Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Songong Maksimal
3
Suka
868
Dilihat

April 2007

Siang itu, telepon di rumahku tiba-tiba berdering. Aku berlari mengangkatnya, berharap dari seseorang yang kutunggu. Maklum, jomblo memang begitu, selalu berharap seseorang tiba-tiba merindukannya lalu menelefon dan membuat janji bertemu untuk mengungkapkan perasaannya. Akh, dasar!

“Halo?”

“Halo, assalam’alaikum. Syasya, ya?”

“Waalaikumussalam, betul dengan siapa?” Aku bertanya walau aku sebenarnya sudah tahu siapa yang sedang bicara di seberang sana.

“Ini uda, Da Rakha!”

“Oh, iya. Ada apa, Da?” Benar dugaanku, suara yang serak-serak basah ini, seolah hanya dia seorang yang memilikinya. Tapi maaf, orang ini tidak masuk ke dalam daftar orang yang kutunggu.

“Sya ... aduh gimana ya, ngomongnya. Uda jadi ngga enak.”

“Ngga papa Da, ngomong aja. Ngga usah sungkan!”

“Gini, Sya. Uda kan udah punya usaha nih, baru mulai, kecil-kecil aja dulu. Jadi uda pengen kamu ikut bantu-bantu di sini, bisa ngga? Soalnya, uda dengar kamu udah ngga kerja lagi.”

“Insya Allah, Da, bisa kok.”

“Syukurlah, kalo bisa. Uda tunggu, ya! Datang aja ke sini besok jam delapan pagi.”

Lalu dia menyebutkan alamat lengkap yang tak asing bagiku. 

“Iya, Da, insya Allah”

Besok paginya, aku bersiap-siap sesuai perjanjian di telepon. Ternyata, ibuku agak kurang enak badan, jadi ibu minta tolong agar aku menyediakan sarapan untuk kami sekeluarga terlebih dahulu sebelum berangkat.

Akhirnya, jam 10 pagi aku baru sampai di tempat yang telah disebutkan kemarin. 

Sesaat aku tertegun di depan pintu. “Wow ....” kata itu tanpa sadar terlontar begitu saja. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan. Ah, syukurlah, tak ada orang lain yang mendengar. Aku tak menyangka, mengingat aku telah begitu lama kenal dengannya dan tahu bagaimana kehidupannya selama ini, punya tempat usaha di depan jalan utama dengan bangunan kokoh berdinding depan dan pintu dari kaca, adalah sebuah kemajuan yang cukup signifikan menurutku.

Membuat aku teringat seperti apa rumah yang ditempati olehnya sekeluarga, rumah kayu kontrakan dengan perabotan sangat sederhana. Keluh kesah istrinya selama ini dan juga pengakuan anak-anaknya yang hanya dapat uang jajan sesekali.

Masuk ke dalam aku mendapati, ternyata ada banyak orang. Beberapa orang pria duduk menghadap Da Rakha. Dia melirikku sekilas tanpa menjawab salamku, atau mungkin juga dia tak mendengar karena yang lain juga tak ada yang tak mengacuhkan kehadiranku. Mereka terlihat begitu asyik bicara. Sepertinya sesuatu yang cukup penting, tapi aku enggan menyimak pembicaraan mereka. Aku lebih memilih mengedarkan pandangan, mengamati “bakal” ruangan tempat kerjaku. 

Di ruangan berukuran empat kali lima meter itu, terdapat satu sofa yang di depannya ada sebuah meja kaca. Di sisi lainnya beberapa meja berjejer. Di atas masing-masing meja diletakkan beberapa PC, dengan monitor tabung. Dari tampilannya, aku bisa menebak kalau itu adalah barang bekas, bukan PC baru. Dan di sisi berikutnya, adalah meja tempat “bos”ku sedang menjamu tamunya.

Aku sadar kesalahanku, kesalahan pertama yang aku buat: datang telat dari waktu perjanjian! Lalu, apa dengan demikian menurutnya aku pantas dihukum dengan mengacuhkan diriku?

Sungguh, walau sadar aku salah, namun menurutku aku tidak pantas diperlakukan seperti ini. 

Aku dongkol dalam hati, berdiri di sudut seperti anak sekolah yang sedang kena hukum. Ditambah lagi, seorang laki-laki yang duduk menyendiri di sofa dan sedari tadi memperhatikanku dengan sudut matanya. 

