Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Suatu Hari di Seoul
1
Suka
14
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Sejak Daniela memutuskan untuk pergi, aku memilih menarik diri sepenuhnya, mengunci rapat-rapat pintu hatiku untuk siapa pun. Kalau boleh jujur, di sudut hati terdalam, masih ada rasa kesal, bukan karena dia tak lagi mencintaiku, tapi karena alasan dangkal di balik kepergiannya, kondisi finansial keluargaku terpuruk.

Aku sebenarnya bukan dari kelas bawah. Hanya saja, beberapa tahun belakangan ini bisnis orang tuaku dihantam badai besar. Kami dipaksa turun kasta menjadi kelas menengah baru yang harus mati-matian bertahan hidup untuk bisa bangkit lagi.

Puncak kepahitan itu sangat terasa di hari wisudaku. Aku terpaksa memakai sepatu lama yang pudar. Untuk pakaian, aku pakai jas lawas yang sudah kesempitan. Aku sengaja menyembunyikan fakta ini dari Ibu agar beliau tidak cemas, tapi tentu saja rahasia itu langsung terbongkar saat acara wisuda, dan memicu amarahnya.

"Ini soal harga diri, Ray sayang! Orang-orang akan mencibir, seolah-olah ibu sama bapak sudah nggak peduli lagi sama kamu!" gerutu Ibu dengan mata berkaca-kaca. Namun, di balik omelannya, ia tetap memelukku erat di tengah keramaian acara wisuda.

Di sudut koridor yang sama, aku melihat Daniela. Mantan kekasihku itu sedang berfoto mesra dengan Darius, teman satu kelompok tugas kuliahku yang berasal dari kalangan berduit seperti aku dulu. Aku tahu persis reputasi Darius, dia tipe cowok yang punya daftar panjang perempuan di belakangnya.

Anehnya, melihat mereka berdua, aku tidak merasa cemburu. Sisa rasaku untuk Daniela sudah menguap habis. Aku juga tidak berniat mengutuknya agar menjadi korban permainan Darius. Aku hanya tidak peduli lagi, masa bodoh dengan jalan hidup yang dia pilih. Mungkin, bersandar pada bahu Darius adalah caranya memanjat tangga sosial agar bisa diterima di kelas atas.

Kini, ritme hidupku berubah total. Aku memilih pola kampus-rumah, itupun karena ada lomba yang tersisa. Kampus tak lagi menjadi tempat yang menyenangkan untuk dijelajahi. Dulu, satu-satunya alasanku berkeliaran di sana adalah Daniela yang selalu merengek minta ditemani.

Sebagai pacar yang bucin saat itu, aku melakukan apa saja untuk memanjakannya. Bahkan tahun lalu, akulah yang menutup seluruh biaya kamar kosnya. Aku menuruti semua kemauannya tanpa protes, hanya karena aku terlanjur mencintainya selama dua tahun itu. Aku selalu berharap dia akan berubah menghargai ketulusan.

Namun, Tuhan ternyata punya skenario yang lebih baik. Aku tidak perlu repot-repot mengarang cerita atau mencari alasan untuk menyudahi hubungan toxic itu. Daniela sendiri yang memilih berjalan mundur, berpaling pada Darius, dan meninggalkanku.

 *** 

Sabtu seharusnya menjadi harkos, hari kosong, waktu paling khidmat bagi seorang fresh graduate. Waktu ideal untuk memuaskan dendam tidur seharian tanpa beban skripsi atau tugas akhir lagi. Namun, sebuah pesan instan menghancurkan rencana itu. Panitia Green Camp Innovation, ajang kompetisi terakhir yang kuikuti saat masih menyandang status mahasiswa, mendadak meminta seluruh peserta melakukan konfirmasi dan mengirim ulang hasil riset mereka.

Hari liburku pun tumbang. Aku terpaksa membuat janji temu dengan Erika, satu-satunya rekan satu timku dalam perlombaan ini.

Keputusanku memilih Erika sebagai partner sebenarnya didasari alasan yang cukup sinis. Teman-teman satu gengku mengusulkan namanya karena Erika cantik, pintar, dan mereka berharap kehadirannya bisa menjadi pelipur lara setelah aku dicampakkan Daniela. Tapi bagiku, Erika adalah kartu As. Aku memanfaatkannya untuk membalas dendam secara elegan, membuat Daniela kepanasan dari jauh.

