Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Semua bencana ini bermula dari algoritma Instagram yang sedang tidak baik-baik saja.
Malam itu, H-1 sebelum Anniversary pernikahanku dan Feby yang ke-3, aku sedang rebahan di sofa sambil scrolling tanpa tujuan. Tiba-tiba, muncul sebuah video yang mengubah takdirku.
Video seorang pria berkacamata hitam, berkaos putih ketat, memotong daging steak merah merona dengan gerakan sensual, lalu menaburkan garam dengan gaya ikonik: tangan ditekuk seperti angsa patah leher, garam meluncur dari sela jari, memantul di siku, lalu jatuh indah ke atas daging. Nusret Gökçe alias Salt Bae.
"Gila," gumamku. "Keren banget. Laki banget. Romantis banget."
Otakku yang sederhana langsung menyusun skenario. Besok malam Anniversary. Biasanya kami cuma makan di pecel lele atau delivery pizza. Itu membosankan. Itu tidak spesial. Bagaimana kalau aku... Hanif... menjelma menjadi Hanif Bae? Aku akan memasak Steak Dinner romantis di rumah. Lilin remang-remang. Musik jazz. Dan aku yang memotong daging dengan gaya swag. Feby pasti akan meleleh, bukan hanya karena lilin, tapi karena pesonaku.
"Ah, masak steak kan gampang," pikirku meremehkan. "Cuma daging dibakar, kasih garem, lada. Selesai. Anak pramuka juga bisa."
Dengan semangat membara (dan kebodohan yang hakiki), aku memutuskan: Besok, dapur akan menjadi panggungku.
Sabtu pagi. Aku pergi ke supermarket sendirian. Feby sedang pergi mengantar bucket bunga pesanan, jadi ini momen kejutan yang sempurna.
Aku mendorong troli dengan gaya percaya diri menuju bagian Meat & Poultry. Mataku langsung tertuju pada deretan daging Wagyu A5 yang dipajang di etalase kaca. Marbling-nya indah seperti lukisan abstrak. Lemaknya putih bersih.
Aku melirik label harganya. Rp 850.000 / 200 gram.
Jantungku berhenti berdetak selama dua detik. Delapan ratus ribu? Untuk sekali makan? Itu setara dengan biaya bensin motor Beat-ku selama tiga bulan! Kalau aku beli ini, nanti malam kami makan steak, besok pagi kami makan promag sampai akhir bulan.
"Tidak, Hanif. Jangan impulsif. Cari alternatif," bisikku pada dompetku yang mulai gemetar.
Aku menggeser pandangan ke rak sebelah. Ada daging lokal. Warnanya merah pekat. Seratnya terlihat kokoh. Harganya? Rp 120.000 / kg. Nah! Ini dia! Murah meriah muntah! Seratus dua puluh ribu dapat sekilo! Bisa buat makan satu RT!
Di labelnya tertulis: "Daging Sapi (Cocok untuk Rendang/Semur)". Bagian: Sengkel / Shank.
Otakku berpikir simple. "Ah, daging ya daging. Sapi ya sapi. Mau Wagyu mau Sengkel, asalkan dimasak dengan cinta dan teknik Medium Rare, pasti empuk. Kuncinya kan di skill koki, bukan di bahan."
Aku mengambil dua potong besar daging rendang itu. Tebalnya sekitar 3 cm. Seratnya padat dan banyak urat putih yang melintang (yang aku kira itu lemak marbling, padahal itu urat beton).
"Sip. Daging, cek. Garam, cek. Lada, cek. Mentega, cek." Aku pulang dengan senyum kemenangan. Aku tidak sadar bahwa aku baru saja membeli bahan baku untuk membuat sandal jepit, bukan steak.
Pukul 18.00 WIB. Feby belum pulang. Aku punya waktu satu jam untuk menyulap rumah menjadi restoran bintang lima.
Langkah pertama: Marinasi. Aku meletakkan dua bongkah daging rendang itu di talenan. Dagingnya keras dan dingin. Aku memukul-mukulnya sedikit dengan ulekan batu. Bugh. Bugh. Dagingnya tidak berubah bentuk. Malah ulekannya yang mental. "Wow, dagingnya fresh dan firm," pujiku pada diri sendiri. "Tanda daging berkualitas."
Aku menaburkan garam dan lada hitam sebanyak mungkin. Lalu, karena aku merasa kurang fancy, aku menambahkan kecap inggris dan... sedikit bubuk bawang putih (yang ternyata sudah kadaluarsa bulan lalu, tapi warnanya masih oke).
