Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Tak apa akui lelahmu
1
Suka
18
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Tak apa akui lelahmu

Asap pabrik-pabrik swasta yang mengepul lalu terbang menyebar ke angkasa, adalah suatu

sambutan yang khas untuk matahari yang siap menunjukkan rupanya. beberapa

manusia-manusia yang siap menjalani kehidupannya, tampak juga wajah para pekerja pabrik

yang kelelahan, karena sebagian dari pelupuk matanya berwarna hitam dari kejauhan.

“Agaknya beban seberat apa ditanggung oleh para pekerja-pekerja itu?” lampu-lampu merah

yang terkadang terletak secara sembarangan di beberapa jalan raya juga ikut meramaikan

pagi yang kacau sekaligus indah ini.

suasana yang tidak pernah terbayangkan apabila hanya dengan memikirkannya saja, satu

atau dua kali kau harus juga keluar dan melihatnya sendiri, dari situ kau bisa melihat berbagai

tingkah laku manusia yang sedang menghabiskan sisa hidupnya di dunia ini. begitulah

pandangan yang selama ini menjadi dasar untuk hidup dengan prinsip melihat kehidupan

untuk kehidupan. dan disinilah suatu kisah akan dimulai kisah tentang perjalanan beberapa

manusia yang luput dari penglihatan karena kita terlalu sibuk dengan urusan sendiri hingga

lupa memandang bagaimana dunia sekitar bergerak.

***

“Rayakan hidupmu, dengan hal-hal yang membuatmu bahagia, tak perlu terus

berusaha terlihat kuat kamu hanya manusia biasa yang punya perasaan untuk bersedih

tak apa sesekali terlihat lemah dan menangis itu wajar tidak ada yang salah dengan itu.”

kala senja sudah mulai berubah menjadi gelap, beberapa orang terlihat bersiap-siap untuk

pulang kembali ke rumahnya beberapa lainnya memilih untuk mampir sejenak ke toko

swalayan untuk membeli kebutuhan rumah seperti beras, telur, gula. jalan raya pun sedikit

lenggang daripada pagi tadi. dan di setiap sisi jalan para penjual makanan mulai bersiap juga

untuk mengadu nasib untuk berjualan termasuk Pak Ardi, salah satu penjual ayam geprek

yang juga tengah sibuk menyiapkan meja dan kursi untuk tempat duduk para pelanggannya.

“Buk, itu bagian samping kursinya belum di lap.”

“Nak, minta tolong bungkus beberapa saus dan kecap itu ya.” pinta Pak Ardi kepada istri

dan anaknya.

seperti itulah kesibukan, yang setiap hari Pak Ardi serta keluarga jalankan demi menyambung

hidup di kota besar beliau terus semangat untuk berjualan setiap malamnya.

“Siap Pak, ini sudah kusiapkan kok bumbu-bumbunya.” Balas anak Pak Ardi dari kejauhan.

“Sipp, ya sudah kalau begitu nak disini semua sudah beres meja udah rapi dan bersih,

tinggal nunggu pelanggan saja.”

“Oke Pak, aku buka pintu warung dulu yaa.”

Dibukanya lah warung Pak Ardi, pertanda siap untuk menyambut pelanggan yang akan segera

datang, Ayam geprek Pak Ardi, terkenal dengan ciri khasnya sambal merahnya, yang

membuatnya berbeda dengan penjual ayam geprek lainnya. Serta pelayanan dari Pak Ardi

yang dinilai ramah bagi sebagian orang. karena Pak Ardi adalah tipikal orang suka

berinteraksi dengan orang-orang baru apalagi orang memiliki latar belakang yang unik karena

ia suka belajar hidup dari kehidupan orang lain.

Dan sebagian orang yang memiliki pengalaman unik adalah pelanggannya sendiri, dan

ketika Pak Ardi bercerita perihal kejadian itu ada semacam perasaan yang tidak bisa

dijelaskan perpaduan dari syukur, pilu dan juga membahagiakan.

