Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Teater Raden Panji
0
Suka
991
Dibaca

Sebuah ruangan dengan lampu-lampu sorot yang dimatikan sebagian, yang diisi penuh dengan kursi-kursi berkain penutup merah, terdengar berisik saat Arum memasukinya. Orang-orang tampak berbincang, beberapa bermain ponsel, hingga suaranya tumpang-tindih.

Arum, perempuan berpasmina plisket hitam itu, segera berjalan menuju satu-satunya kursi kosong yang kebetulan tersorot lampu di bagian tengah, melewati orang-orang yang sudah lebih dulu sampai dan menduduki kursi-kursi lainnya. Tak lama setelah dia duduk, lampu-lampu pun mati. Suara semua orang melirih, lalu aula pun berangsur-angsur hening.

Beberapa detik berlalu tanpa apa-apa, hingga akhirnya, di dalam gelap itu, terdengar suara lantang tanpa pengeras suara yang membuka pertunjukan ini. Suara itu terdengar matang dan serak, dengan nada khas para pelaku seni.

“Selamat datang di Janggala-Kadiri, tempat kisah Raden Panji dan cintanya Dewi Sekartaji. Cinta tak selalu bersama, tapi rindu, akan selalu mencari cara untuk bertemu. Teater Raden Panji! Selamat menyaksikan!”

Teriakan itu disahut oleh harmoni musik gamelan yang riuh, lalu lighting-lighting di atas panggung mulai menyala, perlahan, dari redup ke terang, dan menampakkan panggung yang kosong. Pertunjukan pun dimulai.

Raden Panji adalah tokoh sastra yang terkenal di Jawa Timur, tepatnya di Sidoarjo dan Kediri yang dulunya bernama Jenggala dan Panjalu, yang sebenarnya adalah wilayah Kerajaan Medang sebelum dipisah menjadi dua oleh Airlangga untuk kedua putranya untuk menghindari perebutan tahta, meski hal itu tetap terjadi juga pada akhirnya.

Untuk menyudahi konflik itu dan menyatukan kembali kedua kerajaan, para raja menjodohkan putra dan putri mereka, yaitu Raden Panji dan Dewi Sekartaji. Raden Panji, yang dikenal dengan Mapanji I Hino Kertapati, adalah putra mahkota Kerajaan Jenggala. Sementara itu, Dewi Sekartaji, atau Dewi Galuh Candra Kirana, adalah putri bungsu dari penguasa Kerajaan Panjalu.

Akan tetapi, sebelum pernikahan sempat terjadi, Dewi Sekartaji melarikan diri karena perbuatan saudara tirinya yang iri, dan Raden Panji akhirnya berkelana untuk mencari sang putri. Bagian inilah yang merupakan titik dari berkembangnya cerita-cerita rakyatnya, mulai dari Ande-Ande Lumut, Keong Mas, Cindelaras, dan lain-lain.

Pertunjukan teater ini cukup menarik perhatian Arum sejak awal publikasinya, dan Arum tidak menyesal sudah datang.

Teater ini menceritakan kisah Raden Panji dan Dewi Sekartaji yang klasik, tetapi ajaibnya, ada sentuhan-sentuhan kisah Ande-Ande Lumut, Keong Mas, dan Cindelaras di dalamnya. Penulisannya luar biasa. Para lakon bermain dengan sangat baik. Musiknya juga benar-benar membangun suasana. Dan, lighting yang berubah-ubah sesuai adegan membuat pertunjukan itu menjadi makin sempurna.

Setelah pertunjukan itu selesai, lighting-lighting di panggung kembali mati dan semua penonton bertepuk tangan dan bersorak puas. Tak sedikit juga yang melakukannya sambil berdiri. Sesaat kemudian, lighting-lighting menyala lagi dan menampakkan semua lakon dan pemusik yang membungkuk berterima kasih. Setelah mereka menghilang di balik tirai-tirai panggung, barulah lampu-lampu yang menyorot penonton menyala.

