Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Anomali Selasa Pagi
[Tanggal di Surat: 14 Oktober]
"Lo masih simpan sampah itu, Yan?"
Aku tidak menoleh. Jemariku masih mengusap amplop berwarna biru pucat yang baru saja tiba pagi ini. "Ini bukan sampah, Bram. Ini surat cinta."
Bram mendengus, menarik kursi di depan mejaku hingga menimbulkan bunyi decit yang memilukan. "Surat cinta dari siapa? Setan? Lo bahkan nggak tahu siapa pengirimnya. Nggak ada nama, nggak ada alamat pengirim. Cuma ada cap pos kota ini."
"Tapi isinya nyata," bisikku.
"Nyata apanya? Coba baca paragraf kedua." Bram merampas kertas itu dari tanganku. "’Rayyan, ingat tidak saat kita terjebak macet di Jalan Sudirman minggu depan? Kita akhirnya makan mi ayam di pinggir jalan dan kau menumpahkan kuahnya ke kemeja putihmu.’ Minggu depan, Yan! Ini bukan surat cinta, ini ramalan konyol."
Aku mengambil kembali surat itu dengan tenang. "Masalahnya, Bram... minggu lalu dia menulis hal yang sama tentang kejadian kemarin."
"Maksud lo?"
"Dia bilang, kemarin gue bakal nemu kunci motor yang hilang di dalam sepatu lari. Dan gue nemu kuncinya di sana pagi ini."
Bram terdiam. Matanya mengerjap, mencari celah dalam logikaku. "Mungkin itu kebetulan?"
"Setiap minggu selama sebulan? Nggak, ini bukan kebetulan."
"Terus lo mau apa sekarang? Nunggu surat minggu depan?"
Aku menggeleng, menunjuk baris terakhir dalam surat itu. "Dia bilang, hari ini jam empat sore, dia bakal ada di toko buku bekas di ujung jalan. Pakai syal merah."
Bram bangkit berdiri, wajahnya antara cemas dan penasaran. "Lo nggak benar-benar mau ke sana, kan? Gimana kalau ini jebakan? Psikopat atau apa?"
"Gue harus tahu siapa dia, Bram."
"Yan, dengerin gue. Orang normal nggak nulis kenangan yang belum terjadi."
Aku memakai jaket, mengabaikan peringatan sahabatku itu. "Gue pergi dulu."
"Rayyan! Kalau lo nggak balik dalam dua jam, gue lapor polisi!"
Aku sudah di ambang pintu saat menoleh padanya. "Bram, lo tahu apa yang paling aneh?"
"Apa lagi?"
"Di surat ini, dia bilang gue bakal pakai jaket kulit cokelat ini, padahal tadi pagi gue niatnya pakai hoodie biru."
Bram terpaku di tempatnya. "Lo serius mau nemuin dia?"
Syal Merah di Antara Rak Buku
[Lokasi: Toko Buku Akasia]
Lonceng di atas pintu berdenting. Bau kertas tua dan kopi langsung menyambutku. Aku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan yang temaram.
"Cari buku apa, Mas?" tanya bapak tua penjaga toko dari balik meja kasir.
"Ehm, nggak, Pak. Saya janji ketemu orang."
Aku berjalan menyusuri lorong fiksi. Di ujung rak, dekat jendela yang menampilkan rona jingga matahari terbenam, aku melihatnya. Seorang wanita duduk di kursi kayu panjang, membelakangiku. Sebuah syal merah melilit lehernya.
Jantungku berdegup kencang. "Permisi?"
Dia menoleh. Wajahnya cantik, namun ada kesedihan yang mendalam di matanya. Begitu melihatku, dia tersenyum, tapi air mata justru menggenang di pelupuk matanya.
"Kau datang lebih cepat lima menit, Rayyan," ucapnya lirih.
"Siapa kau? Kenapa kau mengirim surat-surat itu?"
Dia berdiri, menutup buku di pangkuannya. "Namaku Nara. Dan aku tahu kau akan menanyakan itu."
"Bagaimana kau bisa tahu apa yang akan terjadi padaku? Mi ayam, kunci motor, bahkan jaket yang kupakai hari ini?"
Nara mendekat. Aroma melati tipis menguar dari tubuhnya. "Bukan aku yang tahu, Rayyan. Kita yang tahu. Kita sudah menjalaninya."
"Maksudmu apa? Aku bahkan baru pertama kali melihatmu hari ini!"
Nara menghela napas, jemarinya menyentuh lengan jaketku dengan ragu. "Bagimu, ini adalah awal. Bagiku, ini adalah bab-bab terakhir yang sedang kubaca ulang."
