Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Ada legenda kota yang jarang diceritakan dengan suara keras.
Tentang sebuah stasiun kereta yang hanya muncul pada pukul dua pagi. Di antara batas waktu yang tidak termasuk malam, tapi juga belum termasuk pagi.
Kata orang, kereta yang berhenti di sana tidak membawa penumpang yang hendak pulang atau pergi.
Bukan pekerja lembur, bukan wisatawan, bukan pecandu insomnia.
Melainkan jiwa-jiwa yang berdiri di titik paling rapuh dalam hidup mereka. Yang belum tahu apakah mereka masih ingin hidup, atau sebenarnya sudah menyerah tapi belum berani mengakuinya.
Dan malam itu, Nino berdiri di peron yang tidak seharusnya ada.
Hujan tipis turun seperti embun yang salah waktu.
Udara dingin menempel di kulit, dan jam di ponselnya berkedip, 02:00.
Ia tak ingat bagaimana bisa sampai di sana.
Yang ia tahu, langkahnya membawa dirinya keluar dari apartemen kosong, dengan foto istrinya yang baru saja dimakamkan, yang ia genggam erat hingga jarinya memutih.
Lalu ia mendengar suara peluit pelan, seakan tidak ingin mengejutkan siapa pun.
Cahaya muncul dari kejauhan, menembus kabut seperti kenangan yang terlalu keras untuk dilupakan.
Kereta berwarna perak berhenti perlahan di hadapannya, pintunya terbuka dengan desis halus.
Dan dari pintu itu, keluar seorang perempuan berambut panjang mengenakan seragam kondektur biru tua, dengan lencana berbentuk bulan sabit.
Ia tersenyum kecil.
“Selamat malam, Tuan Nino. Anda datang tepat waktu.”
Nino mengerutkan kening.
“Bagaimana kamu tahu namaku?”
“Semua penumpang di kereta ini sudah kami kenal,” jawabnya lembut. “Nama saya Livia. Saya akan menemani perjalanan Anda malam ini.”
Suaranya terdengar hangat, tapi matanya memantulkan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Seperti seseorang yang sudah terlalu lama menunggu.
“Tujuan keretanya ke mana?” tanya Nino akhirnya.
Livia tersenyum samar.
“Itu tergantung… apakah Anda ingin pergi, atau kembali.”
Kereta bergerak pelan, meninggalkan stasiun tanpa nama itu.
Di dalam gerbong, tidak ada penumpang lain. Hanya mereka berdua, dan deru mesin yang berdetak pelan seperti jantung yang menolak berhenti.
Nino menatap jendela. Di luar, bukan pemandangan kota yang ia lihat, melainkan potongan masa lalunya.
Taman kecil tempat istrinya tertawa sambil berlari, kedai kopi tempat mereka pertama kali bertemu, dan rumah sakit tempat ia memegang tangan dingin yang sudah tidak menggenggam balik.
“Apa ini… mimpi?”
“Bukan. Ini perjalanan,” jawab Livia.
Kereta berhenti di sebuah stasiun kecil dengan papan lusuh bertuliskan:
“Stasiun Kenangan 01 - Kota Tempat Kamu Bahagia.”
Livia berdiri dan membuka pintu gerbong.
“Silakan turun, Tuan Nino,” katanya dengan nada tenang. “Waktu Anda satu jam. Setelah itu, kereta akan berangkat lagi.”
Pintu terbuka dengan desis lembut.
Nino melangkah keluar.
Udara hangat menyambutnya. Bau kopi panggang mengalir dari kedai kecil di sudut jalan.
Dari arah gang sempit terdengar suara gitar, sama persis seperti melodi favoritnya.
Ia berjalan tanpa arah, sampai akhirnya melihat sosok yang ia kenal.
Istrinya, Alea.
Ia duduk di bangku taman, rambutnya diikat sederhana.
