Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Aksi
Tak Bisa Kumaafkan Diriku
1
Suka
321
Dibaca

Lalu lalang kendaraan di jalan raya adalah kehidupan kota. Mesin-mesin beradu deru raungnya. Udara sejuk Kota Malang dengan segera berganti, tersisih oleh uap sisa pembakaran minyak bumi. Kesejukan berganti panas tanpa mengampuni waktu yang mencoba menyembuhkan.

Hidup di tempat lain mungkin bisa menjadi pilihan tepat, atau setidak-tidaknya, berkunjung ke rumah saudara di luar kota sana. Aku telah begitu penat untuk menikmati kehidupan dengan kebisingan dan kemacetan.

Pagi menjelang siang, kuajak istriku pergi ke Kepanjen. Di sana, ada rumah saudara, sepupu kami. Sudah lama kami tidak ke sana untuk melihat pertumbuhan keponakan perempuan yang lahir dan menjadi kebanggaan keluarga. Sudah lama sekali sepupuku ini menunggu kehadiran buah hatinya.

Kehidupan yang dinanti-nanti, di belahan bumi lain ada kematian yang tak diinginkan. Butuh waktu 9 tahun di usia pernikahan sebelum akhirnya sang buah hati datang menyapa lewat tangisnya yang keras. Tangis yang disambut oleh tangis orang tua juga. Sedangkan kami sendiri, sudah ada tiga buah hati. Anak-anak yang cantik dan ganteng. Semuanya balita yang imut dan aku paling sulit memandikan serta mengganti popok.

Anak kami berusia 1 tahun dan 4,5 tahun. Si kakak, paling awal muncul di dunia ini, adalah lelaki yang paling tidak suka makan dengan rasa pedas. Kedua adiknya lahir bersama-sama. Istriku menahan kuatnya rasa sakit saat melahirkan mereka berdua. Semuanya perempuan. Kembar. Kami sangat menyayangi mereka.

Dan, barang tentu saja mereka tidak tahu, bahkan tidak merasakan kepenatan yang aku rasakan. Pekerjaan berdagang tak pernah habisnya. Semua barang harus terjual dalam pikiranku. Harus kujual, kujual, kujual. Kutunggu keuntungan datang, dan jangan pernah pergi. Sialnya, pikiran seperti itu tidak membuat hidupku menjadi tenang. Sebaliknya, kehidupan hanya merasa desakan. Ketergesa-gesaan. Selalu merasa ada yang mengejar dari belakang.

Bayang-bayang semu kesejahteraan menyelimuti alam sadar. Ada anak dan istri yang harus mendapatkan waktu. Mungkin itulah sebabnya kepenatan ini aku sendiri yang merasakan. Terlalu banyak menghabiskan waktu untuk mencari uang. Waktunya mencari jalan keluar!

“Aku mau ke Kepanjen, lama tidak ke rumah Anton,” seruku mengajak istri yang tengah asyik mendulang si kembar di meja makan.

“Ada angin apa tiba-tiba ingin ke Kepanjen? Biasanya pergi sendirian saja keluar rumah?” timpalnya.

“Terlalu jenuh hidup dengan kebisingan ini. Entah rumah kita yang dekat dengan jalan raya, atau karena pikiranku tak bisa rehat dari semangatnya mencari uang. Aku merasa perlu istirahat sejenak dari kepenatan ini. Jalan-jalan ke Kepanjen barangkali bisa mengobati,” kataku.

“Aku selesaikan dulu mendulang si kembar. Anak-anak diajak juga, kan?” jawabnya setuju dengan ajakanku.

“Tentu!” secepat kilat aku menjawab.

Aku duduk di samping istriku sambil melihat si kembar makan. Seperti anak burung dalam sangkarnya yang tidak bisa terbang, mulutnya langsung terbuka ketika sendok disodorkan. Istriku pintar, dua anak pintar itu harus dipisah kalau makan. Jika saja tidak dipisah, maka pertarungan seperti anak burung di dalam sangkar yang berebut makanan akan terjadi.

Si kembar tampak cantik dan ceria seperti saat ini. Namun kalau tengah malam, mereka menjadi alarm alam. Tangisnya keras dan aku tidak tahu apa yang mereka inginkan dalam tangisan. Semakin kuresapi tangisan mereka, semakin takut diriku tidak bisa tidur. Bagiku, senagat menakutkan tidak bisa tidur semalaman, sementara besok pagi berangkat kerja.

