Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Isabel, seorang gadis pemain teater di sebuah perusahaan teater di kota ternama. Ia merupakan gadis muda berbakat, memiliki suara yang indah, dan tarian lentik khas wanita eropa muda.
Seperti hari-hari yang sebelumnya, ia memiliki kebiasaan yang sudah diatur dalam kontrak pertunjukan oleh perusahaan. Yaitu adalah pembacaan surat-surat yang dikirimkan oleh penggemar, yang di mana Isabel sangat menyukai sesi itu. Ia anggap sebagai kritik hingga pujian yang sangat penting dalam keberlangsungan karirnya dalam dunia teater.
“Nona Isabel, aku sudah menaruh kotak surat di atas meja. Seperti biasa, isinya penuh dan semoga kamu menemukan sesuatu yang berarti di dalamnya. Oh iya, bilang pada tuan Morgan untuk mengirimkan gajiku, aku harap ia tidak melupakannya.” Seorang kurir pembawa pesan, yang biasa mengirimkan kotak pesan dari penggemar ke ruang milik Isabel di bangunan perusahaan. Ia sudah berusia sekitar enam puluhan tahun, dengan guratan kecil di pipi kanannya yang khas.
“Baik, paman, aku akan menyampaikannya ke tuan Morgan. Terimakasih, seperti biasa. Tinggalkan saja di sana, aku segera membacanya. Aku juga penasaran, apakah akan ada surat dari penggemar baru atau malah kritik pedas.” Isabel berdiri dari kursinya, ia beranjak dan merapikan rok panjangnya. Kali ini ia mengenakan gaun rumbai berwarna kuning, sebuah gaun untuk pertunjukkan minggu depan dan ia masih belajar menyesuaikan agar tidak ada masalah nantinya.
Paman pembawa pesan pergi setelah mengangkat topinya sedikit, tanda perpisahan sejenak. Ia keluar dari pintu, dan meninggalkan Isabel.
Isabel mendekat ke meja, ia menyentuh kotak berisi surat-surat, dan melihat nama-nama pengirimnya. “Baiklah, ayo kita baca masing-masing.” Ia menyortir satu-satu, melihat nama-nama yang terdengar asing olehnya. Bau segel dan kertas baru langsung menyeruak di hidung kecilnya, yang entah mengapa ia sedikit menyukainya.
Mata Isabel berdiri pada sebuah surat, dengan tulisan tangan yang sedikit sulit dibaca. Di bagian pengirim, hanya ada tertulis nama “John” dan tidak ada nama belakang. Namun surat tersebut merupakan satu hal yang baru, biasanya tulisan tangan itu rapi dan mudah dibaca. Bukan maksud mendiskreditkan tulisan tangannya, namun Isabel hanya merasa hal itu bukanlah hal yang normal terjadi di kehidupannya sebelumnya. Ia pun meraba surat itu, memecahkan segel, dan menarik secarik kertas di dalamnya.
“Selamat pagi, nona Isabel. Sebelumnya aku ucapkan terimakasih atas pertunjukkannya kemarin. Aku sangat menyukainya. Aku sangat kagum dengan suara indahmu, dengan tarianmu, bahkan bagaimana kamu menyesuaikan dengan adegan itu. Bukan berarti pemeran lain buruk, sama sekali tidak, semua sangat berbakat. Namun kalau aku menuliskan betapa hebatnya mereka, ini bukanlah surat untukmu, melainkan untuk mereka. Maaf cukup lancang, aku ingin mengucapkan terimakasih sekali lagi karena kamu sudah mau membaca tulisan tangan yang jelek ini, aku memang jarang menulis karena peralatan tulis cukup mahal untukku. Aku harap kamu tampil di kotaku, walau tidak terlalu besar, namun ada sebuah teater yang cukup indah di sana. Karena ongkos kereta kuda ke kota tempat kamu tampil sebelumnya cukup mahal, tidak sepadan dengan gajiku. Maaf, aku tidak bermaksud mengeluh di tulisan ini. Tapi, aku ingin mengucapkan banyak terimakasih atas kerja kerasmu, aku sungguh terhibur dengan bagaimana kamu menyanyikan lagu itu dan menghayati perannya. Kamu bahkan menyesuaikan dengan baik, artikulasimu sangat baik—maaf atas bahasa yang rumit—karena aku memang baru dalam hal mengulas nyanyian seseorang. Oh, andai nona tahu, aku mengikutimu sejak tahun lalu. Aku sungguh terpesona akan dirimu. Aku pertama kali masuk ke dalam teater karena dipaksa oleh temanku, dan itu membuatku mengetahui dirimu. Terimakasih teman, kamu yang terbaik. Baiklah, surat ini aku akhiri, karena terlalu panjang. Aku akan selalu mendukungmu, aku akan menulis surat lagi, setidaknya untuk kamu baca di waktu senggang. Salam hangat, John.”