Satu per satu, orang-orang mulai beranjak dan meninggalkan teater, sementara Arum tetap duduk manis karena tak mau terlalu berdesak-desakan. Dia lebih memilih mengambil cermin dan bercermin dulu, memastikan kalau dirinya masih cantik, dan merapikan pasmina yang sebenarnya tidak berantakan itu.

Ketika kanan-kirinya sudah mulai lengang, Arum kembali memasukkan cermin ke tas, berganti merapikan kaus hitam, outer kuning kunyit, dan celana batik hitam-putih-nya, baru kemudian berdiri dan berjalan keluar.

Di luar, masih ada banyak orang yang berkumpul dan berfoto di booth-booth yang disediakan. Beberapa lakon yang masih berkostum lengkap juga berada di booth-booth itu karena diajak berfoto. Arum jelas ingin juga berfoto meski sendirian. Namun, di tengah melihat-lihat booth, ketika dia baru saja berbalik untuk melihat booth di sisi yang lain, kaki-kakinya yang bersepatu putih itu berhenti.

Arum bergeming melihat seseorang di ujung sana, seseorang yang berdiri di tengah kerumunan itu, yang melihatnya lebih dulu.

Laksana?

Laksana, laki-laki berkulit sawo matang dan berjaket kulit itu, tampak merapatkan bibir, kemudian mulai berjalan menghampiri Arum. Arum sendiri masih bergeming dengan raut terkejut yang tak bisa disembunyikan. Dalam hati, perempuan itu merutuk dan mengaduh.

“Rum,” sapa Laksana begitu berhadapan dengan Arum.

Arum tak langsung menjawab. “Ha?”

Tak lama kemudian, mereka sudah berada di tempat yang cukup jauh dari orang-orang. Mereka duduk di kursi taman teater yang teduh karena kursi itu memiliki kanopi di atasnya. Satu gelas plastik es cokelat dengan topping dark chocolate yang masih di dalam kantong plastik ada di antara mereka, dan satu lagi yang ber-topping cream cheese ada di tangan Arum—sudah mulai teraduk dan berkurang sedikit.

“Gimana kabar kamu?” tanya Laksana.

“Baik,” jawab Arum yang langsung menyedot minumannya lagi.

Hening.

Arum melepaskan sedotannya. “Kamu..”

“Aku baik,” sahut laki-laki itu sedikit percaya diri.

“Bukan. Maksudku, kamu.. sejak kapan nonton teater?”

“Oh, itu.” Laksana tampak kikuk. “Aku ke sini bukan buat nonton teater.”

“Terus?”

“Mau temuin kamu aja.”

Arum mengangguk-angguk, lalu tiba-tiba tersadar akan sesuatu. “Bentar. Kamu tau aku di sini dari mana? Aku nggak bikin status. Aku juga nggak kasih tau Gendis sama Chandrika aku mau ke sini. Aku nggak bilang siapa-siapa,” selorohnya heboh. “Oh, tunggu. Kamu nggak stalking aku, kan?” lanjutnya serius.

Laksana tertawa kecil. “Ya nggak lah.”

“Terus?”

“Nggak penting, Rum.”

“Penting lah. Serem tau.”

“Temen aku panitia di sini.”

Arum menghela napas. “Oh, gitu.”

“Iya.”

“terus, kenapa mau temuin aku?” Arum meletakkan minumannya.

“Kita.. masih ada urusan.”

Arum mengernyit. “Urusan apa?”

“Ada.”

“Iya, apa? Kita kan udah selesai, San. Kita udah bahas semuanya. Kita udah debat-debat juga pas ngeluarin semua uneg-uneg kita masing-masing. Kita juga udah saling minta maaf. Dan, itu udah.. tiga tahun yang lalu. Ada urusan apa lagi?”

