Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Surat Yang Tak Pernah Selesai Ditulis
0
Suka
20
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

_____________________________________________________________________________

Aku sudah sampai di Kairo seminggu yang lalu. Sejak saat itu, aku bertekad untuk menjadi seperti Sungai Nil yang tenang namun memberi banyak sekali berkat untuk makhluk hidup di sekitarnya. Tidak hanya manusia. Hewan dan tumbuhan hidup di sepanjang pinggiran Sungai Nil. Seluruh dunia memandang Mesir sebagai gurun pasir yang kering tanpa kehidupan, seakan melupakan bahwa Mesir memiliki Sungai Nil yang menjadi jantung Afrika dan menghidupi Mesir serta negara-negara yang dilewatinya. Sungai Nil adalah seorang anak yang lahir dari rahim ibunya. Sungai Nil adalah hujan di tengah musim kemarau. Sungai Nil adalah keajaiban dari Sang Pencipta untuk Mesir. Untuk Kairo. Dan untuk peradaban manusia kuno sampai manusia modern.

Kairo menjadi salah satu kota terbesar di Benua Hitam, di mana Sungai Nil tak hanya mengalir, tetapi juga hidup membelah kota menuju Laut Mediterania. Kairo menjadi saksi peradaban zaman dunia dan juga menjadi rumah bagi Al-Azhar yang tumbuh menjadi pusat ilmu agama Islam terbesar di dunia selama ratusan tahun. Betapa bangga dan bersyukurnya aku menjadi salah satu bagian dari dunia yang dibentuk oleh takdir yang luar biasa ini. Aku tak bisa menggambarkannya dengan kata-kata.

Bapak dan ibuku sayang.

Banyak sekali yang ingin kuceritakan setelah sampai di Kairo, yang menjadi mimpi orang tua yang ingin anaknya membuka banyak jalan menuju surga untuk mereka. Tapi kalian tak bisa membaca surat ini karena memang kalian tak bisa membaca. Maka berikanlah kertas ini kepada Farhan agar dia membacakan untuk kalian dengan lantang. Kalian pasti akan menangis bangga saat mendengarkannya. Sungguh sebenarnya aku ingin kalian mendengarkannya dari mulutku langsung sambil duduk di halaman mempelajari tanaman-tanaman yang Ibu tanam hingga ke tepi jalan.

Sebelum aku bercerita banyak, apakah saat surat ini sampai—namun entah kapan akan sampai—bisakah kalian membalasnya segera dengan memberitahukan kabar di sana lebih dulu? Aku sangat merindukan rumah sampai aku sering menangis diam-diam saat di kamar sendirian. Aku selalu mendoakan agar semua keluarga di kampung halaman tercinta yang sedang tidak baik-baik saja itu selalu diberikan keselamatan. Semoga kalian selalu mendapatkan perlindungan sampai saat aku pulang memenuhi mimpi Bapak. Bapak telah menghabiskan seluruh hidupnya agar aku bisa sampai di negara Ummu Ad-Dunya ini. Kalian lebih memilih untuk tidak memiliki apa pun daripada aku harus bodoh dan miskin pengetahuan tentang agama. Oleh sebab itu, kalian menjual semua yang kalian miliki agar aku pergi ke tempat ini, ke Kairo yang menyimpan sejarah panjang dunia. Semoga aku bisa membalasnya suatu saat. Jika tidak dengan harta, maka dengan sesuatu yang bisa kuberikan secara cuma-cuma agar kalian mendapat keselamatan di dunia dan akhirat. Bapak dan Ibu yang telah mengalir dan hidup dalam hidupku selamanya, aku mencintai kalian seumur hidup dan sampai matiku.

Aku akan menulis surat ini sampai empat belas hari agar kalian tahu rangkuman hari-hariku sejak datang sampai awal perkuliahan. Setelah itu, aku segera mengirimkannya ke kantor pos agar kalian tak khawatir dengan keadaanku di sini. Setelah membaca, simpanlah surat dariku ini sebagai kenangan yang akan kubaca ulang saat aku pulang nanti.

Bapak dan Ibu yang kurindukan.