Wajahnya sama, senyumnya sama, tapi matanya penuh cahaya hidup yang sudah lama hilang dari ingatan Nino.
“Alea…” Suara itu keluar tanpa Nino sadari.
Tapi Alea tidak menoleh.
Tidak tersenyum.
Tidak memberi tanda apa pun bahwa ia mendengarnya.
Nino mendekat.
Ia ingin menyentuh pundaknya, ingin menyapu rambut Alea dengan cara yang selalu ia lakukan dulu.
Namun saat ia mengulurkan tangan…
jari-jarinya menembus tubuh Alea seperti asap dingin.
Livia muncul di belakangnya, menatap dengan lembut.
“Segala yang kamu lihat di sini adalah gema, Tuan Nino,” katanya pelan.
“Potongan hidup yang disimpan oleh hatimu sendiri.”
Ia mendekat, menatap Alea yang tetap sibuk dengan buku catatannya.
“Tempat ini diciptakan oleh ingatanmu. Kamu tidak bisa menyentuhnya.”
Nino mengepalkan tangan.
“Kalau aku tidak bisa menyentuhnya… tidak bisa bicara dengannya… tidak bisa memperbaiki apa pun… untuk apa aku di sini?”
Livia menghela napas panjang. Seakan ia sudah mendengar pertanyaan itu dari begitu banyak jiwa yang datang sebelum Nino.
“Karena ini sudah cukup,” jawabnya lembut,
“Cukup untuk apa?” bisik Nino. Suaranya pecah.
“Cukup untuk mengerti kenapa kamu masih di sini.”
Nino memandang Alea yang tersenyum kecil pada sesuatu yang ia tulis.
Senyum yang dulu bisa ia lihat setiap hari.
Senyum yang kini hanya hidup di dunia buatan ini.
Sejam terasa terlalu sebentar.
Tapi mungkin… bahkan satu menit pun sudah cukup untuk menghancurkan, atau memperbaiki hati seseorang.
Kereta kembali melaju.
Kali ini suasananya lebih sunyi.
Livia duduk di kursi seberang Nino, menatap keluar jendela.
“Kenapa kamu bekerja di kereta ini?” tanya Nino.
Livia tersenyum samar. “Aku dulu penumpang juga.”
“Berarti kamu…?”
“Ya,” katanya pelan. “Aku pernah kehilangan seseorang juga. Tapi waktu itu, aku memilih untuk tidak turun di stasiun pagi.”
Nino memandangnya lama.
“Berarti kamu… sudah mati?”
“Tidak sepenuhnya,” jawab Livia. “Mungkin aku hanya berhenti di antara keduanya.”
Ia menunduk, memainkan lencana bulan sabit di seragamnya.
“Aku pikir, kalau aku bertahan di kereta ini, aku bisa menemani orang lain agar tak merasa sendirian. Tapi semakin lama aku di sini, semakin aku lupa kenapa dulu aku naik.”
Nino menatap wajahnya.
Ada kesedihan halus di balik ketenangan itu. Seperti seseorang yang sudah terlalu lama menunda untuk pulang.
Kereta berhenti lagi.
Kali ini papan stasiunnya bertuliskan:
“Stasiun 02 - Tempat Kamu Takut Mengucap Selamat Tinggal.”
Begitu pintu terbuka, angin dingin menerpa.
Nino tahu tempat ini.
Lorong putih, bau antiseptik, suara mesin-mesin medis.
Ia berjalan perlahan, menemukan dirinya berdiri di samping tempat tidur Alea.
Versi dirinya yang lain duduk di kursi, memegang tangan istrinya.
Alea tersenyum kecil. Senyum yang selalu berhasil menghangatkan dunia Nino dengan cara paling sederhana.
“Kamu tahu,” katanya pelan, “aku mencintaimu…”
Lalu mesin berhenti berbunyi.
Dunia menjadi sunyi.
Nino menatap Livia dengan mata yang mulai bergetar.
“Aku tidak mau melihat ini.”
