Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
Supir Ambulan
2
Suka
1,185
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Aku tidak pernah menyangka akan bertemu dengannya di hari kematian kakakku.

Pagi itu rumah dipenuhi suara pelan orang-orang mengaji. Bau minyak kayu putih bercampur dengan wewangian bunga melati. Aku duduk di samping jenazah kakakku, memandangi wajahnya yang tenang di balik kain putih. Sesekali ada tangan yang menggenggam pundakku, menguatkan dengan kalimat-kalimat yang terdengar jauh.

“Yang sabar ya…”

Sabar.

Sejak kak Yani pergi, kata itu seperti kehilangan bentuk.

Di tengah hiruk pikuk orang yang keluar masuk rumah duka, sebuah ambulans berhenti di depan rumah. Aku tidak memperhatikannya. Sampai seseorang berbisik pelan di dekatku.

“Ambulansnya sudah datang…”

Aku mengangkat kepala sekilas.

Dan waktu mendadak berhenti.

Dia.

Achyar.

Namanya masih utuh di kepalaku meski bertahun-tahun tak pernah kusebut lagi.

Tubuhku membeku. Jantungku berdegup terlalu keras untuk suasana seduka ini. Lelaki yang pernah mengisi masa mudaku kini berdiri beberapa meter dariku memakai baju koko sederhana, wajahnya lebih dewasa, sorot matanya lebih tenang.

Aku segera menunduk.

Ada luka-luka yang ternyata tidak mati. Hanya diam.

Aku mengenalnya tahun 2008.

Saat itu aku baru duduk di kelas satu SMA. Kak Yani mengajakku menghadiri sebuah agenda besar partai. Aku sebenarnya malas datang, tapi kakakku selalu pandai membujuk.

“Temenin kakak sebentar saja.”

Di situlah pertama kali aku diperkenalkan pada Achyar.

“Ini adikku,” kata kak Yani sambil tersenyum.

Ia mengangguk sopan. Senyumnya biasa saja, tapi entah mengapa setelah hari itu kami mulai saling bertukar pesan. Dari SMS singkat menjadi telepon panjang. Dari sekadar bertanya “lagi apa?” menjadi tempat pulang untuk segala cerita.

Masa muda memang sederhana.

Bahagia hanya soal bunyi pesan masuk di tengah malam.

Aku kemudian kuliah di kota besar. Sedangkan dia tetap kuliah di daerah tempat kami tinggal. Kami jarang bertemu. Hubungan kami hidup dari suara-suara di telepon dan rindu yang dititipkan lewat kata-kata.

Kadang ia datang ke kota saat ada agenda partai. Kami bertemu diam-diam di toko buku, berjalan menyusuri rak-rak sambil saling merekomendasikan bacaan.

Masa itu terasa hangat sekali.

Aku pikir cinta memang akan membawa kami sampai akhir.

Ternyata tidak.

Tahun 2014, semuanya selesai begitu saja.

Aku masih ingat bagaimana kak Yani, dengan polos dan bahagianya, mengatakan kepada teman-temannya bahwa Achyar adalah calon adik iparnya.

Dan ternyata Achyar malu.

Beberapa hari kemudian ia menghilang dari hidupku.

Nomorku diblokir. Pertemanan di Facebook-ku dihapus. Tak ada penjelasan. Tak ada kesempatan bertanya kenapa.

Aku ditinggalkan seperti seseorang mematikan lampu lalu pergi.

Begitu saja.

Tahun berikutnya aku mendengar ia menikah dengan perempuan pilihan murabbinya.

Lucunya, dunia tidak runtuh.

Ia hanya menjadi lebih sepi.

Aku berjalan ke sana kemari membawa hati yang patah yang belum sempat kusembuhkan. Sampai akhirnya seseorang datang dengan cinta yang begitu tenang.

Tidak meledak-ledak.

Tidak penuh janji.

Tapi menetap.

Ia mencintaiku dengan cara yang sederhana: hadir, bertahan, dan tidak pergi.

Aku menerima lamarannya pada tahun 2017.

Dan sejak itu hidupku berubah menjadi rumah yang ramai oleh suara anak-anak. Kini, aku memiliki tiga orang anak dan seorang suami yang selalu pulang kepadaku.

Kupikir masa laluku sudah selesai.

Sampai hari ini.

Hari ketika kak Yani meninggal dunia.

Jenazah kakakku mulai dimasukkan ke ambulans. Aku ikut naik ke dalam. Tanganku gemetar sejak tadi, entah karena sedih atau karena takdir terasa terlalu pandai mempermainkan perasaan manusia.

Achyar duduk di depan sebagai supir.

Kami tidak berbicara.

Tidak ada satu kata pun.