Yang seperti itu membuatku terbangun dan sulit tidur. Pengalaman yang sama seperti si kakak saat masih kecil. Kini, si kakak berusia hampir lima tahun, dia tidak terlalu tantrum saat tengah malam. Istriku sangat lihai mengolah makanan. Nasi bubur dengan campuran pisang lembut digerus dengan ujung sendok plastik menjadi adonan yang aneh. Terlihat aneh bagiku, tapi tidak bagi anak-anak yang ceria itu. Mereka selalu senang didulang ibunya. Kalau minta gendong, baru ke arahku. Betapa anak sekecil itu tahu namanya kenyamanan.

Setelah makanan di mangkok kecil habis, istriku bergegas menyiapkan diri berangkat ke Kepanjen. Aku mengemasi makanan ringan dalam kotak untuk oleh-oleh kepada Anton. Si kakak masih bermain di ruang tamu depan TV. 

Semuanya telah siap. Anak-anak sudah masuk ke dalam mobil. Aku duduk di depan sendirinya. Istriku bersama tiga buah hati duduk di belakang. Matahari mulai bergeser ke tengah-tengah langit. Semakin menyengat kulit paparan cahayanya. Langit tak berawan. Musim kemarau di Kota Malang adalah musim yang rumit. Kalau siang hari, suhu begitu panas. Malam hari, dinginnya luar biasa. Suhu bisa mencapai 19 derajat Celsius. Temanku di Bromo, pernah mengirim gambar kalau butiran embun berubah menjadi es beku. Lautan pasir yang biasanya hitam, menjadi putih oleh selimut embun beku. Banyak orang menyukai pemandangan itu karena memang sangat jarang melihat butiran es di negeri tropis.

Mobil berangkat menuju Kepanjen. Pelan-pelan menelusuri jalan menuju Sukun, keluar wilayah Kota Malang masuk Pakisaji. Jalanan mulai lengang. Kepadatannya tidak seperti di tengah kota. Mobil sedikit kupacu lebih laju.

Di tengah konsentrasi memperhatikan jalan, istriku bertanya tentang keputusanku pergi ke Kepanjen. Seperti jawaban sebelumnya, aku hanya menjelaskan ingin keluar dari kepenatan.

“Apa ada kesulitan pekerjaan?” tanya istriku memulai obrolan.

“Sebetulnya tidak ada, justru pekerjaan berjalan seperti biasa saja. Justru yang biasa-biasa saja itu menjadi rutinitas yang mematikan. Dia seperti bom waktu yang bisa meledak. Kegiatan monoton begitu-begitu saja hanya membuahkan kejenuhan,” elaku.

Sambil menganggukkan kepalanya, istriku bercanda dengan si kembar. Sedangkan di kakak melihat keluar lewat jendela. Masih berada di Pakisaji, di sebelah kiri terlihat kereta api melintas. Pemandangan itu menarik perhatian si kakak. Betapa senangnya melihat kereta api melintas.

“Ayah, ada kereta lewat. Ayo naik kereta!” celetuknya.

“Besok naik kereta, ya nak!” jawabku singkat.

Si kakak teriak geringan loncat-loncat. Istriku mencoba menenangkan.

“Kamu jangan suka janji-janji,” tegur istriku.

Aku nyengir mendengar tegurannya.

Perjalanan terasa cepat jika jalan raya tidak macet. Kami tiba di rumah Anton. Pagar masih tertutup. Memang kedatangan kami tidak berkabar sebelumnya. Dari luar pagar, aku teriak mengucap salam. Beberapa kali teriak, keluar Anton dari balik pintu rumah. Mengetahui kedatanganku, ia segera bergegas menggeser pagar. Mobil aku parkir di depan rumah. Anak-anak dan istriku turun.

Si kakak berlari ke arah pamannya. Langsung minta gendong. Sambil menggendong si kakak, Anton mempersilakan kami masuk ke rumah. Segera saja kami duduk di kursi ruang tamu. Di ruangan yang berukuran 5x6 meter itu, meja tertata dan kursi tertata rapi. Dinding banyak dihiasi foto keluarga dan lukisan. Lalu keluar Umi, istri Anton menyambut kedatangan kami.