Laksana yang sejak tadi memperhatikan Arum sambil tersenyum kecil kini mengalihkan pandangan. “Iya, semua itu emang udah. Tapi, masih ada yang belum. Ada janji-janji yang belum aku tepatin ke kamu.”

“Janji?”

Arum mencoba mengingat ke belakang. Laksana adalah mantan pacarnya. Mereka hanya pacaran selama enam bulan, putus sebelum kelas 12, dan hampir tidak berinteraksi sampai lulus. Dua tahun setelahnya, mereka tak sengaja bertemu dan berakhir pada klarifikasi emosional tentang kesalahan masing-masing di masa lalu, juga saling meminta maaf dan memaafkan. Arum pikir, semua sudah selesai di pertemuan itu. Ternyata belum.

Janji apa, sih? Oh, yang pake lip balm itu?

“Ada dua,” ujar Laksana. “Pertama, aku pake lip balm kamu yang strawberry.”

“Kayaknya yang itu nggak usah kali, ya.”

“Kedua..”

Arum tampak menunggu.

“Aku temuin orangtua kamu pas udah siap.”

Perempuan itu seketika melebarkan mata. “Hah? Kapan kamu janji itu?!”

Laksana menggaruk tengkuknya. “Aku janji sama diriku sendiri.”

Arum melongo. “Kayaknya yang itu juga nggak usah, deh. Lagian harusnya semua itu udah nggak berlaku. Kan udah putus. Lagian buat apa ketemu orangtua aku sekarang?”

“Mau lamar kamu lah.”

“Aduh, yang bener aja dong, San.”

“Kenapa? Kamu udah nikah?”

“Ya belum sih.”

“Udah punya calon?”

“Belum juga.”

“Suka orang lain?”

“Lagi nggak juga sih.”

“Udah bisa move on?”

“Ih.” Arum tampak kesal, lalu berdiri. “Udah!”

“Oh ya? Masa sih?” Laksana bernada iseng.

“Ya iya lah!”

Laksana pun ikut berdiri. “Ya udah. Gimana kalo kita balikan dulu aja?”

“Apa sih, San? Nggak!”

“Kenapa?”

“Ya nggak mau aja! Lagian pacaran itu nggak boleh!”

“Dulu katanya boleh asal nggak aneh-aneh.”

“Ya itu dulu pas aku masih denial! Sekarang udah nggak!”

“Nah, makanya langsung nikah aja. Kita udah maaf-maafan kan?”

“Ya nggak gitu konsepnya! Aku belum siap nikah!”

“Kan tunangan dulu. Nikahnya bisa agak nanti.”

“Tunangan juga belum siap! Ah, udahlah!”

Arum melangkah pergi, tetapi dia sempat kembali lagi untuk mengambil es cokelat dengan cream cheese miliknya di kursi, baru kemudian melangkah lagi. Melihat itu, Laksana segera menyusul sambil membawa satu es cokelat yang tersisa. Dia mengejar tanpa berlari, hanya berjalan agak cepat sambil memanggil-manggil nama perempuan itu.

“Rum! Arum! Tunggu bentar!”

“Udah, balik aja! Nggak usah ngurusin janji-janji!” teriak Arum sambil terus berjalan cepat.

“Tapi itu penting! Rum! Tunggu!”

Arum terus melangkahkan kaki hingga sampai di area parkiran. Dia langsung menghampiri motor matic-nya yang lucu dengan helm boba berwarna pastel di salah satu spion. Di belakangnya, Laksana masih mengikuti dan kini mulai sedikit berlari. Dia tidak mau Arum naik motor dulu.

“Eh, tunggu-tunggu-tunggu,” kata Laksana begitu sampai. “Ini buat kamu aja,” lanjut laki-laki itu sembari mengulurkan kantong plastik berisi es cokelat itu.