Namun di perjalanan menuju pemakaman, mata kami sempat bertemu lewat cermin kecil di pojok atas mobil.

Hanya beberapa detik.

Tapi cukup untuk membuat seluruh kenangan yang sudah kukubur kembali mengetuk pintu.

Aku segera memalingkan wajah ke arah jenazah kakakku.

Air mataku jatuh lagi.

Bukan karena ingin kembali.

Bukan.

Aku hanya tiba-tiba sadar bahwa ada luka yang selama ini kupaksa sembuh sendiri tanpa benar-benar kupeluk baik-baik.

Dan mungkin, pertemuan ini bukan tentang cinta lama yang datang kembali.

Mungkin ini hanya hidup yang sedang berkata pelan:

“Lihat, kamu berhasil melewati semuanya.”

Aku menatap kain batik yang membungkus tubuh kakakku. Orang yang dulu memperkenalkan kami. Orang yang tanpa sengaja juga menjadi saksi perpisahan kami.

Kini kak Yani pergi membawa sebagian besar kenangan itu bersamanya.

Ambulans terus melaju perlahan.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak lagi marah kepada Achyar.

Di dalam hati, aku akhirnya mampu berkata:

Terima kasih pernah hadir di hidupku.

Lalu aku membiarkannya pergi. Kali ini, untuk selamanya.

Jalanan menuju TPU sedikit retak. Entah karena hatiku yang juga merasakan hal yang sama. Pernah retak dan hancur akibat kehilangan orang yang pernah aku cintai sepenuh jiwaku. Roda ambulans sesekali tergelincir pelan di aspal. Di bangku belakang, aku duduk memeluk tubuh anakku sambil menahan tubuh kak Yani yang terbungkus kain batik. Dingin. Begitu dingin sampai aku merasa pelukan kedua orang ini tidak akan cukup menghangatkan ku lagi.

Di depan, Achyar menyetir tanpa menoleh sekali pun. Tangannya mantap di kemudi. Rambutnya satu persatu sudah mulai beruban. Dulu, waktu 2012, ia pernah bercanda kalau uban di usia muda itu tanda orang banyak mikir. Waktu itu aku tertawa dan bilang, “Berarti nanti kamu jadi profesor.”

Profesor.  

Kata itu terasa asing sekarang.

Aku menoleh ke jendela. Jalanan yang biasa kulewati waktu pulang kampung tampak pudar karena kabut air mata. Waktu terus berjalan, meski rasanya dunia berhenti di bangku belakang ambulans ini.

Kenanganku bersamanya melintas sejenak. Senyum manis dia yang memilih buku yang harus aku baca agar menjadi istri Sholehah.

“Dek, kamu harus baca buku ini, nanti saat abang meminang kamunya sudah mantap". Suaranya serak, penuh canda.

Aku tertegun, dalam bayanganku sendiri.

Dia yang pernah hadir mengisi masa lalu ku yang indah memberi luka yang bertahun-tahun tak dapat kusembuhkan.

Ambulans berhenti. Kami sampai.

Beberapa laki-laki lain dari pemakaman segera menghampiri. Aku turun dibantu suamiku yang juga datang menyusul dari rumah. Ia nggak banyak bicara.

"Ayaaah". Anakku langsung memanggil ayahnya saat aku turun dari ambulan. Laki-laki yang mencintaiku tanpa syarat itu mengambil alih pelukan anakku.

Achyar juga turun. Ia membuka pintu belakang, membantu menurunkan usungan. Gerakannya hati-hati, seperti takut menyakiti jenazah. Aku melihatnya dari kejauhan. Tidak ada tatap mata lagi. Tidak perlu.

Prosesi pemakaman berjalan cepat. Tanah kering, liang lahat sempit, dan bacaan tahlil yang merambat pelan di antara pepohonan. Aku berdiri di sisi kanan, memperhatikan sesi pemakaman kak Yani. Saat tanah pertama diturunkan, dadaku sesak.

Kak Yani pergi.

Orang yang paling tahu semua tentangku. Orang yang tahu aku pernah nangis semalaman karena Achyar memblokir nomorku. Orang yang pernah bilang, “Kalau dia nggak jadi untukmu, biar Allah yang ganti dengan yang lebih baik.”

Dan Allah memang menggantinya.

Adikku memelukku erat. Dia tidak tahu kalau pelukannya sedang menyelamatkan kakak keduanya dari kenangan yang hampir tumpah.

Setelah pemakaman, orang-orang mulai pulang. Aku duduk sebentar di dekat batu nisan baru itu. Suamiku mengerti dan mundur sedikit, memberi ruang. Membawa sikecil anakku menjauh.

Di kejauhan, aku melihat Achyar berdiri di dekat mobil ambulan. Ia tidak mendekat. Hanya menunduk, seperti minta maaf pada tanah.

