Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Surat yang Tak Pernah Dikirim, Janji yang Tak Pernah Ingkar
0
Suka
13
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Surat yang Tak Pernah Dikirim, Janji yang Tak Pernah Ingkar

​Gerimis di bulan November selalu memiliki cara sendiri untuk menyiksa Jingga. Setiap tetes air yang menghantam kaca jendela kamarnya terdengar seperti detak jam dinding yang menghitung mundur sisa-sisa kewarasannya. Kamar itu begitu sunyi, jenis kesunyian yang pekak, yang membuat telinga berdenging dan dada terasa seperti dihimpit batu bersudut tajam.

​Di atas tempat tidur, Jingga meringkuk memeluk lututnya sendiri. Di sebelahnya, ada sebuah ruang kosong di atas kasur yang sengaja tidak pernah ia tempati. Ruang itu milik Nara. Tiga bulan lalu, Nara masih ada di sana, meringkuk di bawah selimut yang sama, dengan rambut yang rontok helai demi helai akibat kemoterapi, namun masih bisa memaksakan sebuah senyuman pucat.

​"Kita akan menua bersama, Jingga. Menonton matahari terbenam dari teras rumah kita sendiri, dengan rambut yang memutih dan gigi yang habis," ucapan Nara malam itu, dengan suara parau yang nyaris habis, terus bergema di kepala Jingga setiap kali malam datang menyergap.

​Kini, Nara telah kalah. Kanker darah itu merenggutnya dengan cara yang paling kejam, menyisakan Jingga yang tertinggal dalam kehampaan. Di hari pemakaman, Jingga tidak menangis. Ketika orang-orang terisak dan tanah basah mulai menimbun peti mati Nara, Jingga hanya berdiri mematung seperti patung lilin. Tangannya menggenggam erat sebuah gelang tali rajutan tangan berwarna biru warna kesukaan Nara yang baru saja ia selesaikan malam sebelum Nara mengembuskan napas terakhir. Gelang itu tidak pernah sempat melingkar di pergelangan tangan sahabatnya.

​Kehilangan Nara bukan sekadar kehilangan seorang teman; bagi Jingga, itu adalah amputasi paksa terhadap separuh jiwanya. Sejak usia lima tahun, di mana ada Nara, di situ pasti ada Jingga. Mereka melewati masa-masa ditertawakan di sekolah, patah hati pertama, hingga mimpi-mimpi tentang masa depan yang mereka susun rapi di atas kertas-kertas binder beraroma stroberi.

​Tanpa Nara, dunia luar berubah menjadi monster yang bising dan menakutkan. Jingga mulai menarik diri. Ia berhenti kuliah, mengunci diri di kamar, dan membiarkan kamarnya digulung kegelapan. Ibu Jingga berulang kali mengetuk pintu, membawa makanan yang berakhir utuh kembali ke dapur.

​"Jingga, kamu harus makan, Nak. Nara pasti sedih melihatmu seperti ini," isak ibunya dari balik pintu suatu sore.

Nara gak sedih, Bu. Nara sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Dan itu yang membuatku iri, jawab Jingga hanya dalam hati, matanya menatap kosong ke langit-langit kamar yang mulai berjamur.

​Sebulan setelah pemakaman, tubuh Jingga mulai mengirimkan sinyal-sinyal protes. Dadanya sering kali terasa seperti ditusuk belati berkarat, menyisakan rasa sesak yang membuatnya harus berpegangan pada dinding hanya untuk berdiri. Batuknya kering dan kerap meninggalkan rasa besi yang anyir di pangkal tenggorokan. Namun, Jingga sengaja mengabaikannya. Setiap kali rasa sakit itu menyerang, ia justru tersenyum tipis. Ada kepuasan masokis yang aneh; rasa sakit fisik itu setidaknya bisa mengalihkan rasa sakit di hatinya yang jauh lebih menganga.

​Sebenarnya, Jingga tahu apa yang terjadi pada tubuhnya. Jauh sebelum Nara divonis kanker, dokter telah menemukan kelainan pada katup jantung Jingga. Sebuah cacat bawaan yang perlahan memburuk. Namun, ketika Nara jatuh sakit, Jingga memohon pada dokternya untuk menunda segala bentuk perawatan intensif. Ia menyembunyikan semua hasil rekam medisnya di dasar lemari pakaian. Ia membuang obat-obatannya ke dalam kloset. Bagi Jingga, seluruh energi, waktu, dan biaya harus dicurahkan untuk kesembuhan Nara.

​"Aku gak apa-apa, Ra. Hanya kelelahan karena menemanimu," bohong Jingga kala itu, sambil mengusap keringat dingin di dahinya sendiri saat menyuapi Nara di bangsal rumah sakit.