Yang kulakukan pertama kali saat kakiku menyentuh tanah Mesir yang tandus ini adalah bersyukur. Sangat bersyukur kepada Allah SWT. Aku bersujud ke arah Ka’bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim. Lalu aku segera mencari rombongan orang-orang dari Indonesia yang akan pergi ke Al-Azhar yang sebelumnya telah bertemu di kantor Kedutaan Mesir di Jakarta. Seorang senior telah menunggu kami di tempat pengambilan koper. Fakhri namanya. Dia yang akan menuntun kami menuju gerbang mimpi setiap pemuda yang ingin menuntut ilmu agama di sini. Yaitu Universitas Al-Azhar yang agung.

Hari masih sangat pagi, namun udara di sini sudah hangat meski matahari belum terlalu tinggi. Fakhri memimpin rombongan kami yang terdiri dari delapan mahasiswa baru. Mobil sewaan yang sudah disiapkan Fakhri juga sudah menunggu kami di tempat parkir bandara yang dikelilingi pohon kurma, atau tampak seperti pohon sawit, atau pohon kelapa yang gemuk. Setelah memasukkan semua koper bergantian, kami masuk ke dalam mobil dan meninggalkan bandara internasional Mesir.

Kami berdelapan berdesakan di dalam mobil bersama koper-koper kami. Beruntungnya aku duduk di dekat pintu meskipun pahaku diduduki Anton. Mataku berlinang, tapi beberapa kali aku menyekanya. Barisan bangunan kota yang kusam dengan nuansa kuning yang asing. Apa yang ada di pikiran Bapak sebenarnya hingga Bapak terus bermimpi agar aku bisa pergi ke tempat ini? Tempat yang biasanya hanya aku baca dari buku-buku sejarah Islam dan sejarah dunia. Suasana sangat hening di mobil. Kami sangat letih, bingung, namun sangat takjub karena doa-doa yang selalu dilangitkan orang tua kami telah kembali. Kami adalah yang terpilih. Doa-doanya dikabulkan. Jauh sebelum hari ini, kami menyaksikan banyak pemuda Indonesia yang gagal melalui seleksi. Tak sedikit juga yang memaksakan untuk tetap pergi dengan membayar sejumlah uang. Begitu kata Bapak saat kami menunggu antrean di Kedutaan Mesir di Jakarta yang sedang sangat kacau.

Kami sampai di kawasan Abassiyah. Katanya, di sini banyak sekali mahasiswa asing yang tinggal. Fakhri membantu kami mencari flat dekat flat yang dia tinggali bersama lima mahasiswa dari Indonesia. Asrama Al-Azhar tak bisa menampung mahasiswa dari seluruh dunia, sehingga salah satu dari kami mencari kontak senior dari Pesantren Gontor untuk membantu mengurus kami di awal kedatangan. Aku tak tahu banyak hal karena aku bukan berasal dari pesantren terkenal. Bahkan Bapak lebih banyak mengurus keperluanku untuk berangkat daripada aku sendiri. Terima kasih, ya, Pak. Atas segala kehidupan yang kau perjuangkan untukku.

Setelah menunggu Fakhri cukup lama yang sedang bernegosiasi dengan pengelola flat dengan bahasa Arabnya yang sangat fasih. Akhirnya kami bisa masuk ke dalam kamar. Aku tinggal di lantai lima di sebuah flat dengan bangunan tua, cat mengelupas, dan ruangan dengan luas tak lebih dari lima belas meter yang disekat menjadi dua bagian. Menurut Fakhri, ini adalah yang terbaik untuk saat ini karena musim mahasiswa baru, sangat sulit mencari flat yang layak. Entah bagaimana menentukan standar layak atau tidak, bahkan aku masih tak tahu apa pun. Di dalam kamar dengan jendela tinggi yang menghadap ke gang dan balkon kecil yang terlihat sudah rapuh, aku tinggal bersama dengan Anton, Riza, Hadi, Sultan, Azhar, Faiz, dan Haykal, yang sebagian dari mereka telah menghafal tiga puluh juz Al-Qur'an dan empat puluh hadis Nawawi, dan beberapa hanya memenuhi syarat minimal untuk diterima di sini, termasuk aku. Aku bisa sampai di sini adalah berkat dari kalian. Bukan karena aku pintar.

Kami menumpuk koper di satu sudut kamar, menyatukan kasur-kasur dengan tebal sepuluh sentimeter untuk berbagi alas tidur, dan mengumpulkan buku-buku dan kitab yang kami bawa dari rumah menjadi satu. Setelah selesai, dalam sekejap suasana kembali hening.  Dengan satu kipas angin tua yang tak cukup memberi banyak angin untuk delapan orang, kami terlelap kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh lintas benua. Meskipun sangat berbeda dengan suasana di rumah yang luas dan sejuk, aku tetap sangat bersyukur dan beristirahat bersama saudara-saudara baruku.