“Kamu harus melihatnya, Tuan Nino,” ujarnya. “Karena selama ini kamu berdiri di pintu itu. Kamu belum benar-benar keluar.”
Nino menunduk.
“Kalau aku keluar… dia akan benar-benar pergi.”
“Tidak,” jawab Livia lembut. “Kalau kamu keluar, berarti dia akhirnya bisa tinggal. Di tempat yang tidak bisa mati, yaitu hatimu.”
Kereta melaju lebih cepat.
Langit di luar mulai memutih.
Livia berdiri di dekat pintu, menatap jam kecil di pergelangan tangannya.
“Stasiun terakhir sebentar lagi.”
Nino menatapnya.
“Stasiun pagi?”
“Ya. Kalau kamu turun di sana, kamu akan kembali ke dunia. Kamu akan bangun di apartemenmu, menjalani hidupmu. Tapi perjalanan ini… aku… kereta ini… semuanya akan hilang dari ingatanmu.”
“Dan kalau aku tidak turun?”
“Kalau kamu memilih tetap di sini,” Livia membalas pelan, “kamu akan terus hidup bersama kenanganmu. Dalam kereta yang tidak pernah benar-benar tiba, dan tidak pernah benar-benar pergi.”
Keheningan menghantam mereka. Bukan hening yang kosong, tapi hening yang meminta keputusan.
Nino terdiam.
Ia menatap Livia.
Ada rasa terima kasih.
Ada kehilangan.
Ada sesuatu yang menyerupai harapan. Bukan untuk dirinya, tapi untuk perempuan di depannya.
“Kalau aku turun… kamu akan sendirian lagi.”
Livia tersenyum lembut.
“Kereta ini akan selalu punya penumpang baru. Aku sudah belajar caranya berdiri sendiri di rel yang tidak pernah berakhir.”
Kereta melambat.
Cahaya putih mulai membanjiri gerbong, seperti fajar yang akhirnya berani muncul setelah lama dipendam.
Pintu terbuka.
“Terima kasih… sudah menemani,” ucap Nino.
“Terima kasih sudah berani naik.”
Ketika Nino membuka mata, ia berada di kamarnya.
Matahari baru naik, menerobos tirai jendela.
Foto Alea di meja masih di sana.
Tapi kali ini, ia tidak menatapnya dengan rasa sakit, melainkan dengan senyum pelan.
Ia bangkit perlahan.
Sendi-sendinya terasa ringan, seperti beban yang selalu ia pikul akhirnya turun tanpa ia sadari.
Senyum kecil muncul di sudut bibirnya.
Bukan senyum bahagia, tetapi senyum seseorang yang akhirnya bisa menerima kenyataan bahwa cinta tidak hilang hanya karena dunia berubah.
Ia bangkit, menyalakan teko air, dan menunggu suara gemuruh kecil itu mendidih.
Aroma kopi perlahan memenuhi kamar.
Ia membuka jendela, membiarkan angin pagi masuk, membawa suara burung, langkah-langkah manusia yang mulai bekerja, dan bisikan kota yang kembali hidup.
Di kejauhan, terdengar bunyi peluit samar.
Entah nyata atau hanya gema mimpi.
Ia menatap langit dan berbisik,
“Selamat pagi, Alea.”
Dan di suatu tempat di antara awan, sebuah kereta perak melaju di jalur yang tidak terlihat oleh mata manusia.
Gerbongnya sunyi, relnya memantulkan cahaya lembut seperti serpihan mimpi yang belum mati.
Di peron kosong di ujung langit, Livia berdiri.
Seragam kondekturnya berkibar pelan ditiup angin.
“Selamat pagi, Nino. Aku juga siap pulang.”
Kereta itu pun perlahan menghilang, tepat pukul 05:59.
Meninggalkan langit yang perlahan menjadi biru, dan dua jiwa yang akhirnya sama-sama pulang ke tempat mereka seharusnya berada.