​Sekarang, setelah Nara pergi, tidak ada lagi alasan bagi Jingga untuk bertahan atau berpura-pura kuat.

​Malam itu, badai mengguyur kota dengan beringas. Petir menyambar, memutus aliran listrik dan menenggelamkan kamar Jingga dalam kegelapan total. Bersamaan dengan kilat yang menyala, rasa sakit yang belum pernah dirasakan Jingga sebelumnya menghantam dadanya. Itu bukan lagi sekadar tusukan, melainkan remasan yang begitu kuat hingga jantungnya seolah dipaksa berhenti berdetak saat itu juga.

​Jingga ambruk dari tempat tidur. Tubuhnya menghantam lantai kayu yang dingin. Ia mencengkeram dadanya, berusaha menghirup oksigen, namun paru-parunya menolak bekerja. Ia seperti orang yang tenggelam di daratan. Air matanya pecah, bukan karena takut mati, melainkan karena rasa sakit yang luar biasa yang merenggut kesadarannya perlahan-lahan.

​Dalam remang cahaya kilat, sebelum matanya terpejam, Jingga melihat bayangan Nara berdiri di dekat pintu, mengenakan gaun putih yang sering ia pakai saat musim panas, melambaikan tangan dengan senyum paling manis yang pernah diingat Jingga.

​"Tunggu aku, Ra..." bisik Jingga dalam hati sebelum semuanya menjadi hitam.

​Saat ibunya menemukan Jingga beberapa jam kemudian, gadis itu sudah dalam kondisi kritis dengan bibir yang membiru. Suara sirine ambulans membelah malam yang pekat, membawa tubuh ringkih Jingga membelah jalanan yang basah menuju rumah sakit yang sama, tempat di mana Nara mengembuskan napas terakhirnya tiga bulan lalu.

​Di bangsal ICU yang dingin, aroma antiseptik yang tajam langsung menusuk indra penciuman Jingga ketika ia membuka mata keesokan harinya. Berbagai selang menancap di tubuhnya yang kian kurus. Mesin pemantau jantung di samping tempat tidurnya mengeluarkan bunyi bip... bip... yang monoton dan melelahkan.

​Dokter keluar dari ruangan dengan wajah muram, menggelengkan kepala di hadapan kedua orang tua Jingga yang langsung pecah dalam tangisan histeris di koridor luar. Melalui kaca kecil di pintu, Jingga bisa melihat ibunya luruh ke lantai, ditenangkan oleh ayahnya yang juga tak mampu membendung air mata. Kegagalan jantung stadium akhir, begitu vonisnya. Tubuh Jingga sudah menyerah, menyusul jiwanya yang sudah mati lebih dulu.

​Jingga menatap ke luar jendela rumah sakit. Di halaman bawah, pohon kamboja tua sedang menggugurkan bunganya. Kelopak-kelopak putih keunguan itu jatuh, berputar ditiup angin, lalu mendarat di atas tanah yang basah.

Indah sekali, pikir Jingga. Sama seperti saat kelopak bunga jatuh di atas gundukan tanahmu, Nara.

​Merasakan waktunya tidak banyak lagi, Jingga mengumpulkan seluruh sisa kekuatan yang ia miliki. Dengan tangan kiri yang gemetar hebat akibat infus, ia meraih laci nakas di samping tempat tidur. Di sana, ibunya sempat meletakkan tas kecil milik Jingga yang dibawa dari rumah. Di dalamnya, masih ada buku catatan kecil dan sebuah pena.

​Dengan napas yang tersengal-sengal dan pandangan yang mulai mengabur oleh air mata serta sisa-sisa kesadaran yang memudar, Jingga mulai menulis. Setiap goresan pena terasa begitu berat, seolah ia sedang mengukir batu.

Untuk Ibu dan Ayah yang teramat Jingga cintai,

​Maafkan Jingga, Bu, Yah. Maaf karena Jingga menjadi anak yang egois dan pengecut. Jingga tahu Ibu dan Ayah sangat menyayangi Jingga, tapi tolong pahami, bahwa separuh diri Jingga sudah mati saat tanah itu menutup peti Nara.

​Di sini terlalu dingin, terlalu sepi, dan terlalu menyesakkan. Setiap sudut rumah, setiap jalanan, bahkan udara yang Jingga hirup selalu memanggil nama Nara. Jantung Jingga sudah lelah berdetak hanya untuk merasakan kesedihan yang tidak ada ujungnya.