Hari berikutnya, kami sibuk pergi ke pasar untuk membeli keperluan makan, mandi, dan lainnya. Pasar di Abassiyah lebih ramai daripada tempat bapak menjual ayam potong. Aroma roti panggang sangat khas dan bisa tercium dari semua sudut pasar setiap pagi dan sore. Rombongan kami beberapa kali bertemu dengan rombongan mahasiswa dari Indonesia lainnya. Aku menjual habis rokok dan bumbu-bumbu racikan masakan Indonesia yang kalian bawakan. Aku menjual barang-barang itu dengan mata uang Mesir sehingga nilai jualnya menjadi jauh lebih mahal daripada harga tukar mata uang rupiah. Aku masih tak mengerti mengapa kalian mendapatkan ide untuk membawa rokok dan bumbu racikan dan menjualnya di sini. Karena memang, kata Fakhri, selain keluarga, yang dirindukan di sini adalah makanan khas Indonesia yang cukup mahal jika kami membelinya di restoran Indonesia. Jadi, aku memiliki cukup banyak uang sekarang. Jangan mengkhawatirkan keadaanku.

Dua hari yang lalu, setelah kami menyiapkan banyak hal untuk keperluan kuliah, beberapa kali kami pergi ke Al-Azhar untuk menyelesaikan administrasi. Aku dan Anton keliling Kota Kairo sementara yang lain memutuskan untuk istirahat. Jalanan Kota Kairo sangatlah berbeda dengan Wonogiri. Di sini debu melayang mengikuti ke mana angin menerbangkannya, seakan bentuk angin dapat terlihat dengan mata telanjang. Toko-toko buku dan kitab di mana-mana seperti toko elektronik milik Cina yang berbaris di sepanjang jalanan kota di rumah. Klakson mobil sangat mengganggu telinga di jalanan yang sangat padat. Sementara di rumah, jalanan tanah basah sisa embun baru mengering setelah sinar matahari menyinarinya. Di rumah, lebih sering terdengar kicau burung atau serangga dibandingkan dengan bunyi kendaraan. Tapi aku tetap bersyukur dan sangat siap untuk tinggal di sini selama empat tahun ke depan.

Kami pergi ke pusat Kota Kairo menggunakan mikrobus setelah bertanya kepada Fakhri bagaimana caranya. Meskipun ragu, aku tetap ingin pergi sekarang sebelum sibuk kuliah nanti. Ujung jalanan kota ini adalah tempat untuk menikmati matahari terbenam di Sungai Nil. Aku dan Anton berjalan menyusurinya hingga matahari merendah menatap kami berbinar. Sebelum duduk menikmati Sungai Nil dan matahari terbenam, aku membeli teh lokal yang dijual di ahwa atau kedai kopi kecil di tepi jalan. Aku membeli teh karena kalian tahu aku tak pernah minum kopi sebelumnya. “Shay, ya, ustaz,” aku meminta teh kepada penjual kopi, sekaligus mencoba apakah ejaan bahasaku sudah betul. Pemilik kedai tersenyum padaku, mengambil gelas kaca kecil dan membuat racikan teh. “Itnen, shay, ya, ustaz.” Kata Anton, dia juga memesan karena penasaran dengan rasa tehnya. “Lahza bas.” Kata penjual menyuruh kami menunggu. Betapa bahagianya kami bisa berdialog bahasa Arab Mesir dengan penduduk lokal. Setelah mendapatkan teh dan membayarnya, kami membawa gelas yang berisi teh panas ke kursi yang terbuat dari susunan blok yang menghadap ke Sungai Nil.

Tempat itu sangat indah dan aku akan menceritakan detailnya kepada kalian. Matahari semakin turun sejak kami menunggu penjual kopi menyeduh teh. Cahayanya berkilau di atas sungai, menjalar menyilaukan pandangan kami. Perahu-perahu kecil berlalu-lalang. Banyak orang sedang menikmati makanan dan teh yang sama di sini. Di kursi sebelah kami, seorang keluarga muda membawa bayi mereka melihat Nil yang disucikan. Tempat Nabi Musa dihanyutkan. Atau barangkali tempat mandi Nabi Yusuf dan Harun semasa mereka kecil. Mereka tumbuh dewasa dan menjadi manusia terpilih dengan meminum air dari Sungai Nil yang ada di hadapanku sekarang. Air mataku mengering karena udara yang hangat dan teh panas yang berkali-kali masih aku tiup.

