Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Kantor itu buka pukul delapan. Adi datang pukul tujuh empat puluh lima.
Ia melepas helm, menaruhnya di bawah meja, lalu menggantung tas di sandaran kursi. Meja itu sudah ada sebelum ia bekerja di sana. Catnya mengelupas di beberapa sudut. Lacinya sering macet jika ditarik terlalu cepat. Adi tahu sudut yang harus ditekan agar laci itu bisa terbuka tanpa bunyi keras.
Ia menyalakan kipas angin. Bunyi kipas lebih dulu terdengar, baru baling-balingnya bergerak. Udara di ruangan tidak berubah banyak. Kipas hanya memindahkan panas dari satu sisi ke sisi lain.
Adi mengeluarkan stempel, bantalan tinta, dan buku agenda. Ia membuka halaman hari ini. Tanggal sudah dicetak. Kolom-kolomnya kosong.
Pukul delapan lewat lima, surat pertama masuk.
Seorang laki-laki berdiri di depan mejanya. Usianya sekitar lima puluh tahun-an. Rambutnya tipis di bagian depan. Kemejanya rapi, tapi warnanya tidak lagi jelas. Kancing paling atas tidak dikancingkan.
Di tangannya ada map cokelat. Map itu dipegang dengan dua tangan. Sudutnya sedikit tertekuk.
“Permohonan,” kata laki-laki itu.
Adi menerima map tersebut. Beratnya biasa. Ia membuka dan memeriksa isinya satu per satu. Fotokopi kartu identitas. Surat keterangan RT. Surat pengantar kelurahan. Peta bidang tanah. Semuanya ada. Tidak ada yang perlu diminta tambahan.
“Lengkap,” kata Adi.
Ia mencatat nomor agenda. Menuliskan tanggal. Memberi cap pada lembar pertama. Capnya sedikit miring, tapi masih bisa terbaca.
“Berapa lama, Pak?” tanya laki-laki itu.
Adi berhenti sejenak sebelum menjawab.
“Diproses dulu,” katanya. “Nanti ada pemberitahuan.”
Laki-laki itu mengangguk. Tidak bertanya lagi. Ia menerima kembali tanda terima, melipatnya rapi, lalu pergi. Pintu kaca tertutup pelan di belakangnya.
Adi menaruh map cokelat itu di tumpukan kanan. Tumpukan yang akan diproses.
Hari berjalan tanpa kejadian khusus.
Map-map berpindah dari satu meja ke meja lain. Surat masuk dicatat. Surat keluar diberi nomor. Ada yang dikembalikan karena kurang lampiran. Ada yang ditunda karena pejabat terkait tidak berada di tempat.
Sore harinya, map cokelat itu kembali ke meja Adi. Ada catatan kecil menempel di pojok kanan atas.
Menunggu disposisi.
***
Adi membaca catatan itu, lalu memasukkan map ke rak besi di belakangnya. Rak itu dibagi menjadi beberapa bagian. Tidak ada pembatas resmi, hanya kebiasaan yang terbentuk dari waktu ke waktu. Map cokelat itu diletakkan di bagian “Proses”.
Keesokan harinya, map itu masih di sana.
Hari berikutnya pun, masih.
Pada hari keempat, Adi baru membawa map tersebut ke atasannya.
“Ini sudah lengkap,” katanya. “Warganya menunggu.”
Atasannya membuka map itu sebentar, lalu menutupnya kembali.
“Taruh dulu,” katanya. “Jangan didorong. Kita ikuti alur.”
Adi mengangguk. Ia membawa kembali map itu ke rak.
Minggu pertama berlalu.
Pada minggu kedua, ada pemberitahuan lisan dari bagian lain. Semua berkas terkait tanah harus disesuaikan dengan data kabupaten. Tidak ada surat resmi. Tidak ada petunjuk teknis tertulis.
Adi membawa map cokelat itu ke bagian terkait. Petugas di sana memeriksa sebentar, lalu mengembalikannya.
“Secara data nggak masalah,” katanya. “Tapi tunggu arahan.”
Arahan itu tidak datang.
Map itu pun kembali ke rak.
***
Beberapa hari kemudian, laki-laki pemilik map datang lagi. Ia berdiri lebih lama dari sebelumnya.
“Sudah sampai mana?” tanyanya.
Adi membuka buku agenda. Nomornya ada. Tanggalnya jelas.
“Masih proses.”
“Kurang apa lagi?”
Adi menggeleng. “Bukan kurang. Masih menunggu.”
Laki-laki itu diam sebentar. Tangannya bertumpu di meja.
“Kalau lama begini,” katanya, “rumah saya keburu kena.”
