Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Siang itu, suasana di Ruang Rapat Garuda lebih mencekam daripada ruang sidang pengadilan militer. Kami berlima (tim inti Divisi Kreatif) duduk mengelilingi meja oval besar yang dingin. Di tengah meja, sebuah perangkat Conference Cam mahal (yang bentuknya kayak mata Sauron) berdiri tegak, terhubung ke layar proyektor raksasa di depan kami.
Kami sedang menunggu Pak Barata. Investor utama. Pemilik saham mayoritas. Manusia yang konon senyumnya mahal sekali, saking mahalnya sampai tidak pernah dikeluarkan.
"Inget ya," bisik Pak Manajer, suaranya gemetar, matanya melotot ke arah kami. "Pak Barata lagi di luar kota. Koneksinya mungkin jelek. Tapi jangan ada yang berani main HP. Pandangan lurus ke layar. Posisi duduk tegak. Jangan ada suara napas yang berlebihan. Kalau beliau marah, terima saja. Jangan membantah."
Aku, mengangguk kaku. Di sebelahku ada Dito (IT Support yang mukanya sudah pucat kayak mayat formalin), Rini (HRD yang biasanya galak tapi sekarang kuku jarinya sudah habis digigiti), dan Devi (Sekretaris yang memegang notulen dengan tangan gemetar).
Kami semua tahu agenda hari ini: Pembantaian Massal. Kinerja kuartal ini turun drastis. Kami siap dimaki-maki.
Layar proyektor berkedip. Tulisan "Connecting..." berputar-putar.
Jantungku berdegup kencang. Suasana hening. Suara jarum jam dinding terdengar seperti dentuman meriam.
Bloop. Koneksi tersambung.
Wajah Pak Barata muncul di layar raksasa sebesar 100 inci. Resolusinya pecah-pecah sedikit, sepertinya beliau sedang berada di sebuah villa atau hotel mewah dengan pencahayaan remang-remang yang dramatis.
"Selamat siang," suara Pak Barata menggelegar dari speaker Dolby Surround di pojok ruangan. Bass-nya nendang banget sampai dadaku bergetar.
"S-selamat siang, Pak," jawab kami serempak, seperti paduan suara anak TK yang ketakutan.
"Langsung saja," Pak Barata membuka sesi tanpa basa-basi. Wajahnya garang. Alisnya menyatu. "Saya lihat laporan yang kalian kirim via email. Sampah. Betul-betul sampah."
Hening. Dito menunduk dalam. Kakinya di bawah meja gemetar, menyenggol kakiku. Dug. Dug. Dug. "Diam napa, Dit," batinku menjerit.
Pak Barata mulai berkhotbah. Memarahi kami habis-habisan. "Kalian ini digaji mahal buat apa?! Buat ngopi?! Buat ngerumpi?! Mana ide briliannya?! Saya butuh terobosan! Bukan alasan!"
Tangannya bergerak liar di depan kamera laptopnya. Dia sedang emosi tingkat dewa.
Dan di situlah... Petaka (baca: Anugerah) itu dimulai.
Entah karena beliau terlalu semangat menggebrak meja di sana, atau mungkin kepencet shortcut keyboard yang dia tidak tahu fungsinya, tiba-tiba tampilan di layar proyektor berubah.
GLITCH.
Wajah Pak Barata yang tadinya menyeramkan, tiba-tiba tertutup oleh filter "Alien Hijau".
Bukan alien yang seram. Tapi alien kartun dengan mata hitam besar yang belok, kepala lonjong hijau neon, dan mulut kecil yang bergerak unyu.
"JAWAB SAYA! KENAPA DIAM SAJA?!" bentak Pak Barata.
Suaranya: Bariton, menggelegar, penuh amarah. Visualnya: Alien hijau imut yang sedang ngamuk.
Di ruang rapat, waktu seolah berhenti. Aku melirik Dito. Mata Dito membelalak. Pipinya langsung menggembung seperti ikan koki. Dia menahan napas secara mendadak. Aku melirik Rini. Rini menggigit bibir bawahnya begitu keras sampai bibirnya memutih. Pak Manajer? Dia mematung. Matanya berkedip cepat, mencoba memproses apakah ini halusinasi akibat kurang tidur atau kenyataan.