Arum bergeming, memandangi Laksana dan es cokelat itu bergantian. Jujur, dia suka minuman-minuman seperti ini. Dia juga tidak punya kantong plastik lain untuk es cokelat miliknya. Namun, tentu saja dia gengsi. Dia tidak mau harga dirinya hanya setara dengan segelas es cokelat yang manis, dingin, dan menyegarkan. Apa kata dunia? Namun, pada akhirnya, dia meraih es cokelat itu juga.

“Makasih,” ucapnya ketus.

Laksana tersenyum gemas. “Iya.”

Setelah itu, Arum memasukkan es cokelat di tangannya ke kantong plastik, lalu menggantungkannya di gantungan motor di bawah speedometer. Sambil melirik-lirik kesal ke arah Laksana, dia pun memakai helm yang entah ada masalah apa hari ini sampai susah sekali dikaitkan. Untung saja dia berhasil sebelum tangan Laksana meraihnya, membuat Laksana tersenyum sekali lagi.

“Apa yang lucu?!”

“Nggak,” jawab laki-laki itu. “Oh, ya. Ada yang ketinggalan.”

Arum yang baru memasukkan kunci motor menoleh. “Apa?”

“Bentar.”

Laksana merogoh saku jaket bagian dalam, lalu mengeluarkan sebuah jepit ramping berbahan logam dan berwarna emas dengan permata-permata kecil dari pangkal hingga ujung.

Laksana mengulurkan jepit itu. “Ini.”

“Apa tuh?” tanya Arum tanpa menerimanya.

“Udah, bawa aja. Ya?” ujar Laksana sambil meraih tangan kanan Arum, lalu menggenggamkan jepit itu di telapak tangannya. “Nanti kalo kamu emang nggak mau make, nggak pa-pa, tapi jangan dibuang, disimpen aja. Itu jepitnya Dewi Candra Kirana.”

“Hah?”

“Lihat dulu.”

Arum memandangi jepit itu sebentar.

“Bagus, kan?”

“Iya sih, tapi..” Arum berpikir sebentar, lalu kembali mengulurkan benda itu kepada Laksana. “Nggak usah deh, San. Makasih.”

Laksana berubah ekspresi, seperti sedih. “Kenapa? Kamu kan suka koleksi jepit.”

“Iya, tapi.. buat apa? Kita udah nggak ada. Aneh aja nerima barang dari kamu.”

Mendengar itu, Laksana menahan dirinya untuk tidak langsung menjawab. Logika Arum memang kadang agak aneh. Dia tidak mau menerima jepit itu, padahal dia hanya butuh tiga detik untuk menerima dua es cokelat sebelumnya. Iya, dua, karena yang cream cheese juga dibelikan oleh Laksana. Selain itu, Laksana juga agak sedih karena Arum selalu menegaskan bahwa mereka sudah selesai.

“Ya udah, kalo gitu aku titip. Kapan-kapan aku ambil.”

Arum menghela napas frustrasi. “Aduh, Laksana. Masa dari dulu sampe nggak berubah, sih? Masih suka maksa aja? Aku nggak mau, San. Lagian aku udah punya yang mirip-mirip kayak gini.”

“Suka maksa? Nggak ah. Udah, kamu bawa aja. Limited edition itu.”

Arum berpikir lagi. Jepitnya memang bagus, jujur. “Ck. Oke deh.”

Laksana pun kembali tersenyum. “Nah, gitu dong. Ya udah, balik sana.”

“Hm,” balas perempuan itu sambil memasukkan jepit ke tas.

“Eh, tunggu.”

Arum yang sudah akan memegang stang menoleh lagi. “Apa lagi?”

“Makasihnya mana?”

“Iiih, Laksana!”

Laksana tertawa. “Iya, iya. Udah, balik sana.”

“Makasih!” ucapnya dengan sangat kesal dan agak malu.

“Iyaaa.”

Setelah itu, Arum baru benar-benar menaiki motor sambil sesekali melirik Laksana dengan wajah marah, yang sebenarnya tampak lucu bagi Laksana.