Kisah ini terjadi sebulan yang lalu, ketika Pak Ardi sedang menyiapkan menu dari

pelanggannya yang cukup banyak malam itu, tibalah sesaat kemudian seorang pemuda

kira-kira usia delapan belas sampai dua puluhan tahun, Pak Ardi tidak ingat betul berapa usia

pastinya, ia juga lupa menanyakan umurnya, waktu itu. Ia seperti pelanggan pada umumnya

memarkirkan sepeda motornya namun yang aneh di pemuda itu tampak lesu dan seperti tidak

mempunyai semangat untuk menjalani harinya, pada awalnya Pak Ardi tidak menyadari

tingkah laku dan kedatangan pemuda itu, ketika pemuda itu memesan menu.

“Pak, pesan ayam geprek ya.” Ucap pemuda itu

“Oh iya, dek silahkan ditunggu sebentar di sana ya.” Uap pak ardi sembari menganggukan

kepala pertanda pesanan akan siap untuk disajikan.

Setelahnya Pak Ardi tidak lagi memperhatikan pemuda itu, Pak Ardi pada saat itu hanya

memusatkan perhatiannya kepada banyaknya daftar menu yang perlu disiapkan.

Bahkan saat Pak ardi sudah siap menghidangkan ayam geprek pesanan anak muda ia juga

belum menyadari gerak-gerik aneh pemuda itu.

Tiap sisi warung makan itu dipenuhi dengan aroma semerbak ayam geprek terutama sambal

khas milik warung Pak ardi.

“Ini mas, ayam geprek nya, monggo segera dimakan.” kata pak ardi, dengan menguntai

senyum pada bibirnya.

Tak ada balasan dari pelanggan mudanya itu, ia hanya membalas dengan anggukan,

selebihnya hanya sifat diam seribu bahasa yang ditunjukkan. Udara malam sudah mulai

membuat kulit menggigil

sepintas jalan-jalan raya pun sudah mulai hening, dan orang-orang pun mulai hilir mudik

untuk kembali ke rumahnya, tuk melanjutkan pekerjaannya esok hari, kini pelanggan Pak ardi

juga sudah mulai menghilang satu persatu dari kepuasan terhadap ayam geprek buatnya.

berapa orang itu ada seseorang yang menyatakan

***

“Sial, aku mengapa hidupku tak bisa untuk sedikit saja menikmati kebahagiaan, dan sampai

kapan aku dapat terus bertahan untuk menjadi manusia payah seperti ini.” Gerutu si

pemuda.

Disisi lain ketika Pak ardi tengah, beristirahat sejenak karena telah membereskan

pekerjaannya di warung ia mulai dengan melihat deretan sepeda motor, yang terparkir di

depan warung, lalu berpindah untuk memandangi beberapa pelanggannya yang masih

bertahan entah karena, makannya ataupun masih ingin bersantai menikmati wifi gratis yang

Pak ardi siapkan untuk pelanggannya.

beberapa menit kemudian.. mata Pak ardi tertuju pada seorang pemuda yang telah tertidur

pulas di salah tahu meja tempat ia makan, kepalanya terbarunya di atasnya dan tangannya

sebagai alas tidurnya. ia sedikit bersedih hati, ketika melihat pemuda itu, karena pada waktu

yang sama Pak ardi membayangkan kemungkinan “Apakah yang dikerjakan pemuda itu

sehingga bisa tertidur sangat pulas setelah menyantap makanannya.”

“Apa mungkin ia kelelahan setelah melakukan sesuatu?.” pikir Pak ardi saat itu karena ia

terlihat tertidur pulas dengan keadaan masih mengenakan pakaian seragam lengkap,

selayaknya pelajar hendak pulang ke sekolah. Semula Pak ardi membiarkan saja pemuda itu

menikmati tidurnya mungkin saja firasatnya benar, ia tertidur karena kelelahan.

Pak ardi pun juga sempat berbicara tentang apa yang telah dilihatnya ke istrinya, namun

istrinya hanya menanggapinya dengan biasa saja..

“Memang bukan masalah besar to pak?.”

“Sudahlah biarlah pemuda itu melanjutkan tidurnya.”

