Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Pagi ini, entah mengapa aku masih mengenakan seragam sekolah saat bangun tidur. Karena hanya memiliki satu seragam, mau tidak mau aku harus mengenakannya kembali dan bersiap-siap pergi menimba ilmu. Namun, perasaan aneh menyelimuti jiwaku. Perlahan, perasaan aneh itu berubah menjadi sebuah ketakutan yang besar. Ketakukan yang mulai menelan jiwa dan pikiranku. Bahkan, untuk sekedar bergerak memulai hari aku takut. Tubuhku seolah-olah membeku kaku. Ketakutan itu secara membabi buta memakan perasaanku hingga rasanya aku ingin mengeluarkan isi perut lewat mulutku. Aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Aku menyerah.
Aku segera meluncur ke toilet dengan tergesa-gesa. Namun, sensasi mual di perutku perlahan mereda saat kutatap wajahku di cermin yang tergantung di dinding kamar mandi. Bagiku, raut itu ... buruk. Kulitnya kusam. Bibirnya pucat dan sedikit lebam di ujungnya. Ada banyak titik-titik kemerahan yang meradang di sekitar pipi, dagu, dan kening. Sungguh, sangat tidak enak dipandang.
Tatapanku beralih pada seragam yang kukenakan. Aku menghela napas berat yang sedari tadi menyiksaku. Warnanya bukan lagi putih, tapi hampir kekuningan dengan titik-titik hitam di sekitar kerahnya. Jahitan di ujung lengan mulai rusak sehingga benang-benangnya menyembul tak teratur. Tidak hanya itu, rok yang kukenakan jauh dari kata layak. Warnanya pudar, ada beberapa tambalan di ujung-ujungnya, dan kancingnya sedikit renggang. Lalu, sepatuku. Warnanya tidak agi hitam, tapi kusam keabu-abuan. Menyedihkan sekali, sudahlah tidak rupawan, tidak pula bergelimang harta.
Aku mulai sadar, ketakutan setiap hari yang terus hadir berasal dari sini. Dari keadaanku yang menyedihkan ini. Aku takut datang ke sekolah karena mereka selalu merundungku. Iya, mereka, gadis-gadis kaya itu. Kudengar dari kelima gadis kaya itu, mereka merundungku karena aku jelek, miskin, penerima beasiswa, dan ibuku buta. Tidak hanya itu, ibuku juga menderita skizofrenia. Ilusi, delusi, dan halusinasi sudah menjadi kegiatan sehari-harinya. Sementara ayahku, beliau meninggalkan kami sejak aku berusia tiga tahun. Aku bahkan tidak begitu mengingat bagaimana wajahnya. Yang kutahu di depan namanya ada gelar alm. Itu pernah kubaca di halaman paling depan rapotku.
Aku sangat sadar. Aku memang miskin, tapi apa pantas orang miskin dan anak yatim sepertiku diperlakukan semena-mena dan tidak manusiawi seperti itu? Di mana letak hati nurani mereka? Bahkan, memanusiakan manusia saja mereka tidak bisa. Atau jangan-jangan mereka kebanyakan dinafkahi pakai uang haram oleh orang tuanya? Ah, sialan. Pantas saja adabnya lebih rendah dari binatang.
Terkadang, aku merasa Tuhan itu tidak pernah adil kepadaku. Mengapa aku harus terjebak di dunia yang kejam ini? Mengapa aku harus menjalani hidup yang pahit seperti ini? Mengapa gadis-gadis kaya itu selalu merundungku dengan kejam? Sungguh, aku sudah tidak sanggup lagi. Rasanya aku ingin mati saja. Bayangkan, kelima gadis kaya itu selalu memanggilku dengan sebutan "anak orang gila" dan tak jarang mereka juga menyebutku "yatim". Mereka pernah bilang, jika tua nanti aku pasti akan sakit jiwa juga seperti ibuku. Ya, aku pernah tahu dari artikel, salah satu penyebab skizofrenia itu karena faktor genetika. Namun, bukan berarti aku akan mengalaminya juga, kan?
Setiap hari aku harus berjuang mengumpulkan keberanian untuk pergi ke tempat yang sejujurnya lebih pantas di sebut neraka daripada sekolah. Karena di sana, bukan hanya kekerasan verbal saja yang kudapat, mereka juga melakukan kekerasan fisik.
