Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
: Pigga
Ia berasal dari Brazil, hidup di tepi-tepian jalan aspal. Entah sejak tahun berapa ia berimigrasi ke Indonesia. Yang jelas kelopaknya menyimpan kenangan. Daunnya yang berguguran laksana dirinya yang kemudian berlalu pulang. Adanya untuk memberikan keindahan. Kisahnya, Oktober ini ia mekar, wajah jalan menjadi rupawan.
Baginya negeri Jepang telah berpindah ke Indonesia. Matanya menatap lekat, pipinya berseri senang, bibir mungilnya tak henti menyuarakan ketakjuban. Hujan berlinang. Ia masih singgah di detik akhir tahun. Ada hujan, dirinya, juga bunga Tabebuya, bunga yang mengingatkanku kepada sebuah perjalanan panjang. Pohonnya yang tinggi daripada bunga mawar dan melati menjadi saksi pertemuanku dengannya, kami tidak pernah menjabat tangan atau berpelukan di bawah kerindangan bunganya, juga tidak saling bertukar warna kelopaknya, kami hanya menatapnya dari balik kaca mobil, menikmati keanggunan alam yang diciptakan Tuhan. Hujan menitik di tubuhnya, ia menjernihkan warnanya.
“Anggap saja itu adalah bunga Sakura, kau tahu? Aku sangat menyukainya, ketika bunga itu belum mekar, siapa pun jarang ada yang memerhatikan daun lebat hijau tajamnya, pohonnya seperti pohon liar tidak menampilkan kecantikan. Aku menjamin, tidak seorang pun memandang tubuhya di jalan ini, orang yang berlalu-lalang sibuk mengejar urusan mereka masing-masing, meringkas waktu dengan kecepatan kendaraan, saling menyalib satu sama lain.” Penjelasannya di dalam mobil. “Namun bagiku, tanaman itu sangatlah indah, mempesona!”
Aku mendengarkan dengan saksama. Kami sedang dalam perjalanan menuju kampus. Mobil yang kami tumpangi, bukanlah mobil pribadi seperti milikmu, kami berdua terlahir dari orangtua petani, makan sesuap nasi hasil olahan tangan pertiwi, keluarga dengan perekonomian pas-pasan hanya mampu menaiki angkutan umum dengan tarif mahasiswa pada umumnya.
Penumpang yang lain memasang wajah datar, sebagian menunduk pada wajah layar bercahaya, yang lain diam saja melamunkan masalah-masalah kehidupan yang menjadi lalu atau mungkin sekadar mengenang kenangan masa lalu. Satu wanita tua pembawa ayam dipangkuannya tampak tertarik mendengarkan obrolan. Bungan Tabebuya mengayomi alam yang mendung, ia seolah ingin menjadi bintang di tengah kegelapan dengan warna kelopaknya. Ada putih, kuning, juga merah muda.
Imajinasikan saja Sakura yang mekar di sederet jalan raya, kanan juga kiri, ujung rantingnya hendak berpelukan. Beberapa daunnya masih menemani bunga-bunganya, dan lebih banyak daun yang telah menggugurkan diri, memberikan kepercayaan penuh untuk menjaga pesona batang pohonnya kepada bunga-bunga yang mekar.
“Dan ketika ia mekar… seisi alam terpesona. Kumbang hinggap, kupu-kupu jatuh hati. Kau juga diriku jatuh pada relung kelopaknya,” Rena menunjuk bunga itu dengan telunjuknya. Bibirku menggeliat dengan tingkahnya. Rena, ya kau boleh memanggil gadis manis itu, mahasiswa semester sembilan yang sedang mengejar tugas skripsi, ia mengenang dosennya di hadapanku, ketika mendung bertebaran di langit, sebelum hujan berlinang dan tentunya sebelum ia memperkenalkan Tabebuya padaku. Kami duduk di masjid Salaman Magelang, memandang halaman datarnya yang kering, kendaraan di jalanan di luar gerbang membuat suasana bising, namun suranya tetaplah mengalir tenang.