Sama sekali tidak ada ruang untuk cinta di hatiku saat itu. Aku hanya tahu satu fakta krusial, bahwa Erika adalah rival abadi Daniela di kampus, sosok yang selalu berhasil memicu rasa insecure dan cemburu buta di hati mantanku itu.

***

Selama berminggu-minggu, kami melewati masa-masa persiapan lomba dengan sangat profesional. Kami menjadi tandem yang solid di bawah bimbingan langsung Pak Misran dari direktorat kemahasiswaan.

"Dia pacarmu, ya? Makanya kamu tarik masuk ke tim?" tanya Pak Misran tiba-tiba, menyenggol lenganku dengan nada menggoda saat kami sedang melapor di ruang Pembantu Rektor.

Jantungku sempat berdesir aneh, namun aku buru-buru memasang wajah datar untuk berkelit. "Kata siapa, Pak? Enggaklah," jawabku sekaku mungkin, mencoba menyembunyikan kegugupan.

"Bukan kata siapa-siapa. Bapak cuma bisa merasakan auranya saja," sahut Pak Misran sambil tertawa renyah.

Aku ikut tertawa untuk mencairkan suasana. Sialnya, kalimat santai dari dosen pembimbingku itu justru menancap kuat di kepala. Di pertemuan-pertemuan berikutnya, aku mendapati diriku secara tidak sadar mulai memberikan perhatian lebih kepada Erika.

Harus kuakui secara objektif, Erika memang menawan. Tuhan pasti sedang dalam suasana hati sangat baik saat merancang garis wajahnya.

Namun, jauh di lubuk hatiku, aku tahu aku belum sembuh. Aku merasa seperti seorang prajurit di tengah medan pertempuran yang trauma akan kekalahan. Ke mana-mana, aku selalu membawa perisai besar, siap menghalau serangan apa pun yang datang. Aku sengaja bersikap cuek dan defensif dari segala bentuk godaan, bahkan dari getaran cinta sekecil zarah sekalipun.

***

Namun, sejak pengumuman resmi dirilis dan panitia menyatakan riset kami lolos untuk mewakili kampus ke Korea Selatan, benteng pertahanan yang kubangun perlahan mulai diuji. Erika mulai sering menggodaku.

"Kenapa, ya, aku kok bisa merasa senyaman ini kalau dekat kamu?" cetus Erika suatu Minggu pagi, di tengah tumpukan berkas materi presentasi yang sedang kami susun.

"Ya jelaslah. Karena aku selalu bayarin kamu makan, dan siap antar-jemput kamu dua puluh empat jam kalau perlu," jawabku sengaja memasang wajah cuek.

Alih-alih tersinggung, Erika malah tertawa renyah. "Tapi serius, aku suka kamu yang jujur begini."

"Bukannya kamu cuma lagi senang karena impianmu pergi ke Seoul akhirnya terwujud?" tembakku lagi.

"Itu memang benar," Erika menatapku lekat. "Tapi bukan cuma itu, aku merasa nyaman karena kamu ternyata orangnya sehangat ini."

"Bahkan ketika mulutku sering ketus dan ngomong buruk tentang kamu?"

"Itu bukan omongan buruk, itu kenyataan. Lagian, kamu sudah banyak banget membantuku. Kamu juga yang bawa tim ini menang sampai kita bisa terbang ke Seoul minggu depan." Erika menanggapi sarkasmeku dengan santai. Dia sama sekali tidak jengah, padahal sejujurnya, aku hanya sedang menutupi kegugupanku dengan setengah bercanda.

***

Perjalanan menuju Korea Selatan akhirnya melarutkan batasan di antara kami. Kami tidak lagi terlihat seperti rekan satu tim yang kaku. Sepanjang paruh terakhir penerbangan, Erika tertidur pulas, menyandarkan kepalanya dengan nyaman di bahuku. Aku baru membangunkan gadis itu beberapa menit sebelum roda pesawat bersiap untuk landing.

Erika mengerjap-erjapkan matanya, lalu tersenyum tipis. "Ini tidur ternyaman dalam hidupku."

