Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Aksi
Bronze
Sunyi Dibalik Jubah Hukum
0
Suka
3,718
Dibaca

Langit Jakarta sore itu tak sedang mendung, tapi dada Ari seakan diselimuti kabut yang tak kunjung reda. Di atas meja kayu ruang mediasi Pengadilan Agama, tergeletak selembar kertas yang mengandung lebih banyak luka dibanding tinta. Tanda tangan di sudut bawahnya bukan sekadar bentuk persetujuan—itu adalah pecahan dari hidup yang pernah ia bangun dengan penuh harap.

Suara hakim yang mencoba netral terdengar bagai gema jauh dari dasar jurang, "Dengan ini, proses perceraian antara Muhammad Ari Pratomo dan Rania Maheswari resmi diputuskan. Hak asuh anak jatuh pada pihak ibu. Sidang ditutup."

Dentang palu kecil itu lebih menyakitkan daripada palu hakim di perkara kriminal manapun yang pernah Ari tangani.

Ia menunduk. Napasnya berat, bukan karena keputusan hukum yang tak bisa ia bantah, tapi karena ia tahu bahwa dalam perkara ini, ia bukanlah seorang pengacara. Ia hanya seorang ayah yang kalah.

Anak laki-lakinya, Rafka, masih terlalu kecil untuk memahami bahwa dunia orang dewasa bisa sangat rumit. Ia tak tahu bahwa malam-malam sepi akan mulai menjadi kebiasaan baru Ari. Bahwa setiap lagu pengantar tidur akan berganti menjadi sunyi, dan setiap ulang tahun akan terasa seperti upacara kehilangan.

Ari berdiri pelan, memasukkan dokumen ke dalam map lusuh. Rania tak melihat ke arahnya, dan ia tak memaksa. Ia tahu perpisahan bukan soal saling membenci, tapi tentang saling melepaskan ketika hati tak lagi selaras.

Di luar gedung pengadilan, suara motor, klakson, dan tawa orang-orang begitu kontras dengan guncangan batin yang ia rasakan. Dunia tetap berjalan, bahkan saat jiwanya sekarat.

Ia berjalan kaki ke parkiran, menolak tawaran ojek online yang menyapanya. Ia ingin waktu lebih lama sendirian. Ingin mengenang. Ingin menyesal.

Di jok motornya, helm tergeletak bersama satu barang lain—sebuah buku catatan kulit berwarna cokelat tua. Itu bukan buku hukum. Itu adalah jurnalnya. Tempat ia menulis semua isi hati, semua keinginan, semua rindu yang tak bisa dikat...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Aksi
Cerpen
Bronze
Sunyi Dibalik Jubah Hukum
Muhammad Ari Pratomo
Flash
Takdir Kehidupan
Diyanti Rita
Flash
Rumina dan Dunia yang Membisu
Hans Wysiwyg
Cerpen
Bronze
Surat dari Penjara
Muhammad Ari Pratomo
Flash
The Power of Tea
Adam Nazar Yasin
Flash
Bronze
Sayap
Y. N. Wiranda
Flash
Bronze
A Brief History of a Cadaver
DMRamdhan
Novel
Gold
Dari Gestapu ke Reformasi
Mizan Publishing
Novel
Underground Fire
kimchiroll
Flash
Bronze
Pohon Jagat
AndikaP
Novel
Pesan Pendek yang Membawa Kesedihan Panjang
Cosmas Kopong Beda
Flash
Aroma pagi dan kopi
Lukitokarya
Cerpen
Bronze
VIP Rank Party wo Ridatsu shita Ore wa
Mochammad Ikhsan Maulana
Flash
Bronze
Manusia Super
Afri Meldam
Flash
Bronze
Happy Wedding
Ron Nee Soo
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Sunyi Dibalik Jubah Hukum
Muhammad Ari Pratomo
Cerpen
Bronze
Surat dari Penjara
Muhammad Ari Pratomo
Skrip Film
HUKUM TERAKHIR
Muhammad Ari Pratomo
Cerpen
Bronze
Guru Pagar Integritas
Muhammad Ari Pratomo
Cerpen
Bronze
Tangkap Pelaku Registrasi SIM Card Ilegal
Muhammad Ari Pratomo
Cerpen
Bronze
Jejakku Dilorong Gelap
Muhammad Ari Pratomo
Cerpen
Bronze
Jejak Keadilan di Balik Derita
Muhammad Ari Pratomo
Cerpen
Bronze
Tanpa Kantor, Tanpa Takut
Muhammad Ari Pratomo
Cerpen
Bronze
Jejak yang Tak Pernah Padam
Muhammad Ari Pratomo
Cerpen
Bronze
HUKUM TERAKHIR
Muhammad Ari Pratomo
Novel
Remaja di Akhir Zaman
Muhammad Ari Pratomo
Cerpen
Bronze
Kebenaran Tak Pernah Mati
Muhammad Ari Pratomo
Novel
Bronze
Kembali ke Pelukan Ayah
Muhammad Ari Pratomo