Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Tak Ada yang Sia-sia dalam Hidup Termasuk Menikahi Seekor Babi
0
Suka
975
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

 

Isna menikahi seekor babi. Namun kisah ini bukan tentang babi yang ia nikahi. Kisah ini tentang pemuda bermata polos kekanak-kanakan yang ia ajarkan mata pelajaran Sejarah. Si pemuda baru saja gagal dalam ujian tengah semester. Si pemuda menghadap Isna sendirian untuk mengikuti ujian susulan. "Kenapa tidak datang lebih awal?" Isna tidak menutupi nada jengkel dalam suaranya. Saat itu ruangan guru telah sepi dan ia sedang bersiap-siap pulang. Lagi-lagi ia satu-satunya guru yang tersisa.

Siswa bernama Alang-alang itu menatap Isna dengan raut menyesal. Si pemuda tidak tahu bahwa kali ini ia bermaksud pulang lebih awal.

Sesungguhnya Alang-alang tak peduli apakah Isna ingin segera pulang untuk merebahkan badan atau karena suaminya mungkin butuh tukang pijat gratis. Anak muda itu hanya peduli untuk memperbaiki nilai ujiannya agar nanti bisa membanggakan orangtua pada hari penerimaan raport.

Isna menarik kursinya kembali dengan suara keras. Ingin siswanya berpikir bahwa suasana hatinya sedang tidak baik. Alang-alang mengangkat kursi milik guru yang lain dan memindahkannya ke depan meja Isna. Gerakannya santun terkendali, derit sekecil cericip tikus pun tak terdengar dari salah satu kaki kursi. Alang-alang mengeluarkan kertas jawaban, menulis nama, dan tanggal. Isna membacakan soal pilihan ganda tanpa terburu-buru. Ganjil rasanya membaca soal yang sama dengan intonasi nyaris menyerupai bisikan, bukan setengah menjerit hingga urat leher menyembul.

Isna menikmati jeda yang tercipta setiap kali Alang-alang tampak sedang memikirkan jawaban. Isna suka membuat anak muda itu berpikir keras. Barangkali jawabannya salah. Setidaknya si siswa dibuat menggunakan otak.

Isna menyadari sesuatu selain jeda untuk berpikir keras. Mungkinkah bukan kebetulan Alang-alang datang ke ruangannya, minta ujian susulan sendirian, dan bagian dada kemejanya setengah terbuka? Isna bertanya-tanya apakah anak muda itu sengaja--semoga tidak!--untuk menggodanya. Untuk menggoyahkan konsentrasi sang guru. Untuk memuluskan nilainya sendiri. Isna merasakan dorongan untuk menghardik dan menyuruh Alang-alang menautkan kedua kancing atasnya. Namun itu tidak ia lakukan--entah kenapa. Jika seorang gadis membiarkan kancing kemejanya terbuka rendah, orang akan bilang ia mau pamer belahan dada. Untuk situasi yang sama, seorang pemuda barangkali hanya dianggap sedang gagah-gagahan. Apa pun alasan Alang-alang datang dengan kancing kemeja terbuka rendah, pemandangan itu berhasil membikin dada Isna berdebar tak keruan. Pemandangan itu menghantuinya hingga ia tiba di rumah.

Di rumah sang guru bergelung di sofa seperti kucing malas, menatap kertas jawaban seperti membaca surat cinta. Alang-alang tak menulis pesan apa pun di sana. Tak ada kode tersirat. Tak ada teka-teki yang butuh dipecahkan. Hanya Isna yang tahu kenapa ia terus menatap kertas jawaban itu seolah Alang-alang sedang berbicara padanya. Di sisi lain ia enggan memeriksa ulangan susulan itu. Jika hasilnya masih buruk, Isna akan membenci dan merasa malu pada dirinya sendiri karena bisa-bisanya menginginkan seseorang yang tidak terlalu cerdas.

Namun ia jauh dari rasa malu dan bersalah memikirkan seorang pemuda yang hanya beberapa tahun lebih tua dari anak sulungnya sendiri. Itu berarti jika ia menikah di usia lebih muda, anak pertamanya bisa jadi seumuran Alang-alang. Namun Isna harap siswanya itu tak akan teringat ibu atau pun salah satu tantenya ketika melihat dirinya. Isna berperawakan kecil, secara fisik bahkan terlihat lima tahun lebih muda dari usianya; banyak yang kaget setiap kali mendengar usianya yang sebenarnya, dan banyak yang salah terka. Sedangkan Alang-alang terlihat tujuh tahun lebih dewasa dari usianya. Jika tak pakai seragam putih abu-abu, orang bisa mengira pemuda itu sudah kuliah atau bahkan sudah kerja. Jadi Isna yakin mereka cukup serasi, pasangan ganjil yang tidak akan tampak terlalu ganjil seandainya mereka benar-benar berpasangan.

Sepasang mata bening kekanak-kanakan dan bahu lebar dengan otot-otot muda seperti buah mengkal—belum ranum tapi mengkal--adalah sesuatu yang tak sanggup Isna tepiskan. Ia ingin merebahkan kepala di dada bidang itu. Rasanya lebih nyaman daripada bersandar di dada suaminya dan terganjal bongkahan perut. Sudah lama Isna tak bersandar di dada suaminya. Terakhir kali itu terjadi, perut suaminya belum sebesar hari ini. Sejak itu setiap tahun perut suaminya bertambah besar dan semakin besar, membuat ganjalan di antara mereka semakin lebar. Ganjalan itu menghalangi mereka berpelukan dan bercinta dengan variasi gaya. Beruntung Isna tak butuh pelukan apalagi bercinta dengan macam-macam gaya. Ia tak boleh menuntut hal-hal yang mustahil dari seekor babi.

