Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Sorak-sorai para pengantar jenazah berpadu riuh dengan lantang pukulan gendang, tiupan terompet, dan nyayian perempuan-perempuan Kampung Sungai Biran. Semua yang mengikuti ritual pengantaran jenazah untuk dibawa ke Sungai Kabut mengenakan pakaian berwarna putih. Laki-laki tampak seperti berpakaian ihram dengan tambahan penutup kepala dari kain yang dilipat rapi menjadi serban. Sementara perempuan berkemban putih, rambut terurai bermahkotakan rangkaian bunga, dan wajah mereka bersolek bedak beras.
Arak-arakan ritual pengantaran jenazah yang dibungkus di dalam anyaman tikar rotan dibawa oleh penandu yang terdiri dari enam orang. Mereka melangkah mengarak tandu berkeliling kampung saat cahaya fajar mulai menyebar ke langit. Sebagai penuntun langkah penandu, ada anak-anak yang bertugas menabur aneka rupa warna kembang, air daun pandan, dan wewangian kemenyan dalam turibulum. Ritual pengantaran jenazah ini akan berakhir sampai sang surya beranjak tenggelam.
Jingga warna sungai perlahan memudar. Sobirin yang sedari tadi menikmati keindahan petang dari ujung perahu mengalih pandang ke arah tebing. Penandu mulai menuruni anak tangga tebing menuju muara sungai. Suasana telah berubah menjadi kesunyian. Iring-iringan para pengantar jenazah melepaskan pakaian mereka satu persatu dan melemparkannya ke sungai. Helaian kain putih beterbangan tertiup angin menjadi pemandangan baru di mata Sobirin. Pengantar jenazah yang kini tanpa sehelai benang pun melekat di tubuh mereka beriringan melangkah mengikuti jejak penandu tanpa suara menuju perahu.
Kesunyian di muara sungai pecah oleh pekik rombongan kelelawar yang melintas. Penandu memindahkan jenazah dengan hati-hati dari tandu ke dalam perahu dengan rapal doa terakhir yang diperuntukan pada Sobirin sebagai pembawa perahu jenazah. Penandu akhirnya menyelesaikan ritual. Mereka turun dari perahu, lalu melepaskan tali perahu yang tertambat pada sebuah kayu yang ditancapkan di dasar muara sungai.
Sobirin mulai mengayuh perahu. Kini menjadi tugasnya membawa jenazah yang ada di hadapannya dan setiap jenazah orang-orang di kampung menuju tempat terakhir mereka. Senja sepenuhnya tenggelam. Sobirin semakin menjauhi siluet keramaian para pengantar jenazah yang tengah sibuk membasuh raga mereka.
***
Perjalanan Sobirin menuju Sungai Kabut mendekati sampai. Setidaknya butuh waktu dua malam satu hari baginya menyusuri sungai bercabang dan berkelok untuk tiba tanpa tersesat. Dirinya hapal betul bagaimana menahkodai perahu dalam gelap malam dan redupnya siang agar tidak salah arah berkat ajaran sang kakek. Bukan tanpa alasan, sepanjang kiri dan kanan sungai yang dilalui Sobirin ditemboki pohon-pohon Rengas, Meranti, Nalutung, dan pepohonan lainnya yang tumbuh subur dengan dahan menganjur ke tengah sungai.
Sobirin membelokan perahunya ke cabang sungai sebelah kanan yang menampakan kabut tipis. Setelah melewati bibir sungai ia berhenti mengayuh dayung. Kini perahunya bergerak mengikuti arus menembus kabut yang semakin tebal. Sobirin menyalakan korek yang membiaskan kabut dan menerangi wajahnya. Ia menyulut klobot dan menghisapnya dalam-dalam. Asap klobot keluar perlahan dari mulut Sobirin langsung membaur dengan kabut. Ia begitu menikmati tiap hisap klobot terakhirnya sebelum kembali merapal doa dan menghanyutkan jenazah ke aliran Sungai Kabut.