"Jangan bicara teka-teki. Apa kau penjelajah waktu?"
Nara terkekeh kecil, suara yang terdengar seperti musik yang pecah. "Bukan. Aku hanya seseorang yang memiliki ingatan yang terbalik. Aku mengingat masa depan kita sesingkat dan sejelas aku mengingat masa lalu."
"Itu nggak masuk akal."
"Ingat surat minggu lalu? Tentang bekas luka di lutut kananmu yang kau dapat saat kita mendaki bulan depan?"
Aku mundur selangkah. "Aku nggak punya bekas luka di lutut."
Nara berjongkok, menunjuk lutut kananku. "Belum ada. Tapi tanggal 20 nanti, kau akan terpeleset saat mencoba mengambilkan bunga liar untukku. Kau akan mengaduh seperti anak kecil."
"Kenapa kau melakukan ini? Mengirim surat-surat itu?"
Nara menatapku dalam, tangannya yang gemetar menyentuh pipiku. "Karena aku ingin kau bersiap, Rayyan."
"Bersiap untuk apa?"
"Untuk hari di mana aku tidak akan lagi mengingat namamu."
Garis Waktu yang Memudar
[Status: Dua Minggu Kemudian]
Kami duduk di bangku taman. Di sampingku, Nara tampak pucat. Dia sudah menceritakan semuanya—tentang kondisi otaknya yang aneh. Sebuah degenerasi saraf langka yang membuatnya "mengingat" masa depan sebagai kompensasi dari hilangnya ingatan masa lalu secara bertahap.
"Surat-surat itu... kau menulisnya kapan?" tanyaku, menggenggam tangannya yang dingin.
"Bulan lalu. Saat semua ingatan masa depan itu tumpah sekaligus ke kepalaku. Aku menulis semuanya sebelum ingatanku tentang 'kita' di masa depan itu hilang dan digantikan oleh kekosongan."
"Jadi, kau sudah tahu bagaimana hubungan kita berakhir?"
Nara mengangguk pelan. "Aku tahu setiap tawa, setiap pertengkaran kecil, sampai hari di mana aku akan memandangmu sebagai orang asing."
"Kapan itu terjadi?"
"Segera, Rayyan. Sangat segera."
Aku meremas jemarinya. "Kalau kau sudah tahu kita punya batas waktu, kenapa kau tetap menemuiku? Kenapa membuatku jatuh cinta jika akhirnya kau akan melupakanku?"
"Karena kau layak mendapatkan kenangan itu, walau hanya sebentar."
"Ini nggak adil buat aku, Nara! Aku baru saja mengenalmu, dan sekarang aku harus menghitung hari menuju perpisahan yang bahkan belum aku mulai?"
Nara menatap langit yang mulai menggelap. "Lihat bintang itu? Cahayanya baru sampai ke kita sekarang, padahal bintangnya mungkin sudah mati jutaan tahun lalu. Begitulah kita. Aku mencintaimu dari masa depan yang sudah mati."
"Aku bisa membantumu. Pasti ada dokter, ada obat..."
"Rayyan, dengar," potongnya tegas. "Aku menulis surat itu bukan supaya kau menyelamatkanku. Aku menulisnya supaya kau tahu bahwa setiap detik yang kita lalui itu nyata bagi aku, meskipun besok aku lupa."
"Apa yang tertulis di surat terakhir? Surat yang belum kau kirim?"
Nara merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah amplop biru yang sudah lecek. "Aku tidak akan mengirimnya. Aku akan memberikannya langsung padamu."
"Boleh aku baca?"
Dia menahan tanganku. "Jangan sekarang. Baca saat aku tidak lagi mengenalmu."
"Nara, tolong... katakan padaku kita punya waktu lebih lama."
Dia tersenyum sedih, lalu menyandarkan kepalanya di bahuku. "Ingat tidak, di surat kedua, aku bilang kita akan berdansa di bawah hujan malam ini?"
Aku menengadah. Langit bersih tanpa awan. "Nggak mungkin hujan, Nara. Langitnya cerah."
Baru saja kalimat itu selesai, guntur menggelegar. Tetesan air pertama jatuh mengenai hidungku. Aku terpaku.
"Ayo, Rayyan. Berdansalah denganku untuk pertama dan terakhir kalinya."
Lembar Terakhir
[Lokasi: Kamar Rawat Rumah Sakit]
Satu bulan telah berlalu sejak malam di bawah hujan itu. Aku berdiri di depan pintu kamar 402, memegang buket bunga melati. Jantungku berdegup dengan irama yang menyakitkan.