Kesabaranku hampir habis, ketika semua orang itu pergi. Akhirnya hanya tinggal aku, Da Rakha dan seseorang yang dari tadi melirikku sinis. Tapi walaupun begitu, tetap saja si bos ini bersikap seolah-olah aku tak ada di sana. Ya Allah ... gimana ini? Haruskah aku pergi saja?

Dan tepat di saat aku hendak pergi, Da Rakha menyapaku, itu pun dengan intonasi biasa. Pura-pura kaget, kek!

“Jadi gimana, Sya? Beneran mau kerja di sini?” 

Waaah, ngga bener ini! Kemarin dia tanya, “mau bantu-bantu?” sekarang kok dia malah nanya “mau kerja?”

Kedua kalimat tanya di atas jelas-jelas mengandung makna yang sangat berbeda. Kalimat pertama “mau bantu-bantu?” artinya, aku akan mengerahkan semua kemampuan, daya dan upayaku secara suka rela untuk membantunya. Sedangkan kalimat yang kedua “mau kerja?” adalah, aku ingin kerja di sana memberikan kemampuanku sesuai gaji yang akan kuterima. 

Terus terang hari itu, aku seolah melihatnya sebagai orang asing yang baru saja kukenal. Dia seolah sengaja memberi garis merah di sana.

Tapi, apa? Aku tolol! Aku membiarkan dia berbuat seperti apa yang ada dalam benaknya. Aku sama sekali tidak menyadari hal itu, bahwa dia telah menjadikan dirinya sebagai orang yang baru bagiku. Seseorang yang tidak bisa lagi kuakrabi. Dia telah membuat hubungan persaudaraan antara kami selama ini hilang dan merubahnya menjadi layaknya bos dan anak buah.

Perkenalan pertamaku dengan bosku ini terjadi sekitar hampir sepuluh tahun yang lalu. Tepatnya saat aku masih berstatus sebagai mahasiswi.

Saat itu, aku bersama-sama teman dekat rumah berinisiatif membentuk “Remaja Masjid”. Karena itu, pengurus masjid mencarikan seorang pembimbing untuk kami. Begitu orang itu muncul, kami semua terutama yang cewek-cewek hampir tak berkedip melihatnya. Kami saling dorong-dorongan bahu saking salah tingkahnya. Sementara anak-anak cowok menatap kami dengan pandangan yang tidak suka. Wajar, karena selama ini mereka belum ada yang mampu membuat kami klepek-klepek seperti itu, jadi mereka kalah pamor. Anton dan Edward yang selama ini masuk daftar idola langsung tersingkir. Ya, guru pembimbing itu adalah Da Rakha! Wajahnya yang tampan bak Pangeran Arab, tatapannya yang membius, posturnya yang tinggi dengan kulit bersih, suaranya, terlebih saat dia melantunkan ayat-ayat suci Alqur’an dengan fasihnya, benar-benar gambaran sempurna untuk dinobatkan sebagai lelaki idaman.

Tapi begitu dia memperkenalkan diri, semua cewek langsung patah hati berjamaah. Para cowok juga langsung bersyukur, berjamaah pula. Apalah daya ternyata dia walaupun umurnya saat itu baru 32 tahun tapi telah memiliki enam orang anak.

Mulanya pertemuan kami hanya dilakukan di masjid, kemudian Da Rakha meminta kami untuk memindahkan lokasi pertemuan ke rumahnya dengan alasan, dia susah membagi waktu. Belakangan aku baru tahu kalau alasan lainnya adalah dia susah untuk menghentikan rokoknya walau sejenak. Di sanalah kami lebih mengenal istri dan anak-anaknya lebih dekat. Ternyata benar, anaknya ada enam orang, bahkan istrinya tengah mengandung anak ke tujuh. Istrinya juga sangat cantik bak model peragawati karena selain cantik dia juga tinggi.

Dari sekadar kenal hingga akhirnya kami menjadi akrab. Bahkan kami sering datang hanya untuk sekadar bermain-main dengan anak-anaknya.

Selesai kuliah, otomatis, anggota remaja masjid satu persatu mulai menghilang. Anak kos kembali pulang ke kampungnya, sedangkan penduduk asli yang tinggal dengan orang tua, ingin mencoba peruntungan di rantau. Lagi pula, sepertinya kami juga sudah tidak cocok lagi disebut sebagai remaja. Tepatnya adalah sebagai manusia dewasa yang mulai memikirkan masa depan. 