Seseorang seharusnya cukup mirip babi tanpa perlu menjadi seekor Babi. Tetapi ada saat-saat suaminya mungkin lupa dirinya manusia. Tentu saja setiap pagi lelaki itu pergi bekerja, mengendarai mobil yang jarak antara setir dan perutnya semakin sempit, berkutat di depan komputer selama berjam-jam, melahap dua mangkuk soto sebelum makan siang, hamburger dan kuaci dan sekaleng diet coke setelah makan siang, chitato dan teh pucuk untuk camilan sore, lalu tersiksa menahan kantuk saat rapat zoom dengan atasan. Kalau dipikir-pikir alasan suaminya masih menggerakkan badan adalah ketika ia harus pergi cari makan. Jadi Isna tak bisa terlalu melarang suaminya banyak makan, sebab suaminya sedang menyelam sambil minum air, dengan kata lain, selain makan ia juga sedang ‘olahraga'. Jika bukan demi itu, jangan harap suaminya sudi menggerakkan badan apalagi saat ia di rumah. Adalah Isna yang harus melakukan semuanya; membersihkan seisi ruangan, menyiapkan bekal dan memasak makan malam, mengambilkan makanan dan air minum, menyiapkan handuk mandi, menggantung kembali handuk yang dibiarkan suaminya teronggok sembarangan, membuang sampah, membakar sampah, mencabut rumput yang menyesaki selokan, mengangkat pupup anjing tetangga dari teras, menggosok toilet, menggosok semua perangkat makan kotor, membuka dan menutup pagar saat mobil suaminya baru tiba, menggembok pagar dan mengunci pintu-pintu rumah di malam hari sebab suaminya selalu ketiduran lebih cepat daripada siapa pun. Tidak pernah pekerjaan itu dibagi sebab meskipun mereka berdua sama-sama bekerja, suaminya yakin dirinya lebih capek, sebab durasi kerjanya lebih panjang. Kehidupan pernikahan semacam ini sempat membuat Isna kaget. Dimanjakan sedari kecil, ia tidak dipersiapkan untuk disuruh-suruh.

Isna mendengar bahwa ia bukan satu-satunya istri yang diperlakukan seperti jongos. Namun apakah suami orang juga kesulitan memotong kuku sehingga akan selalu butuh bantuan istri, ia tak yakin. Dalam kasus suaminya, biang keroknya lagi-lagi si Perut yang tak membolehkan lelaki itu membungkuk rendah-rendah untuk mencapai jari-jari kakinya sendiri. Maka Isnalah yang harus memotong kuku-kuku kaki itu setiap minggu, tak peduli ia tak mau; penolakannya tak pernah berlaku. Ia harus menahan napas saat mengorek kotoran hitam setebal ampas mesiu. Kerap Isna berbohong bahwa sudut-sudut bujari kaki yang amat berdaging itu sudah bersih. Tetapi suaminya mengancam mau medi-pedi di salon saja, menyerahkah jari-jari gemuknya dalam penanganan kapster-kapster pesolek yang patuh dan tidak cerewet, apabila Isna tak melakukan pekerjaannya dengan beres. Isna bukan cemburu. Ia hanya tak sudi suaminya buang-buang uang. Lelaki itu terlalu nyaman berpura-pura jadi bayi sehingga Isna jugalah yang harus memotong dan merapikan kuku-kuku jari tangannya. Tiba-tiba Isna merasa amat tua. Menjadi ibu untuk dua orang anak remaja. Menjadi babu bagi seekor babi yang menuntutnya serba bisa. Isna tidak keberatan jika ada yang menjebak dan mengikat sekujur tubuhnya di ruang guru selepas jam sekolah. Ia tidak keberatan meladeni seratus siswa seperti Alang-alang untuk mengikuti ujian susulan. Barangkali ia perlu menggagalkan semua hasil mid semester murid-muridnya. Ia ingin punya alasan tinggal lebih lama di sekolah.

 

 

Isna menyuruh Alang-alang mengambilkan makan siang. Sang guru mengalami nyeri haid dan tak punya tenaga untuk berdesak-desakan mengantri di kantin. Hari itu ia lupa bawa bekal sebab paginya ia terburu-buru, sebab alarmnya tak bunyi, sebab batrei ponselnya habis dan malam sebelumnya ia begadang membaca The Reader karya Bernhard Schlink. Kebetulan Alang-alang lewat depan ruang guru ketika Isna butuh seseorang untuk disuruh. Sialnya Isna juga lupa mengambil botol air minumnya dari ruang kelas di mana ia terakhir mengajar. Maka setelah makan siangnya diantar, Isna kembali menyuruh Alang-alang mengambilkan botol air minum di Kelas X. Sang guru menunggu raut protes muncul di wajah si siswa. Tetapi Alang-alang tidak tampak keberatan apalagi protes. Bahkan jika Isna menyuruhnya beli kebab dan jus alvokad depan gapura; lalu minta diambilkan kunci gymnasium; lalu cepat bersihkan papan tulis sebelum guru mata pelajaran selanjutnya datang, dan tolong cabuti daun-daun kering dari tanaman mati di depan ruang osis, perintah tetap akan dilaksanakan. Isna bukan satu-satunya guru yang suka memerintah, dan meskipun Alang-alang bukan satu-satunya siswa yang bisa ia atur dan perintah—masih ada gerombolan lain yang lebih kurang ajar—Isna paling menikmati dominasinya terhadap Alang-alang.

Di kelas, ia menyuruh Alang-alang berdiri dengan satu kaki di sudut bila si pemuda kedapatan main hp di jam pelajaran, menyita hp atau buku komiknya, merotasi letak tempat duduk para murid agar Alang-alang jauh sejauh-jauhnya dari siswi paling cantik di kelas, mengusir si pemuda (bersama gerombolannya) keluar kelas bila mereka terbukti menggoda siswi-siswi di barisan depan, menghukum Alang-alang lari sepuluh kali keliling lapangan jika ia datang terlambat dan kebetulan Isna yang bertugas sebagai guru piket.

Isna meyakinkan para guru dan siswa-siswi yang lain bahwa tak ada sentimen pribadi. Tak ada motif balas dendam. Tak ada pula kebencian di luar konteks kegiatan belajar mengajar. Ia tak perlu bilang siapa pun. Ia melakukan itu semata agar punya kesempatan berlama-lama dengan siswa kesayangannya.

