Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Telur Mata Sapi
0
Suka
13
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Aku tidak terlalu percaya pada orang-orang yang terlalu menarik di internet, apalagi di aplikasi kencan.

Biasanya ada yang dilebih-lebihkan. Atau sengaja dibuat aneh supaya terlihat berbeda.

Tapi akun itu berbeda.

Semua fotonya telur.

Telur rebus. Telur ceplok. Telur dengan dua kuning. Bahkan ada telur yang digambar wajah pakai spidol— senyum, sedih, marah. Satu foto menunjukkan telur mata sapi dengan alis tebal, seperti sedang menghakimi dunia.

Aku berhenti lebih lama dari yang seharusnya.

Bio-nya sederhana:

“telur mata sapi itu yang ternikmat kan? sederhana tapi membangkitkan selera makan”

Aku tidak tahu kenapa aku swipe kanan. Mungkin karena aneh. Mungkin karena jujur. Atau aku tertarik?

Kami “MATCH”

——

“Aku kira kamu fake loh! Are u?” kataku suatu malam.

“aku juga kira kamu bukan orang yang bakal swipe telur.”

Huruf kecil semua. Tanpa usaha terlihat rapi. Aneh, tapi tidak dibuat-buat.

Namanya di profil: “telur mata sapi”

Kami ngobrol beberapa hari. Lalu jadi beberapa minggu. Topiknya lompat-lompat. Dari makanan pinggir jalan, ke orang asing yang dia temui, ke cerita-cerita yang terdengar seperti setengah bohong tapi terlalu detail untuk sepenuhnya palsu.

Dia tidak pernah benar-benar menjelaskan dirinya.

Aku yang bertanya. Dia yang menjawab… seperlunya.

Sampai suatu hari dia bilang:

“aku bentar lagi pindah.”

Ke mana?

“belum tau. mungkin bali. mungkin lewat dulu.”

Lewat dulu?!

Seolah-olah kota hanyalah halte.

Aku tidak suka rasa penasaran yang menggantung terlalu lama. Jadi aku ajak dia ketemu.

——-

Kami bertemu di tempat yang biasa saja.

Dia datang tanpa terburu-buru. Jalan santai. Seolah tidak ada tempat lain yang menunggu dia.

“kamu… telur?” kataku setengah bercanda.

Dia tertawa ringan .

“kadang.”

Lebih kurus dari yang aku bayangkan. Tapi bukan kurus yang lemah. Ada energi yang sulit dijelaskan. Hangat, tapi tidak berusaha menghangatkan. Sejuk, tapi tidak menjauh. Rambutnya berantakan persis seperti yang kubayangkan dari ceritanya.

“nama kamu siapa sih sebenarnya?” tanyaku.

Dia mengangkat bahu.

“anug.”

Beberapa detik kemudian:

“atau anok. orang juga pernah manggil anuk.”

“Itu yang bener yang mana?”

Dia tersenyum kecil.

“yang gampang kamu inget aja.”

Dia mulai bercerita.

Tentang pulau kecil tanah kelahirannya. Tentang bagaimana dia berangkat dengan uang yang, menurutnya, “cukup buat niat aja.” 5000 rupiah dari pulau kecil ke pulau lain yang jaraknya ratusan kilometer. Tentang tidur di tempat yang tidak selalu bisa disebut tempat tidur. Tentang belajar bahasa Inggris dari turis yang bahkan tidak ingat namanya.

“aku dulu nggak bisa ngomong sama sekali,” katanya.

Sekarang dia bicara campur-campur. Indonesia, sedikit Inggris, kadang kata yang bahkan aku tidak yakin dari bahasa mana.

Dia menunjukkan foto-foto di ponselnya. Pantai. Jalan. Orang asing yang tersenyum ke kamera. Dan, tentu saja, telur.

“kenapa telur?” tanyaku.

Dia melihatku.

“karena enak.”

Hanya itu.

——

Malam itu adalah ulang tahunku.

Biasanya aku tidak melakukan apa-apa. Dan hampir setiap tahun, aku selalu menangis, hanya karena hal hal yang bagi orang lain terdengar remeh.

Tapi malam itu berbeda.

Aku lebih banyak tertawa daripada berpikir.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, aku pulang tanpa perasaan berat di dada.

——

Jam sebelas malam.

Sebuah lubang di jalan. Getaran singkat.

Ponselku jatuh.

Aku berhenti. Berjalan kembali. Mencari sesuatu yang mungkin sudah hilang.

Dan ternyata bukan hanya ponsel itu yang hilang.

Itu satu-satunya cara untuk menghubungi dia.

Keesokan harinya, aku mencoba mengingat.

Nama jalan. Cerita tentang rumah seseorang. Warung tempat dia sering duduk.

Semuanya tidak lengkap.

Tapi cukup untuk dicoba.

Aku menyusuri satu per satu. Bertanya ke orang yang tidak mengenalnya. Menebak-nebak dari potongan cerita.

Tidak masuk akal.

Tapi aku tetap melakukannya.

Dan entah bagaimana, aku menemukannya.

Sebuah rumah singgah. Tempat yang terasa sementara.

Dia ada di sana.

“kamu nyari aku?” katanya, tertawa kecil.

Aku ingin menjelaskan semuanya—tentang ponsel, tentang bagaimana aku mencarinya.

Tapi kalimat-kalimat itu terasa terlalu panjang untuk situasi yang dia buat tetap sederhana.

“hp aku jatuh,” kataku.

Dia mengangguk. Seolah itu sudah cukup menjelaskan semuanya.

Kami duduk lagi.

Tidak ada pembukaan ulang.

Tidak ada kelegaan yang berlebihan.