Walau semua menghilang, tapi aku dan Ninad, temanku yang juga mantan remaja masjid, tetap menjaga silaturahmi kami dengan keluarga Da Rakha. Ke mana pun dia membawa pindah keluarganya, kami selalu mengunjungi. Terlebih Ninad, beberapa kali bahkan pernah menginap di rumahnya. Secara, Ninad adalah anak kos yang tinggal jauh dari orang tuanya. Setelah wisuda, dia tidak pindah ke kampung karena ingin mencari kerja di kota Padang ini. Sedangkan aku, sebagai penduduk asli, belum terpikir untuk merantau saat itu.

Dengan ayahku pun, Da Rakha dekat. Karena posisi ayah sebagai pengurus masjid, dan juga sebagai sesama orang yang punya bisnis sendiri-sendiri. Dia seolah menemukan lawan bicara yang pas. Bahkan dia pun memanggil ayahku “Pak Cik”, sebutan untuk saudara ayah atau ibu. Dia juga sering mengajak keluarganya ke rumahku, bahkan seiring waktu, anak-anaknya yang telah mulai besar, sering datang sendiri ke rumahku. Pulangnya kubekali ongkos dan uang jajan. Kami benar-benar telah merasa seperti keluarga besar. Dia dan keluarganya bukan lagi orang lain bagiku.

Tapi apa yang dilakukannya saat ini padaku? Sungguh tidak berperi kekeluargaan! 

Oke, kalau begitu aku akan ikuti permainannya. Aku pura-pura tidak masalah dengan semua itu. 

“Iya, Da,” jawabku pasrah.

“Oke, kalau begitu, kenalin dulu, ini sepupu uda, Edi.”

Aku mengangguk dengan senyum terpaksa ke orang yang ternyata bernama Edi itu. Dan lebih menyebalkan lagi, karena dia hanya melirikku sekilas, lalu kembali menekuri ponselnya. Mending ganteng! rutukku dalam hati. Iya, dia ini walaupun sepupu, tapi wajahnya bagaikan langit dan bumi atau bak siang dan malam dengan Da Rakha.

Aku rasanya seperti dipelonco saat jadi anak baru di kampus, benar-benar di bawah tekanan. Aku pikir, mungkin memang begini maksudnya. Dia hanya ingin menguji ketahanan mentalku. Apakah aku termasuk wanita bermental baja atau hanya perempuan cengeng yang mudah menyerah. Lalu setelah dia tahu bahwa aku memang tangguh, maka dia akan kembali seperti semula, menjadi orang yang selama ini sudah kuanggap kakak. Memikirkan itu, sedikit aku mulai merasa semangat. Oke, aku akan tunjukkan siapa diriku sebenarnya. Karena itu, aku memutuskan melupakan semua kekesalanku tadi.

 “Edi ini akan menemanimu kerja di sini. Jadi, kalau ada yang kurang paham atau ada yang ingin ditanyakan saat uda ngga di sini, bisa lewat Edi aja.”

Lalu Da Rakha memberi penjelasan panjang lebar lainnya. Yang intinya, usahanya itu adalah reparasi komputer, jual beli PC baru dan bekas. Selain itu juga menjual perlengkapan serta aksesoris komputer. Dan tugasku adalah, membuka toko, melayani pembeli, mencatat semua pembelian dan penjualan, dan ... bersih-bersih! Da Rakha sendiri yang akan belanja dan tentu saja mereparasi bila ada komputer rusak yang harus diperbaiki karena memang itulah keahliannya. Dan si Edi itu, tugasnya apa, coba? Ya, mengawasiku. Dia akan memandoriku sebagai satu-satunya karyawan di sini. Merasa terjebak? Jelas! Mau keluar? Tidak! Aku ingin tahu, seberapa biadabnya orang-orang ini memperlakukanku. Hatiku yang tadi sempat adem kini memanas kembali.