“Halo, apa kabar? Anak-anak semakin tumbuh besar saja. Semuanya sehat,” ucap Umi kepada istriku.

Setelah menyalami kami, Umi kembali ke dapur menyiapkan minuman. Anton juga ke belakang untuk urusan pribadi, mematikan laptop yang nyala di atas meja. Lalu kembali lagi menyambut kami.

“Tumben datang ke sini tanpa berkabar?” tanya Anton.

“Lagi ingin jalan-jalan saja. Lama tidak ke sini. Bagaimana kebun belakang rumah?” timpalku membalas pertanyaannya.

Di belakang rumah Anton, ada kebun yang tidak terlalu luas. Namun tanamannya beragam. Ada pohon nangka, rambutan, dan jambu air. Jika waktunya panen, buahnya sangat lebat. Rasanya juga segar dan manis. Aku sangat suka rambutannya.

“Kebun semakin subur, buah rambutan sedang menggantung. Sudah ada beberapa yang bisa dipetik. Tunggu di sini, ya!” pinta Anton.

Dia beranjak dari kursi, melangkah ke belakang. Keluar rumah untuk mengunduh beberapa buah rambutan. Kedatangan kami begitu diterima dengan baik. Dilayani dengan baik.

Saya masih di ruang tamu. Sambil melihat-lihat koleksi tembok, ada satu barang yang terlihat baru. Itu adalah senjata angin. Aku tertarik dengan senjata itu. Lalu berdiri dan mengambilnya dari pajangan yang terpampang di tembok. 

Senjata angin berada di tanganku sekarang. Istriku duduk di sebelah kiriku. Si kembar anteng di kursi trolinya. Si kakak juga anteng duduk di kursi lebar.

Senjata itu kulihat dengan seksama. Kuperhatikan ukiran-ukiran yang membuatnya semakin indah. Dengan bercanda, aku arahkan senjata itu ke istriku, pelatuknya kutekan dan...

“Blop!,” suara tembakan keluar dari moncong senjata.

Betapa kagetnya aku. Bukan kepalang bingungnya kepalaku melihat apa yang baru saja terjadi.

“Loh, kan tertembak,” ucap istriku sambil mendekap dadanya. 

Darah mulai keluar dan seketika istriku perlahan mulai kehilangan kesadaran. Si kakak teriak melihat kejadian itu. Teriakannya menarik perhatian. Umi datang ke ruang tamu. Si kembar tidak bereaksi. Aku sempat terdiam sejenak dan tak bisa memproses kejadian dalam pikiranku. Apa yang baru saja aku lakukan?

Umi yang melihat peristiwa itu ikut berteriak. Anton juga datang dan memeriksa kondisi istriku. Melihat kondisinya tidak sadarkan diri, dia segera menelfon layanan medis. Alih-alih menunggu ambulans datang, Anton bergegas meminta aku segera menyalakan mobil.

Si kakak dan si kembar ditinggal di rumah bersama Umi. Aku dan Anton membawa istriku ke rumah sakit terdekat. Dalam perjalanan, kupeluk istriku dengan tangisan. Aku tak bisa melepaskan pelukan.

“Maaf, ma...”

“Maafkan aku. Aku tidak sengaja melakukan itu. Aku tidak tahu kalau senjata itu ada pelurunya,” kataku sambil menangis.

Tidak ada respon ucapan yang keluar dari istriku. Namun jemari tangannya bergerak mencoba menggenggam jariku. Kusambut dengan genggaman lebih kuat. Mobil terus melaju dengan kencang. Rumah sakit terasa begitu jauh meski mobil ngebut di jalanan.

Anton menanyakan apa yang terjadi padaku. Tapi aku tidak bisa menjelaskan dengan baik. Hanya aku jawab:

“Aku menembaknya!”

“Gila kamu!” Anton marah.

“Aku tidak tahu senjata itu ada pelurunya,” jawabku.

Anton tidak bertanya kembali. Ia fokus mengendarai mobil menuju rumah sakit. Beberapa meter akan tiba di rumah sakit, istriku mencoba bernafas. Tapi tarikan nafasnya begitu berat terlihat. Ia tampak begitu tersiksa. Aku tidak bisa berhenti menangis dan memukul kepalaku sendiri atas tindakan bodoh yang kulakukan. Tak bisa kumaafkan diriku.