​Jangan menangisi kepergian Jingga terlalu lama. Jingga tidak pergi untuk kalah, Jingga hanya pergi untuk menjemput janji. Kami berjanji untuk menua bersama, tapi karena dunia ini terlalu kejam untuk mewujudkannya, kami memilih untuk bersama dalam keabadian yang tidak akan pernah mengenal rasa sakit lagi.

​Jingga sayang Ibu dan Ayah. Tolong, kuburkan Jingga persis di sebelah Nara. Biarkan kami berdekatan, seperti saat kami masih ada di dunia.

​Jingga meletakkan pena itu. Napasnya kini berbunyi satu-satu, pendek dan berat. Dari dalam tasnya, ia mengeluarkan dua buah gelang tali rajutan. Satu berwarna biru milik Nara, dan satu lagi berwarna jingga miliknya sendiri. Dengan sisa tenaga terakhir, ia menautkan kedua gelang itu, mengikatnya erat-erat di pergelangan tangan kanannya.

​Sore itu, matahari terbenam dengan warna merah keemasan yang luar biasa indah, menerobos masuk melalui celah gorden rumah sakit dan menyinari wajah Jingga.

​Bunyi mesin pemantau jantung di dalam ruangan tiba-tiba berubah. Nada bip... bip... yang tadinya teratur, melambat... melambat... hingga akhirnya berubah menjadi satu nada panjang yang memekakkan telinga: Biiiiiiiiiiiiiip...

​Garis di layar monitor itu mendatar.

​Para dokter dan perawat berlarian masuk, namun mereka tahu semuanya sudah terlambat. Jingga telah pergi. Namun, tidak seperti pasien fana yang meninggal dalam ketakutan, wajah Jingga tampak begitu damai. Ketegangan yang selama tiga bulan ini menghantarkan kerutan di dahinya telah hilang sepenuhnya. Di sudut bibirnya yang pucat, terukir sebuah senyuman tipis yang sangat tulus senyuman yang tidak pernah dilihat oleh ibunya sejak hari kematian Nara.

​Jingga meninggal dengan menggenggam erat tautan dua gelang tersebut di dadanya. Ia telah pergi, melewati batas maut yang rapuh, untuk menemui sahabatnya yang sudah menunggu di ujung jalan, siap untuk berjalan beriringan melihat matahari terbenam yang tidak akan pernah pudar lagi.

TAMAT

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Cerpen
Surat yang Tak Pernah Dikirim, Janji yang Tak Pernah Ingkar
Ezra Jo
Novel
Bronze
Alunan Langkah
Wida Ningsih
Novel
Karanlık Sevda - Sebuah Kesepakatan
Erika Hasan
Flash
Bronze
Pak Guru Says!
Kiara Hanifa Anindya
Novel
Bronze
Certainties
S. F. Hita
Novel
Rumah Tanpa Kasih
Luv
Novel
Bukan Rumah Aneysia
Thazaprilia
Flash
Sang Pengasuh
SURIYANA
Novel
I Want To Die, But I Want To Write About You
Tngkbll
Cerpen
Belenggu yang Memudar Dimakan Zaman
Yutanis
Novel
Bronze
PELANGI TANPA WARNA
Mahfrizha Kifani
Novel
BUKU HARIAN BAPAK
Ragiel JP
Novel
Butterfly Effects: Je T'aime
Celestilla
Novel
Luar Biasa Ajaib
Fitri Aprilyani
Skrip Film
Ala
Katanka Byru Perwita
Rekomendasi
Cerpen
Surat yang Tak Pernah Dikirim, Janji yang Tak Pernah Ingkar
Ezra Jo
Novel
Selamanya Tiga
Ezra Jo
Novel
Ketika Takdir Mengetuk Pintu Persahabatan
Ezra Jo
Cerpen
Bronze
Di Bawah Langit Senja yang Sama
Ezra Jo
Cerpen
Simfoni Sunyi di Ujung Napas
Ezra Jo
Cerpen
Senandung Sunyi di Ujung Senja
Ezra Jo
Novel
Janji di Bawah Langit yang Sama
Ezra Jo
Cerpen
SIMFONI HITAM
Ezra Jo
Cerpen
Rosario untuk Frederick
Ezra Jo
Cerpen
Gema yang Tertinggal di Ayunan Kayu
Ezra Jo
Cerpen
Bronze
Kabut Purba di Lembah Singgalang
Ezra Jo
Cerpen
Bronze
Simfoni Daun Gugur : Saat Waktu Mengembalikanmu
Ezra Jo
Cerpen
Di Bawah Naungan Pohon Mangga
Ezra Jo
Cerpen
Konvergensi di Ruang Sunyi : Episteme Dua Jiwa
Ezra Jo
Cerpen
Tiga Kepala Satu Jiwa
Ezra Jo