tempat berlindung dan bertelur.

Dagingku terasa ringan, yang berat hanya bulu sebab dari teriknya siang, aku hanya makan pilu.

Bruk …

Box untuk kusembunyi diletakkan manusia itu, lantas mengambil tempat makan dan memberikan hidangan sore pada hewan berkoloni itu.

Berlarian dan bertabrakan, hewan dengan kepala panjang serta bulunya besar nan tebal, mereka melahap makanan.

Kluk … kluk … suara mereka silih berganti.

Kruk … Kruk … sedangkan ini dariku, bukan dari mulut tapi dari perut.

Manusia itu memindahkan tempat makan, kluk … kluk … suara hewan itu mengikuti perpindahan tempat makan.

Manusia itu mendekatiku, aku lantas menahan berkokok. Ia memindahkanku, aku memijakkan kaki di atas kayu, badanku bungkuk untuk melihat ternyata masih ada kandang berwarna hitam, bukan kayu mungkin itu besi.

Pemilik kandang pergi, tapi peliharaannya masih melahap makanan. Masih Ada enam ekor.

Kutunggu hingga para hewan itu pergi.

Niatku juga semakin bulat, lantas kulihat ke atas semoga tak ada paku ketika aku menyundul kandang sempit ini.

Brak …

Aku berhenti dan melihati di luar, ternyata hewan di luar sudah pergi.

Satu lapis kayu berhasil terbuka, buluku sebagian rontok dan aku mundur untuk mengambil ancang-ancang.

Setidaknya aku bisa makan pikirku.

Gedebak … aku keluar dan terkapar, membuka mata ternyata tak ada siapa-siapa, hanya sisa nasi di depanku.

Sebenernya, untuk bangun badanku capek. Namun, capek tetaplah capek perut kosong segera diisi, rasanya terjun di gurun Sahara begitu luas pekarangannya sejauh mata memandang.

Aku mendongak dan melihat kanan-kiri untuk berjaga-jaga agar tak ada ancaman.

Rasanya enak tak seperti makanan di hutan, hambar. Namun, yang membedakan ini ada bau obat. Entahlah mungkin ini kali yang membuat hewan dengan kaki besar itu bulu dan dagingnya tebal.

Perut udah terisi, bulu-bulu yang terkulai kini sudah berdiri dan tinggal melarutkan makanan di dalam tenggorokan. Aku masih menengok kanan-kiri, berjaga-jaga aja kalau manusia itu tetiba menyergapku dari belakang.

Entah galian manusia atau cakaran hewan. sekitar 10 langkah ke depan ada kubangan.

Aku menggeleng cepat seolah tak percaya bahwa ternyata masih ada kubangan di dalam pekarangan, kupikir hanya di jalan.

Aku mengepakkan sayap, byur … byur … seluruh polusi udara di buluku larut di dalam air. Aku menegak air sebanyak-banyaknya, cuaca cerah juga membuatku betah di kubangan ini.

Saat aku berdiri dan mengibaskan sayapku, cuaca cerah berganti hitam, kupikir itu mendung. Namun, bukan.

Kluk … kluk …

Hewan itu membuat lingkaran dan memutariku.

Kedinginan? Sudah pasti, aku mencoba beringsut perlahan seperti mencari jalan keluar namun tak kunjung kutemukan. Aku mencoba terbang bulu sayap basah kuyup, kaki yang tadinya kokoh kini lunglai.

Byur … aku tersentak mundur, salah satu dari mereka menceburkan ke kubangan.

Ia juga mengendus-endus paruhku,

“Kita udah dapet!!” Teriak hewan dengan mata yang tertutup itu.

Kluk … kluk … sontak semua kompak berbunyi sedangkan aku hanya berdiri terpaku tanpa bergerak dan menahan dingin.

“Lepaskan dia!” Suara pelan, tapi tegas. Keluar dari bayangan hitam dengan mata merah kupikir itu anjing atau kucing. Namun, tetap sama, satu ras dan satu keturunan.

“Fata, kamu keluar!” Ucap hewan yang keluar dari bayangan itu, kini hewan yang berbulu besar dan tebal menyeburkan ke kubangan.

Memegang sayap, mengendus-endus buluku, Mukaku beringsut pucat pasi.

“Kita tak perlu cari yang lain, ketua!” Ucap hewan dengan mata tertutup itu.

“Bawa dia ke atas!” Pinta hewan ini dengan tegas.

Kluk … kluk …

Ia pergi, sedangkan aku diseret tak berdaya.