Bahkan diam-diam Isna punya fantasi liar. Ia tidak akan membiarkan Alang-alang lolos jika pemuda itu terjebak di kamarnya. Ia akan mengikat Alang-alang di empat sudut tempat tidur. Ia akan menggelitik titik-titik paling sensitif di tubuhnya sampai si pemuda kehabisan napas dan memohon ampun agar Isna berhenti. Ia akan menyuapkan buah-buahan potong tanpa membuka tali-tali yang mengikat pergelangan tangan dan kaki. Ia akan menyumpalkan lakban pada mulut si pemuda sebelum mereka bercinta. Ia akan mengajarinya berbagai variasi gaya. Alang-alang lentur dan luwes dan sedang menuju keranuman sempurna. Alang-alang boleh menuntut hal-hal mustahil dari dirinya, dan Isna boleh menuntut surga dunia dari si pemuda.

Tidak ada yang boleh menghakimi perbuatannya—perbuatan mereka. Dalam imaginasinya, Alang-alang sudah berusia dua puluh satu. Dan Isna memang berniat menunggu hingga pemuda itu berusia dua puluh satu—meskipun ia enggan menghitung usianya sendiri kala itu. Ia tahu itu tak adil sebab Hanna Schmitz, 36, bercinta dengan pemuda 15 tahun setelah menyelamatkannya dari 'masuk angin' dan muntah-muntah di jalan. Isna pun 36, tapi Alang-alang bukan bocah lima belas tahun. Setidaknya tahun ini pemuda itu akan genap 17. Isna tak tahu kenapa ia harus menunggu selama lima tahun—atau itu semata demi sopan santun. Untuk sekarang ia masih harus cukup puas memperlakukan Alang-alang sebatas objek pemuas birahi dalam kepalanya.

Imaginasi liar itu tak akan membuntutinya sampai kehidupan nyata. Tak ada yang akan mengendus jejak fantasi erotisnya ketika ia sedang mengajar di ruang kelas, ikut rapat dewan guru, mengobrol dengan mertua di telepon, membacakan Toto-Chan; Gadis Kecil di Jendela untuk anak-anaknya sebelum tidur, atau ketika ia sedang menjadi istri yang patuh. Peran di atas segala peran adalah sebagai guru tiran yang sukar diajak bercanda. Maka Isna perlu mempertegas kebengisan dan tiraninya. Dengan begitu fantasinya aman, tak terendus siapa pun.

Namun betapa menyenangkan seandainya ia memang memiliki pasangan seumuran Alang-alang. Ia janji tak akan menjadi seorang tiran melainkan orang dewasa yang menyenangkan. Ia menyesal tak pernah mempertimbangkan segi kepraktisan dan keuntungan dari memiliki pasangan yang jauh lebih muda. Pemuda seperti Alang-alang barangkali akan membuat Isna malu dan repot—tapi setelah mereka tinggal berdua, ia yakin ada lebih banyak keuntungan untuk direguk. Namun sekarang sudah terlambat baginya mencari jagung muda. Isna yakin ia tampak menyeramkan dan intimidatif bagi para pemuda seumuran Alang-alang. Apalagi ia tidak punya aura keibuan seperti Hanna Schmitz dan guru-guru perempuan yang difavoritkan banyak siswa. Suaranya tidak lembut menenangkan, tatapan matanya kerap menindas daripada bersimpati, tutur katanya dingin dan blak-blakan, jauh dari kesan ramah dan menyejukan. Jangankan para pemuda pada umumnya, Alang-alang juga pasti menolak dirinya sebagai pasangan—atau sekadar menjadi tante idaman. Bukankah Alang-alang juga mematuhi dan menghormati guru-guru yang lain? Jadi apa bedanya Isna dengan mereka di mata pemuda itu? Mungkinkah tak ada yang istimewa dari dirinya? Mungkinkah kerah kemeja yang terbuka rendah hari itu semata untuk menepis gerah dan bukan untuk menggoda Isna?

Kebencian berkobar di hatinya terhadap gadis-gadis barisan depan yang suka jadi sasaran empuk godaan Alang-alang dan gerombolan. Terutama siswi paling cantik di kelas XI. Merekalah biang kerok, alasan bocah seumuran Alang-alang tidak menganggap perempuan seusia Isna menarik. Isna yakin ia masih bisa cantik jika ia peduli memperbaiki penampilan. Dan tentu saja ia lebih matang. Lebih bijaksana. Dan tak diragukan lebih cerdas daripada para gadis tengil itu.

Ia mulai coba-coba berdandan dan melepaskan satu-dua kancing kemejanya saat menyusuri koridor sekolah. Sungguh sial buah dadanya kecil dan tak membentuk bongkah belahan. Tak ada yang mengambil jeda untuk melirik ke bawah dagunya. Bahkan ia tak yakin ada yang menyadari satu-dua kancingnya sengaja dilepas lebih rendah. Meskipun begitu ia pikir tak ada salahnya sesekali merasa binal dan berpura-pura percaya diri. Ia berhak merasa demikian setelah seharian diperlakukan seperti jongos, terutama saat ia keluyuran di luar rumah dan tidak sedang bersama anak-anaknya.

Suatu hari di akhir pekan ada yang tiba-tiba menyapanya dari belakang ketika Isna baru saja tiba di pasar swalayan dan mengambil sesisir pisang dan sekotak keju kraft cheddar. Buru-buru ia menautkan dua kancing kemeja sebelum berbalik menghadapi si penyapa. Alang-alang maju selangkah menyalaminya dan menyentuhkan dahi ke punggung tangan Isna.

“Mama, ini guruku, Bu Isna,” si pemuda berkata santun dan memberi ruang pada sang Mama untuk maju selangkah menyalami Isna. Sang guru diam-diam kaget. Tampaknya wanita itu hanya beberapa tahun lebih tua darinya. Helai-helai putih mulai mewarnai garis rambutnya yang lebat tapi wajah dan perawakannya belum tampak mendekati paruh baya. Isna penasaran umur berapa wanita itu menikah.

“Maaf kalau anak saya nakal di sekolah,” sang Mama berkata, wajahnya memerah. Anak anda tidak nakal sama sekali, Isna mendengar dirinya berkata, meskipun suaranya tak terdengar seperti suaranya. Alang-alang menunduk dan daun telinganya memerah seperti tomat mengkal mendengar gurunya berbohong. Dada Isna berdebar. Sang Mama menawarkan untuk membayar sesisir pisang dan sekotak keju kraft cheddar di keranjang belanjaan Isna. Sang guru menolak dengan sopan sebab ia belum selesai berbelanja. Ibu dan anak itu membungkuk dan pamit. Isna membungkuk dan pamit. Dan berbalik. Mencari tomat mengkal di rak sayuran.

