Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Tak apa akui lelahmu
Asap pabrik-pabrik swasta yang mengepul lalu terbang menyebar ke angkasa, adalah suatu
sambutan yang khas untuk matahari yang siap menunjukkan rupanya. beberapa
manusia-manusia yang siap menjalani kehidupannya, tampak juga wajah para pekerja pabrik
yang kelelahan, karena sebagian dari pelupuk matanya berwarna hitam dari kejauhan.
“Agaknya beban seberat apa ditanggung oleh para pekerja-pekerja itu?” lampu-lampu merah
yang terkadang terletak secara sembarangan di beberapa jalan raya juga ikut meramaikan
pagi yang kacau sekaligus indah ini.
suasana yang tidak pernah terbayangkan apabila hanya dengan memikirkannya saja, satu
atau dua kali kau harus juga keluar dan melihatnya sendiri, dari situ kau bisa melihat berbagai
tingkah laku manusia yang sedang menghabiskan sisa hidupnya di dunia ini. begitulah
pandangan yang selama ini menjadi dasar untuk hidup dengan prinsip melihat kehidupan
untuk kehidupan. dan disinilah suatu kisah akan dimulai kisah tentang perjalanan beberapa
manusia yang luput dari penglihatan karena kita terlalu sibuk dengan urusan sendiri hingga
lupa memandang bagaimana dunia sekitar bergerak.
***
“Rayakan hidupmu, dengan hal-hal yang membuatmu bahagia, tak perlu terus
berusaha terlihat kuat kamu hanya manusia biasa yang punya perasaan untuk bersedih
tak apa sesekali terlihat lemah dan menangis itu wajar tidak ada yang salah dengan itu.”
kala senja sudah mulai berubah menjadi gelap, beberapa orang terlihat bersiap-siap untuk
pulang kembali ke rumahnya beberapa lainnya memilih untuk mampir sejenak ke toko
swalayan untuk membeli kebutuhan rumah seperti beras, telur, gula. jalan raya pun sedikit
lenggang daripada pagi tadi. dan di setiap sisi jalan para penjual makanan mulai bersiap juga
untuk mengadu nasib untuk berjualan termasuk Pak Ardi, salah satu penjual ayam geprek
yang juga tengah sibuk menyiapkan meja dan kursi untuk tempat duduk para pelanggannya.
“Buk, itu bagian samping kursinya belum di lap.”
“Nak, minta tolong bungkus beberapa saus dan kecap itu ya.” pinta Pak Ardi kepada istri
dan anaknya.
seperti itulah kesibukan, yang setiap hari Pak Ardi serta keluarga jalankan demi menyambung
hidup di kota besar beliau terus semangat untuk berjualan setiap malamnya.
“Siap Pak, ini sudah kusiapkan kok bumbu-bumbunya.” Balas anak Pak Ardi dari kejauhan.
“Sipp, ya sudah kalau begitu nak disini semua sudah beres meja udah rapi dan bersih,
tinggal nunggu pelanggan saja.”
“Oke Pak, aku buka pintu warung dulu yaa.”
Dibukanya lah warung Pak Ardi, pertanda siap untuk menyambut pelanggan yang akan segera
datang, Ayam geprek Pak Ardi, terkenal dengan ciri khasnya sambal merahnya, yang
membuatnya berbeda dengan penjual ayam geprek lainnya. Serta pelayanan dari Pak Ardi
yang dinilai ramah bagi sebagian orang. karena Pak Ardi adalah tipikal orang suka
berinteraksi dengan orang-orang baru apalagi orang memiliki latar belakang yang unik karena
ia suka belajar hidup dari kehidupan orang lain.
Dan sebagian orang yang memiliki pengalaman unik adalah pelanggannya sendiri, dan
ketika Pak Ardi bercerita perihal kejadian itu ada semacam perasaan yang tidak bisa
dijelaskan perpaduan dari syukur, pilu dan juga membahagiakan.
Kisah ini terjadi sebulan yang lalu, ketika Pak Ardi sedang menyiapkan menu dari
pelanggannya yang cukup banyak malam itu, tibalah sesaat kemudian seorang pemuda
kira-kira usia delapan belas sampai dua puluhan tahun, Pak Ardi tidak ingat betul berapa usia
pastinya, ia juga lupa menanyakan umurnya, waktu itu. Ia seperti pelanggan pada umumnya
memarkirkan sepeda motornya namun yang aneh di pemuda itu tampak lesu dan seperti tidak
mempunyai semangat untuk menjalani harinya, pada awalnya Pak Ardi tidak menyadari
tingkah laku dan kedatangan pemuda itu, ketika pemuda itu memesan menu.
“Pak, pesan ayam geprek ya.” Ucap pemuda itu
“Oh iya, dek silahkan ditunggu sebentar di sana ya.” Uap pak ardi sembari menganggukan
kepala pertanda pesanan akan siap untuk disajikan.
Setelahnya Pak Ardi tidak lagi memperhatikan pemuda itu, Pak Ardi pada saat itu hanya
memusatkan perhatiannya kepada banyaknya daftar menu yang perlu disiapkan.
