Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Self Improvement
Takhta yang Mulia
0
Suka
1
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

1.Terminal Kampung Rambutan – Basecamp Lawu via Cetho 

Aku bertanya kepada kalian: Pernahkah kalian mengandung banyak orang dalam satu tubuh? Jika iya, berapa kali kalian telah bersenggama? Ah, perdebatan ini tidak ada usainya. Lebih baik aku meninggalkan Terminal Kampung Rambutan, juga orang-orang berotak hutan yang hanya peduli soal memvalidasi dirinya sebagai “orang yang paling berantakan”. Kemana? Ke hutan. 

Dengan residu dari banyak orang yang telah kukandung, juga dengan beban berat yang akan kugendong, aku melolong. Membalas ocehan dan penghakiman dari orang-orang yang mengaku beriman tampaknya cukup dengan menjadi anjing. Ya, itukan mau kalian? Membuatku menjadi si paling anjing di antara tuan-tuan yang hanya sibuk mendesah tanpa pernah memberi makan. 

Perjalanan ku tempuh dengan menaiki sinar bermerek “Bus Jaya”, dimulai sejak jam menunjukkan waktu setengah lima sore. Apa yang kalian harapkan? Kecelakaan? Ah, anjing ini susah mati. Buktinya, jam sembilan malam, aku sibuk menggali nasi di halaman Indramayu dengan tubuh yang tampak baik-baik saja. Kalian tahu, aku masih mengandung! Selalu ada tempat untuk makan malam, tapi tidak ada tempat untuk mendengar hal-hal baik yang keluar dari si paling berantakan. 

Sinar kembali membawaku berjalan dalam perasaan kenyang. Entah karena makan malam atau karena aku masih mengandung? Peduli setan. Aku memilih tidur sambil mendengarkan playlist yang menurut pandangan kalian merupakan lagu-lagu rendahan. AC yang dingin membuat tai kuku-ku membeku dan mataku terlelap. Lelah juga menjadi anjing yang mengandung seharian. 

Pakde Jowo membangunkan para penumpang, juga anjing yang mengandung karena sinar telah mencapai tujuan: Matesih. Baru saja turun, anjing yang sibuk ini sudah dipaksa berjalan lagi. Kali ini aku harus naik bus yang suara knalpotnya mirip orang sembahyang, merdu sekali. Aku juga memuji kedekatan kalian kepada Tuhan loh, ya! Makanya suara knalpot mesin diesel terdengar seperti lantunan-lantunan suci yang biasa kalian bunyikan. 

Berhenti sebentar di minimarket. Anjing mengandung ini bertemu dengan kucing khas Matesih. Bukannya kami tidak ingin bertengkar, tapi ia tidak paham bahasaku–pun sebaliknya. Aku dipanggil, “Hei,” nengok. Kalau kucing khas Matesih harus dipanggil, “Kulo nuwun oyen.” Mana aku ngerti, kan? Ya sudah, lepas bercengkerama tanpa saling mengerti bahasa, aku masuk untuk berbelanja saja. 

Bus bersuara orang sembahyang kembali berdengung di telingaku. Mengantarkan ke tempat-tempat yang lebih tinggi, dekat dengan dewa-dewa: Basecamp Cetho. Waktu menunjukkan pukul lima pagi, terus ngapain tidur lagi? Anjing mengandung memilih ngopi sambil menyambut matahari. Itu kan sembahyang yang kalian maksud? Kalau bukan, ya maap. 

2.Basecamp Lawu via Cetho – Pos 1 Mbak Branti. 

Coba kalian pikirkan, masa iya tega melihat anjing mengandung harus menggendong tas yang menggelembung? Mana jalannya menanjak walau masih perlahan. Ya sudah, harus berbuat apalagi? Toh memang harus sampai ke puncak untuk melahirkan. Katanya Tuhan lebih dekat di sana, mungkin saja dia mau bantu proses bersalin. Daripada ke dokter? Harus keluar kocek, ditanya ini itu, dipegang anunya. Ogah!  

Perjalanan dimulai dengan menaiki beberapa anak tangga. Sempat ingin pulang, tapi masa iya gagal lagi? Sudah empat kali mengucapkan salam. Bahkan, katanya lebih dari tiga kali aja ga boleh, ya? Tapi kan anjing mengandung ini tetap ingin menjadi tamu. Boleh, ya? Boleh, ya? Boleh, ya? “Yaudah boleh.” Itu kata mas-mas penjaga pos registrasi loh, ya. 

Naik-naik ke puncak gunung, sejam baru sampai pos satu. Bulu-bulu anjing mengandung ini tampaknya belum terlalu basah. Ya sudah, istirahat sebentar saja. Namun, bayi-bayi di kandungan ini sudah mulai berontak. Apakah bersiap kontraksi? Nanti dulu lah. Tas ini masih buncit oleh beban, haram hukumnya jika rahim ini menyerah dan cuci gudang sekarang. Puncak adalah altar persalinan tunggal; lahir di sini hanya akan membuat bayi-bayi anjing mati kedinginan sebagai sampah hutan. 

