Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Takdir Dari Rahim
1
Suka
51
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Malam merayap pelan di desa, seperti kain hitam yang dibentangkan Tuhan tanpa satu pun jahitan bintang. Tak ada deru kendaraan, tak ada lampu kota yang memanjakan mata. Sunyi terasa kental, seolah udara pun enggan bergerak.

Dua cangkir kopi mengepulkan uapnya di tanganku. Aroma pahitnya menyelinap masuk ke hidung, bercampur bau tanah basah yang baru saja disiram embun.

Dengan hati-hati, kubawa ke teras depan—perjamuan sederhana untuk kakakku, yang baru pulang dari kota.

“Kopi, Mas,”

kataku, meletakkan cangkir di hadapannya.

"Oh, iya,"

jawabnya, masih sibuk membelai layar ponsel, seolah dunia yang sesungguhnya ada di sana, bukan di hadapannya.

“Gimana keluarga, Mas? Sehat semua?”

tanyaku.

“Alhamdulillah, baik,”

jawabnya, cepat, seperti menutup babak percakapan yang dianggapnya tidak penting.

 Lalu gantian ia bertanya,

 “Kalau keluargamu gimana, Le?”

“Alhamdulillah, baik juga, Mas.”

Aku tersenyum tipis. 

“Mas mau nginep seminggu di sini, kan?”

tanyaku, setengah bercanda.

“Paling cuma sebentar. Ini cuma mampir, soalnya masih ada tugas kunjungan,” 

katanya, seperti orang yang sudah terbiasa berpindah-pindah tanpa pernah benar-benar singgah.

“Wah, sibuk sekali sekarang, ya. Enak, ya, jadi pegawai negeri. Jalan-jalan terus,”

 godaku.

Ia terkekeh. 

“Jalan-jalan? Kerja ini.”

Kakakku lalu menatapku sekilas, matanya seperti hendak mengulurkan undangan yang sudah berkali-kali ia tawarkan.

 “Dulu kan aku sudah bilang, ikut mas ke kota. Biar nggak gini-gini aja hidupmu. Lihat Mas-mu ini—mobil ada, rumah ada, kerja mapan. Kurang enak apa coba?”

Aku hanya cengengesan, menelan komentar seperti menelan air kopi panas: pelan-pelan, agar tidak terasa perihnya.

“Enaknya apa hidup di desa? Rumahmu masih begitu-begitu saja. Nggak kasihan sama anak istrimu?”

“Sudah terlanjur betah, Mas. Sekalian jagain Bapak sama Ibuk. Kasihan sudah tua.”

“Alah, itu alasan aja. Kapan majunya kalau kayak gitu?”

Obrolan pun mengalir seperti sungai yang bercabang: kadang tenang, kadang deras dengan nada tinggi.

Ada petuah yang dibungkus sindiran, ada nasihat yang terasa seperti penilaian. Aku menanggapinya dengan tawa, bukan karena setuju, tapi karena tawa sering kali lebih aman daripada membantah.

Di sela percakapan, aku menatap wajahnya. Guratan di pelipisnya belum ada saat ia dulu menggendongku.

Suaranya sekarang lebih berat, tapi nadanya memarahiku, masih sama seperti dulu.

Aku tahu, mungkin baginya aku hanya adik yang tak mau maju. Lelaki yang rela hidup seadanya, di rumah semampunya, dan dengan rezeki secukupnya.

Ya, aku juga ingin seperti dia—punya mobil, rumah, dan gengsi. Tapi ada sesuatu yang menahanku. Sesuatu yang lebih berat dari emas, dan lebih keras dari batu: keinginanku menjaga Bapak dan Ibuk sampai akhir napas mereka.

Bagi kakakku, itu mungkin alasan yang terdengar seperti kelakar. Baginya, membahagiakan orang tua adalah soal memberi harta. Tak salah juga. Hanya saja, jalan yang kami tempuh tak pernah sama arahnya.

Aku sudah lama berhenti melawan ucapannya. Sesombong apa pun nadanya, sekeras apa pun bentakannya, sekejam apa pun sindirannya—aku tak akan pernah bisa membencinya. 

Karena sebelum menjadi lelaki berjas itu, ia adalah kakakku yang pernah menepuk punggungku saat aku menangis, yang pernah mendekapku saat aku ketakutan, yang pernah membisikkan mimpi-mimpi besar di telingaku saat aku ingin terlelap.

Aku menatapnya, dan untuk sesaat, kulihat kami masih anak-anak—berlari di pematang sawah, menertawakan hal-hal kecil, tanpa tahu bahwa kelak jarak kita akan lebih lebar daripada sawah yang memisahkan desa dari kota.