Bau masam menusuk penciuman, tak ada cahaya gemerlap aku bersimpah layaknya memohon doa kepada sang pencipta. Aku dibawa di kandang serta para hewan tadi melingkari ku dan di dalam lingkaran hanya aku, meja dan ketua hewan itu.

“Dari mana kamu?” Tanya hewan itu dengan badan menjorok.

“Aku dari hutan!”

“Terus mau apa ke sini?” Ketua hewan itu menggebrak meja.

Aku meloncat kecil, “aku kesini untuk bertelur, tolong terima aku!”

Aku memohon, bahkan bersujud.

Kluk … kluk …

“Udah, dia aja ketua!”

“Diam kau, Fata!” Tegas ketua hewan itu.

“Begini, ketua Siren, gimana kalau ayam ini dijadikan umpan?” Tanya salah seekor kalkun menyela obrolan dari kerumunan sembari jalannya terpincang-pincang.

“Maksudnya?”

Para kalkun di kerumunan saling bertukar pandang.

“Setiap tahun, bos besar merayakan acaranya dengan menyembelih ayam!”

Tubuhku tak bereaksi selain merunduk mendengar obrolan mereka.

“Dan ayam yang disakralkan ayam hutan”

Aku semakin mencari pegangan untuk meredam ketakutan.

“Dan besok, acara tepat jam 8 malam, asisten bos besar pergi untuk mencari ayam hutan”

“Lalu di hadapan kalian ini,” ia memegangi sayap ku yang basah kuyup, “udah ada, ketika kita taruh dia di kandang utama, asisten bos langsung kaget dan sesegera untuk memetongnya!”

Para kalkun terdiam,

“Selanjutnya, pada momen ini, yang kita butuhkan ialah kerja sama!”

“Caranya gimana?” Tanya Fata.

“Aku dan ketua Siren berdiri di dekat tombol lampu, sedangkan kamu dan yang lain mengalihkan perhatian dengan mengepakkan sayap atau membuat berisik.”

Jelas Giren dengan menggerak-gerakkan sayap sesuai dia berbicara.

“Saat tombol lampu aku matikan, sekarang tinggal ketua Siren untuk mencakar-cakar asisten bos dan kalau bisa bunuh sekalian!”

Tambah Giren.

“Idemu bagus” Puji ketua.

“Tapi,” Fata mengangkat sayapnya, “semisal engga sesuai rencana gimana?”

Giren menunjuk perutku, “semoga bisa seusia, sebab ada nyawa yang harus diselamatkan.”

Yaudah, sekarang kalian tidur dan kita mulai rencana besok!”

Semua bubar dari kerumunan. Namun, ketua kalkun mendekatiku. “Kamu bisa istirahat di kandang sebelah, di sana ada sarang dari jerami buat jaga-jaga kalau telur kamu keluar.”

Aku yang mendengar, bersujud syukur di depannya.

———

“Ini ada sisa sarapan, kamu makan aja!” Kata Fata menaruh tempat makan.

Kupegang wadah pemberian Fata.

“Kalau boleh tau, matamu itu kenapa?”

“Kejadiannya tahun lalu, saat si bos besar frustasi karena tak dapet ayam untuk acara,” Fata mengucek matanya dengan sayap, “bos besar melampiaskannya dengan mengambil salah satu dari kami lalu mau di potong, saat aku kena pisau tetiba asisten bos membawa ayam hutan dan akhirnya aku dijatuhkan dan yaa seperti ini buta sampe sekarang!”

“Pisaunya kena mata?” Aku ternganga.

“Bahkan kena pupil.”

“Terus bos besar dan asistennya hari ini ke mana?” Tanyaku sembari mencicipi sarapan.

“Sekarang udah pergi, naik truk, kalau pulang cepat berarti udah dapet ayam dan kamu bisa selamat.” Jelas Fata dengan nada pelan.

“Kalau tidak?”

“Berdoa saja, rencana semalam bisa berjalan dengan lancar”

Aku menjatuhkan tempat makan, Fata si kalkun itu beranjak pergi.

———

Aku melihat dari kandang, bos besar menampar asistennya, lalu ia memberikan makan para kalkun.

Giren mendekatiku.

“Bersiap-siap, 30 menit lagi kami pindahkan kamu ke ruangan pemotong.”

Aku tak membalas, hanya melihat sekeliling tengah sibuk menyiapkan acara sementara ketua dan Fata entah ke mana.

Sebenernya, aku ingin telurku ini menetas dan jadi ayam hutan yang istimewa.