Besoknya aku datang untuk menunaikan tugasku. Sesuai jadwal jam tujuh pagi. Aku mengambil kunci ke atas. Oya, bangunan ini adalah sebuah ruko dua lantai. Lantai dasar dulunya adalah salon yang dikelola si empunya ruko. Karena salonnya mulai sepi, maka separonya lagi disewakan ke Da Rakha. Jadi, ruangan yang berukuran 10×4 meter persegi ini dibagi dua. Bagian depan adalah toko, sedangkan bagian belakang yang hanya dibatasi sebuah lemari besar adalah salon. Karena pintu masuk hanya satu, pelanggan salon masuknya juga lewat di toko ini. Dan khusus bagi pemilik ruko ada pintu di belakang, yang mengakses tangga ke lantai atas. Maka, pergilah aku ke belakang, naik ke lantai dua atas izin sang pemilik.

Setelah membuka rolling door, aku membersihkan ruangan. Sampah berserakan hampir di sepenuh ruangan. Bungkus makanan, minuman dan puntung rokok. Ini juga suatu hal baru yang kuketahui tentangnya. Ataukah ini lagi-lagi untuk mengerjaiku? Sesudah itu, aku melanjutkan menyapu teras luar. Saat sedang menyapu teras, kudengar sapaan dari sebelah. Aku mengangkat kepala dan melihat seorang pria tersenyum memandangku. Wajahnya lumayan ganteng, berpakaian necis ala karyawan kantoran. Mungkin dia karyawan kantor sebelah, pikirku. Di sebelah kiri toko, tempat pria tadi berdiri adalah kantor cabang pembantu sebuah bank milik pemerintah. Aku membalas senyumnya lalu melanjutkan kerja. Setelah membereskan semua, aku mengembalikan gelas-gelas ke kantin yang berada di sebelah kanan toko.

Tiba-tiba aku melihat seseorang yang tidak asing bagiku berjalan memasuki kantin. Seseorang yang kukenal waktu kecil, tepatnya teman sekelas adikku. Harry, seorang lelaki yang tidak begitu tinggi dengan wajah yang enak dilihat serta kulit kuning kemerahan. Walau sekelas dengan adikku, karena otaknya cemerlang, dia bisa melompat kelas hingga setara denganku. Aku mengaguminya karena itu. Tapi kami dulu memang tidak pernah dekat. Harry menyapaku.

“Hai ....”

“Hai.”

Dia seperti ingin melanjutkan kalimatnya, aku juga sangat ingin mendengar kata-kata apa yang akan keluar dari mulutnya. Tapi dia terlihat gugup. Hingga aku segera kembali ke dalam, ingat pekerjaanku yang sedang terbengkalai. Meninggalkan si Harry yang sedang terbengong sendirian. Aku tak ingin memberi kesan lelet di awal-awal kerja. Untuk itu aku sesegera mungkin menyelesaikan semua sebelum si bos datang. 

Terus terang dua peristiwa tadi sangat menyenangkan. Dua orang cowok keren menyapaku hari ini. Membuat senyumku selalu ingin mengembang, hatiku jadi berbunga-bunga. Dasar jomblo, selalu menanti kapan kesendiriannya akan berakhir. 

Tanpa sadar aku bersenandung kecil sambil mengelilingi semua perangkat yang ada di sana. Mengutak-atiknya. Hingga terdengar suara motor berhenti di depan, yang ternyata adalah si Edi. Aku tergagap dan bingung, tak tahu harus berbuat apa. 

Rupanya si Edi ini membaca gelagatku. Dia curiga dan memeriksa semua. Lalu menemukan sebuah kesalahan. 

“Ini, kenapa lampu monitor nyala?”

“Mmm ... ng ... ngga tau!” jawabku gugup.

“ngga tau kenapa? Kamu kan yang tadi ada di sini? Emang ada orang lain?” tanyanya ketus.

Aku diam saja. Percuma juga meladeni orang seperti itu, sebenarnya dia hanya suka memojokkan dan mendapatkan kepuasan dengan itu.

Aku benar-benar semakin benci dengannya. Tapi yang lebih kubenci lagi tentu saja Da Rakha, si Bos! Dia telah membuatku berada pada situasi ini. Mungkin juga dia yang menghasut si Edi untuk memperlakukanku seperti ini.

Tak lama kemudian Da Rakha datang. Si Edi membisikkan sesuatu padanya. Dan kulihat Da Rakha mengibaskan tangannya. Aku lega dan membalas dengan tersenyum sinis saat dia menatapku. 

“Udah minum, Sya?” tanya Da Rakha. 

Wah, mimpi apa si bos semalam hingga dia jadi ramah padaku di pagi ini. 