Ia memosisikan duduknya kembali, lalu menatapku. "Ternyata, bahumu tempat terhangat, ya."

Kalimat itu sukses membuatku salah tingkah. Sialnya, pertahanan diriku mendadak goyah. Aku terbuai oleh atmosfer romantis di dalam kabin kelas eksekutif. Ditambah lagi, suasana hatiku sedang sangat baik karena dari balik jendela pesawat, pemandangan musim gugur di bawah sana menyuguhkan hamparan warna-warni yang memanjakan mata, sesaat sebelum burung besi ini menyentuh landasan pacu.

"Seandainya kita bisa di sini lebih lama lagi, aku ingin banget menikmati butiran salju pertama turun. Itu bakal jadi momen salju pertama dalam hidupku, dan kejadiannya di Korea lagi. Ah, baru bayanginnya saja sudah romantis banget."

Ucapannya terdengar seperti rengekan penuh harap, entah ditujukan kepadaku atau pada takdir. Matanya terus menerawang keluar jendela, menatap takjub pada guguran daun warna-warni yang perlahan semakin dekat di bawah sana.

***

Dari pelataran Travelodge Myeongdong Euljiro yang terletak di distrik Jung-gu, Sungai Cheonggyecheon hanya berjarak beberapa langkah kaki dari tempat kami menginap. Malam itu, kami menikmati jalan kaki yang mendadak terasa romantis, memanfaatkan waktu luang karena upacara pembukaan baru akan digelar esok hari.

Lampu-lampu kota berpendar di kejauhan, memantulkan kilau cahaya di atas gemericik riak sungai. Tak jauh di seberang, sebuah stasiun subway tampak disesaki para komuter yang datang dan pergi.

Setelah beberapa kali lengan kami bersentuhan tanpa sengaja, Erika tiba-tiba menyusupkan jemarinya dan menggandeng tanganku. Ia menoleh, menatapku dengan binar mata yang sulit kuterjemahkan.

"Kayaknya aku jatuh cinta deh sama kamu," katanya. Begitu mudah dan sederhana kata-kata itu meluncur dari bibirnya.

Aku hanya tertawa tertahan. Mencoba menganggap kalimat itu tak lebih dari sekadar kelakar malam hari.

Namun, Erika justru menggamit lenganku lebih erat. Kali ini raut wajahnya berubah serius. Bibirnya ditarik ke atas, mengerucut cemberut dengan tatapan bombastic eye yang tajam menuntut jawaban.

"Kamu pikir aku lagi main-main?"

"Kamu itu gadis tercantik di kampus, Ka. Bahkan kalau kamu cuma bercanda pun, orang-orang bisa langsung jatuh cinta," ujarku, mencoba tetap rasional. "Jangan main-main. Aku tidak mau jatuh cinta hanya karena jebakan romantisme kota Seoul. Tempat yang dari kemarin kamu gadang-gadang bisa bikin orang jatuh cinta tanpa alasan."

"Dan kamulah alasanku jatuh cinta saat ini," potongnya serius.

"Aku alasanmu? Di Korea?" Aku melempar pertanyaan mengambang.

"Iya, terus kenapa?" Alisnya bertaut bingung. "Memangnya kalau kamu yang jadi alasanku, enggak boleh? Enggak bisa gitu?" Mimik wajahnya tampak begitu menggemaskan. Poni dan rambut-rambut kecil di dahi membingkai wajahnya dengan sempurna saat ia mendesakku.

"Karena bisa jadi, begitu kita pulang ke Jakarta dan semua sihir kota Seoul ini hilang, rasa itu juga ikut menguap, Ka. Aku hanya tidak mau menjadi korban suasana," ujarku, mencoba membangun benteng pertahanan terakhirku.

Erika tidak menjawab dengan kata-kata. Dia justru menatap lurus ke dalam mataku, lalu menggenggam tanganku jauh lebih erat, seolah sedang menyalurkan seluruh kehangatan tubuhnya di tengah angin musim gugur yang mulai menusuk tulang. Malam itu, di tepi Sungai Cheonggyecheon, benteng yang kubangun bertahun-tahun lamanya runtuh tanpa sisa.

Apakah ini saatnya aku menyerah kalah lagi? Memberikan hatiku pada seseorang di tengah luka-luka masa lalu yang belum sepenuhnya sembuh?