Mobil langsung berhenti di depan ruang IGD. Petugas medis keluar datang memeriksa kondisi istriku. Petugas lainnya membawa kasur roda, membaringkan istriku di atasnya. Didorong menuju ke dalam ruang IGD. Dokter yang bertugas segera memberikan tindakan medis awal.

“Tunggu sementara waktu di luar, pak!” pintanya.

Tapi aku sangat ingin sekali berada di dekat istriku. Bajuku penuh dengan darah istriku. Genggaman jari istriku tak kurasakan lagi sekarang. Aku dan Anton menunggu di depan dengan kecemasan yang berat. Pikiranku tidak ke mana-mana. Hanya satu kekhawatiran, apakah istriku akan mati?

“Mengapa kamu tembakan ke arah istrimu?” Anton bertanya lagi.

“Sungguh aku tidak tahu kalau di dalam senjata angin itu ada pelurunya,” sahutku.

“Senjata itu baru saja aku beli dua minggu lalu. Barang baru, dan memang sudah kugunakan untuk berburu burung yang kadang hinggap di pohon belakang rumah. Tapi aku tidak menyadari, kalau keputusan memasang peluru di dalam senjata akan mengakibatkan peristiwa seperti ini,” Anton melanjutkan cerita.

Kesibukan ruang IGD sama sibuknya seperti jalanan kota. Dalam beberapa menit saja, orang sakit datang silih berganti. Aku masih tersedak-sedak dalam tangis. Badanku terasa dingin, kaki dan tangan gemetar. Jantung berdebar begitu hebat. Aku bisa mendengar dengan telingaku sendiri suara detak jantungku. Pikiran semakin kacau, dan mengingat anak-anak yang masih kecil, tangisku kembali pecah.

“Aku harus bagaimana, Ton?”

“Aku tidak tahu harus melakukan apa. Apa yang harus kuperbuat setelah ini, Ton?

“Semoga istriku masih bisa hidup dan ...”

“Maaf menyela, saya dokter yang bertugas hari ini,” sahut seorang dokter yang datang dan memotong pembicaraanku.

“Bagaimana hasilnya, dokter?” tanyaku segera.

“Apakah Anda suaminya?”

“Betul!”

“Saya harus menyampaikan ini, tapi saya berharap Anda bisa memahami apa yang terjadi. Istri Anda mengalami pendarahan yang cukup fatal karena ada peluru gotri masuk ke paru-paru hingga menembus jantung. Kami sudah berupaya semaksimal mungkin, tapi tidak ada yang bisa kami lakukan lebih dari itu. Kami berduka atas kejadian ini,” terang dokter tersebut.

“Istri saya meninggal, dok?

Dia mengangguk. Terlihat seperti tak punya perasaan. Sepertinya hanya aku saja yang boleh merasakan kesedihan ini. Orang lain tidak boleh. Sialnya, kesedihan ini aku sendiri yang membuatnya. Mungkin nanti kebahagiaan itu juga aku yang membuatnya sendiri.

Aku jatuh tertunduk lesu. Lututku menahan berat badan yang goyah dan gemetar. Mata di kepalaku hanya bisa melihat ke lantai. Anton meraihku dari samping. Ia ikut menangis setelah mendengar istriku meninggal. Istriku tak lain adalah adik kandung Anton.

Dokter mengajak kami ke ruang dalam. Aku berjalan gontai sempoyongan dengan raungan tangis seperti anak kecil. Persis seperti si kakak yang menangis karena kularang beli es krim. Di balik selambu, istriku tergeletak tak bernafas. 

Betapa marahnya diriku pada diri sendiri. Betul-betul aku tidak bisa memaafkan yang kulakukan. Matanya terpejam untuk selamanya. Tidak ada lagi tawa dan canda yang akan kunikmati setelah ini. 

Tuhan!

Kebodohan macam apa yang baru saja kuperbuat. Kupeluk istriku dengan penuh cinta dan kasih sayang. Tangisku menyertai kepergiannya untuk selamanya. Anton mengelus-elus pundakku dari belakang. Dokter yang bertugas berdiri diam di depan kasur. Tanpa bicara.