3.Pos 1 Mbah Branti – Pos 2 Brakseng 

Lanjut berjalan dari pos satu dalam kondisi kontraksi menengah-hebat. Empat kaki ini (maklum, anjing) masih bisa berlari ria di tanjakan yang mulai terjal. Tanpa terkendali, jalanan macet banget oleh tuan-tuan manja yang memilih beristirahat dan parkir serampangan. Ya sudah, salib sana, salib sini, berhasil lolos. Sakit dikit sih, tapi gapapa. 

Udara dingin menusuk tulang dan perasaan, anjay. Nggak mungkin buat istirahat lebih dari satu menit. Jalan lagi dan lagi sambil menghisap alat meditasi kontemporer. Habislah 5-6 batang. Untung saja masih sempat membeli cadangan sesaat setelah bercengkerama dengan kucing khas Matesih. Tanpa rasa khawatir, hisap dan hisap. Akhhh, hangatnya sampai ke rahim. 

Usai berjalan sejam lebih dikit, sampai juga di Pos Dua Brakseng. Jalanannya? Masih oke lah untuk ukuran anjing yang mengandung sambil membawa tas yang menggelembung. Minusnya kontraksi makin ketat. Aku harus tahan, puncak sudah semakin dekat. Kalau keburu melahirkan, yang ada nanti turun lagi, gagal lagi, di-anjing-anjingi lagi. 

4.Pos 2 Brakseng – Pos 3 Cemoro Dowo 

Setelah puas mendengarkan kicau mania dari burung-burung yang pamer suara, aku kembali berjalan dengan beban lebih ringan. Sebab, waktu memberikanku waktu untuk menghabiskan waktu dengan makan siang. Tas yang menggelembung semakin berkurang kegelembungannya, walau tidak dengan tubuh yang masih mengandung– justru makin kontraksi! 

Kata tuan-tuan penakluk ketinggian semalam (yang baru turun), “Dekat, kok!” Halah, ngayal! Biar kata aku anjing, aku masih paham arti dari kemunafikan. Salah saja, pos berikutnya jauh sekali. Mana jalanannya seperti iman dan takwa: naik, naik, eh naik banget (katanya). Waduh, kandungan ini semakin menunjukkan anarkisme, tapi aku harus bersabar mempertahankannya. 

Sudah sejam lebih, tatkala siang semakin terang, tatkala matahari semakin menyinari. Bulu-bulu mulai lepek, tapi batang hidung si Cemoro Dowo belum juga terlihat. Masih ada satu belokan dan satu tanjakan. Eh, ternyata di ujung sana terlihat ada plang, “Sugeng rawuh para badjingan di Pos 3 Cemoro Dowo.” Yey, ada mata air pula. Lekas saja aku membasuh wajah. Anjing harus kelihatan segar juga! 

5.Pos 3 Cemoro Dowo – Pos 4 Penggik 

Apa-apaan ini? Jalanan kok seperti arena gangsing. Pohon-pohon pun ikut mengedan melihat anjing mengandung dengan tas menggelembung berjalan sambil merenung. Ingat, merenung di sini bukan karena sedang sembahyang, tapi emang kecapekan. Jangan disamakan loh, ya! Ga boleh, penistaan. 

Kandunganku mulai berbicara sompral, “Astaga!” “Aduh!” Pokoknya, semua bahasa kasar keluar semua. Kata mas-mas penjaga pos registrasi sih harusnya nggak boleh bicara kasar, nanti hilang. Loh, bukannya memang aku ingin menghilangkan kandungan? Gapapa kan, berarti? Nggak tahu lah, guk, guk, guk! 

Aku mengucapkan kalimat-kalimat suci dan menenangkan sesaat setelah sampai pos empat. Rasa lelah plus mengedan hebat benar-benar membuat rasa ingin bertaubat. Semoga diterima deh. Juga Kandunganku di dalam tubuh mulai membakar ban dan memukuli polisi. Kan tanggung, ya? Sedikit lagi pos lima, tempat rumah ibadahku didirikan dan beristirahat semalaman. 

6.Pos 4 Penggik – Pos 5 Bulak Peperangan 

Walau aku dan Lawu sudah benar-benar berusaha mengedan, tapi kandungan ini sudah mulai melempari molotov. Untungnya, dengan segala ketegasan dan keteguhan iman, aku si anjing mengandung tetap bisa menenangkan mereka, walau hanya terlihat di luar. Ya sudah, dalam mode bertahan ini, aku menekan tombol auto pilot agar empat kaki ini tetap dapat berjalan naik, walau tanpa terkontrol. 