Rintik hujan mulai turun. Kabut perlahan menipis. Sobirin mengambil dayung lalu memutar perahunya. Ia kembali mendayung. Sayup terdengar nyanyian Antu Banyu menyambut tikar jenazah yang dihanyutkan di Sungai Kabut. Antu Banyu dipercaya orang-orang kampung sebagai penghuni Sungai Kabut. Mereka biasanya duduk menjuntai di dahan pohon di tepi sungai sambil bersenandung seperti kicauan burung Kadalan. Mereka akan loncat ke sungai saat tikar jenazah dihanyutkan, lalu berlomba menggulung tikar berebut mengisap isi kepala jenazah, setelah itu mereka akan membawa tubuh jenazah ke pedalaman Sungai Kabut. Di dalam sana terdapat dua anak sungai, Sungai Itam atau Sungai Jeneh. Sungai Itam dipercaya sebagai tempat arwah yang semasa hidupnya berlumuran dosa. Sedangkan Sungai Jeneh menjadi tempat berkumpulnya arwah yang semasa hidupnya penuh dengan kebaikan.
Sebagai penerus pembawa perahu jenazah, Sobirin dapat melihat ke mana tikar jenazah itu dibawa oleh Antu Banyu. Namun, kali ini Sobirin tetap mengayuh perahunya keluar dari Sungai Kabut. Ia tidak ingin melihat ke mana tikar jenazah itu berakhir, lebih tepatnya tidak peduli.
Perahu pembawa jenazah mendekati mulut Sungai Kabut. Merdu nyanyian Antu Banyu perlahan tenggelam, yang artinya tikar jenazah sudah berada di tujuan. Sobirin mendadak berhenti mengayuh perahu, ia terdiam memikirkan apa yang telah dilaluinya. Muncul rasa sesal, kenapa tikar jenazah itu tidak ia buang saja saat dalam perjalanan agar arwah jenazah tersesat tanpa tujuan?
Sobirin masih terdiam, yang membuat perahunya terbawa arus ke dalam Sungai Kabut. Bayang kenangan mulai bermunculan di ingatannya yang membuat perasaannya makin kacau. Isi kepala Sobirin kini tak bisa lepas dari senyum Mat Kayo, jenazah yang ia bawa ke Sungai Kabut.
***
Orang-orang di Kampung Sungai Biran tidak ada yang berani mengusik keluarga pembawa perahu jenazah. Dari dulu sampai saat ini keturunan pembawa perahu jenazah selalu dihormati layaknya mereka menghormati keluarga Kepala Kampung. Mat Kayo adalah penerus pembawa perahu jenazah terakhir sebab ia belum juga memiliki keturunan. Orang-orang kampung sangat takut jika nanti Mat Kayo mati dan tidak ada penerus pembawa perahu jenazah. Mereka akhirnya melakukan banyak cara agar Mat Kayo memiliki keturunan, termasuk merelakan anak gadis mereka untuk dikawinkan pada Mat Kayo. Namun, sampai Mat Kayo berusia 40 tahun tidak ada satupun gadis kampung yang menarik perhatian Mat Kayo.
Satu hari, Kampung Sungai Biran dihebohkan dengan keberadaan keranjang rotan berisi bayi yang terdampar di tepi sungai. Wajah bayi tersebut putih bersih dan sangat rupawan. Tidak ada bayi yang serupawan bayi tersebut di kampung mereka. Kehebohan itu membawa Mat Kayo turut mendatangi bayi yang telah dibawa ke rumah Kepala Kampung. Di sana, Kepala Kampung, Uyut Penasihat, serta orang-orang kampung sepakat memberikan bayi tersebut pada Mat Kayo dengan harapan bayi tersebut menjadi penerus pembawa perahu jenazah. Bak mendapatkan durian runtuh, Mat Kayo yang langsung terpesona kala menantap rupa sang bayi pada pandangan pertama begitu bahagia dipercaya untuk merawat dan membesarkan bayi yang ia beri nama Sobirin.
Sejak saat itu ketakutan orang-orang kampung akan penerus pembawa perahu jenazah akhirnya sirna. Berjalannya waktu, Sobirin dirawat Mat Kayo dengan sangat baik. Sobirin tumbuh menjadi anak pintar dan berperangai budiman. Selain itu, wajah Sobirin yang kian rupawan menarik perhatian para gadis kampung yang berlomba-lomba memikat hati Sobirin.
Sayangnya semakin beranjak dewasa, Sobirin tidak pernah lepas dari pengawasan Mat Kayo. Di mana ada Sobirin, di sana selalu ada Mat Kayo. Orang-orang kampung dapat memaklumi seperti apa Mat Kayo menjaga Sobirin. Mereka berpikir Mat Kayo butuh cara tersendiri dalam menurunkan ilmu pada Sobirin untuk menjadi penerus pembawa perahu jenazah. Hal ini akhirnya menjadi sejarah, ada penerus pembawa perahu jenazah bukan dari garis keturunan moyang Mat Kayo.