“Hati-hati,” ucap laki-laki itu yang masih hanya dibalas dengan lirikan. “Daaah,” lanjutnya saat Arum mulai menjalankan motor.

Di atas motor, Arum yang masih menjalankan motor dengan pelan sesekali melihat spion dengan ekspresi yang perlahan melunak, melihat Laksana yang masih tersenyum memandanginya di sana, sebelum akhirnya dia berbelok dan tidak melihat laki-laki itu lagi. Dia lalu melewati jalan-jalan yang memisahkan halaman-halaman di teater itu, baru kemudian benar-benar keluar dari sana.

Selama perjalanan, Arum merasa tidak menentu. Sebenarnya, tidak enak juga bersikap seperti itu kepada Laksana. Bukan soal es cokelat atau jepit, melainkan soal pembicaraan sebelum di parkiran. Akhir pembicaraan itu kurang bagus, padahal Laksana hanya ingin bicara baik-baik.

Laksana memang salah satu dari sedikit orang yang bisa mengerti dirinya. Laki-laki itu mungkin juga orang yang tepat. Namun, dia jujur, dia belum siap untuk menikah ataupun bertunangan. Hidupnya masih main-main baginya. Dia bahkan tidak punya bayangan untuk semua itu sampai detik ini.

Sambil tetap fokus ke jalanan, Arum berusaha menyingkirkan perasaan tidak enak dan overthinking itu. Semua sudah tepat. Dia memang menolak, tetapi dia juga memberi alasan yang jelas. Soal cara penyampaiannya, seharusnya Laksana bisa paham, dan sepertinya memang begitu.

Arum berhenti di kedai risoles. Dia turun, lalu memesan tiga yang isi keju dan tiga yang isi sosis. Sambil menunggu, perempuan yang kini duduk di kursi panjang itu mengambil dan memperhatikan lagi jepit pemberian Laksana—itu sungguhan bagus. Dia lalu beralih mengambil ponsel dan membuka media sosial Laksana, melihat-lihat, termasuk melihat statusnya.

Arum mengerutkan dahi melihat status itu. “Gunung?”

Status Laksana adalah foto laki-laki itu bersama sebuah Jeep di dataran mirip gunung. Arum pun langsung berpikir itu foto lama yang baru diunggah, atau setidaknya foto kemarin. Namun, entah kenapa dia merasa agak aneh dan takut, dan melihat beberapa foto setelahnya—foto pemandangan dan kumpulan orang yang estetik—membuat perasaan tidak enaknya makin kuat. Dia khawatir itu bukan foto lama, karena tidak mungkin Laksana bisa sampai di gunung mana pun dalam waktu secepat ini, secepat dia sampai di stan risoles ini.

Arum memutuskan untuk melihat lebih jauh. Dia membuka beberapa akun, postingan, status, highlight, dan apa pun itu. Dalam waktu kurang dari satu menit, dia berakhir di sebuah poster open trip Jogja dan terdiam cukup lama. Laksana memang sering menjadi fotografer open trip, tetapi masalahnya, di poster itu, tertera jelas bahwa di tanggal hari ini seharusnya mereka masih berada di sana.

Tak mau berpikir lebih jauh lagi, Arum yang sudah refleks berdiri itu cepat-cepat mencari kontak Laksana dan meneleponnya. Sekarang, dia menunggu sambil mondar-mandir.

“Halo?”

“Halo. Kamu di mana?” tanya Arum agak gemetar.

“Lagi di Jogja. Kenapa?”

Arum tertegun. “Yang bener kamu? Tadi kita baru aja ketemu. Masa udah di Jogja?”

“Hah?”

“Jangan ngerjain aku ya, San! Nggak lucu!”

“Apa sih, Arum? Ini aku di Jogja. Ada kerjaan.”

“Bohong!”

“Nggak.”

“Bohong!”

“Nggak, Arum.”

“Bohong!”

Laksana terkekeh. “Nggak, Arum. Aku nggak bohong.”