Lima belas menit yang lalu, kami berkeliaran di pasar, menatap acuh para pedagang, tidak tergiur dengan pesona buah-buahan yang ditawarkan, aalagi terjebak dalam perangkap nafsu ingin membeli pakaian baaru, kami sangat sadar tujuan kami melancong ke sela-sela tempat kumuh itu bukan untuk membelanjakan rupiah, sekadar mengusir penat menjadi anak rumahan dalam tanda petik. Kau paham bukan apa yang aku maksudkan? Bukan anak rumahan yang hidup di gedung seperti istana itu, lebih tepatnya manusia yang dikurung oleh zaman karena kesepian.
Hal yang menarik bagiku di kandungan pasar bukan jajanan orang desa yang murah meriah. Namun pada wajah-wajah sedu pemeluk jalanan yang melingkarkan lengannya pada punggung malam. Merekalah orang yang memetik senar gitar tua, pelantun suara sumbang, penengadah rupiah dari ke dalam bungkus permen, pemillik kesedihan yang tidak pernah berujung.
“Aku sangat sebal, dosenku itu memuakkan. Tugas skripsiku dipersulit, jangankan isinya, dari segi tulisan yang kurang spasi saja dikomentari. Aku putus asa tahun ini sebab tidak bisa ikut wisuda bersama teman-teman,”
“Dosen itu hebat! Ia sangat memperhatikanmu!” meski aku belum mengenalnya, namun aku yakin orangyang dimaksud Rena adalah orang mulia yang tidak sembarangan. Ia memiliki target yang harus digapai mahasiswa, tentunya bukan sekadar nilai yang memuaskan, melainkan pemahaman.
“Satu bab skripsiku, revisi sampai lima kali, kapan selesainya? Giliran tugas skripsi mau diambil atau dikumpulkan dianya sibuk, rapatlah, pergi ke manalah, seringkali mengulur-ulur waktu.” Air mukanya tertekuk sebal. Emosi negatifnya tergurat di wajah. Rena, gadis yang lebih pendek dari tubuhku, sosok yang umurnya selisih satu tahun lebih muda dariku, adalah kawan yang baru saja aku temukan di sebuah perpustakaan kampung.
Dari gayanya bertutur, ia seperti makhluk yang sangat mudah kehilangan semangat, tidak hanya itu saja, ia juga gadis kecil yang mudah panik. Kami hendak menyebrang jalan, ia gusar tak kepalang sebab arus kendaraan deras. Seusai nongkrong di masjid kami berangkat ke kampus untuk mengambil tugas skripsinya. Dosennya tidak ada, lembaran tugasnya bahkan belum dikoreksi, rektor kampus hanya memandanganya iba. Pada akhinya di angkutan ini waktu menjebak kami dalam kenangan indah bersama ratusan kelopak Tabebuya dari balik kaca mobil.
Kami berbincang banyak hal tentang orang-orang pinggiran. Salah satunya mengenai anak jalanan yang tinggal di kampungnya, nama tak perlu aku sebutkan. Darinya ia berkisah anak tersebut amatlah nakal, tercoreng noda hitam di tempat kelahirannya, seringlah membuat kerusuhan, pandangan benci terpancar dari bola mata tetangga, membuat malu orangtua, sering main malam, jarang pulang, entah di mana ia berlindung dari terpaan hujan. Namun besarnya ia menjadi bunga di kampung, namanya disiulkan di waktu pagi, sore, maupun petang. Pemuda jalanan yang rambutnya gondrong, berkulit hitam pekat itu kini mendirikan rumah baca di kampungnya, ya kusebut perpustakaan kampung, tempat yang menaungi jabatan tangan kami untuk yang pertama kalinya. Siapakah yang akan peduli dengan kenakanalan anak tersebut? Siapakah yang akan mengenangnya? Namun ketika ia menciptakan keindahan? Hal buruknya akan tergeser dengan sendirinya, kenakalannya adalah sejarah yang dijadikannya sebagai bahan pembelajaran insaf di masa depan.
“Kau sendiri yang mengatakan bahwa sebelum Tabebuya mekar tidak seorang pun memperhatikan tubuhnya,” aku mengembalikan kalimat utama, ia berkerut kening, kuajak otaknya berpikir.
