Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Aku pikir, aku tidak akan pernah menginjakkan kaki ke ruangan ini. Ruangan luas dengan kursi berjejer menghadap satu meja panjang yang letaknya lebih tinggi. Meski luas, entah kenapa aku merasakan sebaliknya. Sesak.
Aku berjalan ke depan didampingi pengacara. Kemudian duduk di satu kursi yang memang disediakan khusus untukku.
Keringat dingin mulai terasa menusuk sampai ke tulang. Aku melirik pelan pada seseorang di seberang tempat dudukku. Dia terlihat tenang, menatap penuh percaya diri pada orang-orang di depan yang mengenakan seragam berwarna hitam. Entah bagaimana perasaan yang sesungguhnya, dia memang pintar berakting.
Ataukah ... dia merasa menang hari ini? Sehingga tatapan yang diberikan padaku terkesan congkak.
Aku tersenyum getir, sebelum akhirnya mendengarkan serangkaian pasal-pasal yang dibacakan oleh orang berseragam itu.
Kepalaku berdenyut saat mendengar palu diketuk. Aku resmi menjadi duda hari ini.
Aku dan perempuan itu berjabat tangan, selanjutnya kami meninggalkan ruangan itu, menuju perjalanan yang berbeda.
.
Jadi, definisi jodoh itu apa?
Kenapa ada orang yang sudah menjalin rumah tangga selama 15 tahun, tiba-tiba meninggalkan keluarganya dengan alasan ... tidak berjodoh.
Sungguh, aku tidak mengerti dengan konsep ini. Sudah bolak-balik aku pikirkan, tetapi tak juga kutemukan jawabannya.
Semula rumah tangga kami baik-baik saja. Kami saling mendukung satu sama lain. Namun, istriku berubah suatu hari, tepatnya setelah ibu mertuaku meninggal.
Istriku menggunakan alasan 'masih berduka' untuk menetap lebih lama di kota kelahirannya. Sementara aku dan kedua anakku sudah pulang terlebih dahulu ke Jakarta. Karena ada projek yang harus aku kerjakan, Alea dan Kai juga harus kembali bersekolah.
Saat dia kembali, dia menjadi lebih sibuk dari biasanya.
"Sayang, maaf, ya, aku sibuk terus. Soalnya waktu pameran tinggal satu bulan lagi. Aku harus mengecek galeri setiap hari. Memastikan pameran pertamaku ini berjalan sempurna," kata Erin, sembari mengecup bibirku singkat.
Aku mengerti kesibukan istriku itu. Aku juga tidak ingin mengganggu Erin perihal pekerjaannya. Aku membiarkan ia fokus pada pameran itu, aku juga mulai sering lembur untuk membahas film yang akan PH kami garap.
Suatu hari saat Erin sudah berangkat ke galeri, seorang kurir mengantarkan paket atas nama dia.
"Jangan dibanting, Pak. Ini isinya hp."
Hp? Bukankah istriku membawa benda pipih itu tadi? Ataukah dia membeli ponsel baru?
Berbagai pertanyaan mampir di kepala. Aku tidak bisa menahan rasa penasaranku, akhirnya aku membuka paket itu.
Bukan hp baru dengan kecanggihan nomor satu, tetapi hp keluaran lama, yang sudah usang di beberapa bagian.
Jujur, aku berdebar sekarang. Aku berharap isi ponsel ini tidak sama dengan apa yang aku pikirkan. Meski kenyataannya ... iya, prasangkaku benar.
Pop notifikasi memperlihatkan sms-sms yang baru tiba setelah ponsel diaktifkan.
'Beb, aku serius dengan perkataanku.'
'Kamu jangan ngambek dong. Aku janji bakal nyusul kamu ke sana. See you soon, Beb.'
'Kenapa gak dibales? Kamu masih marah soal di hotel itu?'
'Beb, ayo bertemu. Aku sudah di Jakarta sekarang.'
Oh Tuhan ....
Aku meremas tangan, mencoba menenangkan debar di dada yang semakin mengencang.
Rasanya tak kuat aku meneruskan melihat isi sms tersebut. Tubuhku layu, nyaris ambruk jika saja tidak berpegangan pada sandaran kursi kayu itu.
Ah, sudah sejauh itukah hubungan mereka? Hotel, percakapan-percakapan itu seperti obrolan orang yang sedang dimabuk kasmaran.
Aku tidak terlalu penasaran dengan siapa Erin berselingkuh. Aku hanya ingin tahu, alasan apa yang membuat dia berpaling dariku.
Apakah semua fasilitas yang aku berikan tidak cukup? Ataukah dia merasa aku tak bisa lagi memuaskan hasrat seksualnya? Atau ... apa?
Isi kepalaku riuh oleh terkaan itu.
"Tega sekali kamu, Er." Aku menggumam, hatiku bagai diiris-iris sekarang.
Deru mesin mobil memasuki area rumah kami, saat kulirik, Erin datang dengan tergopoh-gopoh. Langkahnya terhenti saat melihat paket miliknya sudah bertelanjang di atas meja. Ponsel jadul itu teronggok kesepian sekarang.
Aku menyesap tembakau lebih dalam saat netra kami bertemu.
Erin seolah bersiap diadili sekarang. Dia duduk di kursi kayu persis di depanku.
"Apa alasannya, Er?" Pertanyaan pertama lolos dari mulutku.
Perempuan yang kala itu mengenakan jas berwarna abu-abu, menggelengkan kepala, ragu.
"Sudah sejauh mana perselingkuhan kalian?" tanyaku, kali kedua.