“Nggak mungkin!” seru Arum sekali lagi. “Kita tuh baru aja ketemu ya, San. Baruuu banget. Kamu temuin aku di teater. Kamu beliin aku es cokelat sama kasih aku jepit. M-maksudnya titip. Terus, foto-foto di story kamu, itu semua foto lama, kan? Nggak mungkin foto hari ini, kan? Seenggaknya itu foto kemarin!”

Terdengar suara tawa kecil lagi dari ujung telepon. “Itu foto-foto hari ini. Ini juga kita masih di sini. Mau video call aja? Mumpung belum geser.”

Hening.

“Kamu angkat, ya,” kata Laksana, sebelum mengalihkan panggilan ke panggilan video.

Masih dengan segala keterkejutan, Arum pun menurut. Dia menerima panggilan video dari Laksana, lalu melihat sendiri layar itu memampang wajah laki-laki itu dengan pemandangan hamparan tanah bebatuan yang menanjak dan beberapa orang yang duduk-duduk. Itu memang seperti pegunungan dan tampak serupa dengan foto-foto yang dia lihat tadi. Arum ingin sekali meyakini kalau yang tadi dan yang ini adalah Laksana yang sama, tetapi tidak ada satu pun alasan yang bisa dia pakai untuk itu sekarang.

“K-kalo itu bukan kamu, terus siapa dong?! Kamu punya kembaran?!”

Laksana tertawa lagi. “Ya nggak lah. Semua pasti tau kalo emang aku punya.”

“Terus?!”

“Ya nggak tau. Kamu halu kali.”

“Nggak! Orang tadi tangannya bisa megang, kok!”

“Berarti hantu nyamar.”

“Iiih! Jangan gitu dong! Nggak lucu, ya! Lagian tadi di spion kelihatan juga, kok!”

Laksana tertawa lagi. “Ya udah, tenang aja dulu. Pesenan kamu udah jadi tuh pasti. Aku matiin dulu, ya. Ini udah harus jalan lagi. Nanti kita bahas lagi.”

“Tunggu!”

“Apa, Arum?”

“Dari mana kamu tau lagi nungguin pesenan dan pesenan aku udah jadi?” tanya Arum dengan nada yang serius. Pesanannya memang sudah matang dan sedang ditiriskan sebentar. Dia baru saja melihatnya.

“Nebak aja. Orang background kamu begitu.”

Arum menoleh ke belakang—spanduk menu risoles. “Oh.”

“Ya udah aku tutup. Dah. Assalamualaikum.”

“W-waalaikumussalam.”

Tut!

Arum kembali duduk lalu bergeming, memikirkan apa yang sebenarnya terjadi ini dengan degup jantung yang lebih cepat dan sekujur tubuh yang merinding. Tidak mungkin dia salah lihat dan salah dengar separah itu. Di sisi lain, penjual risoles tengah memasukkan enam risoles Arum ke sebuah kotak kecil lalu memasukkannya lagi ke kantong plastik. Dia pun menghampiri perempuan itu, tetapi dengan mengernyitkan dahi.

“Mbak?”

“Eh.” Arum tersadar dari pikirannya.

“Ini.”

“Oh, iya. Lima belas kan, Mas?”

“Iya.”

Arum segera meletakkan jepit di kursi dan memasukkan ponsel ke tas, baru kemudian mengambil uang dan menukar uang itu dengan pesanannya. Setelah menutup ritsleting tas, dia mengambil kembali jepit itu dan kunci motor yang memang dia letakkan di kursi juga, lalu beranjak menuju motor dan menggantungkan sekotak risoles yang baru matang itu bersama es cokelat.

Saat dia sudah duduk di jok, memakai helm, dan memutar kunci, dia kembali termenung. Perempuan itu kembali memandangi jepit yang masih berada di genggamannya, sesekali melihatnya dari sisi-sisi yang berbeda. Tidak ada yang aneh dengan jepit logam ringan itu. Sekilas bahkan seperti jepit-jepit murah yang dijual di toko aksesori.