 

Sang babi menumpahkan isi kantung belanjaan Isna yang untungnya tak seberapa. Sesisir pisang teronggok di lantai. Tomat-tomat mengkal menggelinding berhamburan. Sekotak keju cheddar penyok dan koyak. Beruntung tadi Isna tak jadi belanja selusin telur dan sebuah cangkir porselen yang sempat ditaksir. Betapa repot nantinya jika ia harus membersihkan pecahan telur campur beling-beling porselen dari lantai. Biasanya lelaki itu tak pernah melarang Isna belanja. Namun kali ini suaminya marah karena rumah tampak seperti kandang babi ketika ia baru pulang. Dan Isna sedang ketiduran di sofa dengan mulut terbuka dan novel Sang Guru Piano tertangkup di atas perutnya menandai halaman terakhir dibaca. “Bisa-bisanya kamu tidur!”

“Aku capek,” protes Isna.

“Aku lebih capek,” keluh suaminya meskipun tadi ia juga sempat ketiduran sepuluh menit di kantor. “Sudah ada makanan?”

“Aku baru mau masak. Tapi ini ada pisang.”

Dosa istri, kecam sang babi getir, sama dengan dosa pemalas. Bisa-bisanya suami lapar disuruh makan pisang. “Ngapain saja kamu sejak tadi?” Tangan gemuk menyambar Sang Guru Piano, melemparkan buku itu ke seberang lantai. “Itu biang keroknya. Ngapain sih baca begituan?” Tangan gemuk menyambar lagi kantong belanjaan dan menghamburkan isinya ke lantai. Isna lega bahwa tadi ia menyebut pisang dan bukan tomat. Bayangkan orang lapar disuruh makan tomat--tomat mengkal pula. Bisa-bisa suaminya meledak seperti roket gagal orbit.

Isna yakin keberangan sang suami tak ada hubungan dengan rasa lapar atau pun pisang. Jika ia memang sering membiarkan lelaki itu kelaparan, mustahil suaminya punya potongan babi dan bukan anjing kudisan. Masalahnya adalah lelaki itu tak sudi Isna menjadi ratu di rumahnya sendiri. Tetapi ia memang ratu, Isna meyakinkan diri. Ia bisa menjadi ratu selama suaminya belum pulang kerja. Ia hanya ingin berleha-leha membaca novel atau nonton HBO atau mengirim pesan marah-marah pada siswa kesayangannya. Ia hanya sedang sial hari itu—jika seorang ratu juga bisa sial—sebab ia ketiduran di tengah kandang babi ketika sang babi sudah pulang.

Kesialannya belum berhenti sampai di situ. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Nama Alang-alang XI berkedip di layar. Suaminya memandangi ponsel itu. Isna memelototi lelaki itu.

“Kenapa tidak diangkat?” suaminya memicingkan mata. Buru-buru Isna meraih ponselnya dari meja. “Tidak penting,” ditekannya tombol merah, menyudahi dering panggilan. Beranjak dari sofa, melangkahi pisang dan keju dan tomat-tomat mengkal tanpa menginjak salah satu, membungkuk dan menyisipkan Elfriede Jelinek ke dalam rak. Pura-pura tidak melihat notifikasi pesan masuk dari Alang-alang. Sebab ia mesti buru-buru menyulap kandang babi menjadi tempat yang layak huni, meskipun salah satu penghuninya seekor babi.

 

 

“Mama menyuruh aku menelepon kemarin. Mama ingin tahu apakah aku bisa ikut les tambahan di rumah Anda. Mama tahu nilai-nilaiku di mata pelajaran Bu Isna sangat jelek,” adalah ucapan pertama dari siswa kesayangannya ketika Isna baru tiba di depan ruang guru. Alang-alang menyalaminya seperti yang ia lakukan di swalayan kemarin. Si pemuda menunggu Isna sepagi itu hanya untuk menyampaikan pesan dari sang Mama. Isna mendapat kesan bahwa Alang-alang sendiri tak berminat ikut les jika bukan atas permintaan mamanya. Dan Isna tak menyukai kesan itu.

Ia juga tak suka dicegat depan pintu ruang guru. Jika dicegat depan toilet, ia mungkin akan pasang ekspresi yang lebih manusiawi. Di depan ruang guru, ia hanya sudi pasang ekspresi garang dan bosan. Kerah kemeja Alang-alang masih terkancing secara pantas. Padahal Isna mau cari kesalahan untuk mengomeli anak itu.

“Aku tidak bisa ngasih les di rumah,” adalah jawaban Isna. Suaranya dingin dan datar. Seolah ia bukan orang yang sama yang bersua Alang-alang dan sang Mama di swalayan kemarin--betapa berbeda dirinya yang kemarin dan pagi ini. Masalahnya, suami Isna tidak suka rumah dijadikan tempat orang-orang berkumpul untuk belajar sekalipun ia dibayar. Suaminya tidak suka rumah berantakan, sebab ia babi yang cinta keteraturan. Akan runtuh citra guru tiran yang Isna bangun selama ini jika sampai ia diomeli lelaki itu di depan anak didiknya.

Tetapi alasan-alasan itu tidak ia sampaikan. Tidak semua hal butuh penjelasan.

“Kalau di rumahmu mungkin bisa,” Isna mencoba memberi solusi. Si pemuda menekuk bibir. Isna mengendus adanya motif lain yang membikin si pemuda kurang semangat dengan gagasan belajar di rumahnya sendiri.

“Aku mau privasi. Aku mau suasana belajar yang beda,” akhirnya terungkap alasan di balik raut wajah kuyu anak muda itu. Isna menggigit bibirnya. Bocah ini menginginkan privasi bersamaku—pikiran itu bergaung di kepala sang guru.

“Mamaku sangat suka mengontrol. Dia mau aku belajar sungguh-sungguh.”

