Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Ruang utama di sayap kiri museum sudah terbuka. Terang benderang cahaya memancar dari jendela-jendelanya. Benda-benda bersejarah di lobi yang luas itu diam, beku, namun bergeming kokoh seolah tak terkikis waktu. Udara di luar cerah namun wajah Sukarman kelabu. Pandangannya tajam menatap beberapa siswa sekolah menengah yang sejak tadi berisik di dekat pintu masuk.
“Anak sekarang kurang tahu sopan santun,” omelnya pelan. “Masa di museum sebegitu berisiknya?”
“Namanya juga bocah SMA,” ujar Darmin, anaknya, yang sejak tadi berdiri di dekat diorama. Rombongan murid SMA itu melintas di dekat mereka. Hanya tiga di antara mereka yang nampak serius mengamati barang-barang peninggalan jaman perang negerinya itu. Yang lainnya tertawa-tawa, berbicara entah apa. Mereka menuju ke mobil De Soto, salah satu saksi bisu sejarah perjuangan rakyat Indonesia merebut kemerdekaannya hampir seratus tahun silam. Pelan Sukarman dan anaknya menguntit mereka.
“Naik mobil ginian kek apa rasanya yah?” celetuk seorang siswa berambut kribo.
“Tuh lihat roda-rodanya,” temannya menunjuk ke roda depan mobil itu. “Kebayang kok rasanya—”
“Enak ndaknya tuh bukan tergantung rodanya,” kilah seorang temannya lagi. “Suspensinya!”
Mereka memotret suspensi mobil itu dan menanyakannya ke barang cerdas serba tahu di ponselnya. Mereka lalu bergumam dan tertawa geli.
“Pak Karno pasti kena ambeien kalau naik mobil dengan suspensi kek gini, hahaha!” Teman-temannya ikut membuka mulutnya tertawa.
Sukarman mendelik. “Kurang ajar!” desisnya. “Berani-beraninya menghina pahlawan bangsanya sendiri! Lagipula itu bukan mobilnya pak Karno. Itu mobil dinasnya Kolonel Sungkono! Apa kalian ndak baca keterangannya?”
Omelannya tenggelam oleh riuhnya obrolan dan tawa anak-anak itu.
“Makan sekolahan tapi bodoh,” Sukarman masih meneruskan gerutuannya. “Itu mobil pake suspensi per daun yang sudah tergolong modern di jaman itu! Jadi ndak ada ceritanya Kolonel Sungkono kena ambeien hanya karena naik mobil itu! Sembarangan omong!”
Kali ini Darmin menarik nafas panjang. “Yah, Bapak kan generasi jaman dulu yang emang lebih tahu seluk-beluk mobil jaman perang,” katanya. “Lha anak-anak ini? Ya udah, dimaklumi aja, Pak.”
Darmin mengajak ayahnya beranjak ke halaman belakang. Ada sebuah gerbong kereta api disana. Pintunya setengah terbuka. Darmin dan Sukarman berdiri dalam keheningan di dekatnya. Berkelebat di benak mereka bagaimana tentara Belanda menjejalkan puluhan orang ke gerbong itu sampai mereka berdesakan dalam ruang sempit nan panas. Sukarman mengusap air matanya ketika membayangkan bagaimana semua pejuang Indonesia di gerbong itu megap-megap kehabisan nafas dalam gerbong panas lalu tewas mengenaskan.
Suara ribut rombongan murid SMA tadi membuyarkan lamunannya. Mereka sudah berkerumun di sekitar gerbong. Ia menatap tajam ke salah satunya yang sedang membaca keterangan tentang gerbong itu.
“Wah, bayangkan malam-malam kita uji nyali disini. Pasti banyak penampakan!” serunya.
“Iyaa . . . ayoh bikin konten yuk!” sambut seorang temannya. “Kamu berani bikin?”
“Ayo, bro! Bikin konten seram terus pajang di Tiktok. Pasti FYP!”
“Serem ah! Kalau aku disekap disitu sama arwah-arwahnya, gimana?”