“Udah, Da, tadi di rumah,” jawabku.

“Uda belum nih! Tolong pesen kopi ke sebelah, ya. Bilang, uda kas bon dulu.

Seketika hatiku girang. Semoga si Harry masih ada di sana. Aku hampir berlari ke kantin sebelah, ternyata Harry sudah tak ada. 

Siangnya, aku melihat Harry lagi di kantin dari balik dinding kaca tempat kerjaku. Aku berharap Da Rakha akan menyuruhku lagi untuk memesan makanan atau apa pun itu ke kantin agar aku punya alasan bertemu sapa dengan Harry. Rupanya tidak! Da Rakha sendiri yang langsung makan ke kantin. Tapi aku sempat melihat Harry pergi dan kuikuti terus ke mana dia pergi dengan mataku sampai tak terlihat. Rupanya dia karyawan di salah satu maskapai penerbangan yang kantornya ada di seberang jalan. Pantas saja dia makan di kantin sebelah, karena memang dekat.

Beberapa hari berikutnya semua baik-baik saja. Namun tak berlangsung lama. Siang itu saat aku sedang istirahat. Da Rakha datang, demi melihatku duduk sambil membaca koran, dia langsung marah.

“Ngapain kamu duduk sementara kerjaan masih banyak?!” 

Aku bingung sebab semua sudah kukerjakan. Menyapu, mengepel lantai, serta melap semua meja dan lemari juga menyusun berkas-berkas yang selalu berserakan setiap kali aku datang. Lalu kerja apa lagi yang dimaksudnya? Aku benar-benar bingung.

“Udah semua kok, Da,” jawabku.

“Eh, kamu ngga boleh, ya, jawab pertanyaanku seperti itu. Pake etika, kalo ngomong sama atasan!” Matanya hampir melotot menatapku.

“Tuh, monitor dan CPU banyak debunya. Gosok itu sampai bersih biar kelihatan seperti baru biar orang tertarik membelinya! Salon di belakang juga, sapu! Tadi banyak rambut berserakan di sana," sambungnya. 

Astaghfirullah ... benar-benar keterlaluan! Etika seperti apa yang dia maksud? Lalu, dia sendiri boleh bicara padaku tanpa memakai etika? Dan aku juga harus menggosok monitor-monitor yang banyak itu sampai bersih mengkilap? 

Kesabaranku hampir di ambang batas. Untunglah kehadiran dua orang cowok itu masih membuatku bertahan. Entahlah, kadang aku merasa konyol mengharapkan salah satu dari mereka bisa jadi cowokku. Karena akses untuk itu sepertinya sulit didapat.

Dengan si bankir, pernah suatu hari Da Rakha menyuruhku menyetorkan sejumlah uang ke bank tersebut. Aku berpikir, mungkin ini adalah saatnya, aku punya alasan ke sana. Membayangkan dia tersenyum padaku seperti biasa, lalu aku membalasnya karena itu dia jadi punya keberanian untuk mendekatiku kemudian kami berkenalan dan jadi akrab akhirnya jadian. Tapi, begitu aku masuk, terlihat sepi. Costumer service dan teller semua perempuan hanya security yang laki-laki dan itu juga bukan orang yang kumaksud. Gagal deh! Aku kembali dengan lesu.

Begitu pun dengan si Harry. Aku bukan orang yang biasa makan di kantin apalagi karena tidak ada teman yang bisa diajak. Da Rakha juga sudah tak pernah lagi menyuruhku memesan kopi ke sebelah. Orang yang punya ruko menawarkan kopi gratis kalau kita mau membuatnya sendiri ke atas. Itu sekaligus menjadi tambahan tugas untukku.

Walau begitu, bagiku cukuplah bisa melihatnya selalu ada. Setidaknya, setiap kali habis dimarahi si bos, aku bisa berharap salah satu dari mereka muncul untuk mencuci hatiku yang kotor karena memendam amarah.

Menjelang sore, teman si bos datang. Layaknya teman yang lama tak bersua, mereka terlihat asyik mengobrol sambil tertawa. Obrolan meloncat ke mana-mana.

"Oya, anakmu udah berapa?"

"Baru sembilan!"

"Sembilan? Wow, banyak juga ya."

"Iya dong, kata orang, bibit bagus harus dikembangkan." Paras si bos terlihat pongah. Temannya hanya tertawa dan dia pun ikut tertawa.