Kutatap Erin tajam, mencoba mencari jawaban dari bola mata hitam itu. Namun, aku hanya melihat air mata yang bersiap ditumpahkan.
Sial.
"Saya tidak bisa lagi memuaskanmu? Saya tidak memberikan sesuatu yang kamu inginkan? Kamu kekurangan materi, atau kasih sayang, atau apa?"
Erin masih membisu. Aku kira dia tidak punya jawaban untuk pertanyaanku. Karena, aku sudah melakukan yang terbaik selama 15 tahun ini. Aku sudah menjadi suami sempurna yang membuat semua orang iri.
"Kita akhiri saja sekarang, Nif."
Mataku memicing ke arahnya, perempuan yang sudah menemaniku belasan tahun itu, tak lagi memohon untuk dimaafkan seperti kali pertama ia ketahuan berselingkuh. Dia lebih kuat sekarang.
"Apa itu yang kamu inginkan?" desahku.
Erin mengangguk mantap. Sekarang ia fokus menyingkirkan air mata menyedihkan itu, lantas menatapku lekat.
"Mungkin sebenarnya ... kita tidak berjodoh, Nif," ujar Erin lagi.
"Apa maksudmu?"
"Saya merasa ... selama 15 tahun ini, saya tidak bahagia, Nif. Saya selalu memohon agar Tuhan mau membukakan hati saya untuk kamu, tetapi nihil. Bahkan sampai 15 tahun kita menikah, saya tidak mencintai kamu, Nif."
Perkataan Erin bak bom besar yang meluluh lantahkan pertahananku. Ah, sulit sekali menerima fakta ini.
"Mungkin kita harus berhenti disini, Hanif. Saya dan kamu tidak ditakdirkan untuk bersama," lanjut Erin, enteng.
"Bagaimana mungkin kamu tidak mencintai saya, Er. Kita ... sudah mempunyai dua anak lho. Jangan naif." Aku terkekeh sinis.
Erin menggoyangkan bahuku, matanya seolah mengunci kesadaranku.
"Saya tidak bahagia, Nif. Saya terkurung di dalam pernikahan ini selama 15 tahun. Kamu tahu kenapa saya masih mempertahankan, padahal sebenarnya saya sudah muak? Itu karena ibu saya. Beliau dan ibu kamu sepakat menjodohkan kita. Saya tidak berani membantah, meski perasaan saya tidak pernah ada buat kamu."
Ah, harus kuakui kalau perempuan yang berdiri persis di depanku itu pandai berakting. Selama 15 tahun tidak mencintaiku, katanya. Hahaha.
Bagaimana mungkin?
Dia selalu menyediakan apapun yang aku dan anak-anak butuhkan. Selalu tersenyum dan mengangguk kala aku memberi sesuatu yang padahal tidak disukainya. Selalu menurut kala aku tidak melibatkannya dalam mengambil keputusan.
Kenapa ia yang tampak bahagia dan penurut, tiba-tiba mengambil keputusan besar yang membuat napasku terasa sesak.
Apakah dia mau dilibatkan? Apakah ia benci tidak pernah aku ajak kompromi? Apakah ia tidak suka saat aku mengaturnya. Mengatur apapun di kehidupannya. Aku bahkan mengatur apa yang ia kenakan, furniture dan gaya rumah kami, semua aku putuskan sendiri, tanpa komunikasi.
Apakah karena itu?
Kekalutanku semakin menjadi-jadi tatkala melihat seseorang yang sudah lama tidak aku temuin, tiba-tiba datang. Dia mantan kekasih Erin semasa kuliah, mereka putus setelah orang tua kami sepakat menjodohkanku dan Erin.
Ditto namanya, dulu dia anak band. Sekarang pun dia masih bergelut dengan dunia musik.
Lelaki berambut gondrong itu duduk di tengah-tengah aku dan Erin. Dia menatapku dengan pandangan kasihan.
"Cihhhhh ... dasar selingkuhan tidak tahu malu." Aku bermonolog dalam hati.
Kata pertama yang keluar dari mulutku adalah, "Ba-jingan kau!" Aku mengumpat pada Ditto.
Lantas Ditto menyeringai geli mendengar perkataanku. Sementara Erin menundukkan kepala dalam-dalam. Mungkin ia sedang berpikir dan mempertimbangkan keputusan bercerai denganku.
Tentu dengan berbagai fasilitas yang ia terima, Erin akan menyesal mengakhiri pernikahan kami. Membayangkan ia akan membatalkan keputusannya, membuatku tertawa renyah.
Namun, Erin bangkit dan masuk ke rumah. Kurang lebih lima menit, ia kembali mendorong dua koper besar berwarna biru yang biasa ia bawa saat kami travelling ke luar negeri.
"Ditto, terima kasih sudah membantu saya."
"Sama-sama, Er. Jangan sungkan, kamu bisa telpon saya kapan saja jika kamu butuh bantuan. Kamu juga harus terus minum obat yang psikiater resepkan, ya. Semangat untuk kesembuhan mentalmu, Er."
Aku mengepalkan tangan melihat mereka yang terus mengabaikanku. Punggung keduanya mendekati mobil di halaman, mereka bersiap pergi.
Satu orang lagi mencuat dari dalam mobil. Seorang perempuan dengan gincu menyala, dia melambaikan tangan padaku, lantas tertawa melihatku yang termangu kesepian. Kutahu, dia adalah istri Ditto, Amira namanya.
Mereka semua pergi. Rumah mendadak sunyi. Badanku mendadak dingin, sekarang aku sadar ... aku tidak bisa hidup tanpa istriku, Erina Salim.
Aku menyesal telah menyia-nyiakannya.