“Kita bawa dukun aja. Kita hajar arwah-arwahnya pake mantra dukun biar ndak berani macam-macam!”
Sukarman dan Darmin tanpa sadar mengepalkan tangan kanan mereka mendengar ocehan itu. Seorang siswa SMA bertubuh gemuk merapatkan kedua telapak tangannya di depan dahinya lalu berkomat-kamit dengan mata setengah terpejam. Lalu ia tertawa terkikik disambut tawa teman-temannya. Sukarman bergerak hendak merenggut pundak si siswa kurang ajar itu namun si anak cepat berkelit karena seorang temannya menamparkan tangannya ke kepalanya.
Mereka ribut berdebat tentang siapa yang pantas menginap disitu semalaman.
Dua orang siswi berpose di depan gerbong. Mereka mengacungkan kedua tangannya, membentuk huruf V, lalu tersenyum genit ke kamera.
“Kok bikin tanda V sih? Emang siapa yang menang?”
“Ya kita dong. Kita kan ciwi-ciwi cantik, siapa tahu dapat sinyo Belanda cakep!”
Mereka tertawa riuh.
Rombongan siswa itu berlalu. Sukarman melepas kepalan tangan kanannya. Mendesah panjang, matanya mendadak berbinar. Ia membungkuk meraih sebuah kerikil kecil dari tanah. Cepat lengan kanannya terangkat dan kerikil itu pun melayang deras tepat mengenai pundak seorang siswa di barisan depan.
“Pak!” bisik Darmin. “Bapak ini! Cari gara-gara aja!” Sontak ia dan ayahnya berjongkok dan menunjuk-nunjuk ke arah roda gerbong, pura-pura membahas benda itu.
Si korban sambitan celingukan. Ia menoleh ke belakang ke arah teman-temannya. Satu umpatan meluncur dari mulutnya.
“Siapa ngelempar tadi?!” serunya. “Kamu ya, Mobi! Pasti kamu!”
“Anjing! Bacotmu, Tor!”
Sejenak pertengkaran kecil meletus.
Sukarman terkikik geli tanpa suara. “Biar tahu rasa!” desisnya. “Anak kurang ajar ndak ada sopan-sopannya sama pejuang yang sudah membuatnya bisa hidup merdeka!”
Udara yang makin hangat di halaman belakang memaksa ia dan anaknya kembali melangkah ke ruang utama. Mereka melihat lagi rombongan siswa itu di dekat satu set sofa coklat muda dengan meja kayu coklat gelap di depannya yang dibatasi beberapa tali merah.
Seorang siswa pria berbisik ke seorang siswi wanita. Mereka cekikikan. Teman-temannya mendengar bisikan mereka dan seketika heboh.
“Ayo gass kan!” seru seseorang. “Kapan lagi bisa berpose mesra di sofa tua bersejarah?”
Mereka celingukan melihat sekitar, memastikan tidak ada penjaga. Salah seorang melihat ke arah Sukarman dan Darmin namun segera tak mengacuhkannya. Kemudian, sepasang siswa dan siswi tadi melangkah mendekati sofa dan mendudukinya. Sang pria merengkuh pundak teman putrinya dan kini gadis itu berada dalam pelukannya. Sang siswi membuka kedua telapak tangannya seolah menyangga dagunya, lalu membuka mulutnya dan tertawa lebar. Beberapa kali teman di depannya mengambil pose hangat mereka di atas sofa itu. Tawa cekikikan dan sorakan teredam mengiringi tingkah keduanya.
“Anak bangsat!” rutuk Sukarman yang melihat dari kejauhan. “Itu kursi bersejarah tempat presiden pertama kita berunding dengan pihak Belanda! Berani-beraninya mereka bertingkah mesum disitu!”
Bahkan Darmin pun kini mendecakkan lidahnya dan melontarkan pandangan berasa sembilu ke anak-anak sekolah tersebut. Mereka sekilas memandang balik ke arahnya lalu tertawa kembali.
Bapak dan anak itu seperti tanpa sadar mengikuti rombongan jahil siswa itu. Kini anak-anak itu sampai ke depan sebuah lemari kaca besar berisi beberapa perlengkapan perang. Mereka kontan heboh melihat sebuah helm tentara bolong tepat di bagian dahinya.