"KENAPA KALIAN MELIHAT SAYA SEPERTI ITU?!" teriak Si Alien Hijau.
Matanya yang belok di layar berkedip-kedip lucu. "SAYA SERIUS! INI MENYANGKUT MASA DEPAN PERUSAHAAN!"
Tuhan... cobaan macam apa ini? Ini jauh lebih berat daripada menahan boker di tol Jagorawi saat macet total. Aku merasakan gejolak aneh di perutku. Gejolak tawa yang ingin meledak keluar, tapi tertahan oleh rasa takut dipecat. Kombinasi maut ini menghasilkan rasa sakit fisik yang nyata.
Aku segera mencubit paha kiriku. Keras. Aww! Sakit. Fokus pada rasa sakit, Cahyo. Fokus. Jangan tertawa. Itu bosmu. Itu Alien... eh, Bosmu.
Pak Manajer, dengan sisa kewarasannya, mencoba memberitahu. "Ehm... Maaf... Maaf Pak Barata..." suaranya bergetar.
"APA LAGI?!" Alien itu mendekatkan wajahnya ke kamera. Sekarang, satu layar proyektor penuh dengan wajah Alien hijau close-up. Lubang hidung digitalnya kembang kempis.
"I-itu Pak... Sepertinya... kameranya... ada gangguan visual sedikit..."
"Gangguan apa?! Sinyal saya bagus! Ini WiFi hotel bintang lima!" Pak Barata makin marah. Dia tidak sadar.
Lalu, dia mencoba mengutak-atik laptopnya. "Sebentar, saya cek setting."
Dia menekan tombol yang salah lagi. Filter Alien hilang. Fyuuh... Tapi kemudian... Dia mengaktifkan fitur "Background Replacement".
POOF!
Latar belakang kamar hotel mewah itu hilang. Digantikan oleh video looping Pesta Disko Pantai.
Bayangkan ini: Wajah Pak Barata yang tua, kaku, dan sedang marah besar. Tapi di belakangnya, ada video ombak bergulung, lampu disko kelap-kelip, dan siluet orang-orang berbikini yang sedang joget ajeb-ajeb.
Kontrasnya sungguh mematikan akal sehat.
"Jadi, strategi marketing kalian itu lemah!" semprot Pak Barata. Sementara di belakang kepalanya, ada bola pantai yang memantul-mantul ceria.
Pffftt... Terdengar suara desisan halus. Seperti ban bocor. Itu suara Devi. Dia tidak kuat. Dia menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik map notulen. Bahunya berguncang hebat.
Pak Manajer melotot ke arah Devi. Matanya memberi kode: "JANGAN KETAWA ATAU KITA MATI SEMUA!"
Aku menendang kaki Devi di bawah meja. Devi membalas dengan injakan sepatu hak tinggi di kakiku. Nyut! Sakit. Tapi setidaknya aku tidak jadi ketawa.
"Devi! Kenapa kamu nunduk?!" tegur Pak Barata (dengan latar belakang pantai dugem).
Devi mengangkat wajahnya. Matanya berair. Mukanya merah padam. Hidungnya kembang kempis menahan ledakan. "Sa... Saya... mencatat, Pak. Pulpen saya jatuh," dustanya. Suaranya terdengar seperti orang tercekik.
"Cari pulpen saja lama! Dasar lamban!"
Pak Barata kembali mengutak-atik. Dia sadar background-nya aneh. "Ini kenapa ada orang joget-joget di belakang saya?! Siapa yang bajak Zoom saya?!" paniknya.
Dia menekan tombol Audio Settings secara acak. "Halo? Halo? Masih dengar saya?"
Klik. Dia tidak sengaja mengaktifkan Voice Changer: HELIUM (Chipmunk).
"TES TES SATU DUA!"
Suaranya berubah. Suara bariton yang maskulin dan mengintimidasi itu lenyap. Berganti menjadi suara cempreng, melengking, dan super cepat seperti Alvin and The Chipmunks yang habis menghirup satu tangki helium.
"KALIAN DENGAR SAYA TIDAK?! KOK MALAH PADA DIAM?!" (Baca dengan nada Chipmunk).
BOOOOM. Pertahanan Dito jebol.