“Selamat ya… Kita telah sampai di bibir Sungai Nil.” Kata Anton, yang aku rasa juga sedang terharu, berada di sini. Dia bukan lulusan pesantren terkenal. Anton berasal dari keluarga biasa saja seperti kita. Mungkin karena alasan itu aku lebih sering pergi ke mana-mana bersama Anton. “Selamat juga untukmu.” Kataku melempar senyuman ringan dari wajahku yang terasa panas karena paparan sinar matahari yang terasa sangat dekat.

Aku memegang bibir gelas teh karena masih panas, menyeruputnya berkali-kali hingga teh kami habis. Penjual kopi menghampiri kami untuk mengambil gelas tanpa sepatah kata pun. Matahari menguning di depan mataku membuat alisku mengernyit. Sungai Nil yang telah hidup ribuan tahun masih tetap tenang di tengah Kairo yang tak pernah mati meski malam tiba. Aku dan Anton terbuai sehingga kami kehabisan bus untuk kembali ke Abassiyah. Sudah terlanjur, aku masih ingin duduk lebih lama di kursi yang dibangun di bibir Sungai Nil. Anton setuju denganku. Di Sungai Nil yang hanya ada satu di dunia ini. Lampu-lampu di seberang sungai mulai menyala satu per satu. Sungai Nil masih tetap indah. Udara malam di Kairo mulai melunak. Angin gurun pergi meninggalkan kami di tepian. Suara azan bersahut-sahut mulai riuh menenangkan hati. Dilantunkan dengan nada bayati yang panjang meliuk seperti meratap memohon ampunan, jarang kudengar di rumah. Ini adalah Sungai Nil. Ini adalah Kairo. Ini adalah Mesir. Pak, Bu. Meskipun masih sangat jauh, kuharap saat aku lulus kelak, kalian berada di tempat ini, tempat lahirnya para kiai dan ustaz terkenal di Indonesia. Semoga kedai kecil itu masih ada di sana saat kalian tiba di Kairo. Aku akan menraktir kalian dua gelas teh lokal masing-masing. Setelah salat Maghrib di dekat tempat kami duduk, aku dan Anton berjalan kaki menuju Abassiyah untuk pulang. Hampir dua jam lamanya, namun tetap saja aku bersyukur bisa menikmati udara malam Kairo.

Bapak dan Ibu yang terbaik di alam semesta ini.

Kemarin adalah hari yang kita semua tunggu-tunggu. Hari pertama orientasi mahasiswa baru di Universitas Al-Azhar. Kami berdelapan sangat bersemangat di hari pertama kuliah. Hingga sebelum subuh, kami sudah siap dengan kemeja warna gelap dan celana hitam, dan sarapan roti baladi yang kami beli sore hari sebelumnya. Aku sudah memasukkan semua buku dan beberapa formulir yang kami isi beberapa hari yang lalu. Tak lupa, kamus bahasa Arab dengan beberapa terbitan dari Indonesia dan Mesir membuat tasku sangat berat.

Kami pergi ke Masjid Al-Azhar menggunakan dua taksi agar lebih cepat. Di sana, semua mahasiswa baru dikumpulkan. Irama jantungku berdebar lebih kencang. Keringat dingin tak berhenti mengucur dari dahi hingga dagu. Orang-orang berkumpul sesuai asal negara masing-masing. Aku mendengar orang berbicara menggunakan bahasa Melayu, Urdu, Turki, Arab, beberapa bahasa Afrika dan Asia lainnya yang mendominasi, dan beberapa bahasa Portugis dan Inggris.

Kami dikumpulkan di Sahn. Halaman terbuka yang luas di tengah-tengah megahnya masjid yang telah berdiri lebih dari seribu tahun yang lalu. Setelah memasuki gerbang masjid, marmer putih membentang seluas bangunan, memantulkan sinar matahari pagi yang hangat. Masjid ini tampak sangat megah, namun tidak berlebihan. Tidak ada kesombongan yang diperlihatkan. Beberapa menara menjulang menenggelamkan kota. Lorong-lorong dengan tiang-tiang melengkung dan mengerucut di tengahnya tersusun rapi di setiap sudut masjid. Burung merpati bertengger dan terbang bebas tanpa ada keresahan. Aku pernah membaca buku tentang masjid ini dan membayangkannya. Dan apa yang ada di hadapanku sekarang adalah sama dengan apa yang pernah aku bayangkan. Atau bahkan lebih mewah.

