Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Malam merayap pelan di desa, seperti kain hitam yang dibentangkan Tuhan tanpa satu pun jahitan bintang. Tak ada deru kendaraan, tak ada lampu kota yang memanjakan mata. Sunyi terasa kental, seolah udara pun enggan bergerak.
Dua cangkir kopi mengepulkan uapnya di tanganku. Aroma pahitnya menyelinap masuk ke hidung, bercampur bau tanah basah yang baru saja disiram embun.
Dengan hati-hati, kubawa ke teras depan—perjamuan sederhana untuk kakakku, yang baru pulang dari kota.
“Kopi, Mas,”
kataku, meletakkan cangkir di hadapannya.
"Oh, iya,"
jawabnya, masih sibuk membelai layar ponsel, seolah dunia yang sesungguhnya ada di sana, bukan di hadapannya.
“Gimana keluarga, Mas? Sehat semua?”
tanyaku.
“Alhamdulillah, baik,”
jawabnya, cepat, seperti menutup babak percakapan yang dianggapnya tidak penting.
Lalu gantian ia bertanya,
“Kalau keluargamu gimana, Le?”
“Alhamdulillah, baik juga, Mas.”
Aku tersenyum tipis.
“Mas mau nginep seminggu di sini, kan?”
tanyaku, setengah bercanda.
“Paling cuma sebentar. Ini cuma mampir, soalnya masih ada tugas kunjungan,”
katanya, seperti orang yang sudah terbiasa berpindah-pindah tanpa pernah benar-benar singgah.
“Wah, sibuk sekali sekarang, ya. Enak, ya, jadi pegawai negeri. Jalan-jalan terus,”
godaku.
Ia terkekeh.
“Jalan-jalan? Kerja ini.”
Kakakku lalu menatapku sekilas, matanya seperti hendak mengulurkan undangan yang sudah berkali-kali ia tawarkan.
“Dulu kan aku sudah bilang, ikut mas ke kota. Biar nggak gini-gini aja hidupmu. Lihat Mas-mu ini—mobil ada, rumah ada, kerja mapan. Kurang enak apa coba?”
Aku hanya cengengesan, menelan komentar seperti menelan air kopi panas: pelan-pelan, agar tidak terasa perihnya.
“Enaknya apa hidup di desa? Rumahmu masih begitu-begitu saja. Nggak kasihan sama anak istrimu?”
“Sudah terlanjur betah, Mas. Sekalian jagain Bapak sama Ibuk. Kasihan sudah tua.”
“Alah, itu alasan aja. Kapan majunya kalau kayak gitu?”
Obrolan pun mengalir seperti sungai yang bercabang: kadang tenang, kadang deras dengan nada tinggi.
Ada petuah yang dibungkus sindiran, ada nasihat yang terasa seperti penilaian. Aku menanggapinya dengan tawa, bukan karena setuju, tapi karena tawa sering kali lebih aman daripada membantah.
Di sela percakapan, aku menatap wajahnya. Guratan di pelipisnya belum ada saat ia dulu menggendongku.
Suaranya sekarang lebih berat, tapi nadanya memarahiku, masih sama seperti dulu.
Aku tahu, mungkin baginya aku hanya adik yang tak mau maju. Lelaki yang rela hidup seadanya, di rumah semampunya, dan dengan rezeki secukupnya.
Ya, aku juga ingin seperti dia—punya mobil, rumah, dan gengsi. Tapi ada sesuatu yang menahanku. Sesuatu yang lebih berat dari emas, dan lebih keras dari batu: keinginanku menjaga Bapak dan Ibuk sampai akhir napas mereka.
Bagi kakakku, itu mungkin alasan yang terdengar seperti kelakar. Baginya, membahagiakan orang tua adalah soal memberi harta. Tak salah juga. Hanya saja, jalan yang kami tempuh tak pernah sama arahnya.
Aku sudah lama berhenti melawan ucapannya. Sesombong apa pun nadanya, sekeras apa pun bentakannya, sekejam apa pun sindirannya—aku tak akan pernah bisa membencinya.
Karena sebelum menjadi lelaki berjas itu, ia adalah kakakku yang pernah menepuk punggungku saat aku menangis, yang pernah mendekapku saat aku ketakutan, yang pernah membisikkan mimpi-mimpi besar di telingaku saat aku ingin terlelap.
Aku menatapnya, dan untuk sesaat, kulihat kami masih anak-anak—berlari di pematang sawah, menertawakan hal-hal kecil, tanpa tahu bahwa kelak jarak kita akan lebih lebar daripada sawah yang memisahkan desa dari kota.
Malam semakin menua. Uap kopi kami sudah hilang. Dan tawaku, entah bagaimana, masih cukup kuat menutup kecewa.
Mungkin selamanya akan begitu. Karena takdir dari rahim yang sama tak pernah bisa benar-benar putus—hanya berliku, kadang menyakitkan, tapi tetap mengalir di darah yang sama.
*****
Epilog
Di ujung setiap percakapan yang pahit, akan selalu ada ingatan manis yang muncul tanpa diundang. Dan di balik setiap kalimat yang terdengar seperti tuduhan, ada rasa sayang yang mungkin terlalu malu untuk menampakkan diri.
Hubungan saudara memang aneh—kadang lebih keras dari ombak, kadang lebih tenang dari kolam. Kita bisa saling melukai dengan kata-kata, tapi tetap saja, bila salah satu tenggelam, yang lain akan terjun tanpa pikir panjang.
Hidup akan membawa kita ke jalan yang berbeda. Ada yang memilih gedung tinggi, ada yang memilih langit luas di atas sawah. Ada yang memeluk kota, ada yang bertahan di desa.
Namun, satu hal yang tak pernah berubah: kita berasal dari rahim yang sama, dari rumah yang sama, dari tangan yang sama, yang dulu menuntun langkah pertama kita.
Maka, ketika suara saudaramu terdengar seperti badai, ingatlah, dulu ia pernah menjadi payung yang melindungimu dari hujan.
Ketika tatapannya menusuk seperti pisau, ingatlah, dulu ia yang pertama kali menatapmu dengan bangga saat kau berhasil berdiri sendiri. Dan ketika kata-katanya terasa seperti menolakmu, ingatlah, di masa kecil kalian pernah saling mencari hanya untuk duduk berdampingan.
Tak semua kasih sayang datang dengan bahasa lembut. Kadang ia datang dalam bentuk teguran, sindiran, atau tawa yang menutup rasa peduli.
Tetapi darah yang sama tidak mengenal kata “bekas”. Ikatan itu tak bisa diputus oleh jarak, waktu, atau perbedaan pilihan hidup.
Jadi, sekeras apa pun kalian hari ini, jangan biarkan amarah lebih lama tinggal daripada kenangan indah kalian.
Karena kelak, saat rambut memutih dan tangan mulai gemetar, yang ingin kita genggam bukanlah piala keberhasilan atau harta dunia—melainkan tangan yang dulu pernah menggenggam kita di masa kecil.