“Dan jangan bapak bangunkan mungkin warung ini adalah tempatnya untuk berdiam

sejenak, biarlah dia menikmati mimpinya yang singkat itu pak.”

Pak ardi kembali dengan aktivitasnya memandangi, langit yang menurutnya semakin pekat

oleh gelapnya malam, aktivitas ini selalu Pak ardi lakukan setiap malamnya memang

aktivitas ini bagi sebagian orang adalah ketidakbergunaan, tapi baginya melihat langit yang

berhiaskan bintang, adalah salah satu caranya bersyukur kepada Tuhan karena ia diizinkan

untuk menetapkan di semesta raya ini.

***

Pukul 22.00 malam sang pemuda tak lekas terbangun dari tidurnya, Pak ardi mulai kalang

kabut ia khawatir dengan pemuda itu, ia takut apabila terjadi hal yang tidak-tidak pada

pemuda itu. karena sudah malam dan hawa dingin sudah terasa di kulit, Pak ardi memutuskan

untuk membangunkan pemuda itu ia mulai menghampiri pemuda itu, kemudian mulai

membangunkannya dengan tepukan lembut di bahunya Pak ardi berkata dengan lembutnya.

“Mas, bangun mas.”

“Mas, bangun mas.”

kalimat itu diulang beberapa kali hingga beberapa saat pemuda itu terkejut hingga sempat

hampir melompat dari meja tempatnya menyandarkan kepalanya.

“Mas sudah ketiduran disini, sejak tiga jam lalu loh, apa mas gak pulang?.”

“Maaf pak, saya gak sengaja ketiduran disini, baik Pak saya akan segera pulang maaf ya Pak

sekali lagi.” Balas pemuda itu dalam keadaan masih linglung.

“Heh jangan dulu mas, tampaknya mas kecapean banget ya, mendingan mas istirahat dulu

disini sebentar!.”

“Gak kok Pak, saya kuat kok hehehe.” Kelakar pemuda itu.

“Mas tak apa akui saja lelah itu, dan Rayakan hidupmu, den

gan hal-hal yang membuatmu

bahagia, tak perlu terus berusaha terlihat kuat kamu hanya manusia biasa yang punya

perasaan untuk bersedih tak apa sesekali terlihat lemah dan menangis itu wajar tidak ada yang salah dengan itu.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Tak apa akui lelahmu
Aris Setiawan
Cerpen
Basket
shirley
Cerpen
PEDAGOGI
Billy Yapananda Samudra
Cerpen
Bronze
Lonceng Bel sepeda dan Petak Umpet di Ujung Senja
Ezra Jo
Cerpen
Main Petak Umpet
Titin Widyawati
Cerpen
Bronze
Cerita Tentang Kota Yang Dipenuhi Spanduk & Janji
Bumi Bercerita
Cerpen
Bronze
Magdhalena dan Topengnya
ANINZIAH
Cerpen
Bronze
MANAJER BABI
Toni Al-Munawwar
Cerpen
Bronze
Berjuta-juta Jalan Menuju Kematian
Bonari Nabonenar
Cerpen
Ketika Meja Itu Kosong
RA Senja
Cerpen
Bronze
Sekolah Orang Dalam
Putri Rafi
Cerpen
Bronze
Kepak Sayap Gurindam
Supriyatin Yuningsih
Cerpen
Bronze
DIANTARA DETAK DAN DIAM
JI
Cerpen
Tempat Kerja Papa
Galang Gelar Taqwa
Cerpen
Saya ingin pulang
Andi Bayu Putra
Rekomendasi
Cerpen
Tak apa akui lelahmu
Aris Setiawan
Novel
Komunitas tingkat bawah
Aris Setiawan
Cerpen
Porsi yang sudah ditentukan
Aris Setiawan
Cerpen
PEPELING
Aris Setiawan
Cerpen
Angka yang tidak pernah bertanya
Aris Setiawan
Cerpen
Tumbuh dengan caraku
Aris Setiawan
Novel
Dilihat lagi dan lagi
Aris Setiawan
Flash
Bunga terakhir
Aris Setiawan
Cerpen
Catatan dari hal-hal yang sederhana.
Aris Setiawan