Tidak mungkin, batinnya. Dia tidak percaya kalau dia mengalami hal yang serupa dengan Gendis di masa lalu, bahkan lebih dari yang dialami Gendis. Masalahnya, Raden Panji adalah tokoh sastra, tidak benar-benar ada meski semua latarnya sangat meyakinkan. Perlahan, pikirannya mulai tidak jelas mengarah ke mana. Tidak ada penjelasan yang masuk akal, tidak ada kemungkinan, tidak ada jawaban.

Arum berkedip beberapa kali, menatap seisi kamar yang tidak pernah benar-benar rapi. Dia melihat jam dinding yang kacanya memantulkan cahaya lampu—sudah pukul delapan pagi. Melihat itu, Arum yang sejak tadi duduk manis mengumpulkan nyawa di tepi ranjang akhirnya mengikat rambut lalu berdiri.

“Hari ini..” Dia mulai berjalan menuju meja berlaci di salah satu sisi kamar. “Hari ini.. nonton Teater Raden Panji. Jam.. sepuluh. Dua jam lagi. Kenapa harus pagi-pagi, sih? Biasanya sore ke malem,” ujarnya tidak kepada siapa pun sambil mencari sesuatu. “Duh, mana sih ini jepit?”

Tak lama kemudian, Arum akhirnya menemukan jepit ramping dengan permata-permata kecil dari ujung ke ujung yang sejak tadi dia cari.

“Nah.”

Setelah menjepit poninya, Arum menuju lemari di samping meja. Dia mengambil apa yang harus diambil, termasuk kaus dan celana pendek, lalu menyampirkannya di bahu kanan. Dia lalu mengambil lagi outer berwarna kuning kunyit dan celana batik hitam-putih, lalu meletakkan dua itu di atas kasur.

“Eh, bentar.” Arum terdiam. “Kok kayak deja vu, ya?”

Hening.

“Ah, iya, deja vu.”

Setelah itu, Arum segera menarik handuk di gantungan luar, berjalan menuju pintu, membukanya, lalu keluar dari kamar. Dia langsung menuju kamar mandi, membiarkan pintu kamarnya yang bertempelkan stiker-stiker lucu itu, yang juga bertempelkan huruf-huruf berwarna-warni membentuk tulisan “Dewi Sekar Arum” itu, tertutup sendiri.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
DRAMA QUEEN
Okhie vellino erianto
Novel
THE SLICES OF HEART (Iris-Irisan Hati)
Bhina Wiriadinata
Novel
Bronze
Not Fair!
Jesslyn Nathalie
Cerpen
Teater Raden Panji
Nailu Chirzati
Novel
Gold
PBC My Brother and A Flower
Mizan Publishing
Novel
Apa itu bahagia? (Ananda Affandra Azriel)
Siti Hadijah
Novel
Kupanggil Rumah
Andini Lestari
Novel
Imperfect Family
Rosiana Quraisin
Skrip Film
Sampai Nanti, Sampai Kita Bertemu Kembali
Webi Okto Satria
Skrip Film
Psycho love
HERLIYAN BERCO
Skrip Film
Kata-Kata Kunci Dari Ayah
Ega Pratama
Flash
Love Yourself
Rahma Pangestuti
Flash
Maaf pada Bapak
Chie Kudo
Novel
Mister-ius
Zachrie
Novel
Kesempatan Kedua
Rafael Yanuar
Rekomendasi
Cerpen
Teater Raden Panji
Nailu Chirzati
Cerpen
Bronze
Kiera dan Hari Drama Sedunia
Nailu Chirzati
Cerpen
Bronze
Gadis Tulang Wangi dan Sekitarnya
Nailu Chirzati
Cerpen
Bronze
Ken Arok Gendis
Nailu Chirzati
Cerpen
Bronze
Shakira dan Magis Rasa Senang
Nailu Chirzati