Di rumah Kepanjen, Umi mendapat pertolongan ketua RT. Sempat ada orang yang melihat tindakan darurat kami ketika memasukkan istriku ke dalam mobil. Bersama warga lainnya, Pak RT mencoba menenangkan Umi yang juga turut gelisah. Anak-anakku menangis ditinggal ayah dan ibunya.

Senjata itu masih berada di rumah. Di ruang tamu. Terjatuh di lantai. Tidak ada yang berani memegangnya. Polisi dan TNI datang. Bhabinkamtibmas mengamankan senjata tersebut. Ia bawa ke kantor polisi.

Aku yang baru saja pulang masih mencoba menenangkan anak-anak. Polisi itu datang kembali ke rumah dan meminta aku untuk datang ke kantor. Ada beberapa pertanyaan yang ingin disampaikan oleh petugas. 

Keesokan hari, proses pemakaman berlangsung. Sungguh hancur hatiku. Istri yang kucintai, terbungkus dalam kain putih, sendirian masuk ke liang lahat. Anak-anak digendong nenek dan kakeknya. Menangis tidak pernah berhenti. Aku betul-betul tidak bisa memaafkan diri.

Keluarga, kerabat kerja, tetangga dan lainnya datang memberikan ucapan duka. Aku tidak bisa membalasnya dengan senyuman. Betul-betul tidak bisa. Hanya bisa kudengarkan dan kuanggukkan kepala bagi siapapun yang menyampaikan belasungkawa.

“Anak-anak masih kecil, dan harus kehilangan ibunya. Menjadi piatu. Gara-gara ayahnya yang bodoh ini!” aku menghakimi diri sendiri.

Hatiku betul-betul menjadi ruang pengadilan moral. Aku adalah terdakwanya, aku pula yang menuntut, aku pula yang menghakimi menjatuhkan vonis. Betapa hidup ini terasa amat singkat setelah kehilangan orang tercinta. Ingatan hanya kembali pada masa lalu saat kehilangan orang tercinta. Dan ternyata waktu memang begitu singkat sekadar untuk merasakan kesedihan.

Malam hari, setelah menidurkan anak-anak, aku berangkat ke kantor polisi. Memenuhi permintaan polisi. Aku sendirian ke kantor polisi. Tiba di kantor polisi, aku dipersilahkan masuk.

Dua orang petugas datang menyambutku. Seorang berpangkat bintara, seorang lagi adalah perwira. Ia memperkenalkan diri sebagai kepala kantor kepolisian. Sedang si bintara, yang akan menyampaikan pertanyaan kepadaku.

“Diceritakan saja yang sebenar-benarnya, pak,” pinta bintara itu memulai penyelidikan padaku.

“Saya sedang duduk di ruang tamu, melihat ada senjata api terpajang di tembok, lalu kuambil. Kuarahkan ujung senjata itu ke istriku, tepat di depan dadanya. Lalu kutarik pelatuknya, dan ternyata peluru keluar. Aku tidak tahu kalau senjata itu ada pelurunya,” kataku menjelaskan kronologis.

“Apakah Anda tahu cara mengoperasikan senjata angin?” pertanyaan berikutnya datang.

“Saya tidak tahu,” jawabku singkat.

“Setelah melihat istri Anda tertembak, apa yang Anda lakukan?” pertanyaan selanjutnya.

“Saya bingung harus melakukan apa. Saya sempat terdiam, kemudian kakak ipar saya datang untuk membantu,”

“Apakah saat itu istri Anda masih bernafas?”

“Saya yakini begitu. Dalam perjalanan ke rumah sakit, jarinya sempat meraih genggaman,” kataku.

Pertanyaan-pertanyaan ini hanya membangkitkan ingatanku tentang istri. Tak hanya saat-saat kritis dalam peristiwa itu, tapi juga kenangan yang telah kami bangun sejak awal. Kehidupan yang kami bangun dari bawah, bersama dalam suka dan duka. Tengkar dan tawa. Semua kenangan itu hadir sekali lagi dalam hidupku yang sial ini.

Sebetulnya, aku sudah tidak ingin menjawab pertanyaan apapun dari polisi. Semakin ditanya, semakin hidup kesalahan dan kebodohan yang kuperbuat. Semakin terasa dosa yang kuciptakan. Pertanyaan apapun tidak akan menghidupkan istriku.