Langit semakin sore, waktu semakin pelit. Akan tetapi, pemandangan yang mulai bersih dari pepohonan yang mengedan justru memperindah suasana. Tak bisa kupungkiri, sabana Lawu indah sekali. Akhhh, sekali lagi aku memuji-Nya. Semoga saja tidak dianggap sebagai kemunafikan oleh sang Maha Baper. Ayo-ayo, sedikit lagi, guk, guk, guk! 

Anjay, matahari terbenam saat aku menemukan lahan yang cocok untuk membuat rumah ibadah. Langsung saja kudirikan, mumpung belum ada yang punya. Pikirku, selain harus gencatan senjata dengan kandungan, aku berburu dengan waktu. Jaga-jaga kalau ada tuan-tuan beriman yang berdemo di tanah yang kudirikan, tanah yang dijanjikan. By the way, aneh yaa dengarnya? Bulak tempat peperangan justru menjadi arena gencatan senjata dengan kandungan yang sudah mulai meng-anjing-anjingi tubuhku sendiri. Bukan karena diriku semakin sempit, tapi kandungan yang semakin membesar.  

7.Pos 5 Bulak Peperangan – Gupakan Menjangan – Pasar Dieng – Hargo Dalem – Hargo Dumilah 

Maaf, ya, tuan-tuan, bukannya si anjing mengandung ini ingin mempersingkat cerita perjalanan yang super asyik ini. Akan tetapi, fokus utama saya adalah berlomba dengan kalian dalam memperebutkan takhta Yang Mulia. Maklum, saya butuh eksklusivitas agar Tuhan mau membantu proses persalinan tanpa terdistraksi dan terintimidasi. Oh, iya, saya memulai perjalanan ini di waktu pagi masih gelap. Pagi ini, bahkan bintang-bintang ikut mengedan melihat saya mendaki. 

Anjing mengandung ini tidak lagi peduli pada pos-pos singkat tempat beristirahat sementara. Selain karena takut kedinginan, saya juga takut melahirkan di tengah jalan. Matahari semakin berani menjendol di atap-atap cakrawala, kali ini ia ikut mengedan juga. Sayangnya, matahari muncul terlalu cepat sebelum anjing mengandung sampai di puncak (Hargo Dalem). Ya sudah, daripada mengucapkan kata-kata najis nan jorok, saya memutuskan untuk menikmati sunrise di tengah jalan. 

Hingga sampailah saya di puncak utama, tempat orang-orang kuat bersemayam. Persalinan juga berjalan lancar dengan penuh gelak tawa. Sebuah keintiman yang indah antara hamba (anjing juga hamba loh, ya) dengan Tuhannya. Kandungan pun dikeluarkan. Kalau kamu tanya di mana mereka sekarang? Aku bilang saja, “Cari sana di puncak Lawu.” Wong aku juga nggak tahu, habis melahirkan mereka langsung menghilang, mungkin karena ngomong jorok waktu saya paksa mengedan. Soal takhta Yang Mulia? Ga jadi aku ambil alih, soalnya di atas, tuan-tuan kuat itu masih mengantre, takut diajak bergelut. 

Oh, iya, jangan panggil aku "anjing mengandung" lagi, ya! Kalau panggil “anjing” saja sih gapapa. Soalnya lagi kosong lagi sebelum dirudapaksa lagi.... Ingin aku mengandung lagi? Calling saja. 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Self Improvement
Cerpen
Takhta yang Mulia
Achmad Afifuddin
Novel
Anak Perempuan yang Tak Pernah Dirayakan
Tya Fitria
Cerpen
[The Other Me] Rahasia Lintang
Pejandtan
Flash
Bronze
Larik Takdir
Y. N. Wiranda
Novel
Bronze
Yang Terpilih
Kemala88
Cerpen
Kisah Simsim yang Pemarah
Lia
Novel
Rahasia Lintang
Pejandtan
Cerpen
Saya Telah Difitnah
Syauqi Sumbawi
Flash
Jejak Luka, Titik Cinta
Hans Wysiwyg
Cerpen
Dari Lelah Menuju Lega
Penulis N
Flash
Topografi Luka
Wulan Kashi
Flash
Bunga terakhir
Aris Setiawan
Cerpen
Between Fear and Fury
Val
Flash
Hidup Setelah Mati
Ika nurpitasari
Flash
Noises Inside My Head
Steffi Adelin
Rekomendasi
Cerpen
Takhta yang Mulia
Achmad Afifuddin
Novel
Bronze
Jangan Lekas Pulih, Ingatan-Ingatan Itu
Achmad Afifuddin
Cerpen
Panjang Umur Manusia-Manusia Gagal
Achmad Afifuddin
Cerpen
Anu-Anu
Achmad Afifuddin
Cerpen
Nada Terakhir Sebelum Subuh
Achmad Afifuddin
Cerpen
Toko Buku Kelahiran
Achmad Afifuddin
Skrip Film
Sebelum Keberadaan
Achmad Afifuddin
Cerpen
Bronze
Taman Kanak-Kanak
Achmad Afifuddin
Skrip Film
Kembali ke Bangku Taman
Achmad Afifuddin