Pikiranku sempat mengembara liar, mengingat reputasi Erika di kampus. Mengingat keributan dan gosip yang selalu ditimbulkannya setiap kali kecantikannya membius para pria. Muncul lagi riak kecemasan di dadaku. Bagaimana kalau aku hanya menjadi salah satu potongan dari puzzle mainannya? Bagaimana kalau dia tahu kondisi ekonomi keluargaku yang sebenarnya? Sementara di kampus, anak-anak Fakultas Ekonomi yang mengidolakan Erika rata-rata membawa mobil mewah, padahal Erika sendiri adalah mahasiswi Teknik Arsitektur.

Namun, saat melihat wajahnya yang mendadak tenang dalam jarak sedekat ini, aku mendadak mati rasa terhadap ketakutan-ketakutan itu. Persetan dengan apa pun yang terjadi esok hari. Romantisme malam ini telah merasuki seluruh kepalaku, membuatku hanyut seperti letupan-letupan kembang api kecil. Aku tidak peduli lagi jika perasaan ini membawa terbang jauh ke nirwana. Aku merasakan getaran yang berbeda, sebuah hawa penyembuh yang menutup luka lama dari Daniela tanpa menyisakan bekas parut sedikit pun. Malam itu, aku resmi jatuh hati pada Erika.

***

Malam Gala Reward menyempurnakan kisah kami yang baru seumur jagung. Inovasi yang kami bawa tidak hanya menghasilkan pendar emas di dalam hati, tapi juga dianugerahi Gold Medal. Kami berdiri di atas panggung megah bersanding dengan tujuh tim dari negara Asia lainnya. Aku bisa merasakan genggaman tangan Erika yang hangat dan bergetar saat detik-detik pengumuman dibacakan. Dan tepat ketika announcer menyebutkan nama tim kami, Erika menghadiahiku sebuah ciuman manis yang mendarat di pipi, spontan dan penuh luapan kebahagiaan.

Saat memandang wajahnya yang berseri di bawah lampu sorot aula gala, aku tahu aku sudah tidak peduli lagi pada hari esok. Bahkan jika skenario terburuk terjadi setelah ini, jika Erika memilih meninggalkanku, setidaknya kami pernah saling mencintai dan melewati malam-malam magis menyusuri jalanan kota Seoul.

Kami menghabiskan sisa hari dengan terus menjelajah kota. Dinding-dinding batu dan jembatan ikonik di sepanjang Sungai Cheonggyecheon yang diterangi lampu temaram seolah melenyapkan hiruk-pikuk kebisingan jalan raya Seoul. Seperti sepasang kekasih yang sedang mabuk asmara, perjalanan kami berlanjut melintasi gang-gang kecil di Insadong dan Ikseon-dong yang estetik, tak jauh dari Nine Tree Premier Hotel Insadong tempat kami menginap selanjutnya. Kami memanjakan diri di sepanjang jalan Insadong-gil, menyusuri deretan galeri seni di bawah pendar lampion merah yang menyala terang.

"Terima kasih sudah membawaku ke sini," bisik Erika lembut di sela langkah kaki kami.

"Kita, dan takdir yang membawa kita ke sini," balasku sedikit berfilosofi, sambil mempererat tautan jemari kami.

Tepat menjelang hari kepulangan, keajaiban lain datang. Butiran lembut salju pertama perlahan turun dari langit Seoul. Kami sengaja memilih untuk terjaga semalaman, menikmati jalanan yang mulai memutih tertutup butiran seperti kapas. Erika berlari kecil, menghambur ke tengah jalan dengan tawa dan senyum yang lepas bebas. Itu adalah perpaduan visual paling indah yang pernah kusaksikan, wajah cantiknya yang merona, dibingkai oleh lembutnya salju yang turun.

Menjelang tengah malam, kami berjalan pulang sambil terus bergandengan tangan. Membiarkan udara dingin meredam debar di dada, dan sepakat untuk mengganti waktu tidur yang hilang di atas kursi hangat kabin pesawat dalam penerbangan pulang ke tanah air nanti.

 ***

Namun, kedamaian itu berumur pendek. Sihir Korea benar-benar selesai begitu roda pesawat kami menyentuh landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta, badai yang sebenarnya baru saja dimulai.