Bahkan saat Pak ardi sudah siap menghidangkan ayam geprek pesanan anak muda ia juga
belum menyadari gerak-gerik aneh pemuda itu.
Tiap sisi warung makan itu dipenuhi dengan aroma semerbak ayam geprek terutama sambal
khas milik warung Pak ardi.
“Ini mas, ayam geprek nya, monggo segera dimakan.” kata pak ardi, dengan menguntai
senyum pada bibirnya.
Tak ada balasan dari pelanggan mudanya itu, ia hanya membalas dengan anggukan,
selebihnya hanya sifat diam seribu bahasa yang ditunjukkan. Udara malam sudah mulai
membuat kulit menggigil
sepintas jalan-jalan raya pun sudah mulai hening, dan orang-orang pun mulai hilir mudik
untuk kembali ke rumahnya, tuk melanjutkan pekerjaannya esok hari, kini pelanggan Pak ardi
juga sudah mulai menghilang satu persatu dari kepuasan terhadap ayam geprek buatnya.
berapa orang itu ada seseorang yang menyatakan
***
“Sial, aku mengapa hidupku tak bisa untuk sedikit saja menikmati kebahagiaan, dan sampai
kapan aku dapat terus bertahan untuk menjadi manusia payah seperti ini.” Gerutu si
pemuda.
Disisi lain ketika Pak ardi tengah, beristirahat sejenak karena telah membereskan
pekerjaannya di warung ia mulai dengan melihat deretan sepeda motor, yang terparkir di
depan warung, lalu berpindah untuk memandangi beberapa pelanggannya yang masih
bertahan entah karena, makannya ataupun masih ingin bersantai menikmati wifi gratis yang
Pak ardi siapkan untuk pelanggannya.
beberapa menit kemudian.. mata Pak ardi tertuju pada seorang pemuda yang telah tertidur
pulas di salah tahu meja tempat ia makan, kepalanya terbarunya di atasnya dan tangannya
sebagai alas tidurnya. ia sedikit bersedih hati, ketika melihat pemuda itu, karena pada waktu
yang sama Pak ardi membayangkan kemungkinan “Apakah yang dikerjakan pemuda itu
sehingga bisa tertidur sangat pulas setelah menyantap makanannya.”
“Apa mungkin ia kelelahan setelah melakukan sesuatu?.” pikir Pak ardi saat itu karena ia
terlihat tertidur pulas dengan keadaan masih mengenakan pakaian seragam lengkap,
selayaknya pelajar hendak pulang ke sekolah. Semula Pak ardi membiarkan saja pemuda itu
menikmati tidurnya mungkin saja firasatnya benar, ia tertidur karena kelelahan.
Pak ardi pun juga sempat berbicara tentang apa yang telah dilihatnya ke istrinya, namun
istrinya hanya menanggapinya dengan biasa saja..
“Memang bukan masalah besar to pak?.”
“Sudahlah biarlah pemuda itu melanjutkan tidurnya.”
“Dan jangan bapak bangunkan mungkin warung ini adalah tempatnya untuk berdiam
sejenak, biarlah dia menikmati mimpinya yang singkat itu pak.”
Pak ardi kembali dengan aktivitasnya memandangi, langit yang menurutnya semakin pekat
oleh gelapnya malam, aktivitas ini selalu Pak ardi lakukan setiap malamnya memang
aktivitas ini bagi sebagian orang adalah ketidakbergunaan, tapi baginya melihat langit yang
berhiaskan bintang, adalah salah satu caranya bersyukur kepada Tuhan karena ia diizinkan
untuk menetapkan di semesta raya ini.
***
Pukul 22.00 malam sang pemuda tak lekas terbangun dari tidurnya, Pak ardi mulai kalang
kabut ia khawatir dengan pemuda itu, ia takut apabila terjadi hal yang tidak-tidak pada
pemuda itu. karena sudah malam dan hawa dingin sudah terasa di kulit, Pak ardi memutuskan
untuk membangunkan pemuda itu ia mulai menghampiri pemuda itu, kemudian mulai
membangunkannya dengan tepukan lembut di bahunya Pak ardi berkata dengan lembutnya.
“Mas, bangun mas.”
“Mas, bangun mas.”
kalimat itu diulang beberapa kali hingga beberapa saat pemuda itu terkejut hingga sempat
hampir melompat dari meja tempatnya menyandarkan kepalanya.
“Mas sudah ketiduran disini, sejak tiga jam lalu loh, apa mas gak pulang?.”
“Maaf pak, saya gak sengaja ketiduran disini, baik Pak saya akan segera pulang maaf ya Pak
sekali lagi.” Balas pemuda itu dalam keadaan masih linglung.
“Heh jangan dulu mas, tampaknya mas kecapean banget ya, mendingan mas istirahat dulu
disini sebentar!.”
“Gak kok Pak, saya kuat kok hehehe.” Kelakar pemuda itu.
“Mas tak apa akui saja lelah itu, dan Rayakan hidupmu, den
gan hal-hal yang membuatmu
bahagia, tak perlu terus berusaha terlihat kuat kamu hanya manusia biasa yang punya
perasaan untuk bersedih tak apa sesekali terlihat lemah dan menangis itu wajar tidak ada yang salah dengan itu.