Isna memicingkan kedua mata. Betapa bocah ini tak sadar kalau aku lebih buruk dari mamanya. Aku sang tiran. Pengontrol sejati. Aku akan memasang tali di punggungmu dan mengendalikanmu. Kesepakatan tentang les belum terjadi pagi itu. Namun Isna melewatkan waktu berjam-jam memikirkan cara agar ia dan Alang-alang bisa punya privasi selama les tambahan. Tepat di jam istirahat kedua, muncul gagasan di benaknya bahwa les tambahan akan diadakan di sekolah dengan menggunakan ruang kelas atau fasilitas yang lain. Ia akan menyarankan hari Jumat dan Sabtu sore saat sekolah ramai dengan kegiatan ekstrakurikuler—kecuali Sabtu di mana tak ada aktivitas apa pun, sehingga ia bisa memanfaatkan situasi itu untuk bisa benar-benar berduaan dengan siswanya—dan semoga itulah privasi yang dimaksud si pemuda pagi tadi.

Maka Isna berjalan dengan semangat dan percaya diri menuju kelas XI. Ia ingin memberitahu Alang-alang tentang solusi itu sehingga si pemuda bisa langsung memberitahu mamanya. Alang-alang pasti setuju, Isna akan membujuk dan meyakinkannya. Belajar di sekolah di luar jam belajar formal tentu tidak sama dengan belajar di sekolah (ruang kelas) secara reguler, sehingga mereka akan merasakan suasana berbeda. Mereka bisa belajar di beranda aula, di kantin yang senyap, di salah satu gazebo di samping lapangan, di tengah gymnasium, di lobi, di parkiran, di mana pun selama bukan di ruang kelas.

Isna mencapai gang depan kelas XI. Alang-alang tidak tampak di antara siswa-siswi yang berkeliaran di lapangan atau pun sekitar kantin. Jadi sang guru menduga pemuda itu berada di dalam kelas. Isna tidak keliru. Ruang kelas itu lenggang dan nyaris kosong melompong tanpa siapa pun, seandainya Alang-alang tak ada di sana, sedang mengecup pipi seorang gadis yang konon adalah siswi paling cantik di kelas itu.

 

 

Isna merasakan dorongan aneh menyembelih sesuatu atau seseorang yang tak kasat mata di hadapannya. Itu yang terjadi setelah ia melihat Alang-alang bersama siswi paling cantik di kelas XI. Isna berdiri di ambang pintu dan ketika ia berdiri di ambang pintu, kedua tangkainya tampak menjulang seolah ia berdiri dari atas egrang; bayangannya jatuh miring menutupi setengah bagian lantai, kehadirannya bagai memenuhi seisi ruang kelas. Isna berkacak pinggang, seperti monster yang sebentar lagi menyemburkan kobaran api dari mulutnya. Suaranya adalah lolong kemarahan dari perut bumi ketika ia menyuruh kedua pemuda dan pemuda itu bubar keluar kelas.

“Kalian ke ruang kepala sekolah sekarang,” perintahnya. Ia sendiri berjalan kembali ke ruang guru. Langkah-langkahnya masih berderap cepat. Hanya kali ini tanpa rasa percaya diri dan optimisme. Jika kemarahan memiliki warna, barangkali wajah sang guru tampak merah padam. Namun merah padam bukan semata karena kegeraman. Ada yang lebih dominan daripada perasaan itu. Sang guru merasa dikhianati.

Alang-alang muncul di ruang guru tak lama kemudian. Rasa malu dan bersalah tergurat di wajahnya. Ia meminta maaf pada Isna dan memohon agar sang guru tak mengadukan perbuatannya tadi pada kepala sekolah. Isna menepis kehadiran si pemuda dan berkata bahwa kedatangannya sia-sia. “Aku janji aku tak akan melakukannya lagi di ruang kelas,” kata Alang-alang penuh sesal, tak tahu ucapannya barusan memperburuk situasi. Lebih baik baginya tak berjanji apa-apa. Sebab tidak akan lagi mencium si gadis di ruang kelas, berarti ia masih akan tetap mencium gadis itu di tempat lain. Lebih baik baginya tidak mengatakan apa-apa, tapi tak ada yang memberitahunya.

“Akan kubuat surat panggilan pada mamamu juga. Biar dia tahu tujuanmu ke sekolah cuma buat pacaran.” Isna tidak menatap mata si pemuda saat bicara. Ia sudah menang. Si pemuda tampak seperti menahan tangis. Kenapa Bu Isna begitu kejam dan tak bisa diajak berkompromi? jerit raut wajah siswa kesayangannya.

“Kumohon, jangan lakukan itu. Lapor saja ke kepala sekolah, tapi jangan libatkan mamaku.” Alang-alang membungkuk di depan mejanya. Isna pura-pura menyibukkan diri. “Kumohon...” ia merapatkan kedua tangan di depan dada.

Sikapnya menarik perhatian guru-guru yang lain. Hampir semua menekuk bibir dan diam-diam setuju dengan kebijakan Isna untuk melaporkan perbuatan mesum siswa itu pada kepala sekolah dan memanggil orangtuanya. Dukungan dari rekan-rekan guru membuat Isna semakin besar kepala. Namun ia masih belum sanggup menatap kedua mata si pemuda tanpa teringat kejadian di ruang kelas tadi. Apa gunanya kemenangan besar di pihaknya jika sakit hati yang ia rasakan justru lebih dominan? Jadi siapa yang sebenarnya menang?

“Kamu harus janji tidak akan lagi pacaran karena itu tidak pantas di usia kalian. Sekolah bukan tempat pacaran.”

“Ya, saya janji. Maafkan saya. Maafkan kami.” Alang-alang berkata.

Seorang guru yang lain menyahut kenapa si gadis tidak dipanggil serta. Alang-alang berkata ia mau mempertanggungjawabkan kesalahannya seorang diri.

“Kalian pacaran?” Isna merendahkan intonasi suaranya tanpa mengurangi ketegasannya.

Tidak, jawab Alang-alang tapi Isna tak percaya. Lebih baik baginya untuk tak mengulik soal itu, Isna mengingatkan diri. Ia mengusir Alang-alang dari ruang guru.