Aku ingin marah lagi. Ingin bertanya, “Kenapa dulu kamu pergi begitu saja?”  

Tapi rasanya pertanyaan itu sudah nggak penting.

Waktu 12 tahun sudah cukup menjawab.

Malamnya, setelah semua tamu pulang, aku duduk di teras rumah orang tuaku. Suamiku membuatkan teh hangat. Anak-anak sudah tidur di kamar belakang, dijaga adikku.

“Sayang baik-baik aja?” tanyanya pelan.

Aku mengangguk. “Iya. Hari ini terasa berat mas, kakak pergi dengan tiba-tiba".

Ia menepuk pundakku dengan lembut. “Sama, aku juga merasakan hal yang sama.”

Tanpa sengaja aku mulai bercerita. Semua. Dari pertama kali ketemu Achyar di acara partai, sampai hari ini. Tentang bagaimana aku pernah menyimpan surat-suratnya di bawah bantal. Tentang bagaimana aku pernah menghapus semua fotonya, lalu menangis karena nggak bisa mengingat detail wajahnya.

Suamiku mendengarkan tanpa memotong. Hanya sesekali mengangguk.

“Jadi kamu nggak nyesel nikah sama aku?” tanyaku setengah bercanda, setengah takut.

Ia tertawa pelan. “Nyesel kenapa? Kalau kamu nggak pernah ketemu Achyar, mungkin kamu nggak akan jadi kamu yang sekarang. Yang bisa sabar nungguin aku pulang kerja sampai jam 1 malam. Yang bisa marahin aku kalau lupa beli susu sama pempes anak.”

Aku memukul lengannya pelan. “Jahat.”

“Tapi bener, kan?”

Aku diam. Ia benar.

Malam itu aku tidur lebih nyenyak dari biasanya. Karena lelah yang mendera setelah menangis sepanjang perjalanan pulang dari kota ke daerah. Lega telah mengutarakan semua isi hati yang selama ini aku pendam sendiri.

Hidup terus berjalan.

Dua minggu setelah itu, aku kembali ke rumahku di kota. Anak-anak menyambut dengan teriakan “Ummi pulang!”. Suamiku menyambut dengan pelukan hangat dan aroma udang goreng yang menguar dari dapur.

Malam itu, saat menidurkan anak-anak, Aam bertanya, “Mi, kenapa kemarin di kuburan ada Oom yang lihatin Ummi dari jauh?”

Aku tersenyum. “Itu mungkin teman lama uwak, Sayang. Teman yang dulu pernah uwak bantu"

“Ooh. Terus sekarang?”

“Sekarang dia dirumah sendiri. Sama seperti kita.”

Aam mengangguk, lalu memejamkan mata. “Bagus kalau semua orang senang kan mii.”

Aku mencium keningnya. Iya, Sayang. Bagus kalau semua orang bisa senang dan bahagia.

Hari-hari berlalu. Nama Achyar tidak pernah kusebut lagi di depan suamiku. Bukan karena aku menyembunyikannya, tapi karena sudah tidak ada yang perlu disembunyikan.

Kadang aku masih ingat suaranya. Suara yang dulu membuatku begadang sampai jam 1 pagi. Tapi sekarang suara itu hanya tinggal gema. Gema yang tidak mengganggu tidurnya suamiku dan anak-anakku.

Setelah kepergian kak Yani, aku lebih banyak belajar untuk meninggalkan kesan indah dan baik hanya untuk keluargaku. Aku tak ingin larut dengan luka lama lagi.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Romantis
Cerpen
Supir Ambulan
Fitriyani
Novel
Bronze
The Story of Azalea
Khairunnisa
Flash
MARTIAL MUSIC ARTS
andina
Cerpen
Bronze
Mahkota dan Luka
gungkeris
Novel
Nearby Jadi Suami
Arti Damayanti
Flash
Aku Akan Menunggumu
Sulistiyo Suparno
Novel
Gold
Dear Nathan
Coconut Books
Novel
Metamorfosis
Shela Puzi Dina
Novel
Satu Lagu, Dua Hati
Nurul Adiyanti
Cerpen
Bronze
ALIEN
Sri Wintala Achmad
Novel
My Dream
Arum Firdaus Safitri
Novel
Sihir Tring Tring
Lisma Laurel
Flash
Janji yang Tidak Benar-benar Pergi
Nila Kresna
Novel
Forelsket
Syafa Azzahra
Novel
17 Tahun BUCIN
Tourtaleslights
Rekomendasi
Cerpen
Supir Ambulan
Fitriyani
Novel
Meja Otopsi
Fitriyani
Cerpen
Siomay Terakhir
Fitriyani
Cerpen
Petualangan Lima Penjaga Energi
Fitriyani