Bram menepuk bahuku dari belakang. "Lo siap?"
"Gue nggak tahu, Bram. Gimana kalau dia benar-benar nggak ingat?"
"Lo udah baca surat terakhirnya?"
"Belum. Dia bilang baca kalau dia sudah lupa."
Aku menarik napas panjang dan melangkah masuk. Nara duduk di dekat jendela, menatap taman rumah sakit dengan tatapan kosong. Wajahnya masih secantik dulu, tapi binar di matanya telah padam.
"Halo, Nara," sapa pelan.
Dia menoleh. Matanya menatapku datar, tidak ada percikan pengenalan, tidak ada air mata yang dulu selalu menggenang saat melihatku.
"Maaf, Anda siapa?" tanyanya sopan, namun dingin.
Duniaku rasanya runtuh. Meski sudah diperingatkan lewat surat-surat itu, rasanya tetap seperti dihantam gada besi. "Aku... aku temanmu. Namaku Rayyan."
Nara mengerutkan kening, mencoba menggali sesuatu di kepalanya yang kosong. "Rayyan? Maaf, dokter bilang memori jangka pendek dan panjang saya sedang bermasalah. Saya benar-benar tidak ingat."
"Nggak apa-apa. Aku cuma mau antar bunga ini."
Aku meletakkan melati itu di meja nakas. Tanganku gemetar saat merogoh saku jaket, mengeluarkan amplop biru terakhir yang dia berikan di taman.
"Itu apa?" tanya Nara ingin tahu.
"Sesuatu yang kau tulis untukku."
Aku membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Tulisan tangannya di sini lebih berantakan, seolah ditulis dengan terburu-buru melawan waktu yang kian menipis.
Rayyan, jika kau membaca ini, artinya aku sudah lupa.
Jangan sedih. Jangan mencoba membuatku ingat. Masa depan yang kulihat telah selesai. Kita sudah menghabiskan seumur hidup dalam waktu satu bulan. Kau telah memberikan mi ayam terbaik, dansa hujan yang paling konyol, dan cinta yang cukup untuk membekali aku di sisa hidupku yang kosong.
Ada satu hal yang tidak aku tulis di surat-surat sebelumnya karena aku takut kau akan lari.
Di masa depan yang kulihat, setelah kau keluar dari kamar rumah sakit ini, kau akan bertemu seorang wanita di lobi yang menjatuhkan bukunya. Tolong, bantu dia. Dia adalah masa depanmu yang sebenarnya. Aku hanyalah surat pengantar agar kau tidak menutup hatimu setelah kepergianku.
Aku meremas surat itu, air mata jatuh tanpa bisa ditahan. "Kau curang, Nara. Kau merencanakan ini semua."
Nara menatapku bingung. "Kenapa Anda menangis, Mas Rayyan?"
Aku menghapus air mataku, mencoba tersenyum di depan wanita yang kucintai namun tidak lagi mengenalku. Aku mendekatinya, mengecup keningnya untuk terakhir kali. Dia tersentak sedikit, tapi tidak menolak.
"Terima kasih untuk surat-suratnya, Nara," bisikku.
Aku berbalik dan berjalan keluar dari kamar itu. Setiap langkah terasa berat, seolah aku meninggalkan separuh jiwaku di sana. Aku sampai di lobi rumah sakit yang ramai.
Tiba-tiba, seorang wanita yang berjalan terburu-buru menabrak lenganku. Tumpukan buku di pelukannya jatuh berserakan di lantai marmer.
"Eh, maaf! Saya nggak sengaja!" serunya panik, berjongkok untuk memunguti buku-bukunya.
Aku terpaku. Kalimat di surat itu terngiang kembali di kepalaku. Pelan-pelan, aku ikut berjongkok, membantunya mengambil sebuah buku fiksi dengan sampul biru.
Wanita itu mendongak. Matanya yang cokelat menatapku dengan rasa bersalah sekaligus terima kasih. "Terima kasih banyak, Mas. Saya benar-benar ceroboh."
Aku memberikan buku itu padanya, namun mataku terpaku pada pergelangan tangannya. Dia memakai gelang manik-manik yang sama persis dengan yang digambarkan Nara di surat terakhirnya.
"Sama-sama," jawabku dengan suara serak.
"Nama saya Maya. Nama Anda?"
Aku menoleh sekilas ke arah lift yang menuju kamar Nara, lalu kembali menatap wanita di depanku. Aku tahu ini adalah awal dari apa yang sudah dituliskan untukku.
"Gue Rayyan, lo butuh bantuan bawa buku-buku ini ke parkiran?"