Namun si pemuda menghampirinya di gapura pada jam pulang sekolah seolah tak terjadi apa-apa. “Bu Isna sudah punya kepastian tentang les yang kutanyakan tadi pagi? Mamaku menunggu jawabannya.”

“Tidak,” tukas Isna cepat. “Saya tidak ngasih les. Tidak di rumahku, tidak di rumahmu, tidak di mana pun.”

Alang-alang terdiam lantas berlalu pergi.

 

 

Kejadian hari itu mengawali hari-hari muram sang guru. Keinginannya menghukum Alang-alang semakin tak beralasan. Kegaduhan sebentar di sudut ruangan akan membuatnya memanggil Alang-alang dan menyuruhnya berjongkok di depan meskipun pelakunya adalah siswa yang lain. Nilai-nilainya anjlok dan memprihatinkan dan tak dapat ditolong dengan ulangan susulan. Jika dulu pemuda itu hanya disuruh berlari sebagai hukuman terlambat, kini ia disuruh push up 50 kali. Isna tidak khawatir dianggap tiran, bengis, dan menyimpan sentimen pribadi. Baginya Alang-alang memang pantas dihukum karena pacaran di lingkungan sekolah. Adapun gadis paling cantik yang bersamanya pagi itu tak perlu menjadi sasaran empuk. Namun Isna tahu apa yang harus ia lakukan dengan gadis itu.

Sang guru mendatangi rumah gadis paling cantik di kelas XI suatu hari ketika sekolah sedang sibuk mempersiapkan pentas seni. Tak ada yang tahu apa yang ia sampaikan, bagaimana caranya memprovokasi kedua orangtua si gadis, bahkan tak ada yang tahu bagaimana Isna memperoleh alamat rumahnya, tapi satu hal yang pasti, semua keburukan Alang-alang dibeberkan secara kejam dan memalukan di depan kedua orangtua si gadis, dan hanya dua hari kemudian, mereka mengurus kepindahan anak perempuan mereka ke sekolah lain.

Tak lama kemudian Alang-alang memotong rambutnya hingga pelontos. Anak-anak menebar cerita bahwa itu sebagai bentuk protes atas kepindahan siswi yang ditaksirnya. Tetapi Alang-alang sendiri mengaku kepalanya dipelontos karena bisulan. Isna tak ingin mendengar cerita apa pun yang berhubungan dengan gaya rambut baru si pemuda.

Seiring waktu Alang-alang tidak lagi tampak menarik seperti dulu di mata Isna. Pelontos, jerawatan, dan barangkali juga bisulan. Tingginya bertambah, tubuhnya tampak lebih berisi. Suatu hari Isna memperhatikan pemuda itu datang ke sekolah dengan bagian ketiak seragamnya sobek dan kaos kakinya yang berwarna putih bernoda kecokelatan. Isna bahkan yakin pemuda itu tidak mandi. Nilai-nilainya di hampir semua mata pelajaran anjlok, seperti penampilannya. Para guru membicarakannya. Para siswi menggunjingkannya. Isna mendengar patah hati bisa membuat seseorang masa bodoh dan tak mau mengurus diri. Isna melihat kesempatan itu untuk mengisi kekosongan hati si pemuda. Ia mulai melunak. Berhenti mencari-cari kesalahan yang tak beralasan. Mentraktirnya minuman dingin di kantin. Meminjamkannya buku pelajaran. Bersedia mengobrol lagi dengannya setelah sekian lama. Topik pembuka adalah tentang les tambahan seperti keinginan sang Mama dulu. Alang-alang sepertinya sudah tak berminat ikut les tapi ia menghargai usaha sang guru untuk berbaikan.

Si pemuda tetap bergeming menyimak Isna bicara. Namun setelah beberapa saat, sorot matanya kehilangan fokus. Kedua mata itu kerap berganti-ganti antara kedua mata dan bibir Isna. Pada akhirnya sepasang mata polos itu berhenti pada bibir sang guru, yang hampir bersamaan juga telah berhenti bicara. Isna sempat melihat kedua mata si pemuda terpejam sebelum terasa olehnya sepasang tangan merengkuh rahang dan sisi lehernya. Alang-alang mengulum bibir dan lidahnya dengan liar, tak ingin memberi Isna kesempatan untuk bicara apalagi menolak, dan sang guru nyaris tersedak dan sesak napas. Namun Isna tak mendorong tubuh bau keringat yang menghimpitnya itu. Malahan ia mengarahkan mereka beringsut ke sudut belakang pintu, agar tak terlihat oleh satpam, cleaning servis, atau pun sesama guru yang melintas. Alang-alang mengikuti Isna tanpa melepaskan bibir dan lidah. Si pemuda cukup besar untuk mengangkat Isna dan menyembunyikannya ke dalam lemari, sehingga untuk sesaat, Isna berharap ia adalah sesuatu yang dapat dilipat dan diperam dalam lemari jika si pemuda menginginkannya seorang diri.

 

Tidak ada yang sia-sia dalam hidup ini bahkan jika kau menikahi seekor babi. Berkali-kali Isna meyakinkan diri sejak ia bangun pagi di hari setelah Alang-alang mencumbunya di belakang pintu, bahwa kejadian itu nyata bukan imajinasi seperti biasa. Suasana hatinya yang cerah membuat Isna mengerjakan semua perintah sang suami tanpa berkeluh apalagi berbantah-bantah. Semua pekerjaan tiba-tiba terasa enteng dan jika suaminya cukup peka, lelaki itu seharusnya tahu bahwa istrinya sedang kasmaran, tapi Isna bersyukur suaminya tidak peka dan hal semacam itu juga sesuatu yang pantas disyukuri sebab dalam hidup tak ada yang sia-sia termasuk menikahi seekor babi.

Isna melenggang dengan bahagia sepanjang jalan menuju sekolah sendirian--ia menyuruh anak-anaknya pergi lebih dulu bersama ayah mereka. Rasanya ia bisa berjalan kaki sejauh lima kilo seandainya ia seorang aktris film India, di mana seluruh urusan bisa selesai dengan satu adegan bernyanyi dan menari, sebab itulah yang ia rasakan saat ini: ingin bernyanyi dan menari di bukit-bukit berumput di tengah alang-alang yang lembut dan membuatnya merasa damai.

