Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Takdir di Bangku Sebelah
Sore itu, taman bermain Alun-Alun kota dipenuhi oleh riuh rendah suara anak-anak. Di antara perosotan berwarna jingga yang mulai memudar warnanya dan ayunan besi yang berderit pelan, takdir sedang merajut sebuah cerita kecil.
Irfan Putra Nugraha, seorang anak laki-laki berkaus biru dengan rambut sedikit ikal, sedang sibuk membangun istana pasir di area bermain bawah. Ibunya duduk tidak jauh dari sana, sesekali melambaikan tangan sambil memegang botol air minum. Irfan kesulitan membuat menara istananya berdiri tegak; pasir yang terlalu kering selalu runtuh setiap kali ia mencoba membentuknya.
"Pakai air sedikit, Biar lengket," sebuah suara cempreng terdengar dari sampingnya.
Irfan menoleh. Seorang anak laki-laki lain seusianya, mengenakan topi hitam terbalik, sedang berjongkok sambil menyodorkan sebuah ember plastik kecil berisi air.
"Eh? Iya juga ya. Makasih!" seru Irfan gembira.
Kedua anak kelas 4 SD itu pun langsung larut dalam kesibukan baru. Tanpa ada rasa canggung yang biasa dimiliki orang dewasa, mereka langsung akrab dalam hitungan menit. Mereka berlari menuju perosotan, saling kejar-kejaran, dan tertawa lepas seolah sudah berteman bertahun-tahun. Orang tua mereka yang mengawasi dari kejauhan hanya bisa tersenyum, sesekali saling mengangguk sopan sebagai sesama orang tua yang sedang menemani anak bermain.
Setelah lelah berlari ke sana kemari, keduanya duduk di bangku taman yang teduh di bawah pohon beringin. napas mereka satu-satu, tetapi senyum tidak lepas dari wajah mereka.
"Aku bawa bekal roti cokelat. Mau?" tanya anak bertopi hitam itu sambil membuka kotak makannya.
"Mau banget! Aku punya keripik singkong buatan Ibu, ini tukeran," balas Irfan riang.
Mereka pun makan bersama dengan lahap, berbagi cerita-cerita konyol tentang guru di sekolah masing-masing tanpa beban.
"Eh, nama lengkap kamu siapa? Aku Irfan Putra Nugraha. Sekolah di SD Negeri 2 Leuwiherang," ucap Irfan sambil membersihkan sisa cokelat di sudut bibirnya.
"Keren namamu. Kalau aku Kamal Ardiansyah, sekolahnya di SD Negeri 1 Sukapura," jawab Kamal bangga.
Mereka tidak bertukar alamat rumah, tidak bertanya siapa nama orang tua masing-masing, atau berasal dari desa mana. Bagi anak-anak seusia mereka, nama lengkap dan nama sekolah sudah lebih dari cukup untuk menjadi identitas sebuah pertemanan yang jujur.
"Kamal, ayo pulang! Sudah mau magrib!" lambaian tangan seorang wanita dari dekat gerbang taman mengakhiri keseruan sore itu.
"Ah, ibuku sudah panggil. Aku pulang duluan ya, Irfan!" Kamal bangkit, menepuk sisa pasir di celananya, lalu berlari menjauh.
"Dah, Kamal!" Irfan melambaikan tangan setinggi-tinggi mungkin.
Sore itu pun berakhir. Sebuah pertemuan singkat yang tak disengaja, tanpa jejak untuk saling menghubungi kembali. Perlahan, memori tentang sore penuh tawa di taman bermain itu terkikis oleh waktu, tertumpuk oleh tugas-tugas sekolah, ujian kelulusan, dan hiruk-pikuk persiapan beranjak remaja.
Tiga tahun telah berlalu.
Suasana lapangan sebuah SMP Negeri terasa begitu terik dan ramai. Hari ini adalah hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) atau yang biasa disebut ospek. Ratusan siswa baru berpakaian putih-biru berkumpul dengan wajah tegang, cemas, sekaligus penasaran.
Di tengah barisan yang padat, Irfan yang kini tubuhnya sudah lebih tinggi sedang sibuk membetulkan tali sepatunya yang longgar. Saat ia menegakkan tubuh, pandangannya tidak sengaja berbenturan dengan seorang anak laki-laki di barisan seberang. Anak itu sedang menatap ke arahnya juga.
Ada kilatan familier di mata mereka berdua. Mereka sempat saling menatap selama beberapa detik. Irfan mengerutkan kening, merasa pernah melihat wajah itu, tetapi otaknya gagal memanggil memori spesifik. Di seberang sana, anak itu juga tampak kebingungan, lalu memalingkan wajah saat mentor OSIS mulai berteriak menggunakan pengeras suara. Mereka sama-sama tidak ngeh. Waktu tiga tahun telah mengubah banyak hal pada fisik mereka yang beranjak remaja.