Langkah kedua: Kostum. Aku masuk kamar. Membuka lemari. Aku mencari kaos putih polos. Ada satu, tapi agak kekecilan karena itu kaos jaman kuliah. Aku memaksakan diri memakaikannya. Hasilnya? Perut buncitku tercetak jelas. Otot bisepku (yang didapat dari ngangkat galon) terlihat sedikit menonjol. "Oke, not bad."
Lalu sentuhan terakhir: Kacamata Hitam. Aku memakai kacamata hitam di dalam rumah yang lampunya sudah kuredupkan. Gelap. Aku hampir menabrak kulkas. Tapi demi totalitas, aku tidak akan melepasnya.
Langkah ketiga: Memasak. Aku memanaskan teflon (bukan cast iron, karena nggak punya) sampai berasap. Aku memasukkan mentega. Cesss! Lalu aku meletakkan dua bongkah "ban dalam" itu ke atas teflon. TSSSSSS!!!!
Asap mengepul hebat. Aroma daging hangus memenuhi dapur. "Inilah aroma kemenangan," pikirku.
Aku mengingat tutorial Chef Gordon Ramsay: "2 menit sisi satu, 2 menit sisi lain untuk Medium Rare." Aku mengikuti instruksi itu dengan patuh. Masalahnya, Gordon Ramsay pakai Tenderloin. Aku pakai Sengkel. Daging sengkel butuh direbus 3 jam biar empuk. Aku cuma membakarnya 4 menit.
Hasilnya? Luarnya gosong eksotis (seared). Dalamnya? Masih merah, mentah, dan alotnya mungkin bisa menahan ledakan nuklir.
Aku mengangkat daging itu. Menaruhnya di piring cantik (piring hadiah deterjen). Aku menatanya dengan garnish daun seledri (karena nggak punya Rosemary). "Sempurna."
Pukul 19.00 WIB. Pintu depan terbuka. Feby masuk. Dia kaget melihat suasana rumah yang remang-remang, hanya diterangi beberapa lilin (lilin putih biasa yang dibeli di warung kelontong) di meja makan.
"Mas? Kamu lupa bayar listrik?" tanya Feby polos.
Aku muncul dari dapur dengan gaya slow motion. Memakai kaos putih ketat, kacamata hitam, dan membawa dua piring steak. Musik Careless Whisper mengalun dari HP-ku yang tersambung ke speaker bluetooth.
"Selamat Anniversary, Sayang," sapaku dengan suara diberat-beratkan. "Malam ini, biarkan Chef Hanif Bae melayanimu."
Feby melongo. Dia menatapku dari atas ke bawah. "Mas... kamu ngapain pake kacamata item malem-malem? Sakit mata?"
"Sstt... ini style," jawabku. "Duduklah, Tuan Putri."
Feby duduk, masih dengan wajah bingung menahan tawa. Aku meletakkan piring di hadapannya. Steak itu terlihat... gagah. Hitam di luar, merah di tengah (aku iris sedikit buat pamer).
"Wow... Masak steak?" Feby terlihat terkesan. "Modal banget kamu, Mas. Wagyu ya?"
"Ehem. Secret Cut," jawabku misterius. "Tapi tunggu. Belum selesai."
Ini adalah momen puncaknya. Aku mengambil mangkok kecil berisi garam kasar. Aku berdiri di samping Feby. Aku menekuk tangan kananku. Mengangkat sikut tinggi-tinggi. Aku mengambil sejumput garam.
"Perhatikan," bisikku seksi.
Aku menaburkan garam itu. Garam jatuh dari jariku. Memantul di sikutku. Sesuai hukum fisika, garam yang memantul di permukaan keras akan menyebar secara acak.
Dan sialnya, sikutku posisinya terlalu dekat dengan wajah Feby. Butiran garam kasar itu tidak jatuh ke daging. Garam itu meluncur deras, memantul, dan...
PYAR!
Langsung masuk ke mata kanan Feby yang sedang terbuka lebar karena takjub.
"AAAAAAAARGHHHH!!!"
Jeritan Feby memecah keheningan romantis malam itu. Musik Careless Whisper mendadak terasa seperti lagu horor.
"MATA AKU!! PERIH!! ASIN!! MAS HANIF BEGOOO!!!"
Aku panik. "Ya ampun, Yang! Maaf! Maaf! Itu teknik Salt Bae!"
"SALT BAE GUNDULMU! INI MATA ORANG BUKAN DAGING SAPI! AMBILIN AIR! CEPETAN!"
Aku berlari kocar-kacir mengambil tisu basah dan air. Feby mengucek matanya yang merah dan berair. Make-up matanya luntur, membuatnya terlihat seperti vokalis band metal yang habis nangis.
"Masih perih?" tanyaku penuh dosa.