Ia tiba di sekolah setelah berhasil mencegat ojek pertama yang melintas tanpa penumpang. Rambut semrawut dan bau helm yang tertinggal tak mengubah suasana hatinya jadi kuyu. Tetapi ia tak boleh membiarkan penampilannya kusut, seperti orang baru bangun tidur. Buru-buru Isna merapikan rambutnya di westafel toilet putri. Buru-buru ia menyemprotkan spray colonge dari ubun-ubun hingga badan sekujur. Jangan lupa buka satu kancing kemeja lebih rendah. Buah dadanya tampak bagus hari itu. Ia mamakai bra berbusa yang membuat buah dadanya lebih berisi. Ia keluar dan berdiri di bawah teritisan di antara toilet putra dan putri sementara pagi perlahan-lahan bangkit. Kesibukan belum terlihat tapi murid-murid dan guru-guru mulai berdatangan satu demi satu. Belum ada yang mondar-mandir di koridor dengan telepon genggam di depan wajah. Belum ada yang berkumpul di sudut lapangan menghibah guru yang paling menyebalkan atau pekerjaan rumah yang belum dikerjakan. Isna memperhatikan setiap orang yang tampak dalam bingkai pandangnya satu demi satu. Ia belum melihat seseorang yang ia cari. Mungkin Alang-alang belum datang. Toilet terletak di seberang kelas XI. Ia akan melihat siswa kesayangannya itu masuk kelas saat pemuda itu nanti tiba di sekolah. Tiba-tiba ia harus bergeser karena beberapa siswi tiba-tiba menghambur ke toilet sekaligus, menyesaki gang dan membuat toilet langsung penuh. Mereka bercakap-cakap seperti sekelompok bebek. Mereka cekikikan membahas kakak kelas berkaca mata tebal yang seragamnya kebesaran menutupi siku.

Kalau kamu jadian sama dia, kamu harus dandani dia.

Ih anjay, amit-amit.

Tapi papanya punya tiga ruko lho.

Mamanya seorang notaris.

Kamu hidup enak kalau sama dia

Ih amit-amit.

Hahahah. Wkwkwkwk....

Generasi sampah, bahasannya tak berguna, batin Isna setelah beberapa gadis masuk bilik toilet. Sisanya menunggu depan westafel sambil menggulir layar ponsel. Entah kenapa anak-anak gadis paling suka masuk toilet ramai-ramai. Isna tahu itu sebab anak gadisnya pun demikian. Untungnya ia tidak seperti itu di masa mudanya dulu.

Jangan cemburu. Aku hampir muntah nyium dia. Aku nahan napas setengah mati. Napasnya bau...

Suara gadis-gadis tadi telah berhenti digantikan suara lain yang nyaris samar—tapi keheningan toilet memantulkan suara itu keluar, ke tempat Isna berdiri. Isna menegakkan badan, menyimak di tengah kesunyian. Entah sejak kapan ia ada di sana.

Aku harus akting. Aku tidak mau terus-terusan dimangsa sama dia. Tidak, aku tidak akan ciuman lagi sama nenek penyok itu.

Bunyi kucuran keran. Bunyi guyuran gayung ke atas kakus. Bunyi membilas yang tidak buru-buru.

...kemarin itu yang terakhir dan terpaksa. Sumpah. Lama-lama dia akan lupa aku pernah nyium kamu. Kalau rencana kita berhasil...

Derit pintu-pintu toilet saat dibuka. Gadis-gadis keluar bersamaan seperti saat mereka masuk. Suara-suara mereka kembali memenuhi udara saat melintas di depan Isna. Isna mengejatkan rahang. Anak-anak tak berguna. Ingin sekali ia menghardik mereka agar diam seperti kutu. Atau menjauh secepat-cepatnya dari sana. Sirna seperti asap. Biarkan dia sendirian.

...sekolah baru? Awas saja kalau kamu punya gebetan di sana.

Napas Isna tertahan. Kesunyian seperti tirai yang terbentang, tapi tidak mengantarkan cahaya kali ini, melainkan kegelapan. Ia berjalan mengendap seperti tak menyentuh lantai, seperti ia tak ada di sana, seperti hantu yang tak ingin terdengar atau pun terlihat. Pintu toilet putra hanya tiga atau empat langkah di depannya, tapi saat ia tiba di sana, rasanya bagai telah melewati jarak empat mil. Napasnya masih tertahan dan masih tertahan ketika ia memberanikan diri melonggok ke dalam.

Alang-alang melihatnya. Perubahan mendadak di wajah si pemuda hanya mungkin sebanding dengan bila ia melihat hantu. Namun si pemuda cepat menguasai diri dan keadaan. Gerakan jempolnya menekan tanda merah nyaris tak kentara, dan ia cukup yakin Isna tak melihatnya. “Aku barusan nelepon Mama.” Nada suaranya tidak terdengar mencari pembenaran. Sungguh meyakinkan. Seolah ia telah mempersiapkan diri untuk dipergoki. Ekspresi lega memenuhi wajah si pemuda dan ia menatap Isna dengan sorot mata polos kekanak-kanakan, sorot mata yang pernah membikin sang guru tersesat ke dalam imajinasi liarnya sendiri.

 

 

Isna tiba di rumah sebelum waktunya. Pagi itu ia izin pulang lebih cepat pada kepala sekolah. Dadanya tiba-tiba terasa sesak, mungkin asmanya kambuh, alasannya.

Isna langsung berganti pakaian dan mulai membersihkan seisi rumah. Dimulai dari dapur, ruang tengah, ruang tamu, kamar-kamar, terakhir toilet dan halaman. Betapa kotor rumahnya meskipun dibersihkan setiap hari; mungkin suaminya benar, rumah mereka seperti kandang babi. Bagaimana Isna baru menyadarinya hari ini? Sebagian dirinya ingin tenggelam ke dasar samudra; menghilang, lenyap, tak pernah ada. Tetapi siapa yang akan memasak dan membersihkan rumah jika ia tak ada? Siapa yang akan membacakan buku untuk anak-anakny sebelum tidur? Siapa yang akan disuruh-suruh dan diperintah oleh suaminya?