Polisi itu berpindah ke ruangan komandannya. Aku sejenak disuruh menunggu. Cukup lama aku menunggu di kursi. Malam semakin larut, suara deru kendaraan di jalanan mulai berkurang. Kota Malang kembali menjadi dingin.

Jarum jam juga sama seperti jalanan, tidak pernah berhenti. Suaranya tik-tik menggeser waktu. Hanya jarum jam, sekecil itu, tapi perannya melanjutkan waktu. Tidak bisa lagi dikembalikan. Andaikan saja bisa dikembalikan, aku ingin istriku hidup kembali. Akan kubatalkan perjalanan ke Kepanjen. Aku bersumpah. 

"Brengsek!" 

"Khayalan!" 

"Apakah aku mendekati gila?"

Dua orang polisi kembali mendatangiku. Seorang perwira yang menjadi kepala kantor ikut serta. Kali ini dia yang bicara. Dia jelaskan detail prosedur hukum yang dijalani. Dia tunjukan dua barang bukti, senjata angin dan peluru gotri sialan itu. Setelah menunjukkan barang bukti itu, dia meminta aku untuk menyerah dan menjalani proses hukum.

“Kami terpaksa menetapkan Anda sebagai tersangka. Kami menyangka Anda melanggar Pasal 359 KUHP dengan ancaman pidana penjara paling lama lima tahun atau kurungan paling lama satu tahun,” ujar kepala polisi.

Dahiku mengernyit. Mataku tak mau berkedip. Melongo mendengar keterangan itu. Apa-apaan ini? Orang yang sedang terpuruk pun menjadi tersangka. Oleh karena kebodohannya sendiri?

“Apa maksudnya ini?” aku bertanya dengan nada agak tinggi. Sungguh aku tidak bisa menerima dalam logika proses hukum ini.

“Pasal tersebut mengatur pelanggaran pidana yang menjelaskan bahwa perbuatan tidak disengaja lalu mengakibatkan orang meninggal dunia karena kelalaian atau kealpaan dapat dikenai hukuman,” perwira itu menjelaskan lebih jauh.

Aku menggelengkan kepala. Tidak percaya. Ada keadilan seperti ini bentuknya. Tuhan pun mengampuniku yang lalai, tapi negara tidak mau begitu. 

“Malam ini kami harus menahan Anda,” kata kepala polisi itu lalu berdiri dan memanggil petugas lainnya untuk datang.

Dua orang petugas datang mendekat. Satu orang telah mempersiapkan borgol di tangan kanannya. Ia menyelinap ke belakangku. Meminta tanganku ke belakang, lalu memborgol keduanya. Mendorongku lebih dekat ke mulut penjara.

“Kamu, datang ke rumah tersangka dan beritahu keluarga yang ada di sana tentang ini. Pastikan semuanya lancar,” perintah kepala polisi dengan memainkan telunjuknya. 

Aku digiring masuk ke ruang tahanan. Jeruji besi tanpa selimut di malam yang dingin. Dan, malam itu hingga malam-malam berikutnya, aku menghabiskan waktu di balik jeruji tahanan. 

 

 

 

 

Dalam kenangan peristiwa tragis di awal menjalani karir sebagai jurnalis, Malang 2015.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Aksi
Cerpen
Tak Bisa Kumaafkan Diriku
Benni Indo
Cerpen
Bronze
Nokturnal
Rama Sudeta A
Flash
Bronze
KERIBUTAN KECIL
N Shalihin Damiri
Cerpen
Ketika Surga Dipimpin Oleh Sekawanan Kera Part 4
Daffa Amrullah
Novel
Mockingbird
Madina_hld
Flash
The Nightmare
Rama Sudeta A
Novel
Surrounded (Dalam Kepungan)
Yaldi Mimora
Flash
Bronze
Desa Naga Api
Silvarani
Novel
Underground Fire
kimchiroll
Cerpen
Ketika Surga Dipimpin Oleh Sekawanan Kera Part 2
Daffa Amrullah
Novel
MAHAWIRA
el
Novel
Just Bodyguard
Ankano Wen
Flash
Alone
AliyatulMafrudzoh
Novel
Bronze
The Thief
Aspasya
Flash
Cahaya memudar di lantai
Lukitokarya
Rekomendasi
Cerpen
Tak Bisa Kumaafkan Diriku
Benni Indo
Cerpen
Di Tengah Hutan Belantara
Benni Indo