Sore itu, baru sehari aku menginjakkan kaki kembali di kampus, sebuah siluet familiar berdiri di dekat parkiran motor. Daniela.

Penampilannya sedikit berbeda, tidak se-glamor saat dia sering berjalan dengan Darius akhir-akhir ini. Tapi yang paling mencolok adalah gelagatnya. Daniela yang biasanya angkuh, memandangku dengan tatapan sayu yang belum pernah kulihat sebelumnya. Dia berjalan mendekat, menunduk, dan tanpa basa-basi meraih ujung jaket jas lab yang kupegang.

"Bisa kita bicara? Sebentar saja," suaranya parau.

Kami duduk di bangku taman belakang fakultas yang sepi.

"Aku salah, Ray. Aku minta maaf," katanya tiba-tiba, air matanya menetes. "Darius, dia tidak seperti yang aku bayangkan. Dia kasar, dan dia cuma menjadikanku taruhan dengan teman-temannya. Aku sadar, tidak ada laki-laki yang memperlakukanku sehormat kamu selama dua tahun itu. Aku mau kita balik lagi, Ray. Aku janji aku akan terima kamu apa adanya sekarang."

Aku terpaku, tapi bukan karena terharu. Aku melihat kilatan kegelisahan di matanya, menurutku ini aneh. Daniela tipe perempuan yang sangat menjaga harga diri. Kenapa tiba-tiba dia merendahkan diri seperti ini setelah mencampakkanku saat keluargaku terpuruk?

Jawabannya kutemukan malam itu juga melalui gosip yang beredar di grup angkatan. Seseorang telah menyebarkan foto-fotoku dan Erika saat di Korea. Kabar bahwa aku kini dekat dengan Erika, mahasiswi yang selama ini paling dibenci Daniela karena selalu menyaingi popularitas dan kecantikannya di kampus telah meledak.

Daniela tidak sudi kalah. Harga dirinya terluka parah bukan karena kehilangan aku, tapi karena tahu bahwa mantan kekasih yang dia buang karena miskin, kini justru didekati oleh musuh bebuyutannya. Baginya, merebutku kembali adalah cara untuk menampar wajah Erika.

Sayangnya, desas-desus itu berembus terlalu kencang hingga telinga Erika. Rumor di kampus bergeser liar, Ray dan Daniela balikan setelah Daniela menangis minta maaf.

Keesokan harinya, Erika menemuiku di lab. Matanya sembap, kontras sekali dengan wajah cantiknya yang biasa bersinar.

"Jadi bener, kamu cuma jadiin aku pelarian biar mantanmu kesal?" tanyanya langsung, suaranya bergetar menahan cemburu sekaligus kecewa. "Semua omonganmu di Korea tentang takut 'jebakan romantisme' itu ternyata karena hatimu masih tertinggal di Daniela?"

"Ka, dengar dulu."

"Aku tahu aku bodoh, Ray. Tapi aku beneran sayang sama kamu!" potongnya, lalu berbalik dan berlari meninggalkan lab sebelum aku sempat menjelaskan bahwa aku sama sekali tidak merespons Daniela.

***

Puncak bahaya dari kesalahpahaman ini terjadi malamnya. Erika yang sedang kalut dan emosional memilih pulang kuliah malam dengan berjalan kaki sendirian menuju halte depan kampus, jalur sepi yang terkenal rawan karena penerangannya yang minim.

Aku yang panik mencarinya ke sana kemari akhirnya mengarahkan motorku ke jalur halte tersebut. Tepat saat lampu sorot motorku menerangi jalanan yang gelap, jantungku rasanya mau copot. Dua orang asing berjaket hitam sedang mencegat Erika, salah satunya mencoba menarik paksa tas selempangnya hingga Erika terjatuh ke aspal.

Tanpa berpikir panjang, aku langsung memacu motorku, menabrakkan ban depan ke salah satu pelaku hingga dia terjungkal. Aku melompat dari motor, memasang badan di depan Erika yang ketakutan. Terjadilah perkelahian singkat yang kacau, meski aku masuk di kelas Tae Kwon Do, tapi semua itu cuma latihan. Tak ada tendangan balcaghi-ku yang benar-benar mendarat dengan tepat saat aku berkelahi membela Erika. Pikiranku kosong, yang ada hanya amarah dan ketakutan luar biasa jika Erika terluka.