Hanya lanjut, seperti percakapan kemarin belum benar-benar selesai.

“aku besok berangkat,” katanya.

“ke mana?”

“batam dulu.”

Dulu.

Seolah itu bukan tujuan.

Dia menunjukkan tiket kapal dari Medan.

“Aku ikut gimana?” kataku, setengah bercanda.

Dia menatapku sebentar. Lalu tersenyum.

“ikut aja.”

Tidak ada bujukan. Tidak ada janji.

Hanya kemungkinan.

“di sana ngapain?” tanyaku.

Dia mengangkat bahu.

“liat nanti.”

Jawaban yang sama untuk hampir semua hal.

Tidak pasti.

Tidak jelas.

Tapi anehnya, tidak terasa kosong.

“Aku nggak punya apa-apa,” lanjutnya.

“tapi selalu cukup.”

Dia tidak melihat ke arahku saat mengatakan itu.

Seolah itu bukan sesuatu yang perlu diyakinkan ke orang lain.

Hanya sesuatu yang dia tahu.

Di titik itu, aku sadar:

Dia tidak benar-benar mengajakku pergi.

Dia hanya… membuka pintu.

Dan membiarkan aku memutuskan sendiri apakah aku cukup berani untuk melewatinya.

——

Aku tidak ikut.

Bukan karena aku tidak mau.

Aku ingin.

Tapi keinginan itu tidak cukup besar untuk mengalahkan rasa takut yang lebih rapi, lebih masuk akal, dan lebih bisa dijelaskan.

Dia tidak menahanku.

“yaudah,” katanya.

Seolah itu memang salah satu kemungkinan.

Aku tidak mengantarnya pergi.

Aku juga tidak mencari cara lain untuk tetap terhubung.

Seolah-olah, kalau aku tidak melihat dia pergi, maka semuanya belum benar-benar selesai.

Hari-hari kembali seperti biasa.

Tidak ada yang rusak.

Tapi juga tidak ada yang berubah.

Sembilan tahun adalah waktu yang aneh.

Cukup lama untuk melupakan wajah seseorang. Tapi tidak cukup lama untuk menghapus satu kemungkinan kecil yang tidak pernah terjadi.

Yang tersisa bukan lagi dia.

Yang tersisa adalah satu kalimat yang tidak pernah selesai:

kalau aku ikut waktu itu…

Dan entah kenapa, yang terus muncul justru hal kecil.

Telur mata sapi.

Di warung. Di dapur. Di menu yang tidak penting.

Awalnya hanya kebetulan.

Lalu jadi sesuatu yang aku perhatikan.

Telur itu sederhana.

Tidak butuh banyak. Bisa dibuat hampir di mana saja.

Tidak perlu rencana.

Tapi sebelum dimasak, telur itu rapuh.

Terlalu mudah pecah. Sekali jatuh, selesai.

Telur mata sapi berbeda.

Ia sudah melewati panas.

Tidak bisa kembali seperti semula. Tapi justru karena itu, ia siap.

Untuk dimakan. Untuk dibagi. Untuk jadi sesuatu yang cukup.

Aku tidak tahu apakah dia pernah memikirkan sejauh itu.

Atau aku yang terlalu lama memikirkan hal kecil.

Tapi aku ingat satu hal.

Dia tidak pernah terlihat takut pecah.

Dia juga tidak pernah terlihat ingin jadi sesuatu yang besar.

Tidak ada usaha untuk jadi luar biasa.

Hanya… cukup.

Dan mungkin itu yang paling sulit.

Bukan pergi jauh.

Tapi tahu kapan sesuatu sudah cukup, dan tidak memaksanya jadi lebih besar.

Aku masih tidak tahu bagaimana hidupnya sekarang.

Atau bahkan, siapa nama yang akhirnya dia pilih.

Tapi sesekali, di malam yang biasa saja, aku membuat telur mata sapi.

Tidak sempurna.

Kadang terlalu matang. Kadang kurang garam.

Dan di antara hal-hal kecil itu, aku mengerti sedikit.

Bukan tentang dia.

Tapi tentang pilihan yang dulu tidak aku ambil.

Bahwa mungkin, hidup bukan soal menjadi sesuatu yang tidak mudah pecah.

Atau menjadi sesuatu yang besar dan mengesankan.

Kadang,

cukup jadi sesuatu yang sederhana, yang bisa dinikmati, dan entah oleh siapa

dirindukan.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Telur Mata Sapi
Fhizqa Ayu Lestari SP
Cerpen
Bronze
Salah Jalan
Fitri Yeni Musollini
Cerpen
Bronze
Cahaya di Tengah Badai
Kinanti fujiyani
Cerpen
The Moon
Shinta Puspita Sari
Cerpen
Sekolah Orang Dalam
Putri Rafi
Cerpen
Bukan Tak Cinta
Dewi Fortuna
Cerpen
M2
La Lady Brhamara
Cerpen
Bronze
Catatan Kotor Ayah
Pipo Vernandes
Cerpen
Bronze
JALAN PULANG
Bie Farida
Cerpen
Seperti mati, hidup juga punya banyak alasan
tseasalt
Cerpen
Komedian dari Neraka Kecil Bernama Rumah
Ni Nyoman Yuliantari
Cerpen
Bau Yang Tidak Pernah Pergi
Yovinus
Cerpen
Bronze
Tipu-Tipu Media Sosial
Amalia Puspita Utami
Cerpen
Pending Apologize (Sintas Universe)
Keita Puspa
Cerpen
Bronze
Janji Manis Penguasa dan Caleg
Yovinus
Rekomendasi
Cerpen
Telur Mata Sapi
Fhizqa Ayu Lestari SP