Dan aku? Aku merasa salah satu sudut bibirku terangkat ke atas. Mendengar kalimat terakhir yang diucapkannya. Telingaku juga terasa geli mendengarnya yang secara reflek langsung kuusap. Huh, bibit bagus!

Pembicaraan terus berlanjut, sampai pada pengajian yang diikutinya. Da Rakha dengan semangat berapi-api membahas berbagai masalah agama. Ayat-ayat Alqur'an dan asap rokok berpacu mengalir deras keluar dari mulutnya. Pada saat itu, suara azan dari masjid di seberang jalan terdengar lantang ke dalam toko. Menghimbau agar semua kaum muslimin khususnya laki-laki untuk datang sholat berjamaah di masjid itu. Karena aku perempuan jadi aku langsung ke belakang untuk sholat di tempat yang telah disediakan Cintya, si pemilik ruko.

Hingga aku selesai sholat, dan orang-orang yang sholat di masjid juga sudah pada bubar, si bos masih saja bicara. Ayat demi ayat masih mengalir dari mulutnya. Kupikir mungkin sebentar lagi selesai karena tak mungkin orang yang begitu fasih hafalan Qur'annya sampai melalaikan sholat. Tapi ternyata tak kunjung selesai. Lama setelah itu akhirnya selesai juga. Tepat pukul setengah lima sore. Sungguh ironis!

Pagi itu saat aku mau mengambil kunci toko, ternyata kuncinya tak ada dan kutanya Cintya, dia juga tidak tahu. Lalu dia menunjukkan padaku pintu lain untuk bisa masuk ke toko lewat dalam rumahnya. Begitu lampu kunyalakan, terdengar hardikan. Ternyata si bos dan anak sulungnya tidur di sofa. Mereka terkejut karena kesiangan dan belum sholat subuh. Walau begitu sempat-sempatnya memarahiku gara-gara telat setengah jam.

Sebagaimana semua karyawan di atas dunia ini, saat yang paling ditunggu adalah saat gajian. Aku tak sabar untuk menerimanya sekaligus mengetahui berapa gaji yang akan diberikannya.

Sore itu, untuk pertama kalinya, Niyuli, istrinya datang. Setelah basa-basi sejenak, si bos menyuruhku duduk di kursi yang ada di depan meja kerjanya. Sementara Niyuli duduk di sofa.

"Sya, hari ini kamu akan uda kasih gaji, upah kerjamu selama kerja di sini. Kamu udah tau belum, berapa?" Yaaa ... mana kutau? Emangnya pernah diomongin?

"Belum, Da, belum tahu."

"Jadi gini, Sya. Niyuli kan sekarang juga udah kerja, jadi guru honorer di SD dekat rumah. Nah di sana, Niyuli dapat honor 300 ribu. Sekarang uda nanya, kalo gajimu uda samain aja dengan honor Niyuli, gimana?

"Ya, ngga papa, terserah aja lah!"

"Oya, satu lagi. Habis ini, kamu masih mau ngga, kerja di sini. Kan pasti ya, kamu sebel karena uda sering marah-marah ngga karuan dan banyak aturan. Gimana, masih sanggup?"

Aku terdiam, menyadari sesuatu. Ooo ... jadi gitu ya, jadi marah-marahnya selama ini memang sengaja untuk membuat aku merasa tidak betah kerja di sana. Mungkin saat dia meneleponku bulan lalu, dia benar-benar serius ingin minta tolong. Tapi kemudian, datang si Edi menawarkan bantuan juga. Mau membatalkan aku, ngga enak. Menerima si Edi juga, pengeluaran jadi lebih besar. Akhirnya terpaksalah menyakiti hatiku untuk membuatku mengundurkan diri, agar dia tidak merasa bersalah.

"Masih, Da," jawabku penuh kemenangan. Jangan pikir aku akan menyerah. Justru aku akan balas dengan tetap bertahan disini, biar dia semakin uring-uringan.

Si bos terdiam sesaat dan melihat ke arah istrinya. Membuatku semakin yakin bahwa dugaanku benar. Dan mungkin juga ini adalah ide istrinya.

"Baiklah," katanya sambil menyerahkan amplop. "Sekarang karena memang sudah sore, kamu boleh pulang!"