Isabel tersenyum membacanya, ia menemukan pandangan lain dari penggemar-penggemarnya. Tanpa membuang banyak waktu lagi, Isabel melipat surat tersebut dan memasukkannya ke dalam kotak lain yang sudah disediakan. Ia kemudian menarik satu surat lagi, memecahkan segel, dan membaca tulisan di dalamnya. Ia melakukannya hampir seharian, karena membaca surat dari penggemar lebih menyenangkan dari membaca buku yang harganya cukup mahal. Di sisi lain, terkadang ada surat yang membuat hatinya teriris, karena kritik pedas yang ditulis ke dalam selembar kertas kekuningan itu. Namun Isabel sudah dilatih agar tidak terlalu memasukkannya ke dalam hati, karena bagaimanapun juga, mereka membayar untuk menonton Isabel.
Waktu berlalu, pertunjukan lain sudah dihelat. Seperti biasa, Isabel membaca surat-surat yang dikirimkan padanya. Ia membaca satu per satu, dan sampai pada giliran sebuah surat dengan nama John dalam tulisan tangan yang ia ingat.
“Selamat malam, nona Isabel. Aku tidak tahu kamu membacanya pada waktu malam atau pagi, di sini aku menulisnya di malam hari di samping lampu gas. Sebelumnya aku ingin menyampaikan terimakasih lagi karena kamu menyempatkan diri untuk membaca surat ini, aku harap kamu membaca surat kemarin—bagaimanapun juga, aku tidak memermasalahkan atas hal itu. Aku ada sebuah kabar baik yang akan aku ceritakan kepadamu, semoga kamu terhibur dengan tulisanku ini. Akhir-akhir ini, aku mulai memelihara anjing. Ia sangat cerdas, bahkan ia mengetahui cara berhitung. Itu sangat lucu, bagaimana Vanilla menggerakkan ekornya. Oh iya, aku menamainya Vanilla, karena bulunya berwarna putih. Aku menemukannya terluka, ia terjerat sebuah jebakan saat aku sedang berburu rusa. Singkatnya, aku menyelamatkan gadis malang itu, dan mulai merawatnya dengan baik. Aku penasaran, apakah ia bisa diajak berburu, karena aku memang hobi berburu. Satu hal lagi, aku ingin menyampaikan bahwa aku akan menjadi coachguard di sebuah perusahaan pengiriman, akhirnya aku bisa mendapatkan pekerjaan. Aku bisa datang ke teatermu kapan saja, karena aku mungkin akan membeli wagonku sendiri, agar aku bisa mengantarmu keliling daratan Amerika—maaf itu berlebihan, tapi mungkin kita bisa bertemu saat aku sedang bekerja menjadi pengawal. Hanya itu yang aku sampaikan, pokoknya, aku senang mendapatkan hidup baru yang akan aku gunakan untuk mendukungmu nantinya. Oh iya, soal penampilanmu kemarin, sangat luar biasa! Aku sangat terpukau, apa lagi ayunan rambut panjangmu, aku tidak tahu bahwa rambut yang bergerak bisa semanis itu. Terakhir, terimakasih sudah bekerja keras sejauh ini. Aku akan bekerja keras juga, semoga pekerjaan baruku bisa membawa kehidupan yang baik untukku. Dan lagi, semoga kamu juga. Aku sudah berdoa di gereja atas keselamatanmu, tentu, aku akan selalu berdoa agar kau sukses dalam penampilanmu di opera berikutnya. Salam hangat, John.”
Dalam hati Isabel, ia cukup tertarik dengan cerita John—ditandai dengan semburat senyuman di bibir merah muda miliknya. Berbeda dengan beberapa surat lain, ia merasa bahwa sedang membaca sebuah kehidupan yang mengalir seperti susu hangat. Isabel melipat surat itu, dan memasukkannya ke dalam kotak yang disediakan. Untuk berganti ke surat lain yang sudah menunggu untuk dibaca olehnya.
Di malam hari, ia terbangun dari tidurnya yang kurang nyenyak. Ia turun dari kamarnya menuju ke dapur untuk melihat apakah ada makanan yang bisa ia santap di sana. Makan di malam hari, merupakan kebiasaan yang cukup jarang oleh Isabel, karena memang aturan ketat dari tuan Morgan. Di sisi lain, sekotak sereal mencuri perhatiannya. Ia menyantap, dan membayangkan ia memberikan sebagian sereal kepada seekor anjing. Ia memang dilarang memiliki anjing karena khawatir bisa mengotori rumah, bagaimanapun, ia jadi teringat akan Vanilla, anjing milik John.
Di minggu-minggu berikutnya, surat-surat John selalu menjadi prioritasnya. Bukan karena apa, tapi memang kisah yang diceritakan John sangat menyentuh perasaan Isabel. Ia penasaran dengan kehidupan sederhana seorang John, yang ditulis dalam tulisan lebih jelek dari tulisan lain. Isabel ingin membalas surat itu, tapi aturan ketat tuan Morgan membatasinya. Ini adalah surat kesebelas dari John, ia menuliskan tentang bagaimana ia menceritakan pengalamannya saat bertugas mengamankan barang dari bank dan dihalau oleh bandit bersenjata lengkap.