Dito langsung membekap mulutnya dengan kedua tangan, membungkuk sampai jidatnya membentur meja. DUG! Bunyinya keras sekali. Tapi Dito tidak peduli rasa sakit. Dia sedang berjuang melawan maut. Dia menahan tawa sampai urat lehernya menonjol keluar. Wajahnya berubah ungu. Dia seperti orang yang sedang kena serangan jantung tapi versi komedi.
Rini di sebelahku sudah tidak sanggup. Dia mencubit lenganku. Keras sekali. Kukunya menancap di dagingku. "Sakit, Rin!" bisikku tanpa suara. "Diem lu, gue gak kuat," balas Rini dengan mata melotot berair.
Pak Manajer, sang pemimpin kami, melakukan hal paling pengecut tapi jenius: Dia pura-pura batuk. "UHUK! UHUK! UHUK!" Dia batuk keras sekali untuk menutupi suara cekikikan kecil yang mulai bocor dari mulut kami. "Maaf Pak... uhuk... tenggorokan saya kering..."
Di layar, Pak Barata (suara Chipmunk) makin emosi. "MINUM KALAU KERING! JANGAN BATUK DI MIKROFON! TIDAK SOPAN!"
Ya Tuhan... dimarahi Chipmunk galak itu rasanya... absurd. Separuh jiwaku ketakutan, separuh lagi ingin guling-guling di lantai.
"Oke, saya tidak mau buang waktu!" cicit Pak Barata (Chipmunk). "Saya mau share screen data penjualan kompetitor. Perhatikan!"
Ini adalah babak final. The Final Boss Stage.
Pak Barata, dengan gaptek-nya, menekan tombol Share Screen. Tapi dia tidak memilih Window PowerPoint. Dia memilih Entire Screen.
Layar proyektor kami kini menampilkan seluruh isi desktop laptop Pak Barata. Kami bisa melihat wallpaper-nya: Foto selfie close-up Pak Barata memakai kacamata hitam dengan caption yang diedit pakai Paint: "STAY COOL".
Tapi bukan itu yang bikin kami mati kutu. Yang bikin kami mati kutu adalah Tab Browser yang sedang terbuka di Google Chrome-nya.
Ada tiga tab.
Tab 1: "Obat kuat herbal tahan lama rekomendasi dokter" Tab 2: "Cara mengetahui apakah karyawan membicarakan kita di belakang" Tab 3: (Yang sedang aktif) YouTube dengan judul video: "TUTORIAL GOYANG PARGOY UNTUK LANSIA - SENAM SEHAT"
Hening. Keheningan di Ruang Rapat Garuda benar-benar absolut. Tidak ada yang berani bernapas.
Kami menatap layar raksasa itu. Menatap rahasia kelam Bos Besar kami. Ternyata... Pak Barata sedang belajar Goyang Pargoy. Dan dia mencari obat kuat. Dan dia insecure sama karyawannya.
"Ehem..." Pak Barata bergumam (masih suara Chipmunk). Dia belum sadar apa yang dia tampilkan. Dia menggerakkan kursor mouse-nya. Kursor itu melayang di atas video Goyang Pargoy.
Lalu, tak sengaja... KLIK. Videonya ter-play.
Musik Jedag Jedug Kencang Memenuhi Ruangan. DUM TAK DUM DUM TAK! TET TEW TEW TEW!
Video seorang instruktur senam seksi sedang melakukan goyang pargoy terpampang di layar 100 inci dengan kualitas 4K.
"Eh?! Eh?! Kok ini?! Mana PowerPoint-nya?!" teriak Pak Barata (Chipmunk). Dia panik. Kursor mouse-nya bergerak liar ke sana kemari seperti lalat mabuk. Dia mau nge-close, tapi malah nge-maximize videonya.
LAYAR PENUH! Goyang Pargoy memenuhi seluruh dinding depan ruang rapat.
Di titik ini, pertahanan manusiawi kami runtuh total.
Dito jatuh dari kursi. Benar-benar jatuh. Gedebuk! Dia menghilang ke kolong meja. Dari bawah meja, terdengar suara seperti orang asma yang kehabisan oksigen. "Hhh... hhh... tolong..."
