Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Horor
Bronze
STALL NOMOR TUJUH
1
Suka
7,751
Dibaca

Celah yang Tak Pernah Tertutup

21.38 WIB

Toilet Wanita – Lantai 5, Mall Urbania

Udara malam mulai menyusup masuk ke sela-sela dinding kaca mall yang menghadap ke jalan raya. Lampu-lampu toko telah diredupkan, rolling door digulung setengah hati, dan denting musik mall terdengar semakin kecil seperti suara terakhir dari radio rusak. Lantai 5 hanya menyisakan satu area yang masih menyala terang: bioskop dan deretan food court di sisinya.

Amara melangkah keluar dari studio sembilan dengan perasaan kosong. Film horor yang ia tonton sendirian terasa lebih hambar daripada kesepian yang menempel di kulitnya malam itu. Ia menyesal tak menunggu temannya yang batal datang. Tapi sudah terlanjur. Tubuhnya letih, perutnya kembung karena minuman soda, dan sekarang, ia harus buang air.

Ia berjalan menuju koridor sempit menuju toilet. Lorong itu sunyi, lantainya licin mengilap seperti belum pernah diinjak, dan lampunya berpendar kuning pucat. Sebuah tanda bercahaya "Toilet Wanita" menyala seperti lentera di film Jepang—hampir seperti undangan dari dunia lain.

Pintu toilet terbuka otomatis saat ia mendekat, menimbulkan suara klik yang terlalu keras dalam keheningan. Di dalam, udara dingin langsung menyergap. Pendingin ruangan di toilet ini terasa seperti ruang mayat—steril, mengilap, dan hampa. Dindingnya berlapis marmer abu-abu, wastafel memanjang dengan sensor otomatis, dan deretan bilik tampak seperti lemari mati.

Tujuh bilik berjajar rapi, pintu-pintunya abu logam dengan nomor kecil tak kasatmata di atas engselnya. Amara melangkah pelan, memeriksa tiap pintu dari kiri ke kanan. Semua tertutup kecuali satu: bilik nomor tujuh.

Pintu bilik itu tidak sepenuhnya terbuka, tapi juga tidak tertutup. Tersisa celah dua jari, cukup untuk melihat ujung sepatu seseorang—atau membayangkan ada. Tapi saat Amara melongok ke bawah, tak ada kaki di baliknya. Hanya bayang...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp2.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Flash
Besok Pagi, Ketika Matahari Terbit
Ikhsannu Hakim
Cerpen
Bronze
STALL NOMOR TUJUH
glowedy
Novel
Bronze
Penjara Sukma
Ravistara
Novel
Kuntilanak Kebun Sawit
Aza Muliana
Cerpen
Bronze
Tau-Tau yang Tersenyum
Risti Windri Pabendan
Cerpen
Bronze
Wadah Baru
Ron Nee Soo
Cerpen
Bronze
Ruang X0
Juliana
Novel
@Spooky.Co.Id
Utep Sutiana
Novel
Kisah Horor
Maghfira Izani
Cerpen
Bronze
psychosis.
Faisal Susandi
Cerpen
Bronze
Kuncup Bunga Ungu
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Tumbal Keempat
Arjun
Cerpen
Bronze
Pemakaman Jhon Mortonson karta Ambrose Bierce penerjemah : ahmad muhaimin
Ahmad Muhaimin
Skrip Film
Trauma Generasi
Vitri Dwi Mantik
Flash
Reminisce You, Rossi
Fann Ardian
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
STALL NOMOR TUJUH
glowedy
Novel
Bronze
SWEET INK
glowedy
Cerpen
Bronze
NOKTRA
glowedy
Cerpen
Bronze
ARSIPIR
glowedy
Novel
Bronze
CLUB FANTASY
glowedy
Cerpen
Bronze
JAZZBUK
glowedy
Cerpen
Bronze
LAGU YANG TAK JADI SELESAI
glowedy
Cerpen
Bronze
BOY BEHIND THE VEIL
glowedy
Novel
The Coffee Before The Break
glowedy
Novel
ADA CINTA DI SALON JENAZAH
glowedy
Cerpen
Bronze
Ngaku Saja Pak Dul!
glowedy
Cerpen
Bronze
JUAL BELI NAMA
glowedy
Cerpen
Bronze
ANTIMA
glowedy
Cerpen
Bronze
Nenek Food Hacker
glowedy
Cerpen
Bronze
LANGKAH KETUJUH DARI LIANG
glowedy