Setelah upacara pembukaan selesai, saat yang paling mendebarkan pun tiba: pengumuman pembagian kelas. Seorang guru membacakan deretan nama dengan mikrofon.
"Kelas VII-B... Irfan Putra Nugraha..."
Irfan mengembuskan napas lega. Akhirnya ia tahu ke mana harus berjalan. Namun, sesaat sebelum ia keluar dari barisan lapangan, ia mendengar nama lain dibacakan untuk kelas yang sama.
"...dan Kamal Ardiansyah."
Langkah Irfan terhenti sejenak. Kamal Ardiansyah? Otaknya langsung berputar cepat. Nama itu memicu sebuah memori lama yang terkunci rapat. Bayangan tentang perosotan jingga, ember plastik berisi air, roti cokelat, dan... SD Negeri 1 Sukapura!
"Astaga..." bisik Irfan lirih. Ia langsung mengedarkan pandangan ke sekeliling lapangan yang mulai bubar, mencari sosok anak laki-laki yang sempat saling menatap dengannya tadi. Namun, kerumunan siswa yang bergerak membuat pandangannya terhalang.
Sebelum menuju kelas VII-B, perut Irfan tiba-tiba terasa mulas karena gugup. Ia memutuskan untuk berlari ke toilet terlebih dahulu untuk membasuh wajah dan menenangkan hatinya.
Akibat jeda ke toilet tersebut, Irfan menjadi murid paling terakhir yang tiba di koridor kelas VII-B. Ketika ia melangkah masuk ke dalam ruang kelas, suasana sudah sangat ramai. Semua murid sudah duduk berpasangan, mengobrol dengan teman sebangku baru mereka. Guru kelas belum masuk, tetapi ruangan itu terasa begitu penuh.
Irfan berdiri di depan pintu, memandangi seisi kelas dengan canggung. Ia menyisir pandangannya ke setiap sudut ruangan, mencari tempat yang tersisa. Nihil. Semua bangku dari baris depan hingga belakang sudah terisi penuh.
Hingga akhirnya, matanya tertuju pada satu-satunya bangku kosong yang tersisa. Bangku itu terletak di barisan ketiga dekat jendela. Dan jantung Irfan mendadak berdegup dua kali lebih cepat saat melihat siapa yang duduk di sebelah bangku kosong tersebut.
Anak laki-laki bertopi hitam yang dulu menawarinya air di istana pasir. Kini tanpa topi, dengan seragam SMP yang tampak masih kaku, anak itu sedang menatap ke arah pintu masuk dengan mata terbelalak.
Kamal juga sedang menatapnya.
Ternyata, saat nama mereka berdua dibacakan berurutan di lapangan tadi, Kamal juga langsung mengingat memori tiga tahun lalu. Sejak masuk ke kelas, Kamal sengaja mengosongkan bangku di sebelahnya, berharap bahwa tebakannya tidak salah.
Irfan melangkah perlahan menyusuri celah di antara meja-meja. Langkahnya terasa berat namun penuh keyakinan. Seluruh pasang mata di kelas memperhatikannya, tetapi fokus Irfan hanya tertuju pada satu orang.
Ia berhenti tepat di samping meja kosong itu. Untuk beberapa saat, kedua remaja itu hanya saling pandang dalam diam. Keheningan yang aneh tercipta di antara mereka berdua di tengah ramainya ruang kelas.
"Bangku ini... ada orangnya?" tanya Irfan, suaranya sedikit bergetar, mencoba menahan emosi yang tiba-tiba membuncah.
Kamal menelan ludah, sebuah senyuman perlahan terbit di wajahnya, mata anak itu tampak berkaca-kaca menahan rasa tidak percaya yang luar biasa.
"Nggak ada kok. Bangku ini sengaja dikosongkan... buat anak dari SD Negeri 2 Leuwiherang," jawab Kamal dengan nada berseloroh, namun matanya memancarkan rasa haru yang mendalam.
Mendengar jawaban itu, pertahanan Irfan runtuh. Senyum lebar langsung merekah di wajahnya bersamaan dengan setitik air mata haru yang hampir jatuh di sudut matanya. Ia segera menarik kursi dan duduk di sebelah Kamal.
"Lama nggak ketemu, Kamal Ardiansyah," bisik Irfan sambil menjulurkan tangannya.
Kamal menyambut jabat tangan itu dengan erat, menjabatnya dengan penuh kehangatan sebuah persahabatan yang pernah tertunda. "Lama banget, Irfan Putra Nugraha. Kali ini, kita nggak bakal kehilangan jejak lagi."
Di ruang kelas VII-B yang riuh itu, dua sahabat yang sempat dipisahkan oleh waktu dan jarak, akhirnya dipertemukan kembali oleh takdir dengan cara yang paling indah: sebagai teman sebangku yang siap menghadapi dunia remaja bersama-sama.
BERSAMBUNG KE BAGIAN 2
Ezra Jo