Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
PROLOG: LIMA BELAS TAHUN YANG LALU
Lastri naik tangga darurat dengan napas terengah. Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Lift gedung apartemen Alamanda sudah mati sejak tadi sore, dan dia harus naik ke lantai 12 dengan kaki. Tasnya berat, penuh dengan berkas kantor yang harus diselesaikan malam ini.
Dia berhenti sejenak di lantai 7, menyeka keringat. Gedung ini tua, hampir 40 tahun. Bau apek tercium di setiap sudut. Lampu neon di dinding berkelip tidak teratur, menciptakan bayangan-bayangan yang bergerak sendiri.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Andika, pacarnya.
"Dimana kamu? Kita harus bicara."
Lastri menghela napas. Mereka sudah putus tiga hari lalu, tapi Andika tidak bisa menerima. Dia terus menelepon, mengirim pesan, bahkan datang ke kantornya. Obsesif. Menakutkan.
Dia mengabaikan pesan itu dan melanjutkan perjalanan naik.
Di lantai 10, dia mendengar langkah kaki dari atas. Cepat. Tergesa. Lastri menengadah—dan jantungnya berhenti sejenak.
Andika berdiri di landing lantai 11. Matanya merah. Tangannya memegang sesuatu yang berkilat.
Pisau.
"Andika? Apa yang kamu—"
"Kenapa kamu tinggalkan aku?!" teriaknya bergema di tangga sempit. "Kenapa?! Aku sudah kasih semuanya untukmu!"
Lastri mundur. "Andika, tenang. Kita bisa bicara—"
"BICARA?! Aku sudah capek bicara! Kalau aku tidak bisa punya kamu... tidak ada yang boleh punya kamu!"
Dia berlari menuruni tangga.
Lastri berteriak, berbalik untuk lari turun—tapi kakinya tersandung tasnya sendiri. Dia jatuh. Andika mengejarnya. Pisau itu turun.
Satu kali. Dua kali. Tiga kali.
Lastri berusaha melawan, tapi Andika lebih kuat. Pisau terus turun. Empat. Lima. Enam. Darah membasahi tangga. Tujuh. Delapan. Sembilan.
"Andika... tolong..." suara Lastri melemah.
Sepuluh. Sebelas. Dua belas.
Mata Lastri mulai redup. Tapi dia melihat sesuatu. Di atas Andika, ada bayangan. Sosok tinggi tanpa wajah. Mengamati.
Tusukan terakhir.
Tigabelas.
Andika panik melihat apa yang telah dilakukannya. Darah di tangannya. Tubuh Lastri yang tidak bergerak. Dia meraih tubuh itu dan—entah karena panik atau kegilaan—mendorongnya turun tangga.
Tubuh Lastri jatuh berguling. Turun. Terus turun. Melewati lantai 9, 8, 7... terus turun melewati lantai-lantai yang seharusnya tidak ada.
Andika berlari turun, mencoba menyusul. Tapi setiap landing yang dia lewati... jumlah anak tangganya bertambah. 12. Lalu 13. Lalu 14.
Dia terus turun, turun, turun—sampai akhirnya dia sampai di basement. Tapi Lastri tidak ada di sana.
Jasadnya ditemukan tiga hari kemudian. Di basement. Dengan 13 luka tusuk. Polisi menyimpulkan bunuh diri, karena Andika punya alibi yang kuat—dia berada di luar kota malam itu, dengan puluhan saksi.
Tapi Andika tahu kebenaran...