Adi tidak bertanya lebih jauh. Dalam formulir yang ada, tidak ada kolom untuk kemungkinan itu.
“Kami ikuti prosedur,” katanya.
Laki-laki itu mengangguk pelan. Ia pergi tanpa berkata apa-apa lagi.
Adi menatap map cokelat itu sebentar. Ia mempertimbangkan untuk memindahkannya ke bagian depan rak. Tapi rak itu tidak punya urutan resmi. Memindahkan satu map berarti mengubah posisi map lain. Ia tidak yakin itu perlu.
Map itu dibiarkan di tempatnya.
***
Hari-hari berikutnya berlalu tanpa perubahan berarti.
Ada hari di mana map itu berpindah meja, lalu kembali lagi. Ada hari di mana tidak ada yang menyentuhnya sama sekali. Catatan kecil bertambah. Tulisannya berbeda-beda, tapi isinya serupa.
Tunggu.
Koordinasi.
Belum ada arahan.
Tidak ada keputusan tertulis. Tidak ada penolakan. Tidak ada persetujuan.
Suatu pagi, ketika Adi membuka rak, map cokelat itu tidak ada.
Ia memeriksa bagian lain. Memindahkan beberapa map. Tidak ditemukan.
Ia bertanya ke meja sebelahnya.
“Kemarin lihat map ini?” tanyanya sambil menyebutkan nomor agenda.
Petugas itu berpikir sebentar. “Kayaknya kemarin masih ada.”
Adi bertanya ke bagian verifikasi. Ke arsip. Ke kepala seksi.
Jawabannya hanpir sama.
“Belum lihat.”
“Coba cari lagi.”
“Biasanya nggak ke mana-mana.”
Tidak ada yang menuliskan kehilangan itu. Tidak ada yang menganggapnya mendesak.
Hari itu berakhir begitu saja.
***
Besoknya, pekerjaan berjalan seperti biasa. Surat masuk dicatat. Surat keluar diberi nomor. Tidak ada pembahasan tentang map yang hilang.
Adi sempat mempertimbangkan membuat laporan. Tapi laporan berarti kronologi. Kronologi berarti pertanyaan lanjutan. Ia tidak melakukannya.
Beberapa hari kemudian, dalam perjalanan pulang, Adi melihat spanduk besar di pinggir jalan. Spanduk penggusuran. Ada logo instansi. Ada tanggal pelaksanaan.
Nama wilayah yang tertulis di sana sama dengan yang ada di map cokelat itu.
Tanggalnya berdekatan.
Malam itu, Adi menonton berita lokal. Liputannya singkat. Gambar rumah-rumah berdempetan. Wawancara pejabat. Pernyataan normatif.
“Sudah sesuai prosedur.”
“Sudah ada pemberitahuan.”
“Warga diminta memahami.”
Tidak ada yang menyebut berkas. Tidak ada yang menyebut proses.
***
Keesokan paginya, Adi datang seperti biasa. Ia membuka laci. Mengeluarkan stempel. Menyalakan kipas angin.
Map cokelat itu tetap tidak ada.
Buku agenda masih mencatat nomor tersebut. Kolom keterangan akhir kosong.
Menjelang siang, seorang perempuan datang membawa map cokelat lain. Warnanya hampir sama.
“Permohonan,” katanya.
Adi menerima map itu. Membuka. Memeriksa. Lengkap.
Ia mencatat nomor agenda baru. Memberi cap tanggal. Capnya kembali sedikit miring.
Map itu diletakkan di tumpukkan bagian kanan.
Sore hari, Adi merapikan meja. Ia menutup buku agenda. Memasukkan stempel ke laci. Laci itu menutup tanpa bunyi.
Ia mematikan kipas angin. Ruangan menjadi sunyi.
Besok akan ada surat lain. Dan prosesnya akan berjalan seperti biasa.
***
Keesokan paginya, sebelum pukul delapan, halaman kantor sudah dipenuhi dua sepeda motor dan satu mobil dinas. Papan pengumuman di dekat pintu ditempeli kertas baru. Tulisannya dicetak kecil. Tentang penyesuaian prosedur. Tentang peningkatan ketertiban administrasi.
Adi membacanya sepintas. Tidak ada poin yang benar-benar baru. Hanya susunan kalimat yang berbeda.
Ia masuk ke ruangan, membuka buku agenda, lalu melihat nomor lama yang kolom akhirnya masih kosong. Ia tidak menambahkan keterangan apa pun.
Di luar, antrean mulai terbentuk. Map-map cokelat dipegang dengan dua tangan. Sudut-sudutnya tertekuk. Tidak ada yang tahu berapa lama mereka akan berada di rak besi itu. Tidak ada yang menanyakan ke mana sebuah map bisa hilang.