Aku meraba amplop itu. Cuma tiga ratus ribu! Semua biaya-biaya dan ongkos yang kukeluarkan untuk kerja di sana bahkan lebih besar dari itu. Tapi biar saja, yang penting, hatiku puas dan bisa tersenyum penuh kemenangan melihat ekspresi wajahnya mendengar jawabanku yang di luar dugaannya.

Tapi tunggu! Benarkah aku sudah menang? Sepertinya hanya kemenangan sesaat karena di hari berikutnya aku kembali dibuat sakit hati.

Pagi itu, si bos menyuruhku memesan kopi ke sebelah. Selesai memesan aku segera kembali ke tempat dudukku, karena kopi akan diantar oleh ibuk kantin. Si bos yang melihatku datang dengan tangan kosong diam saja. Tapi begitu ibuk kantin datang membawakan kopinya, dia langsung emosi tingkat tinggi.

"Kamu tau ngga, ini kopi harganya berapa, hah? Dua ribu, tau!" Dia bertanya, dia jawab juga sendiri. "Tadi kan uda suruh bikin kopi ke atas!"

"Apa? Cuma dua ribu?" Aku mengambil uang dua ribu rupiah dari kantongku, lalu melemparkan ke mukanya. "Nih, ambil nih, dua ribu! Jelas-jelas tadi kau menyuruhku pesan kopi ke sebelah! Bukan bikin kopi ke atas. Ngga tau apa, bedanya sebelah dengan atas? Lagian, cuma dua ribu bisa jadi masalah, keterlaluan banget!"

Ups! Jangan salah! Itu bukan jawabanku sebenarnya. Hanya sekadar kata-kata yang sanggup terucap dalam hati saja. Kenyataan yang ada, aku cuma bisa tertunduk sambil menatap lantai.

Besok-besoknya aku masih menguatkan hati untuk datang. Tentu saja, masih dengan harapan yang sama, bisa melihat cowok di sebelah atau melihat si Harry makan di kantin.

Sampai pada pagi itu. Aku datang mengambil kunci ke atas. Lagi-lagi kunci tak ada, dan Cintya juga tidak tahu. Lewat ke pintu yang dulu, ternyata di kunci juga. Kali ini aku yang terdiam. Merenung sejenak.

Beginilah akhir karirku sekaligus akhir dari persaudaraan kami. Sangat menyakitkan. Seandainya membunuh itu bukanlah sebuah dosa, sudah aku bunuh dia dari kemaren-kemaren. Tapi tidak langsung kubunuh. Kuikat dulu di pohon, tangan dan kakinya, lalu kuiris lidahnya tipis-tipis. Irisannya kutempelkan di wajah "bibit bagusnya" itu. Kemudian barulah kutikam pelan-pelan, agar sakitnya terasa lebih lama.

Tentang cowok-cowok itu juga, biarlah, mungkin memang bukan jodoh. Dan ada baiknya juga, dari pada aku hanya terus mengharap tanpa ada kepastian, lebih baik aku berlalu.

Akhirnya aku pulang ke rumah. Ibuku heran dan bertanya mengapa aku pulang begitu cepat. Aku hanya bilang mendadak sakit kepala.

Itulah kisahku bersama si bos yang songongnya maksimal. Semoga kami punya kesempatan untuk bertemu lagi, agar aku bisa menendangnya. Ah, sudahlah! Itu sudah lama berlalu. Sebaiknya kumaafkan saja. Bukankah lebih lega bila hati bisa saling memaafkan?

 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@priyant : Sama-sama, Priy, sukses buat kita berdua, ya🥰🥰🥰
@priyant : Aiiih, Priy, terima kasih ya, sudah mampir😘🤗😍
Serasa masuk ke dalam cerita ini saya, keren
Sukses ya Mbak ...
Rekomendasi
Cerpen
Terajana (Teras Janda Muda)
Ragiel JP
Cerpen
Tetangga Masa Elo?!
Venus
Cerpen
Hedonisme Bos Cendol
Doddy Rakhmat
Cerpen
Lady Ciprut dan Gendhuk Tini
bomo wicaksono
Cerpen
Burung Merpati Tingting
Andriyana
Cerpen
Tetangga Selebrita
Hilmiatu Zahra
Cerpen
Mukini & Mukidi
Ariy
Cerpen
Miran
Doddy Rakhmat
Cerpen
Pulang
hyu
Cerpen
FLAMBOYAN 21
Sartika Chaidir