Hampir satu jam kami mendengar pengarahan yang hanya beberapa kalimat yang aku mengerti karena nada bicaranya terlalu cepat. Faiz dan Haykal adalah lulusan terbaik Gontor yang bersedia menjelaskan berkali-kali kepada yang lain.

Setelah itu, kami pergi menuju kampus masing-masing. Suasana menjadi riuh. Semua mahasiswa berhamburan mencari kawan untuk berbagi taksi menuju Kota Nasr. Sebagian besar fakultas Universitas Al-Azhar berada di sana. Aku masih tetap bersama ketujuh teman-temanku. Fakultas Syariah wal Qanun berada di dekat Masjid sehingga kami tak perlu tergesa untuk keluar. Aku sangat gugup menuju kelas untuk mata kuliah pertamaku. Semoga Bapak dan Ibu selalu mendoakan agar aku selalu diberi keselamatan di setiap napas yang berhembus. Semoga setiap hari berjalan dengan baik sampai empat tahun ke depan.

Malam ini, aku sudah belajar lebih dari empat jam setelah pulang dari kelas tadi siang. Aku berusaha sangat keras untuk bisa mengimbangi orang-orang di sini. Setidaknya, peringkatku bisa berada di tengah. Hanya dengan menulis surat ini, aku bisa merasa dekat dengan rumah. Banyak ketakutan di hatiku sekarang sehingga membuatku tak bisa tidur, padahal aku telah menyerahkan seluruh hidupku pada Tuhannya Mesir, Tuhannya Sungai Nil, dan Tuhan yang menciptakan Al-Azhar. Tapi kegagalan terus menghantuiku sejak hari pertama kemarin, padahal perjalanan panjang ini baru saja dimulai. Sungguh payah. Tak ada jalan untuk kembali selain menghadapi masa depan yang masih rahasia. Keenam temanku sudah terlelap karena mereka tak perlu bekerja keras untuk belajar. Anton sedang duduk di jendela sambil mengulang-ulang pelajarannya. Jendela di kamar kami tak pernah ditutup karena bisa mati terpanggang di dalam kamar. Aku akan melanjutkan menulis saat libur dan segera mengirimkan surat ini kepada kalian.

_____________________________________________________________________________

Kutemukan surat yang baru selesai kubaca ini di dalam laci lemari di bawah alas kertas berwarna cokelat tua yang lusuh saat aku membersihkan isi lemari. Surat di dalam amplop putih kotor termakan waktu dengan perangko bergambar Piramida Giza tahun 1999 ini sepertinya belum selesai ditulis oleh pemiliknya. Mungkin karena itu surat ini tak pernah terkirim kepada keluarganya. Entah apa yang terjadi dengan sang penulis surat ini sehingga dia tak pernah menyelesaikannya sampai takdir membawanya ke tanganku, padahal seharusnya tempat ini telah berganti penghuni puluhan kali selama dua puluh tujuh tahun. Mengapa Fulan tak menyelesaikan suratnya? Apakah dia telah menulis ulang dan telah mengirimkan surat yang lain kepada keluarganya? Atau dia tak memiliki keberanian untuk memberitahu keluarganya bahwa menuntut ilmu di sini memang sangat berat.

Aku tinggal di flat yang sama seperti yang diceritakan penulis sejak dua tahun yang lalu. Namun, tempat ini sudah sangat berbeda dengan Abassiyah dulu. Kamarku sudah memakai AC entah sejak kapan. Mahasiswa yang tinggal di sini dengan mudah menggunakan Metro Kairo menuju banyak tempat di sekitar Kota Kairo. Meski begitu, lalu lintas di Abassiyah tetap padat dan sangat bising.