Malam semakin menua. Uap kopi kami sudah hilang. Dan tawaku, entah bagaimana, masih cukup kuat menutup kecewa.

Mungkin selamanya akan begitu. Karena takdir dari rahim yang sama tak pernah bisa benar-benar putus—hanya berliku, kadang menyakitkan, tapi tetap mengalir di darah yang sama.

*****

Epilog

Di ujung setiap percakapan yang pahit, akan selalu ada ingatan manis yang muncul tanpa diundang. Dan di balik setiap kalimat yang terdengar seperti tuduhan, ada rasa sayang yang mungkin terlalu malu untuk menampakkan diri. 

Hubungan saudara memang aneh—kadang lebih keras dari ombak, kadang lebih tenang dari kolam. Kita bisa saling melukai dengan kata-kata, tapi tetap saja, bila salah satu tenggelam, yang lain akan terjun tanpa pikir panjang.

Hidup akan membawa kita ke jalan yang berbeda. Ada yang memilih gedung tinggi, ada yang memilih langit luas di atas sawah. Ada yang memeluk kota, ada yang bertahan di desa. 

Namun, satu hal yang tak pernah berubah: kita berasal dari rahim yang sama, dari rumah yang sama, dari tangan yang sama, yang dulu menuntun langkah pertama kita.

Maka, ketika suara saudaramu terdengar seperti badai, ingatlah, dulu ia pernah menjadi payung yang melindungimu dari hujan. 

Ketika tatapannya menusuk seperti pisau, ingatlah, dulu ia yang pertama kali menatapmu dengan bangga saat kau berhasil berdiri sendiri. Dan ketika kata-katanya terasa seperti menolakmu, ingatlah, di masa kecil kalian pernah saling mencari hanya untuk duduk berdampingan.

Tak semua kasih sayang datang dengan bahasa lembut. Kadang ia datang dalam bentuk teguran, sindiran, atau tawa yang menutup rasa peduli.

Tetapi darah yang sama tidak mengenal kata “bekas”. Ikatan itu tak bisa diputus oleh jarak, waktu, atau perbedaan pilihan hidup.

Jadi, sekeras apa pun kalian hari ini, jangan biarkan amarah lebih lama tinggal daripada kenangan indah kalian.

Karena kelak, saat rambut memutih dan tangan mulai gemetar, yang ingin kita genggam bukanlah piala keberhasilan atau harta dunia—melainkan tangan yang dulu pernah menggenggam kita di masa kecil.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
CRIMINAL MIND WORLD OF INVESTIGATORS
Author Ghost
Novel
Bronze
BERTUALANG DI PESANTREN
Nun Urnoto
Novel
Perjalanan Ke Neraka
Pebriyatna Atmadja
Novel
Bronze
Laron Jakarta
Muram Batu
Flash
Surat Penggemar
Pamella Paramitha
Cerpen
Bronze
IBU PARASIT
Sia Bernadette
Cerpen
Takdir Dari Rahim
Temu Sunyi
Skrip Film
Kita yang Terbuang dan Hilang
Onet Adithia Rizlan
Skrip Film
The Power Of My Fam(ily)
rahmatunisa fadilla
Skrip Film
A Better Day
Arum Gandasari NK
Cerpen
Bronze
Penulis Cilik
Kiara Hanifa Anindya
Novel
Buatmu Jatuh Cinta
finiL.P
Novel
The Royals
Berthy Adiningsih
Novel
Embun Diandra
Indach Fauzian
Novel
Hua Yin sheng ping
Flower
Rekomendasi
Cerpen
Takdir Dari Rahim
Temu Sunyi
Cerpen
Tangan Kasar Pendidik
Temu Sunyi
Cerpen
Pundak Tanpa Usia
Temu Sunyi
Novel
Bronze
Keanggunan Dipeluk Takdir
Temu Sunyi
Novel
Bronze
Anak Diujung Pelukan
Temu Sunyi
Novel
Tubuhku Tak Salah, Tapi Dunia Menghakimi
Temu Sunyi
Cerpen
Kopi Peradaban
Temu Sunyi
Cerpen
Sabda Tuan Tanah
Temu Sunyi
Cerpen
Negeri Pemurah Sosial
Temu Sunyi
Novel
Bronze
Sajak Kelam Para Terbuang
Temu Sunyi
Novel
Bronze
Bersalah Sebelum Bernapas
Temu Sunyi
Novel
Bronze
Denting Pilu Yang Berbisik
Temu Sunyi
Novel
Bronze
Kenangan Yang Terbenam
Temu Sunyi
Novel
Bronze
Air Mata Yang Diharamkan
Temu Sunyi
Novel
Bronze
Pelita Luka Menanti Senja
Temu Sunyi