Feby menatapku dengan satu mata tertutup. "Lanjutin makannya. Awas kalau garemnya kena mata kiri aku, aku jadiin kamu rendang."
Setelah insiden garam mereda (mata Feby masih merah sebelah), kami mencoba kembali ke mode romantis. "Oke, lupakan insiden tadi. Sekarang, nikmati mahakarya ini," kataku.
Feby mengambil pisau dan garpu. "Kelihatannya enak sih, Mas. Juicy gitu."
Feby menusukkan garpu ke daging. Dug. Garpu itu memantul. Dagingnya tidak tertembus. "Lho?" Feby mengerutkan kening. "Kok... kenyal?"
"Itu tekstur al dente, Yang. Ayo potong."
Feby mulai mengiris daging itu dengan pisau makan. Sreet... sreet... Pisau itu bergerak maju mundur. Tapi dagingnya tidak terbelah. Hanya tergores sedikit.
Feby menambah tenaga. Urat-urat di tangannya mulai keluar. SREET... SREET... Suara gesekan pisau dan piring terdengar ngilu. Daging itu masih utuh. Serat otot sengkel sapi itu menertawakan usaha istriku.
"Mas... ini daging apa sih?" tanya Feby, napasnya mulai ngos-ngosan. "Kok alot banget? Ini sapi yang rajin nge-gym ya?"
"Daging sapi pilihan, Yang. Coba tekan lagi pisaunya."
Feby berdiri sedikit dari kursinya untuk mendapatkan daya tekan gravitasi. Dia menekan pisau itu sekuat tenaga sambil menggergaji. GRRRRROK... GRRRROK... Meja makan berguncang. Lilin-lilin bergetar.
"MATI KAU DAGING! MATI!" Feby mulai emosi.
Tiba-tiba... KRAK!
Suara nyaring terdengar. Bukan dagingnya yang terpotong. Piring keramik di bawahnya... TERBELAH DUA.
Piring itu menyerah. Dia tidak sanggup menahan tekanan hidrolik dari tangan Feby yang frustasi melawan alotnya daging rendang setengah matang.
Kami berdua terdiam. Menatap piring yang terbelah rapi. Saus kecap inggris merembes ke taplak meja putih. Sementara daging itu? Masih utuh. Tidak tergores. Bahkan bentuknya kembali membulat seperti mengejek kami.
"Mas..." Feby menatapku dingin. "Kamu beli piring ini di mana?"
"Hadiah deterjen..."
"Bukan piringnya yang salah," potong Feby. Dia mengangkat daging itu dengan garpu. Daging itu membal-membal. "Ini... ini ban dalem motor ya, Mas? Atau bantalan rel kereta api?"
"Jangan nyerah dulu, Yang. Itu luarnya aja alot. Dalemnya pasti lembut," belaku putus asa.
Karena piring sudah pecah, Feby memindahkan dagingnya ke mangkok nasi. Dia tidak memotongnya lagi. Dia langsung menggigit ujungnya. "Bismillah..."
Feby menggigit. Menarik. Nggghhh... Daging itu melar. Seperti karet gelang. Feby menarik kepalanya ke belakang, dagingnya ikut ketarik panjang, tapi tidak putus. Akhirnya dengan perjuangan gigitan maut, dia berhasil menyobek satu suapan kecil.
Dia mulai mengunyah. Nyam... nyam... nyam...
Aku juga mulai memakan bagianku. Aku memasukkan potongan daging ke mulut. Kesan pertama: Amis darah (karena kurang matang). Kesan kedua: Keras. Kesan ketiga: Ini tidak bisa hancur.
Aku mengunyah. Satu menit berlalu. Daging itu masih berbentuk balok di mulutku. Dua menit berlalu. Rahangku mulai pegal. Tiga menit berlalu. Daging itu malah makin besar rasanya. Serat-seratnya menyelip di sela gigi.
Kami berdua duduk berhadapan dalam keheningan. Hanya terdengar suara kunyahan yang basah dan penuh perjuangan. Chew... chew... chew...
"Mas..." kata Feby dengan mulut penuh, suaranya tidak jelas. "Hini haging hapa hanhal hepit?" (Ini daging apa sandal jepit?)
"Helan haja hang..." (Telen aja yang...) jawabku susah payah.
Aku mencoba menelannya bulat-bulat. Gagal. Tenggorokanku menolak. Refleks muntah bekerja. "Huekk..."
Feby menatapku tajam. Air mata (dari mata yang tadi kena garem) menetes lagi. Kali ini bercampur air mata keputusasaan. "Mas... rahang aku kram... gigiku rasanya mau rontok..."
"Aku juga, Yang... pipiku panas..."