“Beh, kopyor dah otaknya kena peluru!” celetuk seorang siswa bertubuh kecil.
Seorang pria mendekat. Rupanya ia guru mereka. Sejenak ia menyimak obrolan anak-anak didiknya tentang helm berlubang itu. Lalu ia berkata, “kalian tahu? Menurut bapak penjaga di sana itu, prajurit Indonesia yang memakai helm ini ndak tewas. Soalnya helm ini terbuat dari dua lapis baja, dan berkat Tuhan dia masih hidup walaupun helmnya bolong segede itu.”
Para siswanya memandangnya ternganga. “Masak, Pak?’ kata seseorang. “Itu sampe bolong lho. Masa iya ndak langsung tembus ke otaknya?”
“Menurut beliau tadi, pemakainya masih hidup, kok,” sang guru mencoba meyakinkan. “Ah, coba kalian pikirkan kok bisa tetap hidup? Ayo, kalian kan belajar fisika dasar waktu kelas satu. Coba pikir penyebabnya!”
“Kayaknya ndak rame kalau masih hidup, Pak!” protes seseorang.
“Huss!” gurunya menghardik. “Lha emang beliau masih hidup kok walaupun helmnya kena tembak. Meninggalnya karena sakit, bukan karena kena tembak di helmnya!”
Si siswa bertubuh kecil tadi memandang gurunya sekilas lalu sambil setengah mencibir nyeletuk pelan “ada aja dah ngibulnya”.
“Anak-anak ini aneh,” bisik Darmin. “Kok malah lebih seneng kalau pahlawan bangsanya mati kena tembak!”
Sukarman dan Darmin berdiri di salah satu sudut, memandang ke barisan pistol dan senapan laras panjang di balik lemari kaca. Telinga mereka tak beranjak dari sang guru dan rombongan siswanya.
Mereka mendengarkan instruksi sang guru yang menyuruh murid-muridnya mencatat apa yang mereka lihat di museum itu. “Kok hanya disuruh mencatat?” Sukarman dan anaknya tak habis pikir. “Perjuangan bangsa harus dihayati. Kalau hanya dicatat, terus dibikin ujian, habis ujian pasti sudah dilupakan.”
“Kalau aku bisa, pasti sudah aku laporkan tingkah murid-muridnya di belakang dan di sofa tadi,” gerutu Sukarman.
Tak terasa hari bergulir menyambut petang. Rombongan siswa SMA itu beranjak satu demi satu dari ruang pamer itu, pulang ke sekolahnya. Ruang luas itu kembali dipeluk sepi.
“Kita kembali, Pak,” ujar Darmin. Sang ayah mengangguk. Kegelapan berangsur turun menyelimuti ruang sepi penuh saksi bisu itu. Beberapa lampu menyala redup. Berdua mereka melangkah ke ujung lobi yang luas dan sepi itu. Seorang petugas shift petang menutup pintu utama.
***
Pintu utama sudah dibuka. Cahaya mentari pagi kembali menerangi ruang galeri utama itu. Beberapa murid SMA dari sekolah lain melangkah masuk. Seperti biasa, sedikit ribut penuh ketawa cekikikan dan obrolan aneka rupa. Mata Sukarman lekat pada gadis yang berada paling belakang. Ia tersenyum jahil, lalu melangkah cepat mendekati si gadis, memonyongkan bibirnya di dekat leher jenjangnya dan meniup keras.
“Hiih!” si gadis terbelalak, tubuhnya terlonjak. “Apa ini? Tahu-tahu ada yang meniup leherku!”
Sukarman mendongakkan kepalanya ke belakang ketika tawanya meledak. Darmin yang sedang perlahan turun dari langit-langit di pojok ruangan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah bapaknya.
TAMAT
CATATAN: Ini adalah karya fiksi. Semua nama, tempat, dan peristiwa murni adalah hasil imajinasi penulis. Kesamaan dengan dunia nyata adalah hasil kebetulan belaka.