Mereka membakar peralatan sekolahku, menarik rambutku, meludahi wajahku, dan menampar pipiku. Yang paling keji, mereka pernah menumpahkan bekal makan siang yang kubuat sendiri. Mereka lalu memaksaku makan sisa bekal yang sudah berserakan di lantai langsung dengan mulutku dan merekamnya. Mereka mengancam akan menyebarkan video rekaman itu jika aku melawan.
Mengingat itu semua, napasku terasa berat, hatiku remuk, jiwaku hancur lebur. Air mata yang sedari tadi bersembunyi di balik kelopak mataku mulai luruh. Aku terisak pilu. Tak ada seorang pun yang berani menolongku. Semua siswa tak acuh. Namun, ada satu orang yang diam-diam peduli padaku. Namanya Cecilia. Ia pernah memberiku buku tulis baru saat peralatan sekolahku dibakar oleh kelima gadis kaya itu. Cecilia juga bercerita kalau kelima gadis kaya itu pernah merundungnya hanya karena dirinya indigo.
Aku pernah mencoba mencari keadilan dengan melaporkan mereka kepada pihak sekolah. Namun, hasilnya nihil. Mereka hanya diberikan peringatan saja tanpa konsekuensi yang membuat jera. Ah, sudahlah, tiba-tiba kepalaku sakit mengingat itu semua.
Sekarang, rasa dendam mulai menguasai hati dan jiwaku. Sebuah seruan agar aku membalas dendam mulai menggema di kepalaku. Aku pun tergoda untuk melakukannya. Hari ini, jika mereka merundungku lagi, aku bersumpah akan membuat perhitungan dengan mereka.
Tanpa pamit dengan ibu, aku meninggalkan rumah reot ini dan bergegas ke sekolah. Dari kejauhan aku melihat Cookie, anjing poodle milik tetangga yang selalu kuajak bicara. Namun, saat melihatku, Cookie selalu menyalak. Ia seperti ketakutan, padahal tidak biasanya Cookie seperti itu.
Setelah 20 menit berjalan kaki, akhirnya aku sampai di gerbang sekolah. Namun, tidak seperti biasanya, suasana sekolah benar-benar mencekam. Aku melihat sebagian siswa berlarian menuju halaman belakang sekolah dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan. Aku penasaran. Apa yang telah terjadi? Kebetulan, dua meter di depanku ada Cecilia berjalan sambil menunduk. Aku pun menghampirinya.
"Cecil. Ada apa denganmu? Kenapa menangis? Apa mereka itu merundungmu juga?"
Cecilia bergerak mundur dan membelalak saat melihatku.
"K-Kau ... kenapa kau ada di sini, Gaby! Kenapa kau melakukannya!"
"Apa maksudmu, Cecil? Memangnya aku melakukan apa?"
"Sadarlah bahwa kau..." jawabnya lirih seraya menghapus air mata, "lebih baik kau lihat saja apa yang sudah terjadi di pohon beringin belakang sekolah."
Tanpa babibu aku langsung ke belakang sekolah. Seribu tanya terus menguasai otakku. Ada apa sebenarnya? Apa gadis-gadis kaya itu berbuat ulah lagi? Tapi, kenapa Cecil sepertinya marah padaku? Apa mereka sengaja merusak hubungan pertemananku dengan Cecilia? Jemariku mengepal erat. Kalau memang gadis-gadis itu penyebabnya, aku akan menghabisi mereka satu per satu. Tidak peduli, apapun konsekuensinya.
Tanpa sengaja aku berpapasan dengan kelima gadis perundung itu. Wajah mereka pucat pasi. Aku reflek menghindar sedikit ke pinggir koridor saat mereka hampir menabrakku. Namun, ada yang aneh. Mereka mengabaikanku. Aku heran, ada apa sebenarnya?
Aku semakin yakin ada yang tidak beres. Setengah berlari aku melanjutkan langkahku. Saat tiba di halaman belakang sekolah, seketika tubuhku lemas. Napasku tercekat di tenggorokan hingga rasa sakit dan sesak mendominasi tubuhku. Otot kakiku melemah, tak mampu menopang tubuhku lagi hingga lututku terjatuh di tanah. Tangisku pun pecah tatkala kutatap jasadku menggantung di atas pohon beringin dengan seragam lusuh itu.