Sebab suaminya terlalu angkuh untuk mengakui daya tarik dan kharisma istrinya sendiri. Bagi lelaki itu fungsi seorang istri semata untuk melayaninya selain untuk beranak. Suaminya tak peduli bahwa Isna orang pertama yang jadi sarjana di keluarganya. Bahwa sang istri dibiayai beasiswa prestasi selama kuliah, membuatnya selalu punya uang jajan ekstra. Bahwa ia pernah juara satu lomba pidato tingkat mahasiswa; juara 2 sayembara cerpen tingkat provinsi; guru berprestasi tingkat kabupaten. Sertifikat dan piagam penghargaannya menghiasi ruang tamu dan langsung menarik perhatian suami dan mertua saat acara lamaran. Hari itulah Isna pertama kali melihat sorot khawatir di mata suaminya--saat itu calon suami--khawatir ia akan jadi nomor dua, khawatir mereka tak akan setara, khawatir calon istrinya adalah perempuan liar dan pembangkang karena konon perempuan cerdas sulit diatur. Suaminya pasang kuda-kuda sedari awal, bukan dengan berusaha menyaingi prestasi dan kecerdasan Isna, tapi dengan menjadi seorang tiran. Suaminya tidak suka bila Isna masih menonjol seperti ketika ia menghasilkan piagam-piagam dan sertifikat-sertifikat itu. Suaminya bersikap semena-mena untuk meredupkan cahayanya. Semakin opresif lelaki itu, semakin kelihatan rasa takut dan khawatirnya. Dan Isna bersembunyi di balik pantat panci yang ia gosok setiap hari demi memenuhi rasa aman lelaki itu sebagai seorang lelaki. Sebagai ayah dari anak-anaknya.

Tetapi hari ini ia akan melemparkan tutup panci ke wajah suaminya kalau sampai lelaki itu pulang dan mencari-cari kesalahannya. Ia akan membersihkan rumah jika ia mau, ia tidak akan membersihkan apa pun jika ia tak mau. Intinya, jangan memerintah. Ia bukan jongos dan seekor babi bukan majikan. Ia bukan pula nenek penyok. Napasnya tidak bau. Ia tidak akan membiarkan siapa pun berkata buruk tentang dirinya atau gagang sikat di tangannya menyumpal kerongkonganmu.

Sampai saat itu Isna belum juga berhenti menggosok lantai toilet seolah ia begitu menyukai pekerjaan itu. Seolah ia ingin menggerus kerak dalam dirinya sendiri. Terasa, tapi tak kelihatan. Ada tapi tak nyata. Sungguh sia-sia—baru pagi tadi ia percaya tak ada yang sia-sia dalam hidup ini.

Isna meletakkan sikat lantai, mengambil sikat gigi dan odol, menggosok gigi. Tidak lupa berkumur pakai listerin.

Ia bukan nenek penyok.

Napasnya tidak bau.

Isna ketiduran di sofa tanpa mulut terbuka, tanpa buku di atas dada, tanpa dengkur lembut tanda lelah. Suaminya memergokinya saat jam makan siang. Lelaki itu tidak mengomel, tidak juga mencari-cari kesalahannya. Hanya saja, “Kenapa jam segini sudah di rumah?”

Lalu suaminya melihat pelupuk matanya bengkak dan kedua matanya sembap. Isna jarang sekali menangis. Bila ia manangis berarti ada hal serius yang telah terjadi dan suaminya sebaiknya tidak tahu. Berubah pikiran, lelaki itu mengambil kunci mobil yang baru saja ia letakkan. “Aku mau jemput anak-anak dulu.” Suaminya berbalik menuju pintu dan Isna berharap lelaki itu berhenti untuk menanyakan apakah ia ingin dibelikan mie gacoan. Meskipun ia tak merasa ingin makan apa-apa.

Kadang-kadang ia berpikir ia mungkin bisa benar-benar mencintai suaminya. Dengan tampang dan sifat kebabian lelaki itu. Kadang-kadang ia pun curiga lelaki itu sebenarnya mencintainya. Dengan cara-cara babi yang jauh dari manusiawi. Dan barangkali benar, tak ada yang sia-sia dalam hidup, termasuk menikahi seekor babi. Sebab Isna menikahi seekor babi. Sayangnya kisah ini bukan tentang babi yang ia nikahi.

 

 

 

 

 

 

 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Pengantin Dari Rahim Pelacur 1998
Rositi
Skrip Film
Suami Untuk Prita
Eko Hartono
Skrip Film
MY LOVE
maisara
Novel
Gold
MY BASTARD PRINCE
Coconut Books
Skrip Film
Sayap-Sayap Surga
Its J
Skrip Film
SKETSA JODOH
Kim Hakimi
Cerpen
Tak Ada yang Sia-sia dalam Hidup Termasuk Menikahi Seekor Babi
Cicilia Oday
Novel
Femme Fatale
Purnama Putri
Skrip Film
Semesta dalam Elegi Biru
Hasna Khairunisa
Skrip Film
Pernikahan Dini
hanita
Novel
Bronze
Menunggu Bulan *Novel*
Herman Sim
Novel
Hidup Mati
Justang Zealotous
Flash
Berkunjung
Rolly Roudell
Cerpen
Harmonika Penghubung (kenali dirimu dan aku)
muhamad fahmi fadillah
Novel
Yang Tak Pernah Kembali
Chocola
Rekomendasi
Cerpen
Tak Ada yang Sia-sia dalam Hidup Termasuk Menikahi Seekor Babi
Cicilia Oday
Cerpen
Topeng Keindahan
Cicilia Oday
Cerpen
Porter Kereta
Cicilia Oday
Novel
Bronze
Kasus Langka Keluarga Nirgunaman
Cicilia Oday
Cerpen
Bronze
Bunga Apa yang Kau Masukkan ke Mulutmu?
Cicilia Oday
Cerpen
Bronze
Memeluk Kaktus
Cicilia Oday
Cerpen
Bronze
Kota Mati 2066
Cicilia Oday
Cerpen
Istriku dan Anjingnya
Cicilia Oday
Novel
Bronze
Rentang dan Rajut
Cicilia Oday
Cerpen
Bronze
Kucing itu Merebut Kekasih Nina
Cicilia Oday