“Bahkan bisa jadi, banyak orang yang tidak mengenal siapa itu Tabebuya, setahu mereka ia adalah tanaman penghias jalan yang tidak bergitu menawan, tugasnya mengurangi populasi kendaraan, memasok oksigen-oksigen alam agar panas matahari tidak terlalu menyiksa. Sebelum bunganya mekar, daun-daunnya lebat. Kau bilang seperti itu bukan?” Rena mengangguk, aku mengelap kaca mobil. Embun menitik, dingin. Angkutan berhenti, dua penumpang turun. Perjalanan kembali berlanjut.
“Tidak ada yang mau mengenal siapa dosenmu, yang mereka tahu dosenmu itu menyebalkan. Mengkritisi sangat detail. Mengoreksi dengan teliti. Mengulur-ngulur waktu wisudamu. Tentu saja itu bukan kesengajaan, Rena! Bisa jadi baginya itu proses, proses belajar agar skripsimu benar-benar dapat dipertanggungjawabkan. Seharusnya kau bersyukur, sebab bunga Tabebuya ketika mekar tidak pernah meninggalkan keburukan, indah, membuat banyak orang tertarik padanya, bukankah jika nilai skripsimu bagus dan kau diwisuda dengan perjuangan beratmu akan lebih banyak orang yang bangga? Kau sendiri puas! Puas berkali-kali lipat, di sisi lain, pemahamanmu akan bertambah, dan kau paham dalam arti yang sebenarnya!”
“Kau ingin bilang bahwa dosen itu seperti Tabebuya?”
“Tidak,” aku menyanggah. Angkutan berhenti, kami harus turun untuk berganti bus. Pindah jalur trasnpostasi.
Penumpang lebih banyak. Aroma parfum dengan knalpot kendaraan bekerjasama mengaduk perut. Kondektur berisik menawarkan perjalanan pulang yang tidak bergitu menggiurkan pejalan kaki. Kami duduk di dekat pintu bus, Rena di sisiku, sementara aku menyandar di bahu jendela. Kami diam sejenak, menyamankan posisi duduk sebelum melanjutkan obrolan.
“Bunga itu seperti orang-orang yang tidak diperhatikan,” aku berfilosofi, Rena mendengarkan.
“Bukan hanya dosen dinginmu, namun juga dirimu, bahkan seluruh manusia di muka bumi ini yang mempunyai kesalahan. Siapa yang hendak mempedulikannya?”
Rena diam.
“Tahukah orang lain, bahwa orang-orang yang disorot kurang benar itu tidak semuanya buruk? Ada dari mereka yang berpikir, berusaha memperbaiki diri, namun orang lain tetap memberi label tidak baik. Ketika ia sampai puncaknya, orang barulah akan percaya bahwa ia tidak seburuk yang mereka anggap. Apakah kau akan menjadi orang yang menilai sisi buruk orang lain, Rena?”
Gadis itu menggeleng. “Maka dari sekarang, berpikirlah baik mengenai dosenmu, jangan menyalahkan keburukan orang lain. Seperti orang kampung yang melabeli hal buruk kepada pendiri perpustakaan di tempatmu, kau berlatarbelakang pendidikan, lingkunganmu baik, tentu saja akan sangat aneh jika pikiranmu hanya dihuni dengan keluhan-keluhan yang kurang berarti. Kau hanya perlu menuruti perkataan dosen, mengerjakan tugasmu, usainya gunakan ijazahmu untuk menggapai impianmu di dunia ini.”
“Hmm,” napasnya berdesis agak berat. “Kau benar,”
“Alam raya ini adalah pembelajaran, maka sekali-kali kau perlu merenungkan mereka, aplikasikan ke dalam kehidupan nyatamu, Rena.” Ia tersenyum, amat sangat manis. Perjalanan berakhir. Kami berpisah di persimpangan, pulang ke rumah masing-masing.
Itu kisah lalu, kini menjadi kenangan yang tersimpan pada kelopak Tabebuya. Sepanjang jalan menuju Yogyakarta aku tak lelah memandang bunga yang mekar di sisi jalan. Ada rindu yang terpancar dari warna lembutnya, ada kenangan yang membiak darinya. Ada suara lembut yang dihantarkan angin padanya. Rena, aku menyimpanmu dalam kelopak Tabebuya. Karenanya aku mengingat seorang sahabat yang mencintai bunga. Pigga.
Magelang, 17 Oktober 2017.