———

“Sekarang, kamu keluar, tapi jangan ketahuan!”

Ujar ketua kalkun.

Ia membuka kandangnya dengan sayap.

“Ruang pemotongnya ada di situ, kamu duduk di dalam kandang dan tunggu asisten bos datang.”

Bercak darah menempel di dinding, bulu-bulu berserakan di lantai, suara detik jam mengikuti langkahku dan aku siap menunggu.

Pintu terbuka.

Krek … krek …

Aku mundur, apa itu asisten bos.

“Aku stay di sini”

Ternyata itu Giren.

Di balik gelapnya ruangan, Fata dan kawannya berada di gudang penyimpanan makan.

Sementara, ketua kalkun berada di samping mesin pemotong.

Semua siap dan menunggu asisten bos memasuki ruangan pemotong.

Buluku mulai rontok satu per satu, langkah kaki sudah terdengar, Giren dan ketua kalkun menahan napas.

Asisten bos memencet tombol lampu, aku mengepakkan sayap, mata dia cerah seolah ia tak percaya bahwa aku berada di sini. Ia melompat kegirangan membuka pintu kandang dan memegangiku.

Asisten bos memindahkanku ke meja pemotong, ia kembali keluar, entah apa yang ia ambil.

“Gimana ini?” Tanyaku menghadap Giren.

“Tenang, Fata nanti mengalihkan perhatian.”

“Tapi, aneh juga, ayam hutan tiba masuk ke sini!” Ucap asisten sambil mengasah pisau.

Ia memiringkan badanku, meletakkan kepalaku di atas meja kayu.

Lampu putih menjadi bayangan pisau.

Gedebak … kluk … kluk …

Suara dari luar, asisten bos mencari sumber suara.

Aku hanya menarik napas dengan cepat asisten bos kembali masuk.

Saat pisau diangkat.

“Ini siapa, sih, yang matiin lampu?”

Asisten bos sembari meraba kantungnya.

Aku diseret oleh Giren, saat asisten membuka senter hp, ketua kalkun terbang dan menjatuhkan hp.

Tak menyerah, asisten tersebut mengambil hpnya lalu menyalakan kembali.

Aku berhasil dipegang, Giren menggigit tangan asisten, aku terpental.

Perutku begitu sakit, berasa mau buang kotoran yang begitu besar.

Asisten bos mondar-mandir dan mengambil pisau dan menyambitkan ke kanan-kiri.

Kluk … kluk …

Giren tersungkur, ketua kalkun memberikan perlawanan.

Mencakar-mencakar tangan asisten, pisau terlempar ke arahku, aku berhasil mengelak. Namun, pisau menyenggol tombol mesin pemotong.

Jring … jring …

Roda bergigi berputar, aku berdiri sempoyongan. Aku membantu membangunkan Giren. Asisten bos melempar ketua kalkun, mengambil pisau dan menyalakan tombol lampu.

Ia juga mencekik leherku dan menaikan ke atas.

Pintu masih terbuka, Fata masuk dan berhasil mematok kaki asisten, assisten

kesakitan, aku berhasil dilepaskan. Namun, aku berhasil mengeluarkan telurku jatuh di atas tumpukan jerami.

“Tidakk” teriak fata, kata terkahir yang aku dengar.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Aksi
Cerpen
Telur Terakhir
natata
Flash
Bronze
Pohon Jeruk
Afri Meldam
Flash
Sebatang Paku
Hans Wysiwyg
Flash
Bronze
Desa Naga Air
Silvarani
Flash
Bronze
A Brief History of a Cadaver
DMRamdhan
Novel
Bronze
Surga yang Meleset
Nurul Arifah
Novel
Bronze
Limerence
Kennie Re
Novel
Mengejar kesuksesan yang sesungguhnya
Sandi mulya setiawan
Flash
Fighter Kids - Give me more
Irvinia Margaretha Nauli
Flash
Reverse # 4 : Cahaya Paling Terang
Yesno S
Flash
Fajar Menyingsing Di Palestina
Vitri Dwi Mantik
Flash
Bang, Jatuh!
Rani
Cerpen
Bronze
Antara Musik dan Adik
Nurul Adiyanti
Cerpen
Bronze
Aksara dan Visual Dalam Desa
Adam Nazar Yasin
Flash
Wizard Monk
Arba Sono
Rekomendasi
Cerpen
Telur Terakhir
natata
Cerpen
Randu Menggelayut
natata
Skrip Film
Josi : Si Anak Cerdas
natata
Cerpen
Bronze
Meja Makan
natata