***
Sejuknya udara malam menemani Mat Kayo dan Sobirin menikmati indahnya pemandangan Kampung Sungai Biran. Dari beranda rumah, tampak cahaya purnama menerangi rumah-rumah panggung beratap Jerami yang dibatasi pohon kelapa antar rumah. Mat Kayo sangat bahagia selalu dapat menghabiskan waktu bersama Sobirin yang kini telah tumbuh kumis tipis. Ia semakin tak sabar dapat memiliki Sobirin seutuhnya.
Saat awan kelabu perlahan menutupi cahaya purnama, Mat Kayo mendekap Sobirin. Ia membisikan rangkaian kalimat panjang yang tidak dipahami Sobirin. Tak lama Sobirin tidak mampu mengendalikan tubuhnya. Mat Kayo membopong Sobirin ke dalam rumah menuju kamar. Seringai di wajah Mat Kayo membuatnya tampak seperti serigala yang tak sabar menyantap mangsanya.
Malam Panjang dilewati Sobirin dengan tatapan kosong. Ia hanya dapat merekam dalam ingatannya akan apa yang telah Mat Kayo perbuat. Setiap sentuhan Mat Kayo tidak mampu Sobirin lawan, ia tak berdaya dalam tangisnya. Satu-satunya yang dapat dilakukannya adalah mengutuk Mat Kayo.
***
Tahun berganti. Kehidupan di Kampung Sungai Biran berjalan seperti biasanya. Orang-orang kampung selalu bahagia melewati keramaian upacara pernikahan, perayaan kelahiran, dan ritual pengantaran jenazah. Begitu juga dengan kehidupan Mat Kayo dan Sobirin, yang selalu bersama-sama dalam keseharian atau menjalankan tugas mereka membawa perahu jenazah menuju Sungai Kabut. Kehidupan indah ini berjalan seimbang sampai Kampung Sungai Biran dikejutkan dengan kematian Mat Kayo.
“Mat Kayo mati,” teriakan lantang seorang warga.
“Mat Kayo mati karena tersedak biji buah durian,” lanjut warga lainnya mengabarkan kematian Mat Kayo.
Tidak butuh waktu lama untuk orang-orang kampung memastikan kematian Mat Kayo. Secepat kilat mereka kini sudah di rumah Mat Kayo sambil berdesakan melihat jasad Mat Kayo terlentang di lantai papan beranda rumah. Mulut dan mata Mat Kayo terbuka lebar. Tangannya erat memegangi leher, seperti berusaha mengeluarkan biji durian di sana. Dari mulut Mat Kayo tercium aroma durian yang begitu menggoda.
***
Keras suara teriakan Sobirin membuat burung-burung yang bertengger di ranting pohon tepi Sungai Kabut terbang berhamburan. Lewat teriakannya, sobirin meluapkan amarah yang masih membara di dalam dada. Ia menyesal kenapa dirinya masih membawa jenazah Mat Kayo ke tempat peristirahatan terakhir. Seharusnya ia buang saja jenazah Mat Kayo dalam perjalanan agar arwah Mat Kayo tersesat karena tidak dapat menemukan jalan pulang. Walaupun hal tidak sepadan dengan apa yang sudah Mat Kayo perbuat pada dirinya, setidaknya ia dapat membalas rasa sakit dan bencinya pada Mat Kayo.
“Bangsattttt!!!” Sobirin kembali berteriak makin kencang.
“Kenapa aku tidak pernah berani melawan dan balas dendam?”. Suaranya kembali memecahkan keheningan Sungai Kabut. Perlahan kemarahan Sobirin menghilang dan berubah menjadi kesedihan.
“Kenapa?”. Suara Sobirin tercekat.
Air matanya menetes. Sobirin tak lagi mampu menahan bendungan di kelopak matanya. Ia mulai menangis dan terisak. Dalam tangisnya yang bercampur amarah dan rasa benci pada Mat Kayo, nyatanya Sobirin tak dapat memungkiri jika ia merasakan kehilangan atas berpulangnya Mat Kayo. Ia merindukan kasih sayang yang diberikan Mat Kayo padanya, bahkan pada kebiadaban Mat Kayo yang membuatnya tak lagi memiliki rasa pada gadis pujaannya. Sobirin terduduk dan tertunduk dalam tangis. Perahu pembawa jenazah semakin jauh terbawa arus Sungai Kabut yang kian menebal. Sosok Sobirin perlahan tertelan kabut bersama nyaring suara Antu Banyu.