Rini menelungkupkan wajahnya ke meja. Bahunya berguncang hebat seperti sedang gempa bumi skala 8 richter. Terdengar suara ngik-ngik dari hidungnya.
Pak Manajer? Pak Manajer berdiri, berbalik menghadap tembok belakang, dan membenturkan jidatnya pelan-pelan ke tembok. Dug. Dug. Dug. Dia sedang mencoba menghapus ingatan ini secara fisik.
Aku? Aku menggigit dasiku sendiri. Aku memasukkan ujung dasi ke dalam mulut dan menggigitnya sekuat tenaga. Rasanya asin dan apek, tapi aku tidak peduli. Air mataku mengalir deras. Perutku kram seolah-olah ususku sedang diperas. Aku tidak berani bersuara, jadi aku hanya bergetar seperti HP mode silent.
"MATI! MATI KAU!" teriak Pak Barata (Chipmunk) pada laptopnya.
Tiba-tiba, dari speaker, terdengar suara lain di lokasi Pak Barata. Suara wanita paruh baya. Istrinya.
"PAH! ITU APAAN?! KOK ADA MUSIK DUGEM?! PAPAH NONTON APA?!"
Pak Barata panik. "ENGGAK MAH! INI IKLAN! IKLAN!"
"IKLAN KOK JOGET-JOGET GITU?! PAPAH LIAT CEWEK YA?! KATANYA RAPAT?!"
"INI RAPAT MAH! JANGAN MASUK FRAME!"
Tampaklah di layar (yang sekarang sudah terminimize videonya), sosok istri Pak Barata yang memakai daster batik dan masker wajah warna putih, menjewer telinga Pak Barata.
"MATIIN GAK?! MALU SAMA CUCU!"
"IYA MAH! ADUH SAKIT! INI GABISA DIMATIIN!"
Adegan KDRT (Kekerasan Dalam Ruang Tamu) itu tersaji live di depan kami. Bos kami, Sang Singa Barata, dijewer istrinya sambil suaranya masih cempreng kayak Chipmunk.
"Barata_Wicaksana has left the meeting."
Layar menjadi hitam. Koneksi putus. Pak Barata (atau mungkin istrinya) mencabut kabel internet atau melempar laptopnya ke kolam renang. Kami tidak tahu.
Ruangan hening selama 5 detik. Kami saling pandang dengan wajah basah oleh air mata dan keringat.
Lalu...
"BWAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAH!!!!"
Meledak. Ruang Rapat Garuda yang kedap suara itu meledak oleh tawa histeris lima orang manusia yang nyaris gila.
Dito merangkak keluar dari kolong meja, memegangi perutnya. "GOYANG PARGOY ANJIR! HAHAHAHA! SAMA OBAT KUAT! GUE GAK KUAT!"
Rini memukul-mukul meja sampai tangannya sakit. "ALIEN HIJAU! CHIPMUNK! DIJEWER ISTRI! HAHAHAHA! YA ALLAH PERUTKU SAKIT!"
Pak Manajer merosot duduk di lantai, melonggarkan dasinya, tertawa sampai menangis tersedu-sedu. "Wibawa saya... hancur... tapi worth it... Hahahaha! Besok kalau dia marah, gue setel lagu pargoy aja!"
Aku terbaring di kursi, menatap langit-langit. Dasi masih di mulut. Aku tertawa tanpa suara karena suaraku sudah habis. Kami tertawa selama 15 menit non-stop. Sampai OB mengetuk pintu kaca karena mengira kami kesurupan massal.
Hari itu, kami aman (karena Pak Barata terlalu malu untuk menghubungi kami lagi hari itu). Tapi hari itu, sebuah legenda lahir. Dan sebuah grup WhatsApp baru terbentuk di antara kami berlima.
Nama grupnya: "PASUKAN PARGOY CHIPMUNK".
Setiap kali pekerjaan terasa berat, atau setiap kali Pak Barata memarahi kami di kemudian hari, salah satu dari kami cukup mengirim stiker Alien Hijau atau GIF tupai di grup itu. Dan seketika, ketegangan di ruangan akan cair, digantikan oleh senyum-senyum tertahan yang penuh makna.
Kami selamat dari neraka, berkat keajaiban teknologi dan kegaptekan seorang bapak-bapak tua.