 Aku segera turun dari kamar dan berjalan menuju Metro Abassiyah untuk pergi ke pusat kota. Aku ingin melihat apa yang terjadi sekarang di tepi Sungai Nil dan kedai kopi yang menjual teh lokal itu. Perjalanan ke arah pusat kota tak terlalu lama sekarang. Hanya sepuluh menit aku sudah sampai di pusat Kota Kairo dan segera membuka map di ponsel untuk mencari titik yang kira-kira menjadi tempat yang dimaksud oleh penulis surat. Mungkin dia pergi ke daerah Nile Corniche atau People of Egypt Walkway. Aku tak bisa menebaknya dengan pasti setelah aku berjalan dari satu titik ke titik lainnya mengikuti petunjuk map dan mengulang dua kali. Di dekat taman di People of Egypt Walkway, ada sebuah kedai kopi tua yang aku anggap tempat yang dimaksud karena keputusasaanku mengalahkan rasa penasaran. Aku memesan teh lokal dan kacang rebus lalu duduk menghadap ke Sungai Nil yang pernah menjadi saksi kerinduan mahasiswa Indonesia kepada keluarganya.

Rasanya ringan namun agak pahit. Ini seperti teh Arab yang dijual sebagai bahan pengobatan herbal di Indonesia sekarang, tapi lebih autentik. Setelah dua puluh tujuh tahun, matahari di Sungai Nil tak lagi berkilau karena awan kelam menyembunyikannya setiap sore. Kapal-kapal komersial dan kapal ekspedisi bermuatan kontainer-kontainer besar memadati permukaan sungai. Wahai Fulan, Sungai Nil masih menjadi berkat seperti apa yang kau tulis dalam suratmu. Semoga kau telah berhasil menggapai mimpi ayahmu dan menjadi berkat untuk mereka sekarang. Duhai Kairo yang agung. Jadilah sahabat kami, para mahasiswa asing yang sedang bersungguh-sungguh menempuh pendidikan di sini.

Aku memindai kelima halaman surat dan menyimpannya di ponselku sebagai sebuah penemuan langka sebelum aku membuatnya menjadi perahu kertas dan melarungkannya ke Sungai Nil. Ya Fulan, suratmu telah sampai dan dibaca oleh Sungai Nil yang suci yang menjadi takdir Mesir seperti kau dan aku yang telah menjadi bagian dari takdir Al-Azhar sejak sekolah ini dibangun seribu tahun yang lalu. Semoga orang-orang yang datang ke tempat ini menjadi berkat untuk keluarganya dan untuk orang-orang yang haus akan ilmu. Ya Fulan. Semoga kau telah menjadi Sungai Nil yang menjadi mimpi ayahmu. Aamiin

 

 

 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Sanubari
Imajiner
Novel
Bronze
SEJUTA KISAH
BulanBintang
Flash
Bronze
Demensia
Alfian N. Budiarto
Cerpen
Surat Yang Tak Pernah Selesai Ditulis
Mochamad Rozikin
Novel
Bronze
Ruang Publik
Alda Siti Dalilah Nursalam
Flash
Bronze
Menggapai Mahkota
Mega
Flash
DUNIA JUNGKIR BALIK
Hans Wysiwyg
Novel
Arsiteku
Zidane Syamsudin Noordiyanto
Flash
Bronze
Malam di Bulan November
qiararose
Novel
Sampai Ujung Sembilu
Yuna
Cerpen
Bronze
Kupu-Kupu Amnesia
Weny Aptini
Novel
Bronze
My Little Lisa
Chris Aridita
Novel
My Idiot Husband
Defa Riya
Novel
Hilang
nawa
Flash
Bronze
Kisah Kelam Kehidupan: Kebenaran di Balik Mimpi
mahes.varaa
Rekomendasi
Cerpen
Surat Yang Tak Pernah Selesai Ditulis
Mochamad Rozikin
Novel
Juli Selepas Senja
Mochamad Rozikin
Cerpen
Yang Kutinggalkan di Mengwi
Mochamad Rozikin
Cerpen
Yang Kau Tinggalkan Saat Pergi
Mochamad Rozikin
Cerpen
Tumbuh dari Patahan
Mochamad Rozikin
Cerpen
Perayaan Paling Sunyi
Mochamad Rozikin
Novel
THE WAY HOME
Mochamad Rozikin
Cerpen
Yang Kubawa ke Mandalika
Mochamad Rozikin
Cerpen
Rangkaian Duka Cita
Mochamad Rozikin
Novel
Biru
Mochamad Rozikin
Cerpen
Luka-luka Yang Disembuhkan Dari Perjalanan
Mochamad Rozikin
Cerpen
Di Antara Luka Kehilangan
Mochamad Rozikin