“Selamat siang, nona Isabel, sudah kesebelas kalinya aku menulis surat untukmu. Terima kasih atas pertunjukannya kemarin, itu sungguh menghibur … dan, sekali lagi, kau sangat cantik dengan rambut kepang yang dilengkapi dengan tiara di kepalamu, itu sangat indah. Bagaimanapun juga, aku akan menceritakan sebuah petualangan epik, yang setidaknya untukku sendiri. Di mana aku sedikit tertembak di lutut, untungnya sudah membaik. Kala itu aku tengah mengamankan pengantaran emas dan uang tunai baru kepada sebuah bank di kota besar, kami diserang oleh bandit berkuda dari utara. Mereka berjumlah enam pria, dan aku sedikit takut karena sejauh aku melakukan pengawalan, baru kali ini aku menghadapi sekelompok bandit yang sebenarnya. Mereka menembak beberapa kali, tembakan peringatan, yang membuat kuda kami takut bukan main. Aku turun dan berlindung, sembari membidik mereka satu per satu. Walau akhirnya, satu kru kami terhempas karena tembakan. Jangan khawatir, aku baik-baik saja! Di sisi lain, aku memang sangat takut, menembak seseorang berbeda dengan menembak kijang atau rusa—itu cukup mengenai jiwaku. Walau begitu, aku berhasil mengusir mereka, namun aku harus melakukan hal yang tidak boleh dilakukan oleh manusia secara normal. Aku … melukai mereka, aku khawatir, aku takut, tapi aku paham, aku setidaknya menceritakan ini padamu. Tapi, sebagai seorang pria, tentunya, aku tidak ingin menuliskan kalau aku sampai kencing di celana karena enam pria brengsek, bagaimanapun, kami menang dan berhasil mengamankan kereta kuda. Oh iya, pihak bank memberikan kompensasi yang luar biasa! Mereka memberikan tambahan puluhan dolar, dan mengobati luka di kakiku secara gratis. Oh, kalau kamu melihat seseorang dengan kaki sedikit pincang di barisan penonton, itu adalah aku! Walau aku tidak yakin kamu akan menyadariku, tapi aku ada di sana. Aku sungguh berterimakasih karena aku bisa melihatmu sekali lagi, luka di kakiku seakan sembuh karena senyumanmu. Nona, terimakasih atas kerja kerasmu, sekali lagi, aku akan mengirimkan surat selagi aku diberikan waktu oleh Tuhan. Akhir-akhir ini, aku sering ke gereja, aku cukup dekat dengan pendeta, ia ramah, ia tertawa saat aku menceritakan kalau aku menyukai seorang gadis, di mana itu adalah kamu. Aku sungguh menyayangkan garis di antara kita, itu dinding yang aku tidak bisa lalui, tapi aku tetap bisa melihatmu dan mengirim surat ini, itu sudah cukup untukku. Oh, terimakasih kembali, aku suka gaya rambutmu yang baru, dan gaun itu, saat kemarin di opera, sungguh cocok. Sampaikan ke tuan Morgan, pemilik teater, agar ia lebih banyak memberikan peran padamu. Agar kau mendapatkan bayaran yang tinggi, haha! Terimakasih sebelumnya, salam hangatku untukmu, John. Satu hal lagi, aku … benar-benar menyukaimu, bukan sebagai pemain teater, tapi sebagai … wanita, aku menyukaimu, nona Isabel.”
Isabel terharu membaca surat dari John, ia mengusap ujung kertas itu. Ia juga menyadari, ada seseorang dengan gaya jalan yang setengah pincang saat di dalam teater kemarin, membuat Isabel menyadari, ia ingin bertemu dengan John, dan ia ingin setidaknya menyapa John.
Segera setelah menutup suratnya, tuan Morgan masuk ke dalam ruangan tempat Isabel membaca surat. “Maaf, mengganggu waktu bacamu, Isabel. Aku ingin menyampaikan bahwa, mungkin gajimu akan ditunda dulu. Kereta kuda, yang membawa hartaku dari perusahaan pengiriman telah dirampok barusan, aku dengar bahwa semua kru, pengawal, dan uangnya lenyap. Tapi syukurlah, untungnya aku tidak ikut dalam kereta itu.” Tuan Morgan mengelus kepala Isabel, ia keluar dari ruangan dengan senyuman seakan tidak terjadi apa-apa.
Isabel tahu betul, perusahaan pengirim yang dimaksud adalah perusahaan tempat John bekerja. Isabel berharap bukan John yang sedang bertugas mengamankan kereta kuda itu, namun orang lain. Hati Isabel seperti didorong dengan keras, hingga menjalar ke tengkuk saking terkejutnya. Namun, ia harus percaya akan hal di mana kemungkinan tersebut tidak terjadi.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, pertunjukan demi pertunjukan dimainkan oleh Isabel. Tiap kali ia memeriksa surat, tidak ada nama John, tidak ada tulisan jelek yang ia temui, tidak ada lagi kisah lucu dari Vanilla. Di depan cermin besarnya, ia merasa kehilangan—seorang pemuda antah berantah yang rela menceritakan kisah konyolnya pada seorang gadis yang bahkan memiliki strata tidak setara dengannya.