Kami saling menatap. Malam Anniversary yang seharusnya romantis. Lilin sudah meleleh habis. Musik jazz sudah berganti jadi iklan YouTube. Dan kami, suami istri, sedang menyiksa diri mengunyah daging rendang setengah matang yang alotnya melebihi persoalan hidup.
Daging ini tidak dimasak dengan teknik Slow Cook. Daging ini dimasak dengan teknik Slow Death.
Akhirnya, Feby tidak tahan lagi. Dia mengambil tisu. Puih. Dia melepehkan gumpalan daging yang sudah kehilangan rasa itu ke tisu.
"Cukup, Mas. Cukup," kata Feby sambil memijat rahangnya. "Aku mencintaimu, Hanif. Aku menerima segala kekuranganmu. Tapi aku tidak bisa menerima daging ini. Maafkan aku."
Aku pun menyerah. Puih. Aku melepehkan dagingku. Rasanya lega sekali. Rahangku berterima kasih.
"Maaf, Yang," kataku menunduk, melepas kacamata hitamku. "Aku beli daging rendang... di supermarket... karena murah..."
Feby menghela napas panjang. Dia menatap daging-daging yang tergeletak tak berdaya itu. Lalu dia tertawa. Tawanya lelah, tapi tulus.
"Dasar Hanif Bae KW Super," katanya sambil geleng-geleng kepala. "Lain kali kalau mau irit, mending kita makan telur ceplok aja. Jangan sok-sokan medium rare pake daging buat rendang. Itu namanya dzalim sama sapi."
Jam 20.30 WIB. Rumah masih bau asap daging hangus. Piring pecah masih di meja. Perut kami keroncongan parah. Energi habis terkuras untuk mengunyah karet tadi.
"Laper, Mas," rengek Feby.
"Aku juga, Yang."
"Pesen GoFood gih. Aku mau yang dagingnya empuk. Yang nggak butuh tenaga buat dimakan. Yang tinggal telen."
Aku mengambil HP. Membuka aplikasi. Hanya ada satu menu yang terlintas di kepalaku. Menu yang juga daging sapi, tapi dimasak dengan benar oleh ahlinya.
Tiga puluh menit kemudian. Abang ojol datang membawa bungkusan surga. Sate Padang Ajo Buyung.
Kami duduk di lantai ruang tengah (karena meja makan masih berantakan dan bau amis). Membuka bungkus daun pisang itu. Aroma kuah kuning kental yang kaya rempah langsung menyembuhkan trauma kami. Daging lidah sapi yang dipotong kecil-kecil, dimasak sampai empuk, dibakar sebentar, lalu disiram kuah panas.
"Ini baru daging, Mas," kata Feby sambil menusuk sate itu.
Dia memakannya. Nyam. Empuk. Lembut. Lumer di mulut. Tidak perlu dikunyah, cukup dikulum dia sudah hancur.
"Enak banget..." desah Feby bahagia. "Nggak perlu piso, nggak perlu piring, nggak perlu garem di sikut."
Aku memakan sateku dengan lahap. "Iya, Yang. Maafin Mas ya. Mas janji tahun depan nggak akan masak aneh-aneh lagi."
Feby menatapku, mulutnya belepotan kuah kuning. "Nggak apa-apa, Mas. Niat kamu baik kok. Romantis. Cuma eksekusinya aja yang kayak percobaan pembunuhan."
Dia menyuapkan sepotong ketupat padaku. "Lagian, momen ini nggak bakal aku lupain seumur hidup. Anniversary ke-3: Tragedi Mata Asin dan Piring Belah Dua."
Kami tertawa bersama di lantai, ditemani sate padang dan ketupat. Ternyata, romantis itu tidak butuh daging Wagyu atau gaya tabur garam yang ribet. Romantis itu adalah ketika kita bisa menertawakan kebodohan bersama pasangan, lalu makan sate padang berdua sampai kenyang tanpa harus kehilangan gigi.
Dan untuk daging rendang alot tadi? Besok akan kurebus ulang selama 5 jam, kubikin semur, dan kubawa buat bekal makan siang. Karena Hanif tidak akan membiarkan modal 120 ribu terbuang sia-sia, meski rahang harus jadi korban lagi.
Malam itu, sebelum tidur, Feby mengompres matanya yang bengkak kena garam. Aku memijat rahangku yang kram pakai minyak tawon. Di Instagram, video Salt Bae masih muncul di explore-ku. Aku langsung tekan: "Not Interested". Mulai sekarang, idolaku ganti. Bukan Salt Bae. Tapi Abang Sate Padang Ajo Buyung. Teknik kipas satenya jauh lebih legend dan tidak membahayakan mata istri.