Satu hantaman keras dari balok kayu mengenai lengan kiriku hingga terdengar bunyi krek yang menyakitkan, membuatku tersungkur. Namun, teriakan histeris Erika dan sorot lampu mobil lain yang kebetulan lewat membuat kedua penjahat itu panik dan melarikan diri ke dalam kegelapan.

***

Di ruang IGD rumah sakit Prince Nayyef kampus yang dingin, dengan lengan kiri yang sudah dibalut gips akibat retak tulang, aku bersandar di brankar. Di sampingku, Erika duduk sambil terisak tanpa henti. Bajunya sedikit kotor karena jatuh di aspal tadi, tangannya yang gemetar menggenggam erat tangan kananku yang bebas.

"Maaf, maafin aku, Ray. Kalau saja aku enggak kekanak-kanakan dan langsung pergi," isaknya tersedu-sedu.

Aku tersenyum sambil menahan nyeri di lengan.

"Aku enggak balikan sama Daniela, Ka. Dia yang datang, tapi hatiku sudah enggak di sana. Hatiku ketinggalan di Sungai Cheonggyecheon, di bawa sama perempuan yang hobi tidur di bahuku."

Erika mengangkat wajahnya. Mendengar itu, tangisnya justru semakin pecah, namun kali ini dia memelukku dengan sangat erat, berhati-hati agar tidak menyentuh lengan kiriku. Di sela tangisnya, dia berbisik, "Aku enggak peduli soal Daniela, aku enggak peduli soal rumor itu lagi. Waktu aku lihat kamu terluka demi melindungi aku tadi, aku sadar aku bisa gila kalau kehilangan kamu. Aku mau nemenin kamu, Ray. Mau kondisi kamu susah, mau lenganmu patah, aku enggak akan ke mana-mana."

Tanpa aku sadari, insiden berbahaya itu justru menjadi katalisator tak terduga. Aku kini yakin, dia memang memilihku, bahkan saat aku sedang berada di titik terendahku.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Suatu Hari di Seoul
Hans Wysiwyg
Cerpen
Untitled, 1994
Rein
Cerpen
Bronze
Konten Cinta Tanpa Cinta
Saifoel Hakim
Cerpen
Bronze
Uncanny Valley
Damia Nur Shafira
Cerpen
Bronze
Ujung Fajar
Utia Nur Hafidza Rizkya Ramadhani
Cerpen
Bronze
Patok Merah
Fajar Muharram
Cerpen
Diari Raka
zain zuha
Cerpen
HALTE
Billy Yapananda Samudra
Cerpen
Esok Masih Akan Terus Berjalan
Rein Senja
Cerpen
RIUH SENYAP
se
Cerpen
Bronze
04 Dia Tabib
Bima Kagumi
Cerpen
Sibuk sedang Beristirahat
zain zuha
Cerpen
Bronze
Mandi Lumpur
spacekantor
Cerpen
Bronze
Malu
Imajinasiku
Cerpen
Bronze
OH MY BOSS
ELI WAHYUNI
Rekomendasi
Cerpen
Suatu Hari di Seoul
Hans Wysiwyg
Cerpen
Flying Over a Hundred Miles
Hans Wysiwyg
Flash
Di Bawah Langit Jogja
Hans Wysiwyg
Flash
Sebelas-Duabelas
Hans Wysiwyg
Flash
SEPULANG REUNI IBU SAKIT
Hans Wysiwyg
Flash
Kesempatan Pertama
Hans Wysiwyg
Flash
Sebatang Paku
Hans Wysiwyg
Flash
CLBK Cinta Lama Belum Kelar
Hans Wysiwyg
Flash
Boba
Hans Wysiwyg
Flash
Mestakkung
Hans Wysiwyg
Flash
Summer yang Tak Pernah Hilang
Hans Wysiwyg
Flash
Satu Jam Saja
Hans Wysiwyg
Flash
Selebgram Roti Gabin
Hans Wysiwyg
Flash
Tertawan Hati
Hans Wysiwyg
Flash
Tetangga Toko Sebelah
Hans Wysiwyg